
"Ooeee.....oooeee......" Mendengar tangisan bayi yang kencang membuat Faisal berdiri dari duduknya, terlihat pancaran bahagia di wajahnya, plong....hatinya merasa lega setelah hampir setengah jam setelah ia keluar dari ruang tindakan ia merasakan kakinya lemas hingga terduduk di kursi tunggu, perutnya pun ikut mules membayangkan Kharisa menahan sakit karena kontraksi perutnya. Ia melihat jam di tangannya, tepat pukul delapan malam, bayi Kharisa lahir, satu jam lebih cepat dari perkiraan Bidan Atikah. Kini ia malah tidak sabar ingin masuk ke ruang tindakan tapi tentu saja belum memungkinkan karena dia laki-laki bukan mahram Kharisa lagi, yang ada pasti diusir oleh Bidan Atikah. Ia terlihat mondar mandir di depan pintu ruang tindakan, ingin segera melihat bayi Kharisa, seperti apa bayinya, ah Rakha....membuat Faisal penasaran.
Di dalam ruang tindakan, selain terdengar tangisan bayi yang baru lahir, terdengar juga isak tangis dari Sang Ibu dan Sang Nenek, bukan tangis sedih, tapi tangis bahagia. Kharisa merasa baru terbangun dari mimpi, bayi yang dikandungnya selama sembilan bulan telah lahir, setelah melewati proses panjang lebih dari sepuluh jam dengan rasa sakit yang luar biasa, hingga terbersit inilah waktunya malaikat ijroil mencabut nyawanya, namun kini rasa sakit itu hilang begitu saja setelah terdengar tangisan bayinya.
Sementara mama menciumi putrinya dengan berlinang air mata, janin yang ia perjuangkan untuk bertahan, tumbuh dan berkembang di rahim putrinya akhirnya bisa lahir ke dunia, pengorbanannya tidak sia-sia, walau harus meninggalkan orang yang dicintai, meninggalkan kebahagiaan dan berlimpahnya harta, ia rela, demi putri sematawayangnya dan cucunya.
"Ya Allah Neng Kharis....meni cakep bayinya." Bi Nani terpana melihat bayi yang sedang dibersihkan oleh asisten Bidan Atikah dari darah dan cairan ketuban yang menempel di kulitnya yang merah, Bidan Atikah menggunting tali ari dan mengunci ujung tali ari dengan alat penjepit dari plastik berwarna biru, memasukan selang kecil ke dalam mulut lalu hidung bayi untuk menyedot lendir atau cairan ketuban yang mungkin saja terhisap, rupanya selang itu tersambung dengan alat suction atau mesin penyedot hingga menimbulkan suara bising.
Setelah dinilai kondisi bayi bagus yang berarti bayi bisa beradaptasi dengan lingkungan baru di luar rahim ibu, Bidan Atikah menempelkan bayi Kharisa di atas dada Kharisa untuk dilakukan Inisiasi Menyusui Dini, dibiarkannya mulut bayi mencari sumber kehidupannya. Inilah pertama kalinya Kharisa bersentuhan langsung dengan bayinya, dengan perasaan bangga dan tentu saja bahagia Kharisa memeluk bayinya dan membiarkan mulut kecil bayinya menempel di pa****ranya, hingga akhirnya menemukan pu****nya lalu menyecapnya. Inilah masa emas bounding attachment, pertama kalinya terjalin hubungan ikatan batin antara ibu dan anak.
Tiba-tiba Kharisa merasakan perutnya mules lagi. Ternyata Bidan Atikah masih melakukan tindakan pada Kharisa untuk membantu mengeluarkan placenta
"Alhamdulillah placentanya sudah keluar lengkap, tidak ada yang tertinggal." Bidan Atikah menyerahkan placenta kepada asistennya untuk dimasukan ke dalam pendil tempat yang terbuat dari tanah liat.
