
Setelah makan malam bersama di rumah papanya, Kharisa pamit karena Rendi sudah memberi kode kalau ia akan mengantar mereka menuju hotel yang telah dibooking, dua kamar sudah di booking untuk Kharisa dan mamanya. Mama Lisna sebenarnya meminta mereka menginap, tapi karena Rendi sudah membooking kamar di hotel, sayang kalau tidak dimanfaatkan. Rendi telah siap dengan kunci mobilnya, sengaja Rendi yang mengantar karena ingin sekalian mengecek kesiapan tempat untuk besok akad nikah dan resepsinya.
" Biar Papa yang mengantar ke hotel, kamu istirahat saja, biar besok fit." Ujar Papa pada Rendi. Terlihat papa telah menggunakan jaket kulitnya berjalan menuju keluar rumah, di depan teras telah siap mobil Alphard hitam yang memang sudah disiapkan oleh Pak Anwar atas intruksi papa.
Rendi berjalan mengejar papanya diikuti oleh Kharisa, Mama Bi Nani dan Rakha.
"Pah, tapi aku mau sekalian mengecek gedung, sudah janjian sama WO." ujar Rendi yang masih berada di belakang Papa, Papa menghentikan langkahnya, berbalik ke belakang.
"Kenapa harus ngecek ke sana? Kan sudah ada WO yang ngatur, percayakan saja sama mereka, kamu istirahat saja." Papa sepertinya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk bersama istri dan putrinya, ditambah cucunya.
"Ya tadinya sekalian saja nganterin Mama Uwi dan Kharisa,trus mampir ngecek gedungnya.
"Sudah papa saja yang nganter, Pak Anwar juga sudah siap. Ayo, cucu Opa mau duduk sama Opa di depan?" Rakha terlihat malu-malu, ia menatap momynya meminta persetujuan.
"Rakha mau duduk di depan sama Opa? Boleh kok." Kharisa paham kalau putranya ingin bersama Opanya, anak kecil itu begitu senang saat tau ia masih memiliki oma dan opa selain yang selama ini dikenalnya. Rakha bisa merasakan opa dan omanya yang baru dikenalnya sayang padanya, kalau dulu keluarga yang dikenalnya hanya momynya, oma Dewi, bi Nani, Om Isal, Aki, Enin, sekarang bertambah lagi keluarganya, bertambah opa dan oma.
Kharisa pun lega melihat papanya mau menerima Rakha sebagai cucunya. Ia sangat bersyukur Allah mempermudah segalanya, papa dan mamanya sudah saling memaafkan walaupun belum ada kejelasan apakah mamanya akan kembali hidup bersama papanya, ia sendiri berharap mamanya kembali bersama papanya, semua anak pasti mengharapkan orang tuanya bisa terus bersama sampai maut memisahkan.
Kharisa jadi ingat hubungannya dengan Rafael masih belum jelas. Ia tersadar kalau ia mengharapkan papa mamanya bisa bersama, pasti Rakha pun mengharapkan momy dan dadynya bisa bersama. Mungkin setelah urusan mama dan papanya selesai ia akan mulai memikirkan hubungannya dengan Rafael, demi Rakha.
Rakha duduk di depan dipangkuan opanya, ia dan mamanya duduk di kursi penumpang di tengah, dan Bi Nani di belakang. Waktu telah menunjukan pukul delapan malam, jalanan menuju hotel tempat resepsi pernikahan terlihat padat, rupanya selain karena para pekerja kantoran masih berada di luar sepulang kerja, penduduk ibu kota banyak yang ingin menikmati malam di luar rumah mereka untuk sekedar makan malam di resto, jalan-jalan di mall, atau pergi nonton karena esok adalah hari libur.
__ADS_1
Di dalam mobil tidak terdengar suara obrolan di antara mereka, masing masing sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Mama mengingat kejadian tadi saat di kamar tadi, ia masih tidak menyangka dengan apa yang terjadi, serasa mimpi. Mama memang pernah bermimpi bertemu suaminya lalu mereka saling bermaafan, saling berpelukan. Dan mimpi itu menjadi kenyataan, ia melihat suaminya bersungguh-sungguh meminta maaf, bahkan meminta mama kembali pulang ke rumahnya. Dengan penuh penyesalan suaminya memeluknya erat seolah takut kehilangan lagi, yang mengagetkan mama , papa terisak sambil mengucapkan peemohonan maaf. Ya, suaminya menangis, seorang Dewantara menangis, dan inilah pertama kalinya mama melihat suaminya menangis.
"Maafkan aku Wi....maafkan aku, aku memang egois."
