Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku
Haruskah Setia Menunggu?


__ADS_3

Kuliah di perguruan tinggi negri adalah impian Kharisa, apalagi masuk perguruan tinggi favorit di Jawa Barat menjadi kebanggaan tersendiri baginya. Sejak meninggalkan papanya ia sadar seperti apa harus menjalani hidup, tidak ada kemewahan, apalagi foya-foya. Ia tidak ingin membebani mamanya yang mengandalkan tabungan dan menjual perhiasan untuk menyambung hidup berempat bersama Rakha, penghasilan dari bekerja di yayasan pesantren tidak seberapa, tidak cukup untuk makan sehari-hari, mama pun bekerja di yayasan bukan untuk mencari penghasilan, murni ingin membantu, sebagai bentuk terima kasihnya juga karena sudah diterima di lingkungan pondok pesantren khususnya oleh Abah dan keluarga. Hidup sederhana, seadanya, itulah yang sekarang Kharisa jalani.


Menjalani kuliah, sebagai mahasiswa membuat ia harus berpisah dengan mamanya, tapi tidak dengan putra kesayangannya Rakha, ia tidak bisa berpisah dengannya, karena Rakha masih harus mendapatkan ASI, sebenarnya bisa saja ia memberikan PASI, toh sekarang juga Rakha sudah mulai mendapatkan makanan tambahan, pas Kharisa mulai kuliah usia Rakha genap enam bulan. Tapi Kharisa tak tega kalau Rakha harus diberikan PASI, ia tahu begitu hebatnya kandungan nutrisi di dalam ASI, sayang kalau sampai Rakha tidak mendapatkannya. Akhirnya Rakha dibawa Kharisa bersama Bi Nani walaupun mama pasti sedih harus berjauhan dengan putri dan cucunya. Mereka mengontrak rumah petak di perkampungan warga yang agak sedikit jauh dari kampus Kharisa, lumayan harga sewanya lebih murah dibandingkan yang dekat kampusnya, rumah sangat sederhana hanya memiliki satu kamar tidur, ruang tamu, dapur kecil dan kamar mandi. Itu sudah lumayan dari pada harus tinggal di kamar kostan, ada ruang tamu yang bisa digunakan untuk Rakha bermain.


Hari-harinya penuh semangat, belajar, menuntut ilmu, meraih prestasi yang bagus dengan target IPK dia atas rata-rata, tujuannya tidak lain untuk meraih beasiswa, untuk meringankan beban mamanya. Dan di semester pertama ini perjuangannya tidak sia-sia, ia meraih IPK 3,5, sungguh awal yang bagus. Tentu saja hasil yang memuaskan ini tidak lepas dari peran sahabatnya yang selama satu tahun ini selalu mendampinginya, siapa lagi kalau bukan Faisal.


"Neng, kita harus buat target yang harus kita capai di semester pertama ini, ayo kita tuliskan target kita biar terarah." Itu yang diucapkan Faisal kepada Kharisa saat hari pertama masuk kuliah setelah mereka melaksanakan pengenalan kampus atau ospek.


"Tulisnya di buku agenda yang tiap hari dibawa, biar kita selalu ingat target itu, kadang kita kan suka lupa, terlena, atau malas, catatan target itu akan menjadi pengingat untuk kita." Faisal memang memiliki cara kerja terstruktur, itu diturunkan dari bapaknya, termasuk kakak-kakaknya juga seperti itu.


"A Isal targetnya apa?" Kharisa mengintip catatan Faisal di buku agendanya.


"Nih kalau mau lihat, gak usah ngintip-ngintip begitu..."


"Wow.....keren ih targetnya, aku juga mau ah, gak apa-apa kan sama, biar nanti kita lulus bareng, wisuda bareng." Kharisa melihat kagum pada apa yang dituliskan Faisal.


"Tapi aku gak cumlaude juga gak apa-apa sih, asal IPKnya bisa lolos standar buat lanjutin S2."


