Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku
Salah Duga Lagi


__ADS_3

"Mamama......eh..eh....mamama...." Rakha terbangun dalam gendongan Bi Nani saat mereka keluar dari rumah Rafael. Ibu Rafael masih terlihat berdiri di depan pintu memperhatikan Kharisa yang mengambil alih menggendong putranya, ekspresi wajahnya masih terlihat datar tapi hatinya berdesir saat melihat wajah dari sosok mungil yang kini terjaga, seolah sedang menatapnya. Ingatannya terbang ke 19 tahun yang lalu, tatapan dari mata bocah dalam gendongan ibunya itu mengingatkannya pada putra bungsunya, kok bisa mirip sekali, benar-benar mirip Rafael waktu kecil, batinnya. Namun ia segera masuk ke dalam rumahnya.


Dengan wajah sedih dan kecewa, Kharisa masuk ke dalam mobil sambil menggendong Rakha yang matanya terlihat sayu, sepertinya masih ngantuk.


"Sekarang kita kemana Neng?" Tanya Faisal. Ia ingin sekali menghibur Kharisa yang sedang sedih, dari wajahnya terlihat ia tidak bisa menyembunyikan kesedihannya, dan Faisal bisa meraskannya. Setelah berharap hampir dua tahun bertemu dengan laki-laki yang dicintainya, yang juga ayah dari putranya, ternyata nasib baik belum berpihak pada Kharisa, ia masih harus bersabar, entsh sampai kapan. Ia tidak habis pikir dengan sikap keluarga Rafael, terutama ibunya tadi, apakah benar-benar tidak bisa menerima Kharisa dan Rakha? Setidaknya menerima Rakha sebagai cucunya, darah daringnya, tapi melihatpun tidak, apalagi tertarik untuk menggendongnya. Ia pun geram mengingat sikap ibunya Rafael tadi.


"Aku ingin ke rumah Papa. Pak, ke daerah Pondok Indah yah, Pak supir tau jalannya gak?" Tiba-tiba terbersit keinginan mengunjungi Papanya walau dengan perasaan ragu, ini di luar rencananya, tiba-tiba teringat papanya. Mumpung ke Jakarta, siapa tau bisa bertemu papanya.


"Saya lupa-lupa ingat Neng, masih daerah Jakarta Selatan kan Neng?"


"Iya Pak, gak terlalu jauh dari sini, kita kembali lagi aja dulu ke jalan Fatmawati."


"Baik Neng." Pak Supir yang bernama Pak Ahmad itu mulai melajukan mobilnya, meninggalkan halaman rumah Rafael.


"Neng Kharis, apa gak sebaiknya bilang dulu Mama Neng Kharis." Bi Nani sedikit khawatir mendengar keinginan Kharisa untuk mengunjungi rumah papanya, mamanya pasti tidak suka kalau tau Kharisa menemui papanya, bukan tanpa alasan, pasti ada alasannya. Kharisa pun tau itu.


"Mumpung ke sini Bi, belum tentu juga papa ada di rumah, kalau bilang dulu ke Mama pasti Mama gak akan ngijinin Bi, Bi Nani nanti jangan bilang ke Mama ya." Kerinduan kepada papanya menguatkan hatinya untuk datang ke rumah papanya, rumah papanya bersama mama Lisna tentunya. Apa kabar rumah yang ditinggalinya bersama mamanya, rumah yang penuh kenangan, pasti rumah itu kosong, tidak mungkin papanya tinggal disana. Bening kristal jatuh di pipinya tanpa bisa tertahan, mengingat kenangan bersama papa, mama di rumahnya.


"Hiks....hiks....hiks....." Isakan pun tak bisa ia tahan, air mata pun meleleh di pipinya, membuat Faisal menoleh ke belakang.


"Neng.....?" Ekspresi Faisal mengisyaratkan bertanya ada apa? Apa baik-baik saja?


"Aku gak apa-apa A, aku hanya teringat papa, mama saja." Dipeluknya bocah kecil dipangkuannya. Tinggal penyesalan yang ia rasakan, kalau saja ia tidak melakukan hal bodoh itu, kalau saja ia mengingatkan Rafael saat itu, tidak mengikuti keinginannya, mungkin sekarang ia sedang berkumpul bersama papa dan mamanya. Tapi tidak akan ada Rakha tentunya. Ia tatap wajah putra kecilnya, wajah tanpa dosa, yang dulu tidak diharapkannya, tapi sekarang karena bocah kecil itu ia semangat menjalani hidup, semangat berjuang untuk kehidupan ke depan yang lebih baik. Sekarang bukan saatnya tenggelam dalam penyesalan, penyesalan perlu untuk introspeksi diri dan memperbaiki diri, tapi bukan berarti menyalahkan takdir masa lalu. Sekarang adalah saatnya ia berjuang untuk masa depan Rakha, untuk kebahagiaan orang-orang yang dicintainya.


