Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku
Mengantongi Dukungan Calon Kakak Ipar


__ADS_3

Suasana makan malam di rumah Kharisa terasa lebih hangat, yang biasanya hanya berempat kini ada tambahan dua orang laki-laki yang tadi sore sempat melakukan drama action. Kini dua laki-laki itu ikut menikmati makan malam yang memang sengaja disiapkan spesial untuk menyambut kedatangan Rendi. Mama sengaja membuat makanan kesukaan Rendi yang dulu sering ia buat, sambal goreng daging sapi, capcay, tempe mendoan, dan sup ayam kampung. Tentu saja Rendi tidak menyia-nyiakan hidangan di depannya, lidahnya masih bisa mengenali rasa khas masakan Mama Uwi walaupun sudah lama ia tidak merasakan masakan mama sambungnya yang selalu membuat ia ingin menambah porsi makannya.


"Hhmmm.....masih sama seperti dulu, rasanya pas banget, akhirnya aku bisa menikmati lagi masakan Mah Uwi." Ujar Rendi setelah mencicipi sambal goreng, lalu mencoba sup ayamnya. "Hmmm....yummi...."


"Makan yang banyak....mamah gak akan lupa makanan kesukaan kamu, ini sengaja Mama siapkan untuk kamu." Mama senang melihat Rendi yang begitu menikmati masakannya.


"Oma...aku mau lagi supnya, sama tempenya." Ternyata Rakha juga menyukai sup buatan omanya.


"Boleh sayang, Rakha sama kaya Om Rendi suka sup buatan Oma yah?" Mama mengambilkan sup ke mangkuk bergambar Mc Quin si Racing Car .


"Sup nya enak Oma." ujar Rakha, indra pengecapnya sudah bisa merasakan mana makanan yang enak mana yang kurang.


"Enak mana sama buatan Momy?" Tanya Kharisa.


Sup buatan Momy juga enak, tapi lebih enak buatan Oma." jawab Rakha jujur sambil menunjuk sup di mangkuknya, membuat yang lain terkekeh termasuk Rafael yang terlihat meringis saat bibirnya tertarik, namun masih bisa menikmati sedikit-sedikit masakan mama Kharisa. Dalam hatinya ia berharap suasana seperti ini akan terus ia nikmati kedepannya, menjadi bagian dari keluarga Kharisa tentu menjadi impiannya saat ini. Semoga saja Kharisa mau menerimanya kembali, sepertinya mama dan kakaknya Rendi tidak masalah kalau mereka bersama menjadi keluarga yang utuh.


Tadi sepulang shalat maghrib di masjid, Rendi sempat meminta maaf, tentu saja Rakha yang mengajak Dadynya shalat di masjid, walaupun masih terasa sakit dan perih di daerah wajahnya, Rafael tetap mengikuti ajakan putranya. Rendi pun ikut shalat di masjid karena dorongan Kharisa, selama ini sama seperti Rafael, Rendi masuk ke masjid hanya satu kali dalam seminggu, untuk melaksanakan shalat Jumat.


"Ayo Mas shalat berjamaah dulu ke masjid, masa kalah sama ponakannya." Ledek Kharisa, akhirnya Rendi mengikuti Rafael dan keponakannya ke masjid.

__ADS_1


Setelah dijelaskan oleh Kharisa tentang kondisi Rafael saat Kharisa hamil akhirnya Rendi pun bisa memahami, tadi Kharisa memang belum selesai bercerita, baru menyebutkan siapa ayahnya Rakha dan perlakuan orang tua Rafael yang menyuruh Kbarisa menggugurkan kandungannya, eh Rafael keburu datang, hingga langsung dihajar oleh Rendi yang tidak rela adiknya mendapat perlakuan dari orang tua Rafael. Rafael memang bersalah telah merusak masa depan Kharisa tapi tidak bermaksud menolak kehamilannya dan akhirnya Rendi memberikan maaf untuk ayah keponakannya.


Selesai shalat maghrib mereka berdua sempat berbicara berdua di teras masjid, sementara Rakha asyik bermain dengan teman sebayanya.


"Raf, sory yah muka Lo jadi babak belur gitu, pasti sakit yah." Rendi merasa bersalah atas tindakannya tadi, ia sedikit meringis membayangkan Rafael yang sedang merasakan wajahnya senut- senut, pasti bibirnya sakit kalau ia bicara atau makan.


"Gak apa-apa Mas, aku memang pantas mendapatkan ini, harusnya lebih dari ini Mas menghajarku, benar kata Mas, sakitku tidak seberapa dibandingkan apa yang dialami Kharisa dan Rakha. Aku sungguh-sungguh menyesal dulu tidak mencari Kharisa dengan benar, aku pikir Kharisa memang meninggalkanku, karena aku benar-benar hilang kontak dengan dia, teman dan gurunya tidak ada satu pun yang tau keberadaannya, aku juga tidak berusaha lagi mencarinya atau menyuruh seseorang mencarinya, hingga setelah kuliahku selesai beberapa bulan yang lalu teringat kembali dengan Kharisa, baru aku mencarinya lagi dan akhirnya kami bertemu di rumah sakit." Jelas Rafael


"Oh ya HP Kharisa ketinggalan di rumah, Gue sempet hubungin Lo dari HP Kharisa tapi HP Lo nggak aktif terus. Lo ganti nomor di sana kenapa gak ngabarin ke HP Kharisa?" Ternyata Rendi waktu itu langsung pulang dari Singapura setelah diberitahu mamanya kalau Kharisa pergi dari rumah dengan mama Dewi dan sempat menghubungi teman-teman Kharisa termasuk Rafael.


