Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku
Benar Mirip


__ADS_3

"She*t." Rafael memukulkan kepalan tangannya ke atas meja kerjanya. Ia kesal pada dirinya sendiri yang tidak bisa menahan emosi saat berhadadapan dengan Kharisa, padahal ia sudah bersusah payah mengatur agar ia bisa mendampingi Karisa menggantikan dokter Arjuna, dan ia menyia-nyiakan kesempatan itu. Sejak pagi ia memang sudah kesal dengan Kharisa, mau-maunya ia diam saja digoda oleh Arjuna, dan sejak kapan ia menjadi penggemar coklat, hingga dengan entengnya menerima pemberian coklat dari Arjuna, dan apa tadi ia mendengar coklat kemarin juga belum habis, berarti kemarin juga dikasih coklat dan Kharisa merimanya membuatnya tambah geram saja. Coba saja tadi ia bertanya baik-baik pada Kharisa, tidak dengan emosi, Kharisa mungkin akan menjelaskan kemana saja ia selama ini. Dan sekarang malah ia disuruh menanyakan kepada mami papinya. Kalau bertanya pada maminya pasti maminya akan menjelaskan Kharisa sudah menikah dengan laki-laki lain dan memiliki anak. Tapi Kharisa begitu bersikukuh kalau ia tidak mengkhianatinya. Rafael mengacak-acak rambutnya, bingung sendiri siapa yang harus ia percaya.


"Halo Bang, masih di rumah sakit?" Rafael menghubungi kakak sepupunya yang sudah seperti kakaknya sendiri dibandingkan dengan kakak kandungnya sendiri.


"Masih, kenapa? Kharisa sudah pulang, dia ke ruangan hanya membereskan meja kerjanya lalu langsung pulang." Ujar Andre yang mengira pasti Rafael menanyakan Kharisa.


"Aku gak nyari Kharisa, mau nanya-nanya sama Abang." ujar Rafael.


"Nanya apa?" Tanya Andre


"Abang tau Kharisa melamar ke sini pake ijazah apa?"


"Yaelah tetep aja ini nanya-nanyanya tentang Kharisa juga." Ejek Andre.


"Ya gak mungkin aku nanya tentang kerjaan Abang."


"Kamu dimana?" Tanya Andre


"Di ruanganku Bang."


"Oke aku ke sana, gak asik ngobrol di telpon." Andre pun menutup telponnya.


Tidak sampai lima menit Andre sudah berada di ruangan Rafael. Sebenarnya ini bukan jam kerja lagi, tapi mereka sepertinya lebih betah berada di rumah sakit dari pada di mess. Mereka sama-sama termasuk pekerja keras, Setelah jam kantor selesai Rafael biasanya akan standby di IGD, selain melihat pelayanan yang diberikan oleh timnya, ia juga ingin mengasah kemampuannya menangani pasien, mempelajari kasus-kasus pasien yang waktu di Amerika jarang atau tidak pernah ia temui. Selepas maghrib atau Isya ia baru kembali ke mess.


"Jadi kamu ingin tau Kharisa tentang apa? Yang aku tau Kharisa itu lulusan Universitas Negri terkenal di Bandung jurusan ilmu komunikasi, dan IPKnya cumlaude, bisa kelihatan sih dia gadis yang cerdas." Jelas Andre.


"Berarti dia pindah sekolah." gumam Rafael


"Kalau mau tau info bio data lengkapnya lihat saja di HRD , lihat CVnya." Tambah Andre. Tiba-tiba Rafael menggebrak mejanya, walau pelan tapi membuat Andre terkejut.


"Kenapa?" Tanyanya.


"Ah sial.....padahal tadi aku pegang KTPnya Risa, pas ngambil di pos security saat akan keluar dari tempat penyuluhan tadi. Harusnya dilihat statusnya sudah menikah atau belum." Ya tadi setelah mengambil KTP Kharisa Rafael langsung memberikannya tanpa melihat data yang tercantum di kartu berwarna biru muda itu.


"By the way kenapa kamu gak tanyakan langsung sama Kharisa, bukankah tadi kalian ada kesempatan bersama?" Tanya Andre heran. Rafael pun akhirnya menceritakan kejadian selama ia bersama Kharisa di perjalanan pulang ke rumah sakit.