"Wah hebat jagoannya sudah mulai mau menghisap, tapi sudah dulu nya ganteng, takut kedinginan, Neng bayinya mau diangetin dulu yah, Nengnya juga mau di bersihkan dulu biar enak, nanti dibantu sama Bi Yayah, sekalian diganti bajunya ya geulis." Bidan Atikah menggendong bayi Kharisa membawanya ke ruangan bayi yang masih tersambung dengan ruang tindakan.
"Oh ya Bu, barangkali mau diadzanin bisa di ruangan bayi saja." ujar Bidan Atikah pada mama sebelum masuk ke ruangan bayi.
"Oh ....diadzanin?" Mama terlihat bingung. Ya biasanya bayi yang baru lahir diadzanin oleh ayahnya atau oleh kakeknya, tapi saat ini siapa yang mau mengadzanin bayi Kharisa, ayah maupun kakeknya jelas tidak ada, masa sama neneknya.
"Oh ya sebentar Bu Bidan, nanti bisa diadzanin di dalam yah?" tanya Mama memastikan.
"Ya Bu nanti masuk saja." Bidan Atikah menidurkan bayi Kharisa di box bayi yang disoroti lampu khusus untuk menghangatkan bayi. Mama bergegas ke luar, ia ingat ada Faisal yang sedang menunggu di luar.
"Faisal....." Faisal menoleh ke arah pintu ruang tindakan yang terbuka, terlihat mama Kharisa sudah berdiri di depannya.
"Ya Bi....."
__ADS_1
"Bi Dewi mau minta tolong, kamu bisa kan adzanin cucu Bibi." Mama Kharisa menaruh harapan kepada Faisal satu-satunya laki-laki yang ada saat ini, kalau soal adzan tak perlu diragukan lagi Faisal sudah terbiasa adzan di masjid pesantren, hanya saja megadzanin bayi yang baru lahir apakah ia akan mau?
"Ngadzanin Rakha?" tanya Faisal memastikan. Dan Mama Kharisa menganggukan kepalanya.
"Iya, tidak ada lagi yang bisa ngadzanin kecuali kamu, Sal." Tiba-tiba mama Kharisa terlihat sedih.
"Bisa Bi....dimana?" jawabnya lugas. Mama Kharisa tersenyum mendengar jawaban Faisal.
"Ayo masuk, Bi Dewi antar." Mereka pun masuk ke ruang bayi melewati ruang tindakan tapi Kharisa sendiri tidak terlihat karena tertutup gorden.
"Ini Bi bayi Kharisa, Masya Allah....?" Faisal tertegun, setelah melihat perjuangan Kharisa akhirnya ia bisa melihat bayi yang tengah tertidur dalam balutan kain pernel dengan sorotan lampu penghangat mengarah ke tubuhnya, sesekali matanya mengerjap kemudian menutup lagi. Bayi dengan kulit merah, hidungnya terlihat kokoh di wajahnya yang mungil, alisnya terlihat tebal dan rapi, sepintas tidak ada kemiripan dengan Kharisa, sepertinya lebih mirip dengan ayahnya, ya mungkin mirip ayahnya, Faisal atau mama sendiri belum pernah melihat seperti apa ayah dari bayi Kharisa, pastinya ia tampan, karena dari wajah bayi Kharisa sudah terlihat bibit ketampanan. Ah ya...ternyata ada juga yang mirip dengan Kharisa, bibir mungilnya mirip bibir Kharisa.
"Assalamualaikum.....Rakha......selamat lahir ke dunia, semoga menjadi anak yang sholeh, menjadi menyejuk hati ibumu." Ucap Faisal pelan di depan bayi Kharisa. Kemudian dia membungkukan badannya mendekat ke telinga sebelah kanan dan mulai mengumandangkan adzan dengan suara pelan .
"Allahu Akbar Allahu Akbar........."
*****
Kenapa aku ingat terus Kharisa, dimana dia sebenarnya, apa ia sama sekali tidak ingin lagi bertemu ayahnya? Apa ia baik-baik saja?
Laki-laki itu menghela nafas, ya...dia Dewantara , papanya Kharisa, yang ditinggal pergi istri keduanya dan putrinya yang tengah mengandung cucunya yang tidak diinginkannya.