"Oh....waktu aku sampai di Stanford HPku hilang, entah jatuh atau bagaimana aku tidak sadar jatuhnya dimana, aku gak bisa menemukannya, setelah tiga hari di sana aku baru dapat nomor baru, saat aku coba menghubungi Kharisa, HPnya tidak aktif." Jelas Rafael.


"Ya, papa yang pegang HP Kharisa, sepertinya setelah HP Kharisa mati, tidak pernah dinyalakan lagi."


"Apa rencana Lo kedepannya?" Tanya Rendi serius. Setelah melihat interaksi Rafael dangan Rakha, Rendi merasa kalau Rafael adalah laki-laki yang bertanggung jawab dan sepertinya sangat menyayangi putranya.


"Tentu saja aku ingin menjadi ayah yang seutuhnya untuk Rakha, melindungi dan membahagiakan Kharisa dan Rakha."


"Lo udah bilang sama adik Gue tentang keinginan Lo itu?" Rafael langsung menganggukan kepalanya, menjawab pertanyaan Rendi.

__ADS_1


"Terus gimana respon adik Gue?" Tanya Rendi penasaran. Rafael menghela nafasnya seolah berat menjawab pertanyaan Rendi


"Kharisa belum mau nerima aku lagi, aku sudah meyakinkan dia kalau Rakha membutuhkan orang tua yang utuh untuk perkembangannya, dia akan bahagia kalau bisa tinggal bareng momy dan dadynya."


"Kenapa dia gak mau? Dia jelasin alasannya?" Tanya Rendi heran, apakah adiknya itu tidak memikirkan masa depan Rakha?


"Eu...sebenarnya ada sesuatu hal yang membuat Risa tidak menerimaku lagi, ini memang kesalahanku lagi, tapi aku sedang berusaha meyakinkannya, sampai sekarang aku masih sangat mencintai dia, aku pun yakin dia masih mencintaiku, dan yakin kami bisa bersama menjadi orang tua yang utuh untuk Rakha." Rupanya Rafael tidak ingin kakak Kharisa mengetahui kondisi Rafael yang telah bertunangan dengan wanita lain, terlalu malu rasanya bnayak kesalahan di pihaknya.


"Pede banget Lo, jangan-jangan adik Gue udah gak cinta lagi sama Lo, bentar....tadi dia cerita kalau selama ini ada seseorang yang selalu di belakangnya, selaku mendukungnya bahkan dia yang membuat adik Gue bangkit lagi dari keterpurukannya, dan selama gak ada Lo dia yang menjadi figur ayah buat Rakha. Lo udah tau? Jangan -jangan cinta adik Gue berpaling ke laki-laki itu. Dia jadi rival Lo dong." Rendi terkekeh seolah dia sengaja mengompori Rafael. Tentu saja Rafael terpancing, ia sudah tau dan melihat sendiri bagaimana kedekatan Kharisa dan putranya dengan Faisal.


"Risa bilang hanya menganggap saudara, kakaknya. Aku juga udah ketemu sama dia, dia memang baik, sayang banget sama Rakha, tapi Rakha tau siapa dadynya, dan aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk menjadi ayah yang baik untuk Rakha, aku akan berusaha mengganti waktuku yang terlewatkan bersama Rakha." Rafael pun meyakinkan Rendi


"Yah Gue hanya bisa dukung dan doain Lo, Gue mikirnya demi Rakha, kasihan dia jangan sampai bingung dengan figur orang tuanya." Mendengar ucapan Rendi Rafael merasa tambah yakin kalau ia dan Kharisa bisa bersatu lagi. Rafael pun meminta bantuan Rendi untuk mempertemukannya dengan papa Kharisa, ia ingin meminta maaf, dan ingin menunjukan kesungguhannya untuk memperbaiki kesalahannya dulu, juga meminta keridhoannya untuk bertanggung jawab terhadap Kharisa dan Rakha.


Obrolan mereka pun terhenti saat berkumandang adzan Isya, mereka melanjutkan dengan shalat Isya berjamaah di masjid, padahal tadi niatnya hanya melaksanakan shalat maghrib saja.


Selesai menikmati makan malam yang begitu nikmat, selain karena makanannya yang enak juga suasananya yang penuh kekeluargaan, Rafael pamit pulang, ia tidak ingi mengganggu waktu Kharisa dan kakaknya yang ingin memuaskan rasa rindu mereka.


"Dady, kapan Dady nginep di sini, aku mau tidur baleng dady lagi?" Rakha menggelayut manja pada tangan kokoh dadynya yang sudah berdiri di pintu hendak keluar.

__ADS_1


"Tanyanya ke Momy kapan dady boleh nginep di sini." Bisik Rafael di telinga Rakha sambil jongkok. "You ask Momy, Oke!" Rakha menganggukan kepalanya tanda mengerti perintah dadynya. Rafael berjalan dengan berat hati meninggalkan putranya yang baru akan masuk ke rumah setelah ia melajukan mobilnya. Semoga esok ia tidak harus berpisah lagi dengan putranya agar bisa menebus waktu yang terlewatkan bersama Rakha juga Kharisa. Bukankah ia sudah mengantongi dukungan dari calon kakak ipar? Jadi harus terus semangat berjuang mendapatkan Kharisa.


bersambung


__ADS_2