"Jadi Kharisa tidak mengakui kalau dia mengkhianati kamu?" Tanya Andre, langsung disambut dengan anggukan kepala Rafael.


"Raf setelah aku tau kalau kekasih kamu itu Kharisa aku jadi ragu dengan cerita mami kamu. Walaupun aku baru kenal Kharisa satu bulan, tapi aku bisa mengenal karakter dia seperti apa, dia orangnya jujur dan selalu memperhatikan perasaan orang lain, bahkan dia lebih banyak mengalah untuk menghindari konflik dengan orang lain." Ujar Andre jujur.


"Jadi abang menuduh mami berbohong?" Tanya Rafael dengan nada tidak suka.


"Bukan menuduh.... hanya ragu. Makanya harus dibuktikan sendiri."


"Tapi soal anak itu benar adanya Bang, aku lihat dengan mata kepala sendiri bagaimana Risa memeluknya, menciumnya, mengantarnya ke sekolah, kalau bukan anaknya siapanya coba? Keponakannya?" Nada Rafael mulai meninggi. walaupun dalam hatinya ia berharap anak itu hanya keponakan Kharisa atau anak saudaranya.


"Lalu kamu tanyain kan siapa anak itu ? Apa jawabnya?"


"Ya itu, malah suruh tanya ke Mami, Mami tau jawabannya katanya." Rafael menghela nafas dengan berat.


"Kalau aku tanya Mami pasti jawabannya tetap sama, Kharisa meninggalkan Jakarta karena ia menikah dengan laki-laki lain dan sudah memiliki anak. Pasti itu jawaban Mami, tapi kenapa Kharisa bersikukuh kalau ia tidak mengkhianatiku. Bingung kan? Aku harus percaya yang mana?"


"Raf kalau Kharisa sudah menikah pasti suaminya ada dong, kamu lihat gak waktu ke rumahnya?" Tanya Andre makin penasaran.

__ADS_1


"Itu dia Bang, aku gak lihat ada laki-laki masuk ke rumah itu atau keluar berangkat kerja. Apa suaminya kerja di luar kota?" Ujar Rafael sambil mengacak-ngacak rambutnya.


"Raf sory yah, aku mau tanya. Sebenarnya tujuan kamu mencari tau tentang Kharisa itu untuk apa? Kalau ternyata yang dikatakan Mami kamu benar, kamu mau apa? Dan kalau ternyata Kharisa tidak terbukti mengkhianati kamu, trus apa yang akan kamu lakukan? Jangan sampai apa yang kamu lakukan sekarang ini sia-sia gak jelas tujuannya. Ingat kamu sudah bertunangan Raf, seluruh karyawan rumah sakit sudah tau kalau kamu tunangannya Vania, calon suami Vania." Ucapan Andre seolah menjadi tamparan buat Rafael, ia diam terpaku, ia langsung bertanya pada dirinya sendiri, benar apa yang akan ia lakukan? Yang pasti di hatinya masih berharap bisa bersatu lagi dengan Kharisa, tapi apakah itu mungkin? Kepalanya serasa akan meledak saat ini.


*****


Satu minggu telah berlalu, Kharisa seperti biasa mengerjakan aktifitas pekerjaannya dengan profesional, kini rekan kerja marketingnya mengakui bagaimana kemampuan Kharisa dalam dunia marketing, kecuali Siska tentunya yang masih menatap dan bicara sinis pada Kharisa. Mereka dibuat kagum saat ada kunjungan dari Mr. Rajesh dan timnya. Kharisa dengan percaya diri menjadi tour guide rumah sakit, didampingi Pak Andre dan Meli mereka berkeliling melihat semua fasilitas yang dimiliki rumah sakit. Dengan kemampuan bahasa Inggrisnya ia menjelaskan setiap fasilitas yang dikunjungi, terlihat Kharisa begitu menguasai produk jasa yang dijualnya, Pak Andre menambahkan sedikit saja untuk meyakinkan Mr. Rajesh dan timnya, sementara Meli hanya mengikuti mendampingi Kharisa dan Pak Andre dengan terkagum-kagum mendengar penjelasan dalam bahasa Inggris yang tidak dimengertinya. Dan dengan hebohnya Meli menceritakannya pada tim marketing saat mereka berkumpul di ruangannya.


