
"Jadi apa yang mau Neng bicarakan." Faisal dan Kharisa duduk berhadapan, wajah Kharisa terlihat sendu namun berusaha ia sembunyikan, ia pun terlihat lelah. Mungkin hatinya yang lelah memendam kerinduan pada laki-laki yang telah membuatnya tidak bisa berpaling walau berpisah selama lima tahun, saat ia menemukannya ia harus membuang jauh-jauh rasa rindunya bahkan mengubur harapannya untuk bisa bersama demi buah hati yang sangat merindukan sosok ayahnya.
"Kita makan saja dulu, A Isal pasti lapar kan? Steak nya enak. Tiga hari yang lalu aku ke sini sama temen kerja, ceritanya aku mau traktir mereka karena aku baru tanda tangan kontrak sekalian gajian pertama, eh tau gak A, malah dibayarin sama bosku Pak Andre, padahal aku bener-bener niat nraktir mereka, akhirnya besoknya aku bawa aja nasi uduk buat sarapan di kantor, beli di tempat yang biasa kita beli itu, Pa Andre dan.........eu dia juga ternyata suka nasi uduknya." Kharisa terhenti saat akan menyebut manajer yanmed, berarti kan Rafael , hatinya masih berat mengingat nama itu.
"Bosnya baik tuh, harus bersyukur punya atasan baik seperti itu." ujar Faisal
"Iya Pak Andre baik walau agak galak." ujar Kharisa nyengir, ia ingat saat pertama masuk langsung mendapat tegurannya.
"A Isal gimana dengan kerjaannya, sudah mulai ngajar?"
"Masih dampingin dosen senior, bulan depan ada seleksi CPNS, Neng mau nyoba ikutan gak? A Isal udah cek, ada formasi untuk sarjana komunikasi." Faisal jadi teringat, ia memang akan mengajak Kharisa untuk ikut tes seleksi CPNS. Kharisa menghela nafasnya, ia ingat kalau baru saja satu minggu yang lalu tanda tangan kontrak kerja. Sepertinya lebih baik tidak usah ikut saja, karena ia harus memenuhi kontrak satu tahun kalau tidak mau membayar denda yang kalau dihitung mencapai lebih dari lima puluh jutaan, uang dari mana sebanyak itu, sekarang ia bukan seorang anak yang bisa dengan mudah mendapatkan uang sebanyak itu dengan meminta kepada papanya, ya walaupun kalau ikut seleksi belum tentu lulus juga. Bersamaan dengan itu pesanan makanan dan minuman mereka datang. Dua porsi tenderloin steak, lemon tea hangat pesanan Faisal dan ice lemon tea pesanan Kharisa.
"Kayanya aku gak ikut seleksi CPNS dulu A, kemarin baru tanda-tangan kontrak, kalau lulus nanti gimana harus keluar kerja dan harus bayar denda......ha....ha...ha....aku kepedean yah bakal lulus CPNS." Kharisa menertawakan ucapannya sendiri.
"Gak apa-apa ucapan adalah doa." Ujar Faisal sambil nyengir, lalu menyantap lagi potongan daging yang empuk dengan rasa yang lumayan memanjakan lidahnya.
"Gak papa kalau gak bisa ikut, sekarang syukuri saja yang sedang dijalani, udah betah kan dengan kerjaannya?"
"Sebenarnya betah, hanya saja saat ini kalau ada pekerjaan di tempat lain pengennya pindah saja, jadi nyesel kemarin gak istikharah dulu sebelum tanda tangan kontrak." Ujar Kharisa lirih.
"Kenapa harus istikharah, memangnya ada pilihan lain yang membuat ragu? Kenapa ingin pindah kerja? Kemarin-kemarin katanya betah." Tanya Faisal heran.
"Nanti deh bahasnya sekalian, A Isal habisin dulu makannya, kalau dingin gak enak."
"Ini makan gak pake nasi, kalau orang Indonesia bentar lagi pasti lapar lagi."
"A isal mau pake nasi? Aku lupa tadi gak nanya mau pake nasi nggak." Kharisa tadi langsung memesankan menu spesial di cafe itu tanpa bertanya dulu, dan kebiasaan Faisal kalau makan memang harus pakai nasi.
"Nggak usah, kekenyangan nanti, kalau lapar lagi gampang tinggal makan lagi. Itung-itung latihan makan tanpa nasi, siapa tau A Isal lulus dapat beasiswa ke luar negri." Jawab Faisal.
"A isal mau lanjut S2 di luar negri?" Tanya Kharisa bersemangat, dulu ia punya impian kuliah di luar negri, tapi setelah hamil dan meninggalkan papanya impiannya pudar. Sekarang impiannya adalah hidup bahagia bersama Rakha, buah hatinya.
