
Rafael melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju mess nya. Sesekali ia melirik cheese cake yang disimpannya di kursi penumpang di sebelahnya kemudian menyunggingkan senyumnya, sebegitu bahagianya ia mendapatkan cheese cake itu? Ternyata Kharisa masih ingat cake kesukaannya. Dulu saat masa pacaran jaman SMA, kalau nongkrong di cafe dekat sekolah pasti Rafael memesan cheese cake, dan Kharisa selalu komentar.
"Emang gak ada lagi makanan selain cheese cake gitu yang enak dimakan?"
"Gak bosan cheese cake terus yang dipesan?"
"Mister cheese sudah kupesan cheese cake untukmu."
Rafael senyum-senyum sendiri mengingat masa-masa pacaran dulu, rasanya waktu itu terasa singkat, dan sekarang ingin mengulangnya kembali. Sayangnya Kharisa sudah berubah, memang karena kesalahannya, tapi ia yakin masih ada rasa cinta untuknya di hati Kharisa, dan ia akan berjuang meraihnya kembali.
Tak terasa ia sudah berada di depan rumah sakit, ia membelokan mobilnya memasuki area parkir belakang khusus karyawan. Ia turun dari mobilnya dengan dua kotak cheese cake di kedua tangannya. Ia melangkah menuju mess dengan wajah berseri. Beberapa karyawan penghuni mess yang berpapasan dengannya menyapanya, ia pun membalasnya dengan ramah. Hingga ia berada di depan depan messnya yang terlihat sepi dan gelap, hanya lampu teras yang menyala, Andre memang tidak ada di dalam, kemarin sore ia pulang ke Bandung ke rumah orang tuanya.
Saat Rafael membuka kunci pintu rumahnya, seseorang datang menghampirinya.
"Raf...." Ternyata Vania yang datang berdiri di belakang Rafael. Rafael pun menoleh ke belakang.
"Eh..Van." Rafael balas menyapanya.
"Kamu baru pulang? Aku ngehubungi kamu, ngechat kamu gak kamu balas." Wajah Vania terlihat kecewa.
"Ah ya, maaf, aku gak sempat ngecek HP, tadi HP aku silent." Seharian tadi Rafael memang tidak begitu memperhatikan pesan yang masuk di HPnya, ia hanya mengecek group WA yanmed untuk memastikan pelayanan bagiannya berjalan lancar. Ia menggunakan HPnya hanya untuk mengambil gambar dan merekam vidio kebersamaan dengan Kharisa dan putranya.
"Raf, sepertinya kita harus bicara." Ujar Vania dengan penuh harap Rafael memberikan waktunya untuk bicara berdua. Selama ini setelah mereka resmi bertunangan, nereka belum pernah menikmati quality time berdua untuk mengeratkan hubungan mereka atau sekedar ngobrol membicarakan masa depan mereka, tentu saja karena Rafael memang sengaja tidak ingin hubungan mereka lebih dekat. Hanya dua kali mereka pernah pergi bersama, itu pun tidak hanya berdua, bersama Andre saat makan malam, dan bersama Meita saat Vania minta diantar membeli sesuatu ke mall. Kalaupun mereka sarapan bersama di ruang kerja Rafael, itu murni hanya makan, tidak ada sesuatu yang mereka obrolkan.
"Aku juga ada yang ingin dibicarakan sama kamu, kita ngobrol di dalam saja." Rafael membuka pintu dan mempersilahkan Vania masuk, terlihat hubungan mereka kaku, seperti ada jarak, tidak seperti pasangan lain yang sudah bertunangan.
"Duduklah, mau minum apa? Ada minuman dingin, atau kamu mau kopi?" Tanya Rafael sambil berjalan ke ruang tengah yang menyatu dengan ruang makan dan dapur. Ia menyimpan cheese cake bya di kulkas, sepertinya memang tidak berniat untuk berbagi dengan tunangannya.