Kharisa tidak berusaha lagi menghindari Rafael, kalau mereka memang harus bertemu tak sengaja Kharisa akan menyapa dan mengucapkan salam seperti yang ia lakukan kepada karyawan lainnya. Rafael pun tidak berusaha untuk mendekati Kharisa, atau bertanya lagi alasan kenapa Kharisa meninggalkannya. Mungkin ia telah bertanya pada orang tuanya dan mempercayai jawabannya, entah apa yang dijelaskan oleh orang tua Rafael tentangnya ia tidak mau ambil pusing. Mau jujur atau dusta terserah, ia akan tetap berdiri kokoh demi putra kesayangannya.


Setelah pembicaraan di mobil Rafael ia benar-benar menguatkan hati untuk tidak mengharapkan Rafael, terlalu banyak duri yang akan menyakiti hatinya dan mungkin juga menyakiti orang lain jika ia mempertahankan impiannya membangun keluarga yang utuh bersama Rafael dan Rakha putranya. Status Rafael yang telah bertunangan dengan Vania, belum lagi orang tua Rafael pasti akan menentangnya, dan sorotan dari lingkungan kerja yang akan mencapnya sebagai perusak hubungan atau lebih jahatnya lagi sebagai pelakor, Kharisa tidak bisa membayangkan kalau semua itu harus ia hadapi.


Yang ia lakukan kini adalah berdamai dengan takdir, berusaha ikhlas, sabar seperti yang selalu diingatkan Faisal. Dan selama satu minggu kemarin ia bisa menjalaninya dengan baik. Yang membuatnya tenang adalah Rakha tidak pernah menanyakan lagi kapan dadynya pulang, itu cukup membuatnya merasa lega. Ia harus menata lagi rencananya ke depan, menyiapkan Rakha agar tidak kecewa karena Dadynya tidak mungkin hidup bersama.


Sementara tanpa sepengetahuan Kharisa Rafael tetap memantau rumah Kharisa, kali ini di malam hari, siapa tau suami Kharisa biasa pulang malam dari pekerjaannya, namun tetap saja ia tidak menemukan tanda-tanda keberadaan suami Kharisa. Akhirnya hanya kuat tiga hari, ia pun mengalah, tidak melakukan pemantauan lagi.


Minggu ini tim marketing disibukan dengan kegiatan kunjungan ke sekolah TK dan SD yang ada di sekitar kota. Beberapa sekolah sudah ditetapkan jadwal kunjungannya, kegiatannya diisi pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut dengan sasarannya siswa sekolahnya, dan penyuluhan tentang imunitas pada anak dengan sasaran orang tua muridnya, terakhir tim marketing akan menyampaikan sekilas info fasilitas dan pelayanan rumah sakit, dengan harapan saat orang tua murid yang membutuhkan pelayanan kesehatan mereka akan mempercayakannya pada rumah sakit Setya Medika.


Di tahun ketiga berdirinya rumah sakit, tim marketing memang sengaja membuat program dengan gencar, setelah dua tahun sebelumnya menata diri, membentuk image pelayanan rumah sakit yang mengutamakan kepuasan pasien. Direktur pun mulai menuntut pencapaian target omzet rumah sakit yang berarti menuntut mereka bekerja keras dalam mengejar target pencapaian kunjungan pasien ke rumah sakit baik rawat inap, rawat jalan, termasuk penunjang medik.


Awalnya Kharisa merasa tidak nyaman membahas target rumah sakit, karena ia merasa telah berbuat jahat berharap orang lain datang ke rumah sakit yang berarti mengharapkan mereka sakit. Namun persepsinya ini diluruskan oleh Faisal, saat sesi curhat di telpon.


"Gak gitu Neng, kita bukannya mengharapkan orang lain sakit apalagi mendoakan supaya orang lain sakit tapi kalau ada yang sakit kita berharap mereka datangnya ke rumah sakit tempat Neng bekerja. Sakit itu sunatullah, juga karunia Allah yang diberikan kepada siapapun hambanya yang dikehendaki. Yang bekerja di rumah sakit tinggal meluruskan niat, tujuannya karena Allah, bekerja agar menjadi jalan bagi yang sakit untuk mengatasi penyakitnya, hingga pekerjaannya akan dinilai sebagai amal ibadah." Ucapan m Faisal membuat Kharisa merasa lega. Ah Faisal memang selalu bijaksana.


