Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku
Rencana Liburan


__ADS_3

"Sa, mana berkas dokumen kamunya?" Rafael tengah berada di rumah Kharisa, sepulang kerja ia langsung meluncur menemui putranya setelah dua hari tidak berjumpa. Rakha sendiri seperti biasa masih belajar mengaji di masjid, lima belas menit lagi baru selesai dan Bi Nani sudah bersiap-siap mejemputnya. Rafael akan membawa dokumen putranya juga Kharisa untuk persyaratan pembuatan paspor, besok akan diserahkan kepada agen yang akan membantu mengurusnya.


"Aku nanti saja deh, aku urus sendiri saja biar menyesuaikan dengan waktuku."


"Kenapa gak sekalian, ini nanti kita langsung datang ke imigrasi untuk foto, jadi cepat prosesnya, gak akan antri, kita gak usah daftar online, mereka ngurus sampai beres, gak harus kita juga nanti yang ngambil paspornya."


"Aku takut pas lagi sibuk, beberapa hari ini....."


"Nanti aku yang minta ijin ke bang Andre." Potong Rafael, Kharisa hanya bisa menghela nafas.


"Sa kata agennya, Rakha harus didampingi kamu, karena yang tercantum di akte lahirnya hanya kamu sebagai walinya. Jadi sekalian aja perpanjangan paspor kami." Jelas Rafael


"Oh gitu?" Aku baru tau.


"Iya, untuk anak harus didampingi walinya, kecuali sudah meninggal harus melampirkan surat keterangan kematian, kalau jauh walinya, harus membuat surat kuasa, ribet, sudah sekalian saja kamu yang dampingi. Kalau aku bisa sih gak apa-apa." Kharisa tampak manggut-manggut.


"Aku pikir lewat agen bisa lebih mudah, tinggal datang difoto doang." ujarnya.


"Agen hanya membantu prosesnya, prosedurnya tetap sesuai aturan."


"Ya sudah nanti aku siapkan, tapi aku belum foto copy."


"Gak papa, gampang nanti sama agen." Rafael terlihat lega, akhirnya Kharisa mau juga bareng mengurus paspornya.


"Jadi nanti kita ke Jakarta dong." Sebenarnya Kharisa akan mengurus sendiri di kota terdekat yang kebetulan ada kantor imigrasinya.


"Iyalah, kan di sini gak ada kantor imigrasi, pokoknya nanti kita datang langsung proses, gak ngantri lagi, Ini dokumen Rakha aku bawa yah." Rafael memasukan dokumen ke dalam tas kerjanya yang sengaja dibawa.


"Sa....kalau kita sudah nikah nanti, aku ingin ganti akte lahir Rakha, aku ingin namaku tercantum disana."

__ADS_1


"Memangnya bisa diganti?" Kharisa terlihat penasaran, setaunya akte lahir hanya dikeluarkan sekali seumur hidup dan tidak bisa dirubah.


"Ada orang yang nanti bisa bantu, aku sudah nanya-nanya, yang penting ada buku nikah, bisa diatur." Rafael memang sempat bertanya-tanya pada agen yang biasa ngurus dokumen keluarganya.


"Legal atau iegal? Jangan sampai nanti bermasalah loh dapat akte lahir palsu." Tanya Kharisa khawatir.


"Ya ngurusnya resmi ke dinas pemerintah, cuma aku gak ngerti prosesnya, pokoknya tau jadi." Rafael melihat jam di tangannya yang sudah menunjukan pukul lima lebih sepuluh menit tapi ia belum melihat tanda-tanda kedatangan putra yang dirindukannya, dua hari tidak bertemu langsung membuatnya tidak sabar bertemu dengannya, ia rindu celotehannya, rindu memeluknya.


"El kalau ribet ngerubah akte lahir Rakha, gak diubah juga gak apa-apa kan, sampai saat ini juga aktenya bisa digunakan kok." Sepertinya Kharisa masih ragu untuk merubah akte lahir Rakha.