"Aku benar-benar menyesal, aku yang salah, maafkan aku." ucap Papa sambil terisak.
Dengan ragu Mama membalas pelukan papa, dengan berderai air mata, ia juga merasa bersalah, harusnya ia tidak cepat mengambil keputusan untuk membawa Kharisa pergi, harusnya ia membicarakan lagi dengan suaminya, mungkin saja saat itu suaminya akan berubah keputusan, sadar tindakannya salah dan membatalkan untuk menggugurkan kandungan Kharisa. Tapi rasa kecewa pada suaminya saat itu begitu besar hingga tidak ada perasaan takut meninggalkan suaminya, tanpa berpikir panjang.
"Kamu mau memaafkan aku kan Wi?"
"Pulanglah Wi, sudah lama aku menunggu kepulanganmu, kita perbaiki hubungan kita, kita bangun lagi keluarga kita bersama cucu kita ya Wi."
Dalam diamnya selama di mobil mama memikirkan hubungannya dengan suaminya, rencananya mama memutuskan untuk kembali hidup bersama dengan suaminya, tidak bisa dipungkiri perasaan cinta di hatinya masih begitu besar untuk seorang Dewantara yang selalu memperlakukannya dengan lembut dan penuh cinta. Tapi haruskah ia memulainya dari nol lagi dengan ijab kabul pernikahan agar tidak ada keraguan untuk kembali menjalankan tugasnya sebagai istri yang berbakti pada suaminya atau tinggal melanjutkan karena memang suaminya tidak pernah sedikit pun megucapkan kata-kata talak. Sepertinya ia harus bertanya dulu pada ahlinya.
Mama menegakkan duduknya saat mobil mereka telah memasuki area sebuah hotel bintang lima di kawasan jalan MH.Thamrin Jakarta Pusat. Pak Anwar menghentikan mobil di depan pintu lobi hotel, mereka pun disambut oleh petugas hotel yang standby di depan pintu lobi, mengantar mereka ke depan reseptionis. Kharisa melakukan check in kamar yang memang sudah di booking kakaknya, tidak perlu berlama-lama lagi, Kharisa sudah mendapatkan kuncinya, mereka pun menuju kamar di lantai delapan. Papa ikut mengantar dengan menggandeng tangan cucunya.
Kharisa berjalan dengan wajah ceria di belakang papa menuju kamarnya.
"Mah aku yang ini yah kamarnya, ini kunci kamar mama." Kharisa memberikan kunci pada mama.
__ADS_1
"Bu, saya bantu Neng Kharisa beres-beres dulu." Ujar Bi Nani, sebenarnya Bi Nani sudah diminta oleh mama untuk tidur bersama satu kamar, Kharisa berdua dengan Rakha. Tapi karena ada papa, Bi Nani mencari alasan agar tidak mengganggu mereka dulu, mungkin saja masih ada yang akan mereka obrolkan. Ia pun masuk ke kamar bersama Rakha dan Kharisa.
"Pak aku masuk dulu yah, mau mandi ,aku gerah." Kharisa pamit pada papanya
"Terima kasih Mas, sudah mengantar kami." Ujar mama canggung. Papa menganggukan kepalanya.
"Aku masuk dulu." Mama berbalik menghadap pintu dan membukanya.
"Kamu gak mempersilahkan aku masuk Wi." Ujar papa saat istrinya telah membuka pintu.
"Eh...." tentu saja mama terkejut. Tanpa mendapat ijin dari istrinya, Papa masuk ke dalam kamar.
"Mas mau apa?" Tanya mama grogi, papa sudah masuk dan duduk di sofa.
"Aku kangen sama kamu Wi. Kamu gak kangen sama aku..." Mama masih diam terpaku berdiri di dekat tempat tidur, menatap suaminya yang kini berjalan mendekatinya.
"Mas....? Mas mau apa?" Mma masih saja terus bertanya saat suaminya semakin dekat dan kini meraih pinggangnya dan melingkarkan kedua tangannya.
"Aku puasa lama Wi, aku kangen sama kamu, boleh yah." Tatapan suaminya begitu penuh hasrat, bayangkan saja lima tahun lebih dia tidak pernah menyalurkan hasratnya, walaupun ada istri pertamanya, wajar saja saat bertemu istrinya yang dulu selalu memenuhi kebutuhan batinnya, ia tidak bisa lagi menahannya.
Sementara mama masih bergeming dalam kebingungan, haruskah ia melayani suaminya, menjalankan kewajibannya lagi sebagai seorang istri? Tapi hatinya ragu haruskah mereka memperbaiki pernikahan mereka dengan ijab kabul lagi, berarti mereka harus menikah lagi?
__ADS_1
bersambung