"Mau nyoba ikut tes program beasiswa untuk program dosen di Oxford University. Sekarang lagi mantapin Englishnya, A Isal kursus Toefl juga, perkiraan tesnya tiga bulan lagi, doakan A Isal lulus yah."
"Wuih keren, pastilah aku doain impian A Isal bisa terwujud." ucap Kharisa tulus.
Akhirnya mereka menghabiskan makanan dipiringnya bersih tak bersisa, ternyata walau tanpa nasi bisa membuat perut mereka kenyang.
"Sekarang apa yang mau Neng bicarakan sampai harus dibicarakan khusus?" Tanya Faisal, kemudian ia menyesap lemon tea hangatnya.
"Aku sudah menemukan Rafael." Ujar Kharisa
"Uhk .....Uhk....." ucapan Kharisa membuat Faisal tersedak.
"Pelan-pelan A minumnya."
"Asli A Isal kaget Neng, beneran Neng sudah menemukan Rafael? Kapan? Dimana? Ketemu langsung?" Faisal memberondong dengan banyak pertanyaan. Kharisa menganggukan kepalanya.
__ADS_1
"Tapi belum bertemu langsung, aku belum siap." Ujar Kharisa dengan wajah sendu.
"Bukannya Neng sangat mengharapkan bertemu dengannya?" Tanya Faisal heran. "Lima tahun mengharapkan bisa bertemu, kenapa saat diberi kesempatan untuk bertemu malah tidak siap?" Kharisa terdiam tidak langsung menjawab.
"Memangnya bertemu di mana? Dia belum pergi lagi kan? Ingat Neng Rakha sangat mengharapkan bisa bertemu dadynya, jangan sampai kesempatan yang diberikan hilang." Yang teringat oleh Faisal adalah Rakha, pasti ia akan senang kalau bisa bertemu dadynya.
"Rafael adalah anak pemilik rumah sakit tempatku kerja, ia menjadi Manajer Pelayanan Medik di sana. Tapi ia sudah berubah, bukan Rafael yang dulu." Tentu saja Faisal terkejut mendengar yang disampaikan Kharisa.
"Berarti Neng ketemu tiap hari di rumah sakit?" Tanya Faisal tambah penasaran.
"Harusya. Tapi aku selalu menghindar untuk bertemu dengannya, aku bingung A, apa yang harus aku katakan saat bertemu dengannya? Aku sendiri tidak tau apakah Rafael masih mengingatku atau tidak, aku takut aku akan kecewa saat dia tidak mengenaliku." Wajah Kharisa mulai terlihat muram, dadanya mulai sesak mengingat kalau Rafael adalah tunangan Vania.
"Lima tahun bukan waktu yang terlalu lama untuk bisa melupakan seseorang, apalagi orang itu spesial, tidak mungkin Rafael lupa sama Neng."
"Bisa saja ia melupakanku, buktinya ia telah menjadi milik orang lain." Suara Kharisa terdengar bergetar.
"Maksud Neng? Dia sudah menikah?" Tanya Rafael memastikan. Kharisa menggelengkan kepalanya.
"Dia sudah bertunangan dengan wanita lain." Jawabnya, kini hatinya terasa perih, pudar sudah harapannya bisa bersama Rafael menjadi orang tua yang utuh untuk Rakha, setelah menunggu selama lima tahun ia harus membuang harapannya sejauh mungkin.
"Neng yakin dia sudah bertunangan dengan wanita lain? Bukankah belum pernah bertemu dan menanyakannya langsung?"
"Tunangannya staf akunting di rumah sakit, aku mendengar juga dari Pak Andre, Pak Andre sepupunya Rafael hadir di acara pertunangannya" Jawab Kharisa dengan dada yang sesak.
Faisal hanya terdiam, ia bisa membayangkan bagaimana perasaan Kharisa, kalau yang diucapkan Kharisa itu benar, lengkap sudah penderitaan Kharisa diperlakukan tidak adil oleh keluarga Rafael. Setelah kehamilannya tidak diterima, meminta janin yang tidak berdosa di dalam rahimnya digugurkan, setelah lahir malah seenaknya meminta mengadopsi Rakha yang dengan susah payah dipertahankan hingga Kharisa harus berpisah dengan papanya dan meninggalkan hidup mewahnya. Benar-benar tidak berperasaan, ingin memiliki cucunya yang tidak diakui sebagai cucunya, bahkan menghargai cucunya seharga apartemen. Dan sekarang Rafael sendiri malah melupakan Kharisa hingga bertunangan dengan wanita lain. Faisal pun merasa geram, apalagi melihat Kharisa yang mulai menitikan air matanya hatinya ikut perih.