Dan hari ini setelah MM, Kharisa langsung. berangkat bersama Ahmad untuk menawarkan program medical check up ke beberapa perusahaan. Sementara Zaki dan Siska tengah bersiap untuk kunjungan ke dua sekolah TK. Siska terlihat berseri-seri setelah tau kalau dokter yang akan mendampingi mereka adalah dokter Rafael selain dokter Elsa dokter gigi yang akan melakukan pemeriksaan kepada anak-anak TK di sekolah yang akan mereka kunjungi.


Ternyata sekolah pertama yang mereka kunjungi adalah sekolah yang lokasinya dekat perumahan Kharisa yang tak lain tempat Kharisa menyekolahkan putranya di sana. Tentu saja Rafael masih ingat kalau di sekolah itu ada anak laki-laki yang ingin dia ketahui identitasnya, apa hubungannya dengan Kharisa.


Rafael telah selesai melakukan penyuluhan di hadapan orang tua siswa yang hampir semuanya ibu-ibu muda. Sekarang bagian Siska yang sedang berbagi informasi tentang fasilitas rumah sakit. Rafael masuk ke kelas dimana dokter Elsa masih melakukan pemeriksaan gigi pada anak-anak. Anak yang telah diperiksa giginya tampak sedang menikmati snack yang dibagikan oleh tim marketing rumah sakit, tampak Zaki berada di sana tengah bercengkrama dengan anak-anak. Rafael mengedarkan pandangannya mencari keberadaan anak laki-laki yang pernah dilihatnya bersama Kharisa. Saat itu ia memang tidak begitu jelas melihat wajahnya, karena melihat dari jarak jauh, namun sekilas ia masih ingat posturnya, gaya rambutnya, dan warna kulitnya yang putih. Hingga tatapannya tertuju pada sosok anak laki-laki yang duduk di kursi paling belakang tengah kesulitan membuka bungkus biskuitnya. Ia pun menghampirinya dan duduk di kursi ukuran mini di depannya yang terhalang meja yang juga berukuran mini.


"Nama kamu siapa?" Tanya Rafael sambil menyerahkan biskuit yang telah dibuka bungkusnya.


"Lakha Om." Jawab anak itu cadel.


"Oh..Rakha?" Ujar Rafael memastikan. Rakha menganggukan kepalanya.


"Om doktel yah?" Tanya Rakha, matanya memperhatikan dengan lekat tampilan Rafael dengan jas putihnya.


"Iya." Jawab Rafael. Ah kenapa ia merasa tidak asing melihat wajah anak kecil itu, batinnya saat memperhatikan anak itu makan biskuitnya.


"Rakha kalau sudah besar mau jadi dokter gak?" Tanya Rafael mencoba mengakrabkan diri.


"Gak mau." Langsung saja Rakha menjawabnya sambil menggelengkan kepalanya.


"Kenapa gak mau jadi dokter?" Tanya Rafael heran, biasanya anak kecil kalau ditanya cita-citanya ingin jadi dokter kalau bukan pilot atau polisi.


"Gak mau....sekolahnya lama, jauh, telus gak pulang-pulang." Rafael mengernyit mendengar jawaban Rakha.


"Kata siapa?" Tanya Rafael, tentu saja Rafael tidak sependapat dengan jawaban Rakha, masa sampe gak pulang-pulang.


"Momy bilang, Dady aku lagi sekolah doktel, sekolahnya jauh, dan gak bisa pulang." Jawab Rakha dengan wajah merengut, ia jadi ingat lagi kalau ingin ketemu dadynya.


Deg...ayah anak ini sedang sekolah dokter, tapi kenapa sampai gak pulang-pulang, batin Rafael.

__ADS_1


"Momy kamu namanya siapa?" Tanya Rafael dengan jantung berdebar, ia mulai memastikan siapa identitas Rakha.


"Momy aku namanya Khalisa Maula Pladita." Rafael tertegun mendengar jawaban Rakha, jantungnya berpacu lebih cepat, berarti benar anak ini anaknya Kharisa, ada perasaan kecewa di dalam hatinya, ia berharap kalau anak ini hanya keponakan atau anak saudaranya yang dititipkan, tapi ternyata anaknya Kharisa.


"Momy aku keljanya di lumah sakit, Om juga kelja di lumah sakit ya Om? Kata Momy, nanti kalau Dady aku udah jadi doktel keljanya di lumah sakit juga, jadi baleng sama momy....hi....hi....hi....." Rakha terlihat senang, mungkin membayangkan momy dan dadynya bisa kerja di tempat yang sama.


