Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku
Peringatan dari Seorang Kakak


__ADS_3

" Maaaaaasssss......." Kharisa begitu terkejut melihat wajah yang ada di layar HPnya, tentu saja ia mengenalnya, tidak mungkin ia melupakan orang yang dirindukannya, wajah itu kini terlihat lebih dewasa.


"Mas Rendiiiiii....." Teriaknya, membuat Rakha menoleh ke arahnya, begitu juga mama yang tengah menyiapkan sarapan menghentikan kegiatannya.


"Mas Rendi benar ini aku Kharisa adikmu......" Suara Kharisa terdengar bergetar, melihat wajah kakaknya penuh haru dengan air mata menggenang di kedua matanya membuatnya terharu juga, bahkan kini pipinya telah basah, karena tidak bisa menahan bening kristal jatuh di pipinya. Baru saja kemarin terpikir untuk meminta nomor kontak kakaknya pada papanya, ternyata Rendi lebih dulu menghubunginya. Pasti papa Kharisa yang memberitahu nomor kontaknya.


"Kamu pangling De, tambah cantik....ha..ha..." Rendi terlihat tertawa dan menangis bersamaan, menangis sedih dan bahagia bercampur aduk, ia sedih membayangkan seperti apa kehidupan adik kesayangannya saat hamil, melahirkan dan merawat putranya, bahagia karena akhirnya dia bisa bertemu lagi dengan adiknya. Diantara tiga kakak sambung Kharisa Rendilah yang paling dekat dan perhatian pada Kharisa, Rendi juga memiliki hati yang lembut, sepertinya diturunkan dari sifat mama Lisna, sementara kedua kakaknya sifatnya lebih mirip papanya yang keras. Ia dekat dengan mama Kharisa, dulu sering tidur di rumah mama Kharisa, karena sering ditinggal mama Lisna, mama kandungnya untuk berobat penyakit kankernya.


"Mas Rendi juga tambah ganteng...." ujar Kharisa sambil menyeka air matanya.


"De Mas kangen banget, kangen juga sama Mama Uwi." Mama Uwi adalah panggilan Rendi untuk mama sambungnya, dari nama Dewi menjadi Uwi.


"Ni mama ada di sini." Ternyata mama sudah berada disamping Kharisa, mendengar putrinya menyebut nama Rendi mama langsung menghampiri Kharisa, ia yakin kalau itu Rendi putra sambungnya.


"Rendi......" Mama menampakan wajahnya di layar HP dengan mata berkaca-kaca.


"Mah Uwi....apa kabar? Mah Uwi dan Kharisa baik-baik saja kan?" Mata Rendi pun terlihat berkaca-kaca lagi.


"Aku ingin ketemu kalian hari ini, De sharelock yah, siangan Mas berangkat dari Jakarta, Mah Uwi sama Kharisa ada di rumah kan?" Ujar Rendi bersemangat.


"Aku kerja Mas, pulang sore, paling jam setengah limaan udah di rumah, kalau Mama siang udah ada di rumah." Jelas Kharisa.


"Haah...anak manja sudah kerja? Kerja apa De?" Rendi tidak menyangka kalau adiknya yang manja sudah memasuki dunia kerja.


"Iih....aku bukan anak manja lagi." Kharisa mengerucutkan bibirnya, sementara mama tersenyum melihat Rendi yang tengah menggoda adiknya.


"Aku sekarang Momud..." Tambah Kharisa nyengir. Ia ingat sebutan itu dari Faisal.


"Momud? Apa itu?" Rendi terlihat mengernyit.


"Momy Muda....he..he..." Kekeh Kharisa.


"Ah ya....." Rendi menganggukan kepalanya. "Aku juga ingin ketemu dengan keponakanku." Rendi terdengar hati-hati menyinggung keponakannya, ia takut Kharisa tidak nyaman, tapi ternyata Kharisa malah nyengir, tidak terlihat ada beban.

__ADS_1


"Ren Mama tinggal dulu yah, mau nyiapin sarapan buat Kharisa." Mama pun kembali ke meja makan melanjutkan menata makanan dan menyiapkan sarapan untuk cucunya. Rakha tampak sedang asyik duduk di sofa dengan mainan baru yang kemarin dibelikan dadynya, sesekali ia memperhatikan momynya yang sedang vidio call. Tadi ia sempat keheranan melihat Momynya menyebut nama seseorang setengah berteriak, kemudian pipinya basah tapi tersenyum dan tertawa.