"Kenapa takut membuat impian tinggi, gratis ini gak bayar, justru ini untuk motivasi, untuk pengingat kalau kita punya impian seperti ini, masa nanti kita mau santa-santai kan malu dengan yang sudah kita tulis, lagi pula ini jadi doa juga." Kharisa manggut-mangut mendengarkan ucapan Faisal. Benar juga, kenapa tanggung membangun impian, bukankah itu akan menjadi hadiah terindah untuk mamanya saat wisuda nanti ia dipanggil sebagai mahasiswa yang lulus dengan nilai cumlaude, bagaimana semua itu akan dialami kalau memimpikannya juga takut.


"Iya deh, aku juga akan tuliskan impianku tertinggi."

__ADS_1


Begitulah mereka berdua selalu saling membantu dan memotivasi agar bisa sukses bersama-sama.


"Neng, Insya Allah lusa terakhir A Isal ke kampus, jadi hari Sabtunya kita bisa pulang, nanti A Isal hubungi bapak biar kita dijemput." Faisal sedang berkunjung ke kontrakan Kharisa, setiap hari pasti ia datang untuk bertemu Rakha yang semakin membuatnya gemas, bakal kangen kalau tidak ketemu sehari saja. Rakha tengah duduk sambil memegang mainan terompet kecil, dimasukannya ke dalam mulutnya hingga basah, sesekali ia merangkak mengambil mainan yang lain, mobil-mobilan adalah mainan favoritnya, mobil balap berwarna merah yang paling sering dimainkannya. Faisal menjaganya di belakang, Rakha sedang belajar berdiri, masih belum bisa menyeimbangkan tubuhnya, kadang masih sering terjatuh jadi harus dijagain.


"Aku besok terakhir ke kampus, mau ke perpus ngembaliin buku, sekalian ngecek info semester pendek, kalau ada mau ngambil beberapa SKS, mudah-mudahan di ACC dosen pembimbing." Sesuai target Kharisa ia akan mengejar targetnya untuk lulus lebih awal, maksimal lulus di semester tujuh.


"Jadi fix yah kita pulang hari Sabtu." Faisal memastikan lagi. "Asyiiik...Rhaka mau pulang, mau ketemu Oma sama Enin yah..." Oma adalah sebutan untuk mama Kharisa, sedangkan Enin untuk ibunya Faisal.


"A....kalau pulangnya hari Ahad gimana...?" Tanya Kharisa ragu-ragu. Faisal menoleh ke arah Kharisa yang duduk di sebelah kirinya.


"Neng masih ada kegiatan?" Ya udah nanti A Isal telpon bapak untuk jemput hari Ahad."


"Bukan kegiatan di kampus....Neng ingin ke Jakarta, A Isal bisa nganter gak?"


"A Isal dulu pernah bilang kan, kalau Rafael gak bisa dihubungi lewat medsos, alternatif terakhir datang ke rumahnya, siapa tau dia pulang libur tahun baru." Dalam hati kecilnya Kharisa berharap bisa bertemu Rafael, kalau pun tidak, bisa mendapatkan no kontaknya. Ia yakin Rafael menghubunginya ke no HP yang tertinggal di rumahnya, rasanya tidak mungkin kalau sampai melupakannya. Ia tau bagaimana Rafael begitu mencintainya, laki-laki dingin yang banyak disukai oleh siswi di sekolahnya akhirnya melabuhkan hatinya pada gadis cuek yang selalu menghindarinya, siapa lagi kalau bukan dirinya, dulu Rafael yang mengejar-ngejarnya, tidak pantang mundur walaupun pernah ditolaknya, jadi rasanya sangat tidak mungkin kalau Rafael meninggalkannya begitu saja, apalagi tidak mau bertanggung jawab atas perbuatannya. Ini hanya masalah hilang kontak saja.


"Siapa tau Rafael pulang liburan untuk tahun baruan di Indonesia."


