
"Kenapa Neng tidak mau melanjutkan sekolah?" Faisal memandangi gadis di depannya yang duduk menyandar ke dinding dengan tatapan kosong. Ia memanggil Kharisa dengan panggilan Neng seperti kebiasaan di lingkungannya memanggil Neng untuk panggilan anak perempuan. Mereka tengah berada di teras rumah yang ditempati Kharisa satu bulan ini. Lantunan ayat suci Al Quran terdengar merdu dari pengeras suara masjid yang dibacakan oleh santri pondok pesantren setengah jam sebelum memasuki waktu shalat, sebentar lagi akan memasuki waktu shalat Ashar.
"Makin lama perutku akan semakin membesar, aku tidak mau jadi bahan omongan bahkan jadi bahan bulian orang. Orang-orang akan tau kalau aku hamil di luar nikah, mereka akan mengatakan anak ini anak haram." Ujar Kharisa dengan tatapan kosongnya.
"Tidak ada anak haram, semua anak terlahir dalam keadaan suci." Faisal buru-buru menyanggah ucapan Kharisa.
"Ya semua anak memang terlahir dalam keadaan suci, tapi sebutan anak haram sepertinya sudah mendarah daging melekat pada anak yang lahir di luar pernikahan." Kharisa memandangi perutnya yang masih belum terlalu kelihatan membesar, usia kehamilannya telah memasuki akhir trimester pertama.
"Jadi rencana Neng apa? Sayang kalau Neng tidak melanjutkan sekolah, mau lanjut kuliah kan? Kita bisa kuliah bareng, kita pilih universitas di Bandung saja atau yang di Jatinangor, kita siapkan dari sekarang agar bisa lulus SBMPTN." Ujar Faisal penuh semangat, sesuai amanat dari Abah, Faisal berusaha menjadi teman bahkan kakak bagi Kharisa. Selama satu bulan ini hubungan mereka semakin akrab, hanya Faisal teman Kharis satu-satunya di lingkungan pondok ini, Kharisa belum mau kenal dengan yang lain, ia malu dan takut dengan kondisinya yang tengah hamil, takut nanti temannya mengejeknya dan menghinanya, padahal mencoba kenal dengan yang lainpun belum pernah, Faisal pun tidak bisa memaksanya, ia mengerti apa yang dirasakan Kharisa. Setelah pulang sekolah Faisal pasti menemui Kharisa untuk mengajaknya ngobrol, itu juga atas permintaan mama Kharisa juga orang tuanya agar Kharisa tidak kesepian dan larut dalam kesedihannya.
"Gimana kalau kita buat program belajar bersama, walaupun Neng tidak sekolah resmi tetap harus belajar kan, anggap saja semacam home schooling gitu, nanti Neng bisa ikut ujian paket C, kalau memang gak mau sekolah."
"A Isal mau ngajarin aku belajar?" Sepertinya Kharisa tertarik dengan usulan Faisal. Ia memang ingin melanjutkan sekolahnya ke perguruan tinggi, namun sejak kehamilannya impian meraih cita-citanya menjadi pudar. Impiannya ingin masuk Fakultas Ilmu Komunikasi, bekerja di dunia entertain atau dunia pertelevisian adalah impiannya. Kharisa memang dikenal humble, mudah bergaul, karakternya cocok dengan dunia impianya. Mendengar usulan Faisal seolah ada angin segar yang membuat dirinya bersemangat lagi menjalani aktivitas belajarnya.
"Tentu saja, kalau Neng mau kita buat jadwal belajar bersama, nanti Aa juga cari info tentang program paket C, Aa tanya bapak juga, sepertinya bapak tau informasinya. Neng bicarakan dulu dengan Mama setuju tidaknya, siapa tau Mama punya rencana lain." Kharisa menganggukan kepalanya, wajahnya terlihat lebih cerah, terlihat senyum dikulum di bibirnya, Sepertinya ia memiliki harapan baru lagi untuk masa depannya.
"A Isal ke masjid dulu, nanti malam kita sambung ngobrolnya."
__ADS_1
"Habis shalat A Isal mau kemana?" sepertinya Kharisa masih ingin melanjutkan obrolannya.
"Mau ngaji dulu sampai Maghrib, habis Isya nanti kita buat jadwal belajar. Neng siap-siap juga shalat Ashar, lebih baik shalat di awal waktu, jangan ditunda-tunda." Ujar Faisal. Kharisa menganggukan kepalanya.
"Aa ke masjid dulu yah." Faisal berlari kecil meninggalkan Kharisa yang masih duduk di bangku terasnya. Kharisa pun masuk ke dalam rumah saat terdengar suara adzan. Ia berhenti sebentar sebelum menutup pintu, mendengarkan suara adzan yang terdengar merdu, terasa menyentuh ke dalam hatinya, ia pun merasa tidak asing dengan suara yang di dengarnya, seperti suara A Isal, batinnya. Kharisa mengambil air wudhu dan melaksanakan shala Ashar di kamarnya.