"Ya udah De, nanti Mas kabarin kalau sudah dekat lokasi, kamu mau berangkat kerja kan?" Ujar Rendi setelah lumayan puas melepas rasa rindunya pada adiknya.


Pagi ini suasana hati Kharisa tambah berbunga, setelah kemarin bertemu papanya dan mendapatkan maaf darinya, pagi ini ia dihubungi oleh kakaknya yang selama lima tahun ini tidak pernah berjumpa dengannya.


Ia mengerjakan tugasnya sebaik mungkin, agar bisa pulang tepat waktu. Hari ini ada jadwal kunjungan ke perusahaan bersama Pak Andre, dan Ahmad, tapi tidak sampai sore, hanya ada dua perusahaan yang akan dikunjungi.


Pukul setengah lima kurang ia sudah berada di rumahnya, namun kakaknya belum terlihat di rumahnya, tadi ia nelpon memberitau sudah keluar tol, biasanya dari pintu keluar tol ke rumahnya membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit bila jalanannya lancar, tapi ternyata Rendi belum sampai di rumah Kharisa. Rakha juga tidak terlihat menunggunya di teras, ternyata kata Mama, Rakha pergi mengaji di masjid, atas keinginannya sendiri, melihat teman bermainnya setelah ashar pergi ke masjid, ia pun minta diantar Bi Nani mengaji di masjid.


Mama membuat beberapa makanan kesukaan Rendi seperti lasagna dan sponge cake pandan.


Baru saja Kharisa akan masuk kamarnya, terdengar seseorang mengucapkan salam dan mengetok pintu, langsunng dibuka oleh Mama dan ternyata Rendi yang datang. Kharisa segera ikut menyambut kedatangan orang yang sedang ditunggu mereka.


"Mah Uwiiii......" Rendi langsung memeluk ibu sambungnya dengan rasa haru setelah lima tahun lebih tidak bertemu. Kemudian beralih ke adik kesayangannya. "De....kamu beda banget, tambah cantik...." ujarnya sambil memeluk erat adiknya. Penampilan Kharisa yang berhijab tentu membuatnya pangling di mata Rendi. Kharisa tidak bisa membendung air matanya, tanpa bisa ditahan isak tangis pun keluar dari bibirnya.


"Mas Rendi aku kangen banget." Kharisa membalas erat pelukannya. Mereka terus saja saling berpelukan, tidak mau saling melepaskan.


"Sudah....sudah.....kalian mau seperti ini terus?" Mama menepuk kedua bahu anak-anaknya. "Ayo duduk dulu...."


Mereka bertiga duduk di sofa ruang tamu, Rendi pun tidak sabar ingin mendengar cerita dari Kharisa dan mama selama lima tahun ke belakang. Bi Nani datang membawa suguhan minuman teh hangat dan makanan yang khusus dibuatkan mama untuk Rendi. Rendi dan Bi Nani saling menyapa, tentu saja Rendi mengenal Bi Nani sebagai pengasuh Kharisa. Bi Nani pamit untuk menjemput Rakha di masjid karena waktu sudah menunjukan pukul lima sore, yang berarti Rakha sudah selesai belajar mengajinya.


"Assalamuakaikum....." Saat Kharisa tengah asyik bercerita tentang masa lalunya, terdengar ucapan salam dari seorang laki-laki yang berdiri berdiri di pintu masuk yang terbuka.


"Waalaikumsalam......" jawab mereka bertiga sambil menoleh ke sumber suara.


"El...."gumam Kharisa


"Maaf apa kedatangan saya mengganggu?" El tidak langsung masuk seperti biasanya, tatapannya tertuju pada laki-laki yang duduk di samping Kharisa yang tidak dikenalnya, namun terlihat begitu akrab dengan Kharisa, jangan-jangan dia rivalnya juga, selain Faisal, batin Rafael.


"Ah tidak, ayo masuk." Mama berdiri mempersilahkan Rafael masuk. Rafael pun mendekat berdiri di samping sofa, ia tidak langsung duduk.


