
Setelah Rafael pulang, Kharisa langsung mengambil air wudhu, lalu masuk ke dalam kamarnya untuk melaksanakan shalat ashar, di tempat tidur terlihat putranya berbaring masih tertidur lelap. Selesai shalat, masih menggunakan mukenanya ia pandangi sejenak wajah putranya yang polos, dengan mulut yang sedikit terbuka. Wajah yang dipandanginya itu sudah tentu akan mengingatkannya pada Rafael, wajah Rakha benar-benar jiplakan dadynya, seperrinya Allah memberikan karunia wajah Rakha seperti ayahnya agar tidak bisa ditolak untuk diakui sebagai anaknya.
Ucapan Rafael tadi kini terngiang-ngiang di telinganya, akankah ia mengikuti keinginan Rafael untuk hidup bersama?
"Justru karena ada Rakha hubungan kitalah yang lebih kuat, Rakha lebih berhak kita menjadi orang tuanya yang utuh Sa." Kharisa mengakui ucapan Rafael memang benar, Rakha berhak memiliki orang tua yang utuh, dan Rakha pasti bahagia jika ia dan Rafael bersatu.
"Setidaknya kamu pikirkan demi kebahagiaan Rakha." Siapa yang tidak ingin melihat putranya bahagia, ia akan melakukan apapun untuk kebahagiaan putrana. Berarti Kharisa akan menerima lagi Rafael dan mereka. hidup bersama? Tunggu untuk yang satu ini ia masih bimbang, hati kecilnya tentu ingin ia bisa hidup bersama dengan Rafael dan putranya, apalagi di hatinya masih tersimpan rapi rasa cinta yag terus ia jaga. Jadi salah besar kalau Rafael mengira ia sudah tidak mencintai Rafael. Tapi rasa takutnya lebih besar, rasa takut menghadapi orang tua Rafael, rasa takut akan menyakiti Vania dan ia akan mendapat gelar wanita perusak hubungan atau juga disebut pelakor, ia pasti akan mendapat kecaman dari keluarga dan teman dekat Vania. Itu yang tidak ia inginkan.
Dalam keadaan bimbang seperti ini ia pasti ingat seseorang yang selalu bisa menenangkan hatinya. Siapa lagi kalau bukan Faisal. Kharisa merapihkan alat shalatnya, ia meraih HP yang tersimpan di atas meja, ia pin menghubungi Faisal lewat sambungan WA.
"Assalamualaikum A"
"Waalaikumsalam" terdengar suara Faisal membuat Kharisa tersenyum lega.
"A lagi dimana? Gak jadi ke sini?" tanya Kharisa, kemarin Faisal bilang akan mengusahakan untuk datang, ia juga kangen sama Rakha.
"Neng, maaf A Isal gak jadi ke sana yah, besok ada acara kumpul keluarga di rumah Kang Farhan, ni A Isal baru nyampe rumah Kang Farhan, ibu bapak juga baru saja datang, ada Kang Fakhri dan Teh Fahira juga, sekalian mau bahas persiapan pernikahan Kang Fakhri. "
"Oh ya atuh, gak apa-apa." Suara Kharisa terdengar seperti kecewa.
"Kenapa Neng, ada apa?" Faisal rupanya peka mendengar nada suara Kharisa yang terdengar berbeda.
"Gak apa-apa, aku cuma mau curhat saja." Jawab Kharisa.
"Ya udah mau curhat sekarang? A Isal lagi santai kok."
"Eh Neng, sebentar yah, ibu manggil, jangan ditutup dulu." Kharisa pun menunggu tanpa menutup HPnya, samar-samar terdengar suara obrolan Faisal dengan ibunya.
"Halo Neng, kata Ibu bisa gak Neng ke sini, ke rumah Kang Farhan, ibu sama bapak kangen katanya, kangen juga sama Rakha. Kalau Neng bisa, ke Bandungnya pakai travel aja, kaya A Isal kemarin, nanti A Isal pesankan, ada nomor kontaknya di A Isal. Nanti A Isal jemput di pool travelnya." Kharisa terdiam berpikir besok pergi atau jangan.
"Gimana Neng?" Tanya Faisal menunggu jawaban Kharisa, ia pun berharap Kharisa bisa datang, karena ia juga kangen ingin ketemu Rakha.
"Aku tanya Rakha dulu yah, sama minta ijin mama, kalau diijinin Insya Allah aku ke sana."
"Sip, nanti kabarin ya Neng."
__ADS_1
"Iya, ya udah aku tutup dulu ya A Isal....." belum sempat Kharisa menutup obrolannya, tiba-tiba Rakha bangun.
"Momy itu Om Isal? Aku mau telpon Om Isal." ujarnya sambil turun dari tempat tidur, mendekati momynya.
"A...A Isal bentar nih Rakha mau ngomong." Kebetulan Faisal pun belum menutup HPnya.
"Om Isal kapan ke sini?" Selalu itu yang ditanyakan kalau ngobrol ditelpon dengan Faisal.