"Gak Sa, kalau gak diubah suatu saat nanti saat Rakha mengerti dia akan menanyakan kenapa tidak tercantum nama dadynya di akte kelahirannya, aku tidak mau dia tau terlahir tanpa seorang ayah, atau lahir di luar pernikahan, aku tidak mau dia sedih dan down atau nanti akan menyalahkan kita." Rafael membayangkan bagaimana Rakha nanti kalau sudah besar, ia tidak ingin putranya mempermasalahkan masa lalunya, apalagi tau kalau dulu ia anak yang tidak diharapkan.


"Tapi nanti kalau kita menikah dia pasti akan mengingatnya, menyimpan hari pernikahan kita dalam memorinya, saat dia mulai paham dia akan bertanya kenapa momy dan dadynya baru menikah setelah dia lahir." Kini Kharisa yang mulai membayangkan kemungkinan kedepannya saat Rakha mulai beranjak dewasa.


"Kita bisa jelaskan kalau dulu kita belum merayakan pernikahan kita, pestanya nyusul." Jawab Rafael sambil nyengir. " Udah ah Sa gak usah mikirin yang masih jauh di depan, mending kita pikirin rencana kita besok, menikah, dan kita akan bersama terus dengan Rakha." Tambah Rafael dengan percaya diri.


"Aku mau menikah denganmu kalau mamimu merestui El." Ucapan Kharisa membuat Rafael terhenyak, seolah diingatkan kalau sampai saat ini ia belum mendapat restu dari maminya. Ia menarik nafas panjang, menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa. Ah ini masih menjadi PRnya, membuat maminya luluh menerima Kharisa sebagai menantunya.


"Salamikum......" Seorang bocah yang ditunggu Rafael dari tadi sudah terdengar suaranya, bahkan sudah berdiri di pintu masuk yang terbuka. Disusul oleh bi Nani yang langsung masuk ke dalam menenteng tas Rakha. Rafael langsung menoleh ke sumber suara yang dirindukannya. " Waakalikumsalam." ujarnya bersamaan dengan jawaban salam Kharisa.


"Dady......I miss you." Rakha langsung menubruk tubuh dadynya yang baru saja akan berdiri.


"Ho...ho.....ho...my boy I miss you too." Rakha langsung didudukan di atas pahanya, lalu berkali-kali ia mencium pipi mulus milik putranya.


"Kok pulangnya telat?" Tanya Rafael yang sudah hapal jam kepulangan Rakha dari mengaji.


"Aku habis di tes sama ustad, di tesnya telakhil, jadi pulangnya telakhil, tapi tadi aku bisa di tesnya Dady, kata ustad aku lulus jadi besok aku ngajinya Ummi empat. Kan tadi malamnya aku belajal ngaji dulu sama Om Isal, jadi aku tadi bisa." Ucapan Rakha membuat hatinya berdesir, lagi-lagi nama Faisal ia dengar dari ucapan putranya, mereka memang belum bisa jauh dari Faisal, ini yang harus dimaklumi Rafael, salah dia sendiri yang belum bisa mengajari anaknya mengaji, kalau bisa ia sendiri yang akan mengajari putranya mengaji.


"Memangnya Om Isal ada datang ke sini?" Tanya Rafael memperjelas penasarannya, siapa tau memang Faisal ada datang ke rumah ini, sudah beberapa minggu ini ia tidak melihat Faisal datang mengunjungi Kharisa dan Rakha.

__ADS_1


"Nggak Dady, aku belajal sama Om Isal lewat vidio call." Jawab Rakha, membuat Rafael sedikit lega, walaupun Kharisa sudah berkali-kali mengatakan kalau ia dan Faisal tidak ada hububungan apa-apa selain persaudaraan, tapi tetep saja perasaan cemburu itu selalu hadir tanpa diundang dalam hatinya.