Ia tambah erat memeluk Rakha membuat Rakha berontak.


"Mamama....Neh....Neh...." Rakha menarik kerudung Kharisa.


"Oh...Rakha haus dan lapar yah?" Kharisa tersadar kalau sekarang sudah waktunya Rakha untuk makan siang.


Tidak terasa setengah jam kemudian mereka sudah berada di daerah Pondok Indah, Kharisa mengarahkan Pak Supir jalan menuju rumah papanya.


Mobil mereka sudah berada di depan sebuah rumah berpagar tinggi, besarnya hampir sama dengan rumah yang sebelumnya mereka kunjungi, hanya saja tidak ada pos security dan halamannya lebih asri karena ada pepohonan dan tanaman bunga yang tumbuh subur dan tampak bermekaran. Setiap harinya rumah itu tampak sepi, tidak terlihat ada kehidupan, pintu pagar yang terkunci seolah menunjukan tidak ada penghuninya, padahal mungkin saja penghuninya ada di dalam rumah, pagar yang terkunci hanya untuk menjaga agar orang asing tidak mudah masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Kharisa dan Faisal turun dari mobil, sudah hapal cara memanggil yang di dalam rumah, Kharisa menekan bel yang dipasang di tembok samping pagar yang dengan mudah dijangkau oleh tangannya. Dua kali ia menekan bel, belum terlihat ada orang keluar dari dalam rumah. Saat akan menekan bel lagi, terlihat pintu kecil garasi terbuka dan seorang laki-laki setengah baya keluar dengan berlari kecil menuju pintu pagar persis di depan Kharisa.


"Ya, ada perlu apa?" Laki-laki setengah baya itu memicingkan matanya, memperhatikan tamunya dari balik pagar besi yang masih terkunci.


"Mang Jaja......saya Kharisa, Mang Jaja masih ingat saya?" Ternyata Kharisa mengenal laki-laki setengah baya itu, tentu saja mengenalnya, Mang Jaja sudah ada di rumah itu sebelum Kharisa lahir, ia bekerja bersama istrinya sebagai asisten rumah tangga, istrinya mengurus rumah bagian dalam rumah , sementara ia mengurus bagian luar.


"Non Kharisa?" Mang Jaja mengernyit, memastikan apakah benar yang ada di depannya ini Non Kharisa anak majikannya. Tentu saja ia ragu karena penampilan Kharisa yang ada di depannya beda banget dengan yang Kharisa yang dulu dikenalnya, saat masih SMA, Kharisa yang ada di depannya menggunakan hijab dan yang ia tau Kharisa meninggalkan papanya bersama mamanya yang tak lain istri kedua majikannya.


"Iya Mang Jaja, ini saya." Wajah Kharisa penuh harap Mang Jaja mengenalnya dan membukakan pintu membiarkan ia masuk.


"Ya Allah Gusti.....beneran ini Non Kharisa." Mang Jaja mengambil kunci gembok di saku celananya dan segera membuka pintu pagar dengan terburu-buru.


"Ayo Non masuk, Non sama siapa ke sini?"


"Sebentar Mang." Kharisa kembali ke mobil mengajak Bi Nani turun dan meminta pak supir untuk memasukan mobilnya ke halaman rumah.


"Ya ampun Nani, suganteh kamana maneh teh(kirain kemana kamu), syukur atuh ari masih gawe jeung Bu Dewi mah(syukur kalau masih kerja sama Bu Dewi)" Mang Jaja ternyata kenal juga dengan Bi Nani, mereka dulunya tinggal satu kampung dan Mang Jaja yang membawa Bi Nani dari kampung untuk bekerja di tempat istri kedua majikannya.


"Nya Ja, teu tega atuh ninggalkeun Bu Dewi jeung Neng Kharisa(Iya Ja, gak tega ninggalin Bu Dewi sama Neng Kharisa)." ujar Bi Nanti.


"Mang Jaja, Papa ada?"


"Oh iya mari Non kita ke dalam, Bapak tadi pagi keluar, kalau ibu ada, Non masuknya lewat pintu depan saja, saya bukakan dulu pintunya." Mang Jaja dengan setengah berlari masuk lewat pintu garasi.


Tidak lama kemudian pintu ruang tamu terbuka dan sudah ada Mama Lisna di depannya, rupanya Mang Jaja langsung memberitahu Mama Lisna kalau ada Kharisa.


"Ya Allah Kharisa kamu pulang sayang." Mama Lisna memeluk putri sambungnya dengan air menggenang di matanya. Walaupun anak tiri, dan anak dari istri kedua suaminya, ia sangat menyayangi Kharisa seperti menyayangi anaknya sendiri apalagi anak-anaknya laki-laki semua, dan ia sangat mengharapkan kehadiran anak perempuan.


"Ayo masuk sayang, sama Bi Nani ternyata, ayo masuk Bi." Kharisa masuk diikuti Bi Nani dan Faisal dengan Rakha dalam gendongannya.