"Om Isal gak bisa ke sana, Rakha aja yang ke Bandung mau gak? Ada aki, enin di rumah Wa Farhan, Rakha ke sini mau gak?" Tanya Faisal, malah ia yang mendahului Kharisa mengajak Rakha.
"Di lumah yang ada Khanza nya?" Rupanya Ia masih ingat dengan anaknya Kang Farhan dan Teh Moza.
"Iya, Enin sama Aki kangen sama Rakha."
"Mau, mau...aku juga kangen sama Aki sama Enin, aku juga mau kasih tau Khanza kalau aku punya ayah." Ia juga masih ingat kalau Khanza pernah menanyakan mana ayahnya, waktu itu ia belum begitu mengerti, kini ia sudah tau kalau ia memiliki dady, dan dadynya sudah pulang dari tempat jauh, tempat sekolah dokternya, utu yang ia pahami sekarang.
"Ya udah nanti Rakha bilang sama Momy yah." Ujar Faisal senang.
"Om Isal aku tadi dapat piala tiga, juala lomba sama Dady." Kini Rakha mulai berceloteh tentang kegiatan yang diikutinya tadi di sekolah bersama dadynya, sementara Kharisa menyiapkan baju ganti Rakha untuk sore ini setelah mandi. Kemudian ia keluar kamar mencari mamanya untuk minta ijin pergi ke Bandung besok, meninggalkan Rakha yang tengah asik ngobrol jarak jauh dengan Om kesayangannya, kini lewat vidio call.
Keesokan harinya, Kharisa dan Rakha berangkat ke Bandung menggunakan travel. Semalam setelah mendapat ijin dari mamanya Kharisa langsung mengabari Faisal, Faisal pun langsung menghubungi pihak travel memesan dua seat tujuan Bandung untuk Kharisa dan Rakha.
Dan pagi tadi Rakha terlihat bersemangat, pukul setengah enam ia sudah rapi lengkap dengan sepatu sneakernya, tas gendong yang berisi perbekalan Rakha dari mulai baju ganti, air minum dan cemilan untuk bekal di perjalanan. Ini pertama kalinya Rakha pergi hanya berdua dengan momynya, mereka pergi ke pool travel dengan menggunakan ojek online. Kharisa sudah terbiasa menggunakan ojek online, bepergian dengan kendaraan umum menjadi hal biasa untuknya, tidak ada kendaraan yang akan mengantarkannya ke manapun tidak menjadi kendala untuknya menjalani aktivitas sehari-hari, begitu pun dengan mamanya, padahal lima tahun yang lalu hidup mereka begitu dimanjakan dengan fasilitas mewah, mereka tetap bersyukur dengan kehidupan saat ini, itu yang membuat hati mereka bahagia, mensyukuri apapun yang Allah tetapkan untuk mereka.
Setelah satu jam perjalanan mereka sampai di kota Bandung tepatnya di daerah Buah Batu tidak jauh dari pintu tol. Sudah ada Faisal yang menunggunya di pool travel, ia meminjam mobil Kang Farhan untuk menjemput Kharisa dan Rakha. Betapa senangnya Rakha bertemu Faisal, ia tidak mau jauh dari Faisal, padahal satu minggu yang lalu un mereka bertemu, tiap hari telpon atau vidio call, tetap saja saat bertemu selalu dijadikan moment untuk melepas kerinduan Rakha pada Omnya, walaupun sudah ada dadynya, sikap Rakha pada Faisal tidak berubah.
"Aki Enin mana?" Saat tiba di rumah Kang Farhan, ayah dan ibu Faisal yang dicarinya.
" Euleuh....incu aki tambah ganteng aja." ujar ayah Faisal saat melihat kedatangan Rakha. Ayah Faisal memang sudah menganggap Rakha sebagai cucunya, begitu pun dengan ibunya Faisal.
"Aki....Enin......." Rakha menghampiri lalu menciun tangan Aki dan Eninnya yang tengah duduk di ruang tengah, sedang menemani bermain cucunya yang lain, putra putrinya Kang Farhan dan Teh Moza. Aki dan Enin pun memeluk Rakha melepas kerinduan setelah hampir dua bulan tidak bertemu. Rakha pun langsung bergabung bermain dengan dua bocah yang tengah asyik dengan mainannya, Khanza asyik bermain masak-masakan, adiknya asik menyusun lego plastik, membuat gedung tinggi menurutnya.
Faisal mengajak Kharisa ke gasibu di belakang rumah, ia ingat kalau Kharisa ingin curhat, dan gasibu cocok untuk menjadi tempat untuk ngobrol berdua, agak sepi, tapi berada di ruang terbuka bisa sambil menikmati ikan koi di kolam yang tidak pernah diam, bergerak terus mencari makan.
Saat Kharisa tengah asyik bercerita, HPnya berdering, ada panggilan WA masuk, ternyata dari Rafael.
__ADS_1
"Sa kamu dimana?" Tidak ada ucapan salam, Rafael langsung menanyakan keberadaan Kharisa.
"Eh...aku di Bandung." Jawab Kharisa santai.