"Oh....nanti Dady juga mau nemanin Rakha belajar yah, Rakha mau belajar apa? Baca? Nulis? Berhitung? Atau menggambar? Nanti Dady ajarin." Rafael tak mau kalah dengan Faisal kalau ia pun bisa mengajari Rakha walaupun belum bisa mengajarinya mengaji.


"Yeeaahhh...asyik, oke Dady nanti aku belajalnya dama Dady yah, aku mau belajar semuanya.".


"Oke boy, nanti Dady ajarin semuanya."


Kharisa datang membawa baki berisi minuman untuk Rafael, kemudian duduk di tempat duduknya yang tadi.


"Momy, nanti aku mau belajal sama Dady, belajal semuanya." Ujar Rakha dengan Riangnya. Kharisa mengiyakan dengan menganggukan kepalanya.


"Oh ya, dady mau ajak Rakha liburan ke Disney Land Singapura pas liburan sekolah Rakha, tiga minggu lagi kan Rakha libur sekolah, nanti Rakha bisa bermain sepuasnya di sana." Mata Rakha langsung berbinar mendengar ucapan dadynya.


"Yeeaahhh.... aku mau ke Disney land...." Sorak Rakha kegirangan, ia tau Dianey Land dari cerita momynya, yang sudah berkali-kali datang ke sana saat liburan, dulu, waktu masa SD, SMP, SMA, saat masa-masa bahagia dengan mama dan papanya yang hampir dua bulan sekali pergi ke Singapura. Namun setelah berpisah dari papanya ia sama sekali tidak pernah berpikir msedijit pun untuk liburan ke Singapura membawa putranya, tapi setelah ia dan papanya baikan lagi, mulai terbesit mengajak Rakha liburan ke Singapura


Dan ternyata Rafael pun memiliki rencana yang sama mengajak Rakha ke Singapura, tapi ia belum mengiyakan untuk liburan bersama, karena khawatir waktunya tidak pas dengan pekerjaannya, sekarang malah Rafael bicara langsung pada Rakha. Ia juga berencana untuk berlibur ke Garut walau hanya dua hari, mengunjungi keluarga Faisal dan abah, ia pun kangen sudah hampir lima bulan tidak berkunjung ke sana. Saat bertemu Teh Moza di Bandung, Teh Moza mengajaknya kumpul di Garut, Teh Moza dan keluarganya pun akan liburan di sana beberapa hari sekalian menghadiri acara akad nikah Teh Fakhira kakaknya Faisal yang telah dilamar oleh seseorang, masih temannya Teh Fakhira saat kuliah di Mesir, asalnya dari Malang, sekarang mengajar di salah satu Universitas Islam di sana.


"Momy ikut kan?" Rakha menoleh pada momynya.


"Ikut dong....kita kan liburan bersama, Rakha, Dady dan Momy, pasti seru deh." Malah Rafael yang menjawab dengan percaya dirinya. membuat Kharisa melotot ke arahnya.


"Benel kan Momy ikut?" Tanya Rakha memastikan lagi, rupanya ia melihat ekspresi maminya yang melotot seolah tidak mengiyakan.


"Iya ikut kan Momy." Rafael memberi kode agar Kharisa mengiyakan.


"Iya, Insya Allah..." Ujar Kharisa terpaksa.


"Yeeeaaahh........" Sorak Rakha lagi, ia turun dari pangkuan Rafael menghampiri momynya, lalu memeluknya dan mencium kedua pipi momynya. " Aku sayang Momy...." ujarnya membuat Kharisa terharu, ia pun mencium kedua pipi dan kening putranya. "Momy juga sayang sama Rakha."

__ADS_1


Rafael yang menyaksikan pemandangan ibu dan anak yang saking mencurahkan rasa sayang mereka ikut terharu, bahkan matanya terlihat berkaca-kaca. Ia bisa merasakan bagaimana kedekatan dan ikatan putranya dengan Kharisa. Ia pun berharap bisa menyaksikan kebersamaan dua orang yang disayanginya itu, bahkan bisa selalu ada diantara mereka. Semoga El.


bersambung.....


__ADS_2