Tepat pukul empat sore ia meninggalkan ruangannya, dan ini bukan kebiasaannya meninggalkan kantor di saat matahari belum terbenam, namun ia benar-benar tidak bisa konsentrasi, lebih baik pulang dan istirahat di rumah agar pikirannya lebih tenang.
"Win...berkas yang tadi akan saya pelajari dulu, besok kamu ingatkan saya, kalau ada yang perlu dengan saya suruh besok temuin saya, saya pulang dulu." Wina sekretarisnya mengiyakan walaupun merasa aneh, hampir tidak pernah bosnya pulang kantor di jam seperti ini, paling cepat pulang setelah maghrib.
Pukul lima sore ia sudah tiba di rumah, keluar dari mobil langsung menuju kamarnya, kali ini ia merasakan jantungnya berdebar, apa penyakit jantungnya kambuh lagi? Setelah kepergian Kharisa dan mamanya ia sering mengalami hipertensi, pernah mengalami serangan jantung tapi langsung bisa ditangani, setelah itu ia benar-benar memperhatikan kesehatannya, diet makanannya sehat, olah raga dan cek kesehatan rutin tiap bulan. Dua hari yang lalu ia baru saja cek kesehatan, tekanan darah normal, hasil pemeriksaan darahpun normal. Tapi entah kenapa saat ini ia merasakan jantungnya berdebar, sedikit rasa sakit di dada sebelah kiri menjalar ke punggung, tidak mau terjadi serangan jantung lagi ia langsung mencari istrinya untuk meminta obat jantungnya.
__ADS_1
"Lisna...... Lis......." ia memanggil istri pertamanya, ya istri pertama karena ia masih menganggap Dewi sebagai istei keduanya walaupun pergi meninggalkannya.
"Mas.....tumben sudah pulang?" Lisna yang tengah di dapur langsung beranjak begitu mendengar suara suaminya.
"Ambilkan obat jantungku." Dewa duduk di sofa di kamarnya sambil terus menarik nafas panjang.
"Kenapa Mas? Kambuh lagi?" Lisna mengambil satu jenis obat di laci nakas dengan perasaan cemas, buru- buru menyerahkannya pada suaminya.
"Ini Mas, simpan di bawah lidah." Dewa pun memasukan obat tablet ke dalam mulutnya, disimpan di bawah lidah.
"Di tempat tidur saja Mas istirahatnya, Mas kayanya kecapean." Dewa menurut pindah ke tempat tidur dan tak lama kemudian ia pun terlelap dalam tidurnya.
"Kharisa.....sini sayang." Kharisa terlihat menghampirinya dan ia pun memeluk pwutrinya dengan erat tak ingin melepaskannya.
"Kamu pulang sayang? Jangan tinggalin Papa lagi." Ia masih memeluk erat putrinya. Kharisa tidak mengucapkan satu kata pun, namun membalas pelukan papanya. Ia memeluk putrinya lama. Kali ini tak akan dilepaskan pelukannya, tak akan ia biarkan Kharisa pergi meninggalkannya.
"Kharisa......." Kharisa menoleh ketika seseorang memanggilnya.
"Dewi.....?" Papa melihat istri keduanya berdiri menuntun seorang anak kecil, tapi tidak jelas wajahnya karena seolah terhalang cahaya. Tiba-tiba Kharisa melonggarkan pelukan papanya, berusaha melepaskan diri dari pelukan papanya dan berjalan menuju mamanya. Dewa kaget putrinya tidak ada dalam pelukannya dan malah meninggalkannya bersama mamanya dan anak kecil yang dituntunnya.
"Kharisa......Kharisa........" Dewa terus memanggil putrinya, namun Kharisa terus berjalan meninggalkannya.
"Kharisa......Kharisa........"
"Mas......Mas......" Terdengar seseorang memanggilnya, ia membuka matanya dan dilihatnya Lisna duduk di tepi tempat tidur di sampingnya.
"Mas mimpi?" Lisna mengusap keringat di dahi suaminya.
__ADS_1
"Ternyata hanya mimpi....."
bersambung............