Suasana di lingkungan pondok terlihat ramai saat menjelang maghrib. Para santri putra mulai terlihat berbondong-bondong menuju masjid utama. Sementara santri putri menuju mushola yang letaknya tidak jauh dari rumah Abah. Kegiatan santri putra dan putri memang dilakukan terpisah. Kharisa yang tengah berada di teras rumah bisa melihat santri putri yang mulai masuk ke dalam mushola, mereka menggunakan baju muslim tertutup kecuali muka dan telapak tangan yang terlihat membawa mukena dan sajadah, ada juga yang sudah menggunakan mukena atasannya. Muncul keinginan untuk ikut shalat berjamaah di mushola dan berkenalan dengan para santri putri karena memang sebenarnya Kharisa senang bergaul, hanya karena kehamilannya saja menbuat ia tidak percaya diri untuk berinteraksi dengan yang lain.
Faisal tampak berjalan keluar dari masjid setelah melaksanakan shalat Isya berjamaah, malam ini tidak ada jadwal kegiatan pesantren, jadi bisa langsung pulang ke rumah. Sebelum masuk ke dalan rumahnya ia menengok rumah tempat Kharisa tinggal yang berada di sebelah rumahnya, terhalang oleh tanah kosong yang ditanami tanaman singkong dan pohon pisang. Belum terlihat Kharisa di teras, ia pun masuk ke dalam rumahnya untuk makan dulu, karena perutnya sudah terasa lapar sejak sore tadi.
"Neng....Neng....." Kharisa tetap diam dalam duduknya saat Faisal memanggilnya. Iavtidak menyadari kalau Faisal sudah duduk di bangku di depannya.
"Neng Kharis....." Faisal menggerak-gerakan tangannya di depan wajah Kharisa, Kharisa pun tersentak. "Eh....A Isal......." ujarnya.
"Malah melamun....mikirin apa." Faisal yakin kalau Kharisa sedang memikirkan sesuatu.
"A...kalau nanti anakku lahir trus udah ngerti nanya ayahnya gimana yah?" Ternyata Kharisa sedang memikirkan kehidupan anaknya ke depan. Sampai saat ini ia tidak tau kabar Rafael, mungkin saja Rafael menghubunginya, namun sayang HPnya tertinggal saat akan pergi meninggalkan rumahnya, ia ingat HPnya tertinggal di meja nakas ruang tengah, saat akan ke toilet ia menyimpannya di sana dan lupa membawanya karena terburu-buru takut mamanya menunggu lama di dalam taksi. Dan sadar tertinggal setelah berada jauh dari rumahnya, kata mama tidak mungkin mengambilnya karena Papa pasti sudah ada di rumah. Jadi selama satu bulan ini Kharisa sama sekali tidak memegang HP.
__ADS_1
"Memangnya ayahnya sama sekali tidak mau bertanggung jawab?" Faisal balik bertanya.
"Aku tidak tau kabar Rafael, dia kuliah di Amerika, aku yakin dia akan bertanggung jawab, walaupun orang tuanya menolak dan menyuruh menggugurkan janin ini, hanya masalahnya kami tidak bisa berkomunikasi, HPku ketinggalan di Jakarta, dia pasti menghubungiku." Lirih Kharisa.
"Kenapa gak pernah cerita masalah ini, Neng bisa kan yang menghubunginya, bisa pake HP A Isal, nanti A isal isi pulsanya dulu biar bisa nelfon sambungan luar negri, hanya HP A Isal gak bisa pake internet, HPnya hanya bisa telfon dan SMS." Ucapan Faisal terlihat tulus ingin membantu Kharisa.
"Aku gak ada nomornya, pasti nomornya sudah ganti pake nomor luar, kata Mama nanti aku mau dibelikan HP baru kalau Mama ke Bandung sekalian ke gerai selulernya, siapa tau nomor lama masih bisa dipakai."
"Neng punya akun medsos kan? Mungkin saja dia ngehubungi lewat medsos juga. Kalau Neng mau coba ngecek kita ke lab komputer saja, di sana ada fasilitas internet, tapi waktunya dibatasi. Kalau Neng mau nanti A Isal temenin, A Isal bisa minta ijin dulu ke bapak." Kharisa terlihat berbinar, ia menegakan duduknya terlihat bersemangat, seperti menemukan jalan keluar saat melewati jalan buntu.
"Beneran bisa A....?" tanya Kharisa meyakinkan lagi.
"Insya Allah....A Isal bilang dulu ke bapak."
"Makasih banyak ya A...." terlihat senyum lebar di bibir Kharisa. Hari ini Faisal membuat Kharisa memiliki semangat baru untuk menjalani kehidupan yang pasti akan dilalui dengan penuh terjal dan berliku, tapi dengan semangatnya pasti akan bisa melewatinya.
bersambung.....
__ADS_1