Tapi Faisal mencoba berpikiran jernih, berpikiran positif, mencari alasan kenapa Rafael melupakan Kharisa, bukankah menurut Kharisa Rafael sangat mencintai Kharisa, ia terus mengejar sampai akhirnya Kharisa menerima Rafael sebagai kekasihnya. Bukankah orang tua Rafael juga tau kalau Kharisa mengandung anak Rafael, dan tidak mungkin kalau sampai Rafael tidak mengetahui kehamilan Kharisa. Faisal masih terdiam memikirkan apa sebenarnya yang terjadi dengan Rafael. Jangan - jangan Rafael tidak mengetahui kehamilan Kharisa, kalau benar, orang tuanya benar-benar tega dan tidak berperasaan.
"Tapi Rakha berhak tau siapa ayah kandungnya, jangan sampai memutus hubungan darah Rakha dan ayah biologisnya." Ujar Faisal dengan hati-hati.
"Bukankah itu nanti hanya akan membuat Rakha kecewa? Setelah Rafael membina rumah tangga dengan Vania, belum tentu Rakha akan mendapatkan kasih sayang dari ayahnya, istrinya juga belum tentu akan menerima kehadiran Rakha, aku tidak ingin membuat Rakha sedih dan kecewa, lebih baik aku mencari ayah lain untuk Rakha walaupun bukan ayah kandungnya." Betapa sedihnya Kharisa membayangkan Rakha tidak bisa berkumpul dengan dadynya.
"Neng dalam tubuh Rakha mengalir darah Rafael, walaupun dalam Islam anak yang lahir di luar pernikahan mengikuti garis keturunan ibunya tapi tetap saja Rafael ayah biologis Rakha, dan Rakha berhak mengetahuinya. Kalaupun tidak dalam waktu dekat ini suatu waktu nanti saat Rakha mulai mengerti dia harus mengetahuinya." Faisal memang selalu bijaksana, mengarahkan pada ketentuan yang semestinya, meluruskan yang salah tanpa memihak salah satunya.
"Jadi apa yang harus aku lakukan saat bertemu Rafael? Aku sudah lelah menghindar darinya." Tanya Kharisa, ia tidak mungkin terus menghindar, satu waktu akan ada saatnya untuk mereka bertemu.
"Bicara baik-baik, sampaikan apa yang Neng alami selama ini. A Isal jadi curiga jangan-jangan Rafael tidak tau kalau Neng hamil dan tidak tau tentang Rakha. Makanya pastikan dulu, ceritakan semuanya. Setelah itu lihat responnya. Kalau memang Neng sudah mengikhlaskan dia, sampaikan padanya kalau Neng tidak akan mengganggu hubungannya dengan tunangannya, sampaikan kalau Neng hanya butuh pengakuannya, pengakuan kalau Rakha adalah putranya, dam sampaikan kalau Rakha merindukan ayahnya." Faisal menjeda sesaat, menunggu reaksi Kharisa, tapi Kharisa hanya diam bergeming mencoba mencerna saran Faisal.
"Mungkin ini berat, A isal juga bisa merasakan apa yang Neng rasakan, tapi A Isal yakin Neng bisa menjalaninya, buktinya sampai saat ini Neng baik-baik saja setelah ditempa ujian yang luar biasa, Neng bisa bahagia bersama Rakha, bersama Mama dan Bi Nani. A Isal akan selalu mendukung dan membantu sebisa A isal kapanpun Neng membutuhkan."
"Aku akan mencobanya A."
"Ya, harus dihadapi jangan dihindari, ini ujian, pasti ada hadiah indah yang sedang menanti. Masih ingat kan kuncinya menghadapi ujian?" Tanya Faisal. Kharisa pun menganggukan kepalanya.
"Ikhlas, Sabar, Tawakal." Jawab Kharisa dengan senyum tersungging di bibirnya.
"Pinter."
__ADS_1
*****
I like monday untuk saat ini tidak berlaku bagi Kharisa, rasanya ia belum puas menikmati hari libur. Setelab hari libur kemarin dihabiskan bersama Faisal dan putra kesayangannya, mengajaknya bermain di wahana air, sebuah tempat wisata air dengan fasilitas waterboom dan arena bermain anak lainnya, membuat tubuhnya terasa lelah, mungkin karena kurang tidur juga, karena semalaman ia terus membayangkan bagaimana kalau ia bertemu Rafael, apa yang akan terjadi, bagaimana responnya, itu yang terus ada dalam benak Kharisa, ditambah hari ini adalah hari pertama menstruasinya, yang biasanya ia akan mengalami dismenorhe, lengkap sudah bagaimana ia akan menjalani hari kerjanya.
Beruntung hari ini ia diminta menemani Pak Andre mengunjungi tiga perusahaan hanya untuk kunjungan biasa, tidak ada presentasi, tidak ada penawaran kerja sama, jadi ia cukup menjadi pendengar yang baik, mendengarkan percakapan pak Andre dengan pihak perusahaan yang tidak dikenalnya, karena ini merupakan kunjungan pertama bagi Kharisa diperusahaan itu.