"Gak usah Raf." Jawab Vania setengah berteriak, ia pun merasa canggung untuk masuk ke dalam mengikuti Rafael, ia terlihat seperti tamu yang baru pertama kali datang ke sana, padahal pernah beberapa kali makan bersama saat ada Andre, ya kalau ada Andre mungkin tidak akan secanggung ini.
__ADS_1
Rafael pun kembali ke ruang tamu dengan membawa dua kotak minuman jus buah.
"Hanya ada ini." ujarnya sambil msnyimpannya di meja di depan Vania.
"Gak usah repot-repot, makasih Raf." Vania menegakan duduknya saat Rafael duduk di sofa berhadapan dengannya.
"Apa yang ingin kamu bicarakan." Tanpa basa basi Rafael langsung membuka pembicaraan mereka. Sebenarnya ia merasa lelah, tadi rencananya, nyampe di mess ia akan mandi dan langsung mengistirahatkan tubuhnya, tapi saat ada Vania ia pun tidak enak menolaknya dan sepertinya sekarang saatnya ia juga ingin menyampaikan maksudnya untuk membatalkan pertunangannya, bukankah lebih cepat lebih baik, sebelum hubungan mereka semakin dekat, ia tidak ingin memberikan harapan kepada Vania.
"Ah ya.....Raf, kamu juga ada yang ingin dibicarakan? Mau kamu yang duluan?" Rupanya Vania jadi ragu dengan yang akan ia sampaikan, sebenarnya ia juga malu untuk menyampaikannya, secara ia pihak wanita yang tidak ingin memiliki kesan sebagai wanita yang agresif.
"Kamu saja yang duluan." Jawab Rafael, sambil menyesap jus buah dalam kemasan kotak.
"Eu... begini Raf. Kita kan sudah bertunangan, tapi....eu...aku merasa hubungan kita masih tetap seperti dulu, bahkan kita tidak pernah memiliki waktu berdua untuk lebih mendekatkan kita, untuk lebih saling mengenal dan akrab. Bukankah sebuah hubungan itu harus dipupuk seperti tanaman agar tunbuh subur, dan hubungan kita pun harus kita pupuk, mungkin dengan seringnya kita ngobrol berdua seperti ini, atau pergi ke mana gitu yang membuat kita semakin dekat." Vania menghela nafasnya sejenak sambil menunggu respon Rafael, tapi ternyata Rafael masih diam tidak berusaha menanggapi. Tapi Rafael paham ke arah mana maksud pembicaraan Vania.
"Eu....aku tau kamu sibuk Raf, kadang waktu liburmu pun kamu habiskan di rumah sakit, tapi apa tidak sebaiknya kita mulai memikirkan hubungan kita, ya walaupun hubungan kita karwna perjodohan tapi aku yakin kita bisa menjalaninya kalau masing-masing dari kita mau membuka hati dan menerimanya. Jadi....eu maksudku, kalau bisa mungkin dari satu minggu ada satu hari yang bisa kita gunakaan untuk kebersamaan kita, atau kalau tidak bisa, ya mungkin dari hari-hari kita ada waktu untuk kita bersama, sepertinya tidak terlalu sulit karena kondisi kita berdekatan, tinggal waktunya saja yang kita atur."
"Eu...itu saja sih yang ingin aku bicarakan." Akhirnya Vania merasa lega telah menyampaikan apa yang selama ini mengganjal di hatinya. Bukankah yang ia katakan barusan adalah hal yang wajar? Sedikit menuntut untuk kebaikan hubungan mereka. Terasa melelahkan memikirkan hubungannya dengan Rafael, statusnya telah bertunangan dengan Rafael, bahkan telah diumumkan oleh calon ayah mertuanya di hadapan karyawan rumah sakit yang tak lain adalah rekan kerjanya, tapi kenyataannya ia seperti yang tidak memiliki tunangan. Tidak ada Rafael di sampingnya saat ia butuh seseorang untuk mendengarkan keluh kesahnya, atau seperti pasangan lain yang saling mencurahkan kasih sayang dengan kata-kata manis atau romantis, atau bahkan sekedar gombalan, sungguh ia mengharapkan itu keluar dari mulut Rafael, tapi sayangnya itu hanya dalam angannya belaka. Tapi setelah malam ini ia berharap angannya menjadi kenyataan, minimal ia telah berusaha menyampaikan isi hatinya, mungkin saja memang Rafael orangnya tidak peka, terlalu cool atau mungkin segan memulainya.