"Ck....kemarin aku kan bilang akan mengajak Rakha jalan-jalan, barusan aku ke rumah kamu. Kenapa gak bilang kalau mau ke Bandung, aku kan bisa ngantar kalian, kamu tidak perlu naik travel, terus posisi kamu dimana? Mau kemana sih? Trus di Bandungnya gimana? Sudah sampai di tujuan kamu? Kamu pakai kendaraam apa selama di sana? Rakha baik-baik saja kan?" Banyak sekali pertanyaan Rafael, sampai Kharisa bingung mau jawab yang mana dulu. Kharisa pun menghela nafasnya.
"Tadi aku dan Rakha dijemput Faisal di tempat travel, sekarang lagi di rumah kakaknya Faisal" jawab Kharisa.
"Share lokasinya, aku ke sana sekarang." Ujar Rafael, terdengar suaranya menyimpan kekecewaan. Tentu saja ia sangat kecewa karena setelah tadi pagi bersemangat bangun pagi, ia melewatkan sarapannya hanya karena ingin segera bertemu putranya, sesuai janjinya kemarin sore, hari ini ia akan mengajak Rakha jalan-jalan, tapi saat tiba di rumah Kharisa ia hanya menjumpai mamanya dan Bi Nani, menurut mama Kharisa, Rakha dan Momynya berangkat ke Bandung menggunakan travel.
"Eh... El kamu mau apa? Kamu gak usah ke sini." Ujar Kharisa sedikit gusar.
"Kenapa? Aku kan sudah janji akan mengajak Rakha jalan-jalan. Kalau kamu tidak mau ikut tidak apa-apa, aku bisa pergi berdua dengan Rakha, aku ke sana hanya untuk menjemput Rakha, terserah nanti kamu mau ikut atau tidak" Ucapan Rafael terdengar tidak ramah. sejak mendengar tadi Kharisa dan Rakha dijemput Faisal dan kini mereka berada di rumah kakaknya Faisal.
Waktu menunjukan pukul sepuluh pagi saat Rafael tiba di depan rumah Kang Farhan, tentu saja ia tidak mengenalnya, kedatangannya hanya untuk menjemput Rakha. Akhirnya Kharisa memutuskan ikut mendampingi Rakha, tidak tega membiarkan Rakha berdua saja dengan Rafael, bagaimana kalau Rafael
dengan sengaja membawa kabur Rakha. Tidak jangan sampai itu terjadi, batinnya nya.
Sebenarnya Kharisa masih betah berkumpul dengan keluarga Faisal. Ia pun belum sempat bertemu dengan Kang Farhan , Teh Moza dan Teh Ira Fakhira kakaknya Faisal, mereka sedang mengikuti acara pengajian, tepatnya Kang Farhan yang mengisi acara pengajiannya.
Setelah pamit kepada ayah ibu Faisal, termasuk kepada Faisal juga, Kharisa masuk ke dalam mobil Rafael. Untung saja tadi ia sempat curhat dengan Faisal dan telah mendapatkan nasehat
yang menenangkan hatinya.
Selama di mobil Kharisa hanya diam tak bersuara sedikit pun, untung saja ada Rakha, ia terus berceloteh ditanggapi oleh dadynya sehingga suasana di dalam mobil pun terasa hangat.
"Lain kali kalau mau kemana-mana bilang sama aku, aku akan mengantarmu dan Rakha, jadi kamu tidak perlu naik kendaraan umum lagi." Ujar Rafael saat berada di mobilnya.Nadanya terdengar seperti sebuah perintah.
"Tidak usah terlalu berlebihan El, aku dan Rakha sudah biasa kok pake kendaraan umum."
" Tidak ada bantahan lagi, aku tidak mau Rakha tidak nyaman saat bepergian, pokoknya aku yang akan mengantar kalau kalian bepergian." Ujar Rafael tegas. Kharisa memasang wajah masam, yang benar saja Rafael akan mengantarnya bepergian, memangnya dia gak punya kerjaan apa. Lihat saja benar tidak yang diucapkannya.
"Kamu tuh selalu saja menolak apa yang aku ucapkan, mau aku jemput saja susah banget. Kalau dijemput laki-laki itu pasti gak pernah nolak, malah senang kan?" Sekarang nadanya terdengar sinis, jelas ini mah ada kecemburuan sosial, maksudnya hatinya terbakar api cemburu oleh Faisal. Kharisa tidak ingin menjawabnya, bisa rame nantinya, tidak enak ada Rakha, pasti mendengarnya.
Mobil Rafael kini mulai memasuki area parkir di mall terbesar di kota Bandung, Rafael ingin mengajak Rakha menikmati wahana permainan indoor, untuk menyenangkan putranya juga menghilangkan rasa suntuknya yang sejak tadi pagi dirasakannya.
__ADS_1
Ah Kharisa kenapa kamu begitu sulit untuk diraih, tapi aku tidak akan patah semangat, sebagaimana dulu aku mengejarmu, sekarang pun aku akan terus mengejarmu hingga aku mendapatkanmu. Rafael.
bersambung.