"Udah bilang ke Mama?" Yang Faisal tau mama Kharisa pernah melarang Kharisa untuk mencari Rafael, mungkin ia begitu kecewa pada keluarga Rafael yang tidak menerima kehamilan Kharisa.


"Kalau mama tau, pasti dia akan melarang, jadi aku gak akan bilang ke Mama, tolong A Isal juga jangan bilang yah." Pinta Kharisa, ia berharap banyak Faisal mau membantunya.

__ADS_1


"A Isal bisa bantu rentalin mobil? Aku ingin bawa Rakha juga, siapa tau bisa ketemu ayahnya." Ucap Kharisa lirih, terlihat gurat kesedihan di wajahnya. Ia menyesalkan Rakha harus hadir ke dunia karena sebuah kesalahan, lahir ke dunia tanpa ayah disampingnya. Tiba-tiba ia meraih Rakha ke dalam gendongannya, tak ada penolakan dari Rakha, malah anak gembul itu menatap wajah ibunya yang berada di atasnya yang terlihat sendu dan mata berkaca-kaca, tentu saja Rakha tidak mengerti suasana hati ibunya, ia terus memainkan mainannya dengan gusinya yang baru ditumbuhi dua giginya. Dipeluknya erat tubuh kecil itu, membuat Rakha sedikit meronta, hingga terdengar isakan kecil dan terlihat guncangan di punggung Kharisa


"Neng......." Faisal jadi iba melihat Kharisa menangis, sudah lama ia tidak melihat Kharisa menangisi takdirnya, ia pikir Kharisa tidak akan menangisinya lagi. Tapi ternyata ia salah.


"Neng kasihan Rakha .....sini...." Faisal meraih Rakha yang meronta, mungkin ia merasa tidak nyaman dipeluk erat momynya, atau merasa terganggu yang tengah asik dengan mainannya. Rakha telah berpindah dalam gendongan Faisal, dilihatnya Kharisa mengusap mengeringkan pipinya yang basah dengan kedua tangannya.


"Pulang dari sini A Isal ke tempat rental, hari Sabtu kan? jam berapa berangkatnya?" Melihat Kharisa menangis Faisal tidak membantah keinginan Kharisa, malahan akan langsung booking mobilnya dari sekarang, biar gak kehabisan, biasanya weekend rentalan mobil laris manis.


"Jam tujuh saja kita berangkat." Jawab Kharisa sambil beranjak menuju kamar, tak lama ia kembali lagi dengan membawa lembaran uang seratus ribuan.


"Ini untuk bayar rental mobilnya." Kharisa menyerahkannya pada Faisal.


"Ini terlalu banyak....." Faisal mengambil setengahnya dan mengembalikan sisanya.


"Simpan saja dulu di A Isal, untuk bekalnya. Ini bukan uang dari mama, ini simpananku dari hasil keuntungan jadi reseller baju Teh Moza." Faisal menganggukan kepalanya, ternyata Kharisa telah mempersiapkannya. Ia pun pamit pulang, rupanya bocah gembul dalam gendongannya tertidur pulas.


Setelah Faisal pulang, ia menidurkan Rakha ke kamar, ia pun ikut berbaring di samping Rakha, di kasur busa yang langsung berada di atas lantai. Ia menatap langit-langit kamar dari plafon sederhana, pikirannya menerawang membayangkan bagaimana hari Sabtu nanti ia mengunjungi rumah Rafael, akankan ia bertemu dengan Rafael, atau harus merasakan lagi kecewa tidak bisa berjumpa dengannya? Akankah keluarganya menerima kedatangannya, menerima Rakha yang dulu ingin disingkirkan mereka?


Kalau masih belum bisa berjumpa dengan Rafael, haruskah ia terus sabar, setia menungguqnya, seperti janjinya yang dulu ia ucapkan saat Rafael berangkat ke Amerika.


El raihlah mimpimu, aku akan setia menunggumu.

__ADS_1


bersambung.....


__ADS_2