"Ini kebetulan ada kakaknya Kharisa datang dari Jakarta, ayo duduk." ujar Mama lagi. Rafael pun duduk, hatinya lega, ternyata laki-laki itu kakaknya Kharisa.

__ADS_1


"El, kenalkan ini kakakku Mas Rendi, Mas ini Rafael, ......ayahnya Rakha." ujar Kharisa ragu, baru saja ia menceritakan pada kakaknyae siapa ayah kandung Rakha, eh orangnya datang menunjukan batang hidungnya.


Tiba-tiba Rendi berdiri kemudian mendekati Rafael berdiri di depannya dengan rahang mengeras dan tatapan tajam. Kemudian ia menarik kerah baju Rafael hingga membuat Rafael berdiri lalu menariknya keluar area sofa.


Bbukk...sebuah pukulan yang lumayan keras mendarat di wajah Rafael membuat Rafael tersungkur ke lantai.


"Mas Rendiii.....jangan...." Teriak Kharisa, ia kaget melihat apa yang dilakukan kakaknya, begitu juga dengan mama, mereka berdiri mendekati Rendi, namun rupanya Rendi belum puas hanya memberikan satu pukulan pada laki-laki yang telah membuat adiknya menderita, ia menarik kerah baju Rafael.


Dan bukkk.... Rendi memberikan pukulan lagi di wajah Rafael, pukulan kali ini membuat sudut bibir Rafael berdarah. Rafael hanya diam tidak berusaha menghindar apalagi melawan. Ia sadar, ia pantas menerima perlakuan dari kakaknya Kharisa, bahkan lebih dari ini pun ia akan terima.


"Mas Rendi, sudah Mas...." Kharisa terlihat gusar melihat Rafael yang kembali tersungkur dengan bibir berdarah, terlihat memar di pipinya.


"Itu hanya sedikit peringatan untuk laki-laki brengsek yang telah membuat adikku menderita, dan itu belum seberapa dibandingkan rasa sakit yang dirasakan Kharisa, gara-gara kamu dan keluargamu kami jadi berpisah, sekali lagi kamu menyakiti Kharisa, kamu berhadapan denganku, aku habisi kamu." Ujar Rendi dengan emosi, ia terlihat masih ingin menghajar Rafael tapi Kharisa dan Mama menahannya.


"Sudah Ren...sudah...." Mama menarik Rendi menjauh dari Rafael, sementara Rafael masih terduduk mengusap bibirnya yang berdarah.


"El...kamu gak apa-apa." Wajah Kharisa terlihat khawatir, walau bagaimana pun Rafael adalah ayah dari putranya dan ia telah memaafkannya, ia tidak menyangka kakaknya akan bertindak seperti ini.


"Aku gak apa-apa." ujarnya dengan wajah meringis, merasakan perih di bibirnya. Kharisa mengajak Rafael duduk di sofa. Saat akan membantu Rafael bendiri, Rakha datang berdiri di depan pintu diikuti Bi Nani di belakangnya


"Salamikum......" Ia tertegun melihat dadynya terduduk di lantai dengn wajah memar dan bibir berdarah, rupanya ada luka robek di ujung bibirnya yang membuat darahnya masih terus menetes.


"Dady....? Dady kenapa, bibilnya beldalah?" Rakha mendekati dadynya memperhatikan wajahnya yang terluka. Anak itu terlihat keheranan dan khawatir dengan dadynya.


"Dady gak apa-apa, tadi terjatuh di lantai." Jawab Rafael bohong, ia tidak ingin membuat putranya khawatir dan tau apa yang sebenarnya terjadi, ia masih terlalu kecil untuk mengerti urusan orang dewasa.


"Aku obatin dady yah....." Rakha berlari ke ruang tengah, terdengar ia memanggil Bi Nani.


"Nenek....aku mau kotak obat, aku mau obatin Dady."


Sementara Randi masih terpaku sejak melihat bocah laki-laki yang tak lain adalah keponakannya.


bersambung...

__ADS_1


Wow....dugaan para reader tepat sekali. Akhirnya Kharisa bisa bertemu dengan kakak kesayangannya.


Jangan lupa tinggalkan jejak like fan komennya yah.Thanks🙏🤗


__ADS_2