Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku
Hamil?


__ADS_3

Malam ini Kharisa Rafael dan Rakha menginap di rumah mama, sebelum maghrib mereka sudah berada di sana, hanya butuh waktu dua puluh menit dari rumah Rafael bila jalanan tidak terlalu padat.


Mama langsung menyambut kedatangan mereka di teras saat mendengar ada mobil masuk ke halaman rumah. Hampir dua minggu tidak bertemu putri dan cucunya tentu membuat mama sangat merindukannya.


"Salamikum...Omaa....aku datang." teriak Rakha saat keluar dari mobil, sepertinya Rakha juga sama merindukan omanya.


"Ucap salamnya yang betul dong." ujar Oma


"He...he...Assalamualaikum." Ulang Rakha, lalu mencium tangan omanya.


"Waalaikumsalam....cucu Oma tambah tinggi yah." Mama berjongkok, memeluk dan menciumi cucunya. Mamapun menvajak mereka masuk. Sama seperti di rumah Rafael, mama Kharisa pun menyiapkan hidangan spesial untuk makan malam.


Kharisa masuk ke dalam kamarnya, tapi tiba-tiba tubuhnya merasa limbung, ia langsung duduk di sisi tempat tidur, merasakan kepalanya terasa berputar, ia memejamkan matanya, lalu menyandarkan kepalanya di dinding tempat tidur.


"Mommy kenapa....?" Tanya Rafael saat masuk kamar menemukan Kharisa duduk dengan memejamkan matanya, ia bisa menilai kalau wajah istrinya tampak pucat.


"Mommy sakit?" Ia menghampiri Kharisa setelah meletakan koper di sudut kamar. Langsung menyentuh kening Kharisa dengan punggung tangannya, namun tidak teraba panas.


"Tiba-tiba aku pusing." Jawab Khatisa masih memejamkan matanya.


"Pasti kecapean habis nemenin mami belanja, tadi siang gak telat makan kan?"


Karisa menggelengkan kepalanya. "Tadi sebelum dhuhur udah makan kok." Jawabnya.


"Ya sudah Mommy istirahat saja dulu, nanti kalau masih pusing terus minum obat yah." Rafael ingat kalau di mobilnya selalu tersedia obat-obatan untuk pertolongan pertama, dari mulai obat untuk sakit kepala, mual, diare sampai untuk serangan jantung juga tersedia. Kharisa pun membaringkan tubuhnya dibantu Rafael.


Rafael membangunkan Kharisa setelah hampir mendekati waktu Isya karena Khatisa hatus shalat maghrib. Ya dalam kondisi sakit pun shalat fardhu tidak boleh ditinggalkan, Rafael sudah mulai memahami hal itu.


"Mommy.....shalat maghrib dulu." Ia membangunkan Kharisa dengan lembut, diusapnya pipi Kharisa, ia kecup keningnya.


"Hhh....jam berapa sekarang." Tanya Kharisa dengan suara seraknya.


"Hampir jam tujuh, masing pusing?" Tanya Rafael sambil membantu Kharisa duduk.


"Ah....aku belum shalat maghrib, kenapa gak dibangunin dari tadi." Kharisa beranjak dari duduknya, pusingnya sudah hilang setelah tidur lebih dari satu jam.


"Udah gak pusing?" Tanya Rafael khawatir.


"Udah nggak." Kharisa berjalan menuju ke kamar mandi yang ada di kamarnya. Rafael mengikutinya.


"Kamu mau kemana? Mau ke kamar mandi? Aku mau wudhu dulu." Kharisa berhenti di depan pintu kamar mandi.


"Aku anter ke dalam, takut Mommy pusing lagi."

__ADS_1


"Aku udah gak pusing, kamu gak usah masuk." Kharisa buru-buru menutup pintu setelah masuk ke kamar mandi dan Rafael dengan setia menunggu di depan pintu.