"Nama Dady kamu siapa?" Kali ini Rafael terlihat begitu penasaran dengan ayahnya Rakha.


" Eu....Dady aku....eu....." Rakha terlihat mengingat-ingat sesuatu, bola matanya melihat ke atas sambil mengerutkan keningnya.


"Wah ada yang lagi asyik ngobrol berdua." Tiba-tiba Zaki menghampiri Rafael


"Dok udah cocok kayanya dipanggil 'Papa'." Canda Zaki membuat Rafael melebarkan bibirnya.


"Lucu banget nih anak. De kamu kok cakep banget sih, pasti mama papa kamu juga cakep, namanya siapa?" Zaki menjembel pipi Rakha, Rakha hanya bisa mengusap pipinya yang sudah terbiasa dijembel orang dewasa karena gemas melihatnya.


"Lakha Om." Jawabnya


"Oh Lakha..." Zaki manggut-manggut.


"Bukan Lakha Om tapi Rllakha." Ucapnya masih terdengar cadel, namun berusaha menyebut huruf R. Rafael pun tersenyum melihat usaha Rakha menyebut namanya.


"Ha...ha...ha...iya..iya Rakha." Ternyata Zaki sengaja menggodanya. Rakha mengambil susu kemasan dari goodie bag yang tadi dibagikan Zaki, memasang sedotannya lalu mengesapnya sedikit-sedikit, Rafael begitu memperhatikannya, dan kenapa ia merasa sedang melihatnya dirinya waktu masih kecil? Terbayang dirinya waktu kecil yang ia lihat dari album foto yang memang ia simpan dengan rapi di kamarnya.


"Lucu ya dok, cakep lagi, aku nanti mau da punya anak cakep seperti ini, berarti aku harus cari calon istri yang cantik untuk memperbaiki keturunan...he.. he...." Ujar Zaki tsnpa merasa canggung dengan siapa ia berbicara, padahal baru pertama ketemu langsung dengan Rafael.


"Eh...tapi kalau diperhatikan kok mirip Dokter Rafael ya Dok? Benar mirip loh dok, cocok kalau jadi anaknya dokter. Eh maaf ya dok." Ujar Zaki yang baru sadar sudah bicara lancang. Tentu saja anak ini mirip papa mamanya, gumamnya dalam hati.


Rafael pun jadi lebih lekat memperhatikan Rakha.


*Benar....anak ini miri*p aku, aku juga merasa melihatku waktu kecil.


Jantung Rafael kembali berdetak cepat, hatinya kembali berdesir, ia mulai menduga-duga, namun ia palingkan karena rasanya itu tidak mungkin.


"Ayo anak-anak semuanya berkumpul di depan." Terdengar suara Miss Shinta memanggil anak-anak untuk berkumpul.


"Om aku ke depan dulu yah." Rakha berdiri dari duduknya, ia mengambil buku gambar dan krayon di mejanya kemudian berjalan ke tempat loker yang berada di sebelah kanannya. Ia menyimpan buku gambar dan krayon di loker miliknya. Rafael pun memperhatikannya, hingga ia melihat tulisan nama pemilik loker itu yang terbaca sangat jelas dari tempat duduknya.


"Rakha Athaillah Prasetya"


Deg


Jantungnya serasa berhenti sesaat, membaca nama itu.


Nama belakang anak itu sama dengan nama belakangnya 'Prasetya'.


*Apa mungkin........???


bersambung*......


Hai readerku tercinta, semoga sehat semuanya, selamat beraktivitas yah, semoga dilancarkan segala urusannya.


Terima kasih atas dukungannya, lewat like komen, hadiah juga votenya. Terima kasih atas masukannya juga, mohon maaf bila alur ceritanya belum bisa memenuhi keinginan reader semuanya. Tapi Othor coba terima kok sebagian usulannya, sekiranya cocok dengan alur cerita yang memang sudah Othor rancang. Terima kasih yah. Jangan pernah bosan untuk komen dan ngasih masukan buat Othor, komennya pasti dibaca walaupun mohon maaf tidak semuanya bisa dibalas. Sekali lagi terima kasih readerku tercinta.

__ADS_1


Salam 🤗😘😘


Umi Haifa


__ADS_2