"Kita duduk di ruang tengah saja yah."


"Ya ampun siapa ini? Cakepnya." Mama Lisna mencoba meraih Rakha untuk digendongnya, dugaannya itu cucunya, anak Kharisa yang dulu suaminya meminta menggugurkannya. Dan anehnya Rakha pun mau digendong Mama Lisna, biasanya Rakha tidak mau dekat dengan orang yang tidak dikenalnya.

__ADS_1


"Ini Rakha Mah." ujar Kharisa lirih, Mama Lisna pasti tau kisahnya dari papanya.


"Syukurlah, dulu Mama sangat mengkhawatirkan kandunganmu, Mama senang bisa melihat cucu Mama, maafkan papamu ya Kharis. Maafkan kakekmu ya Nak." Mama menciumi Rakha dengan linangan air mata.


"Bagaimana kabar Mamamu?" Tanya Mama Lisna. "Alhamdulillah baik Mah." Sejak Mama Kharisa pergi dari rumah, Mama Lisna sama sekali belum pernah berkomunikasi, setiap dihubungi HP mama Kharisa pasti tidak aktif, tentu saja karena diganti nomornya.


"Papamu sedang ketemuan sama rekan bisnisnya sambil main golf di Serpong, kayanya sebentar lagi pulang.


Kini mereka tengah duduk di sofa ruang tengah, termasuk Bi Nani yang sebenarnya merasa tidak nyaman duduk di sana, biasanya Bi Nani berkumpul di dapur bersama Mang Jaja dan istrinya Bi Asih, namun saat ini ia tidak punya keberanian untuk inisiatif pergi ke dapur.


Saat mereka asyik ngobrol, terdengar langkah seseorang masuk dari pintu samping yang tembus taman dan garasi.


"Pa pa......." Kharisa tertegun melihat papanya berdiri memandangnya, jantungnya terasa berdebar, tanpa disadari pandangannya mulai kabur terhalang genangan air di matanya, hingga air mata itu jatuh di pipinya. Akhirnya ia bisa bertemu dengan papanya yang sangat dirindukannya, namun ia bergeming, masih duduk terpaku menatap papanya, ingin rasanya memeluk tubuh yang masih terlihat tegap di usianya yang lebih dari setengah baya, namun tubuhnya terasa berat untuk digerakan, hingga Mama Lisna menepuk bahunya dan menganggukan kepalanya seolah memberi isyarat agar Kharisa menghampiri papanya. Akhirnya Kharisa berdiri dan melangkah mendekati papanya kemudian memeluknya dengan isak tangis keluar dari bibirnya.


"Maafkan Kharis Pah, maafkan Kharis.....Kharis kangen sama Papa." Kharisa memeluk erat pinggang papanya, seperti tak ingin lagi jauh dari papanya, tangisnya pun semakin pecah sementara papanya hanya diam menunduk melihat bahu putrinya yang berguncang karena tangisannya. Tidak ada tanda-tanda papanya membalas pelukannya, hanya terasa usapan lembut di kepalanya.


"Maamama.......mamama......." Tiba-tiba Rakha merengek, mungkin melihat mominya yang tengah memeluk orang yang tidak dikenalnya, ia takut mominya direbut, sama seperti kalau omanya memeluk mominya, pasti Rakha langsung protes dengan merengek atau melepaskan pelukan omanya. Rengekan Rakha membuat papa Kharisa mengalihkan pandangannya ke arah Rakha yang tengah digendong oleh istrinya.


"Ini cucu kita Mas." Ucap Mama Lisna tersenyum bahagia, namun tidak dengan Papa Kharisa, mukanya tampak memerah, terlihat kemarahan di wajahnya. Ia melepaskan pelukan putrinya, dan berjalan mendekati Faisal yang tengah duduk di sofa di sebrang Mama Lisna.


"Jadi kamu pria brengsek yang telah merusak putriku." Papa menarik kemeja Faisal di bagian dadanya hingga tubuh Faisal terseret keluar dari sofa dan...


Bukkk.....


Sebuah pukulan mendarat di wajah Faisal membuat Faisal terhunyung.


"Papa.....jangan...." Kharisa berteriak, namun teriakannya terlambat, karena satu pukulan lagi mendarat di wajah Faisal, cukup keras membuat Faisal terjatuh dengan bibir berdarah. Rakha menangis kencang melihat Faisal jatuh dilantai dan mendengar mominya berteriak, Bi Nani langsung mengambil Rakha dari gendongan mama Lisna dan membawanya keluar.


"Papa, jangan Pah." Teriaknya lagi, ia berlari ke arah Faisal, melindungi Faisal dari papanya yang akan memberikan pukulan lagi.


"Awas Kharisa, laki-laki brengsek itu harus dihajar." Wajah Papa masih terlihat penuh amarah.


"Stop Pah, dia bukan Rafael !!!"

__ADS_1


Bersambung........


__ADS_2