"Van, terus terang aku terpaksa menerima perjodohan ini, tadinya aku pikir aku akan bisa menerimanya, tapi ternyata sampai saat ini aku tidak bisa nerima kamu sebagai pendampingku."
Deg.
Vania yang tengah menyesap jus dalam kemasan langsung menghentikannya dan menatap ke arah Rafael. Tatapan mereka pun bertemu, namun ia diam tidak merespon ucapan Rafael, berusaha mencerna ucapan Rafael. Wajar kalau Rafael belum bisa menerimanya, baru juga satu bulanan usia pertunangan mereka, masih banhak waktu untuk bisa saling menerima, toh ia dan kekuarganya pun tidak menuntut untuk segera ke jenjang pernikahan.
"Dan aku tidak ingin menyakitimu, tidak ingin membuatmu kecewa lebih dalam, jadi sebaiknya kita akhiri saja hubungan kita sampai di sini...."
"Maksudmu Raf...?" Vania memastikan apa yang ia dengar, kakau-kalau ia salah dengar, atau ia salah persepsi.
"Ya, aku tidak bisa melanjutkan pertunangan kita Van, aku tidak ingin kita sama-sama tersiksa karena tidak ada perasaan cinta."
__ADS_1
"Ta...tapi Raf hubungan kita memang masih seumur jagung, wajar kalau kita belum memiliki rasa cinta, tapi kita masih banyak waktu untuk bisa saling mengwnal dan lebih dekat, aku yakin seiring waktu perasaan cinta pasti akan tumbuh di hati kita. Jadi aku mohon Raf , kamu tidak usah buru-buru ngambil keputusan seperti tadi." Vania terlihat gusar, bagaimana bisa Rafael mengambil keputusan sepihak untuk menutuskan pertunangannya disaat mereka seharusnya berusaha saling mengenal dan lebih dekat. Baru kemarin siang ayahnya Rafael mengumumkan pertunangannya dengan Rafael di hadapan karyawan rumah sakit, masa dalam satu hari ia harus menerima Rafael memutuskan pertunangan mereka.
"Maafkan aku Van, aku benar-benar tidak bisa melanjutkan hubungan kita." Rafael sepertinya sudah yakin dengan keputusannya, ia sadar sekarang atau nanti tetap akan mengecewakan Vania bahkan menyakitinya, jadi lebih baik di awal, dari pada menunggu lebih lama akan lebih menyakitkan lagi untuk Vania.
"Gak...gak..Raf, kamu terlalu cepat mengambil keputusan ini, maaf kalau aku terlalu banyak menuntut. Yang tadi aku ucapkan anggap saja tidak ada, aku tau kamu sibuk, aku gak masalah kamu gak ada waktu untukku, aku bisa memakluminya, kita masih banyak waktu untuk bisa lebih dekat lagi. Kamu juga sepertinya lelah, butuh istirahat. Sebaiknya sekarang kamu istirahat, biar aku pamit dulu." Tentu saja Vania tidak terima dengan keputusan Rafael, mungkin Rafael sedang banyak pikiran, kelelahan dan ucapannya tadi menjadi beban bagi Rafael. Lebih baik ia membiarkan Rafael istirahat duluvagarvoikirannya tenang tidak grasak grusuk ngambil keputusan.
"Aku pamit dulu ya Raf, kamu istirahatlah." Vania beranjak berdiri lalu menuju pintu keluar yang setengah terbuka.
"Tunggu Van." Rafael sepertinya ingin menyelesaikan hubungan mereka malam ini juga. Terlalu sadis memang, tapi ia ingin persoalannya satu persatu cepat selesai. Vania pun menghentikan gerakannya yang akan membuka pintu lebih lebar.
"Aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita karena aku mencintai wanita lain." Akhirnya Rafael menyampaikan alasannya. Vania bergeming mendengar ucapan Rafael, posisinya masih membelakangi Rafael dengan tangan memegang pengait pintu, tapi kini ada sesuatu yang dirasakan oleh hatinya, yang membuat dadanya tiba-tiba sesak, dan pandangannya menjadi memburam, ada genangan air di matanya.
"Maafkan aku Van, aku harus jujur mengatakannya, aku tidak ingin membuatmu sakit hati lebih dalam." Rafael berdiri hendak mendekati Vania, namun terhenti saat Vania membalikan badannya menghadapnya.
"Baru saja kemarin papi mu mengumumkan pertunangan kita di hadapan karyawan rumah sakit, sekarang kamu memutuskan pertunangan kita karena mencintai wanita lain?" Vania menatap tajam Rafael dengan pipi yang mulai basah, bening kristal di matanya tak bisa ia tahan untuk tidak jatuh di pipinya.
"Setega itukah kamu Raf? Lalu bagaimana dengan keluargaku?" Vania menghela nafasnya, ia menyeka pipinya dengan kedua tangannya, mengingat keluarganya membuat ia semakin tidak bisa menahan air matanya. Bukan hanya dia yang merasa bahagia dengan pertunangannya, tentu saja orang tuanya juga sangat bahagia karena bisa mewujudkan keinginan kakeknya Vania.
"Aku tidak terima dengan keputusan sepihakmu Raf, apapun alasannya aku tidak terima dan aku rasa ini tidak hanya menyangkut kita berdua tapi keluarga besar kita. Sebaiknya kamu pikirkan lagi keputusanmu, aku anggap hubungan kita masih tetap berjalan seperti sebelumnya. Aku permisi." Vania pun berlalu meninggalkan Rafael dengan linangan air mata menuju messnya, untung saja mess lain yang ia lewati sepi, jadi tidak ada yang melihatnya berjalan dengan pipi yang basah.
Rafael menarik nafas panjang, ia tidak bisa menahan kepergian Vania yang tidak bisa menerima keputusannya. Rasanya tidak tega juga melihat wanita yang sudah ia lamar walau dengan terpaksa, berlinang air mata di hadapannya. Walau bagaimana pun ia juga punya perasaan, jelas sebenarnya ia tidak tega, tapi kalau ditunda-tunda malah justru akan lebih menyakitkan buat Vania, mumpung saat ini hubungan mereka belum terlalu dalam, belum tumbuh rasa cinta diantara mereka. Cinta? Sudah pasti rasa itu tidak ada dalam hati Rafael untuk Vania, karena cintanya sudah dimiliki oleh perempuan lain yang lebih dulu dikenalnya sebelum ia mengenal Vania, ia cinta pertamanya dan akan menjadi cinta terakhirnya, bahkan telah hadir buah cinta mereka yang membuatnya yakin dan berani untuk memutuskan pertunangannya dengan Vania. Tapi bagaimana dengan perasaan Vania? Bisa saja di dalam hati gadis itu telah tumbuh benih-benih cinta untuk tunangannya, rasanya tidak akan sulit menumbuhkan rasa cinta kepada laki-laki seperti Rafael.
Ternyata usahanya untuk memutuskan pertunangannya tak semudah yang ia bayangkan. Padahal harapannya malam ini ia ingin urusannya dengan Vania selesai, agar ia bisa meyakinkan Kharisa untuk menerimanya kembali, lalu hidup bahagia bersama dengan Rakha, ternyata tidak semudah itu. Dan sepertinya urusannya masih panjang, kalau Vania saja tidak mau terima, bagaimana dengan keluarganya? Bisa saja keluarganya pun tidak mau terima. Lalu apa yang harus ia lakukan?
bersambung
Ada yang mau ngasih saran untuk Rafael?
Tulis sarannya di komen yah readerku tercinta.🤗
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak like juga yah.😁🙏
Thanks atas dukungan semuanya🤗