Selesai shalat Isya mereka makan malam bersama mama dan papa. Papa sengaja menginap karena ada putri dan cucunya, padahal minggu ini jatah menginap di rumah mama Lisna.


Seperti biasa Rakha makan sendiri dengan lahapnya, menikmati hidanga seafood yang menggugah selera.


"Hoeeekk......" Tiba-tiba Kharisa merasa mual mencium bau amis dari cumi saus padang, padahal biasanya ia sangat menyukai makanan itu. Ia menutup mulutnya, menahan makanan di mulutnya agar tidak keluar, tapi malah ia merasakan ada gejolak dari dalam perutnya. Ia pun segera ke westafel dapur, memuntahkan makanan yang baru saja masuk ke mulutnya.


"Kenapa Neng Kharis?" Bi Nani yang berada di dapur melihat Kharisa heran segera mengusap punggung anak asuhannya. Rafael pun kini berada di belakang Kharisa, rupanya ia langsung menyusul istrinya dengan perasaan cemas. Tadi Kharisa bilang sudah enakkan, tidak pusing lagi, tapi malah sekarang muntah.


"Sini Bi, biar sama saya." Rafael meminta ia yang menggantikan Bi Nani mengelus punggung Kharisa.


"Bibi buatkan teh manis hangat ya Neng." Bi Nani segera membuat minuman untuk Kharisa.


"Perih gak lambungnya?" Tanya Rafael khawatir.


"Nggak....cuma mual saja." Kharisa mengelap mulutnya dengan tisue yang diberikan Rafael, lalu minum teh manis hangat yang dibuatkan Bi Nani.


Setelah lebih enakan, Kharisa dan Rafael kembali ke ruang makan. Papa, mama dan Rakha yang sejak tadi menunggu terlihat cemas.


"Kamu kenapa sayang, muntah? Katanya tadi juga pusing?" Tanya Mama khawatir.


"Tiba-tiba mual Mah."


"Gak perlu Pah, aku udah enakan kok." Jawab Kharisa buru-buru.


"Ngapain ke dokter, suaminya kan dokter, Papa ini....." Ujar Mama sambil geleng kepala.


"Opa...Daddy aku kan doktel, bisa ngobatin Mommy." Rakha pun ikut mengingatkan kakeknya.


"Ya ampun, iya Opa lupa.....sory El, Papa lupa kalau kamu itu dokter ha...ha...ha..., ya sudah kamu periksa istrimu sakit apa."


"Mama curiganya Kharisa bukan sakit deh." Mama tersenyum lebar memandang putrinya.


"Kharis, kamu sudah dapat tamu bulanan? Kalau belum, kemungkinan Rakha mau punya adik." Dugaan mama masuk akal. Kharisa pernah menjawab kalau ia tidak akan menunda kehamilan saat ditanya mamanya tentang rencana memberikan adik buat Rakha.


"Harusnya minggu-minggu ini, tapi belum, biasanya memang mundur, kadang sampai empat hari, bahkan sampai satu minggu." Jawab Kharisa santai, ia ragu kalau mual dan pusing yang dirasakannya tadi karena ia hamil.


"Ah...ya....kenapa aku gak kepikiran ke sana, bisa jadi kamu hamil sayang." Rafael menggenggam tangan Kharisa di atas meja makan dengan berbinar, walaupun sebenarnya ia tidak terlalu berharap Kharisa cepat hamil, karena ingin menikmati waktu lebih banyak dengan istrinya, tapi kalau benar Kharisa hamil ia pasti akan menerimanya dengan senang hati buah cinta mereka.


"Pah, Mah aku minta ijin ke apotek dulu, beli tespeck." Rafael beranjak dari duduknya.


"El gak usah buru-buru, kamu belum menghabiskan makan malammu." Ujar Mama

__ADS_1


"Daddy mau kemana? Aku ikut." Rakha yang sudah menghabiskan makan malamnya ikut beranjak.


"Oke, Ayo."