Tentu saja Pak Andre pun merasa heran dengan sikap Kharisa yang lebih banyak diam.
"Tumben gak ikut nimbrung" Ujar Pak Andre saat berada di mobil menuju pulang.
"Maaf ya Pak, saya sedang PMS, semoga bapak bisa memaklumi." Jawab Kharisa jujur. Pak Andre tertawa mendengar jawaban Kharisa, ia paham apa yang dimaksud Kharisa.
"Ternyata benar ada si PMS itu? Saya kira hanya alasan klise saja, tiap ada wanita yang marah emosi , dia lagi PMS, pasti PMS yang jadi alasan." Pak Andre masih terkekeh.
"Kita maksi dimana nih, udah setengah satu." Tanya Pak Andre. Namun Kharisa diam saja tidak memberikan ide seperti biasanya.
"Yah gak seru nih kalau lagi PMS, padahal mau diajak makan si tempat yang asyik." Ujar Pak Andre dengan gaya menggoda.
"Bagaimana kalau makan di kantin rumah sakit saja saja Pak." Ujar Kharisa, ia tidak enak kalau diajak makan hanya berdua, apalagi tempatnya jauh, takut menimbulkan fitnah. Enaknya tugas luar bersama Pak Andre, dia selalu membawanya ke tempat baru untuk makan siang, tapi tentu saja tidak berdua, biasanya bertiga dengan Ahmad.
"Hmmm.....ya sudah deh kita maksinya di kantin rumah sakit saja." Akhirnya Pak Andre memutar mobilnya menuju arah rumah sakit.
Jam menunjukan pukul satu lebih lima belas menit saat ia tiba di rumah sakit.
"Kita langsung ke kantin, sudah lapar berat nih." Ajak Pak Andre. Kharisa jadi merasa tidak enak karena keinginannya makan di kantin rumah sakit membuat Pak Andre telat makan siangnya, semoga saja Pak Andre tidak memiliki gastritis.
Mereka duduk dalam satu meja menikmati makan siangnya, suasana kantin tidak begitu ramai, karena karyawan rumah sakit sudah kembali ke tempat kerjanya masing-masing. Makanan di piring Kharisa pun sudah bersih, tinggal menghabiskan jus strawberinya yang tinggal setengah gelas lagi. Sementara Pak Andre terlihat asik dengan layar HPnya. Hingga tidak sadar ada seorang laki-laki menyimpan piring berisi makanan di atas meja persis di depan Kharisa.
"Boleh saya ikut gabung di sini?" Ujar laki-laki itu sambil menarik kursi untuk ia duduki. Otomatis Karisa menoleh ke arahnya dan ia benar-benar terkejut, jantungnya seakan berhenti, tubuhnya kaku, ia segera menundukan wajahnya, untung saja saat menoleh laki-laki itu tidak melihat wajahnya karena sedang menarik kursinya. Ya, laki-laki itu Rafael, kini ia berada di dekatnya, persis di depannya. Kharisa masih menundukan kepalanya, kini jantung Kharisa berdetak cepat, ia mencoba menenangkan dirinya dengan mengaduk-aduk jus strawberinya, malah tangannya yang gemetar.
"Hei baru makan juga, sibuk nih ceritanya." Ujar Pak Andre pada Rafael.
"Biasa masih penyesuaian lapangan." Jawabnya sambil mulai menyuapkan makanannya.
Mendengar suaranya membuat jantung Kharisa berdebar-debar, ia merasa ini bukan waktu yang tepat untuk bertemu Rafael seperti apa yang disarankan Faisal, tempatnya tidak memungkinkan, ada Pak Andre juga di sana. Ia pun tidak bisa berlama-lama di sana, bisa copot jantungnya kalau terlalu dekat dengannya. Lebih baik ia kembali ke ruang kerjanya.
"Pak Andre saya duluan yah." Ujar Kharisa sambil beranjak berdiri.
"Ya, kalau tidak nyaman, istirahat saja gak usah mengerjakan pekerjaan." Ujar Pak Andre yang mengerti kondisi Kharisa.
Rafael yang berada di depannya mengangkat kepalanya menatap ke depan, namun posisi Kharisa yang telah berdiri membuat Rafael tidak bisa melihat wajah Kharisa, hanya tulisan di ID cardnya yang bisa dibacanya.
"Kharisa Maura Pradita"
Rafael pun diam tertegun, kemudian menoleh ke arah Kharisa yang telah berlalu meninggalkan kantin.
bersambung....
__ADS_1
Hoooaammm....ngantuknya, kopi mana kopi☕
Jangan bilang ngegantung, asli gak kuat ....lanjut besok yah😘😘