"El....lebih baik kamu makan dulu, apotek yang terdekat buka 24 jam kok."Ujar mama lagi.


"Nanti aku lanjut makannya Mah."


"Aku pergi dulu yah." Ucap Rafael sambil mengusap kepala Kharisa.


"Lets go Boy." Ajaknya pada putranya, dengan semangat Rakha mengikuti daddynya di belakang, sambil bertanya-tanya dalam hatinya, apakah benar ia akan memiliki adik? Ia mendengar jelas ucapan omanya. Berarti ia nanti sama seperti Khansa memiliki adik, dua malah adiknya Khansa. Ah pasti seru nanti bisa bermain dengan adiknya, batinnya.


Saat di perjalanan menuju apotek, Rakha bertanya pada daddynya. "Daddy, apakah benal aku akan punya adik?"


"Semoga sayang, doakan di perut Mommy ada dede bayinya yah." Jawab Rafael. Rakha langsung menengadahkan kedua tangannya.


"Ya Allah....semoga di pelut mommy ada dede bayi, bial aku ada teman, aamiin." Rakha mengusapkan kedua tangannya ke wajahnya, Rafael hanya tersenyum melihat tingkah putranya.


Tidak sampai setengah jam, Rafael dan Rakha sudah kembali ke rumah. Mama dan papa tampak duduk berdua di ruang tengah sambil nonton TV.


"Kharis mama suruh istirahat di kamar." Ujar mama. Rafael pun menuju kamar , diikuti Rakha di belakangnya.


Saat Rafael dan Rakha masuk ke kamar, Khrisa tengah duduk di sofa memainkan HPnya. Rakha langsung duduk di sebelah mommynya.


"Sayang, ayo cek urinnya dulu ya." Rafael mengeluarkan sebuah testpack dari kantung plastik berlogo sebuah apotek yang hampir ada di seluruh Indonesia.


"El...apa gak terlalu cepat tes kehamilan sekarang, aku telat mens nya baru beberapa hari. Lagian bukannya bagusnya di cek di pagi hari?"


"Gak papa, tiap wanita beda-beda, siapa tau hormon kehamilan mommy sudah bisa terdeteksi, kalau sekarang hasilnya belum jelas, besok pagi cek lagi. Aku beli empat testpack kok." Kharisa pun mengikuti perminataan Rafael yang sudah cape-cape membeli testpack.


Kharisa keluar kamar mandi menenteng testpack di tangan kirinya.


"Garisnya satu El." ada suara Kharisa terdengar kecewa. Rafael meraih testpack yang disodorkan Kharisa. Ternyata benar garisnya cuma satu.


"It's ok, mungkin HCG nya masih sedikit jadi belum terdeteksi, besok kita cek lagi."


Dan keesokan harinya Kharisa mengecek lagi urinnya untuk memastikan walaupun ia ragu hasilnya akan positif. Dan benar saja hasilnya masih satu garis, berarti negatif.


"Gak apa-apa sayang, kita masih banyak waktu, toh kita nikah juga baru dua bulan. Aku juga ingin lebih banyak waktu dengan kamu." Rafael meraih bahu Kharisa ke dalam pelukannya, namun Khatisa malah mendorongnya.


"Sana El.....aku gak mau kamu peluk-peluk terus, risi tau. Aku mau mandi, jam enam kan kita pulang?"


"Mommy ini....beneran risi? Kalau semalam gak risi? Malah mommy yang nempel meluk-meluk segala." Semalam Kharisa memang yang menempel, memeluk Rafael, namun Rafael menahan diri, tidak ingin mengganggu istrinya yang harus banyak istirahat karena kondisinya yang tidak fit. Dan Kharisa tidak mau mengakuinya. Memang begitulah wanita, suka pura-pura tidak merasa, mungkin karena malu, atau gengsinya tinggi untuk mengakui, Rafael pun tidak memperpanjangnya. Lebih baik mengalah demi istri yang dicintainya.

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2