Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku
Taaruf ?


__ADS_3

"Risaaa.....tunggu....." Kharisa menoleh ke belakang saat terdengar suara seseorang yang tidak asing ditelinganya memanggilnya. Ia menghentikan langkahnya. Terlihat Rafael dari arah mess karyawan dengan setengah berlari menghampirinya.


"Ada apa?" Tanya Kharisa, ia menyipitkan matanya karena pancaran sinar mentari yang menembus panca indra penglihatannya.


"Bareng masuknya." Jawab Rafael sedikit terengah.


"Kirain ada apa." Kharisa melanjutkan langkahnya meninggalkan parkiran karyawan yang masih terlihat sepi, waktu memang masih menunjukan pukul tujuh lewat sepuluh menit, biasanya pukul setengah delapan karyawan mulai terlihat berdatangan.


"Kamu tuh ya, memangnya gak boleh aku jalan bareng kamu di sini? Gak usah cepet-cepet jalannya kali." Rafael mensejajarkan posisinya dengan Kharisa yang berjalan dengan cepat.


"Gak enak aja El dilihat orang."


"Gak enak kenapa? Kamu jalan deketan karyawan lain gak masalah, sama dokter arjuna kamu sering jalan barengan, kenapa sama aku gak enak?" Terdengar nada protes dari Rafael.


"Ya kamu pasti tau jawabannya., gak harus aku ......" ucapan Kharisa terhenti saat berpapasan dengan karyawati yang baru keluar gedung rumah sakit, sepertinya mereka habis shift malam.


"Pagi dokter Rafael...." sapa mereka dengan senyum di bibirnya, tak lupa menganggukan kepalanya.


"Pagi..." Rafael membalas ucapan salam mereka sambil terus berjalan mengikuti Kharisa masuk ke gedung rumah sakit dari pintu samping menuju ruang absensi.


"Sa....tunggu bentar, aku mau bicara."


" Bicara apa? Kalau tentang urusan pribadi di rumah saja." Kharisa kembali menghentikan langkahnya, namun posisinya tetap membelakangi Rafael.


"Ck....kamu ini takut banget sih, ingat aku bukan tunangan Vania lagi, I'm single." Ujar Rafael pelan, ia tau kondisinya mereka di tempat umum di selasar area poliklinik walaupun masih terlihat sepi. Rafael meraih bahu Kharisa membalikan ke arahnya. "Listen.....I'm single." ujarnya lagi.


"Apaan sih El." Kharisa melepaskan tangan Rafael yang masih memegang bahunya.


"Makanya dengerin aku dulu."


"Aku gak suka kamu memperlakukanku seperti orang lain saat di rumah sakit, masa ngobrol berdua saja kamu gak mau, sementara kamu dengan bebasnya ngobrol sama yang lain...."


"Itu karena urusan pekerjaan yang harus diobrolkan." Belum selesai Rafael bicara Kharisa sudah memotongnya. "Dan orang lain taunya kamu masih tunangannya Mbak Vania."


"Jadi karena itu? Oke kalau gitu nanti aku umumkan kalau pertunanganku dengan Vania sudah selesai."


"El.....bukankah kamu sudah sepakat dengan Mbak Vania untuk tidak mengumumkannya dulu, jangan bikin malu Mbak Vania dan aku gak mau nanti orang-orang menuduhku sebagai penyebabnya, orang-orang pasti akan kepo mencari tau penyebabnya." Kharisa menghela nafasnya, terus terang dia sangat takut kalau disebut pelakor.

__ADS_1


"Kalau ada yang mau dibahas urusan pribadi jangan di rumah sakit." Tambah Kharisa.


" Oke....kalau gitu nanti malam aku mau ngajak kamu dinner sekalian ada yang mau aku bicarain." Akhirnya Rafael mengalah.


"Di rumah saja El.....aku gak mau kita berdua di tempat umum, nanti kalau ketemu dengan orang yang kita kenal gimana?" Tolak Kharisa. Mereka memang belum pernah jalan bareng berdua atau dengan Rakha di kota tempat mereka tinggal. Kharisa mau diajak jalan kalau ke luar kota ,ke Bandung atau Jakarta. Riskan katanya, kalau ketemu dengan orang yang kenal bisa panjang urusannya.


"Oke....oke, pulang kerja aku langsung ke rumah. Akhirnya Rafael mengalah lagi.


"Selamat pagi dokter Rafael..." Sapa dokter Arjuna yang baru datang dari arah lobi depan.


"Pagi....." Balas Rafael sambil menganggukan kepalanya.


"Maaf dokter Rafael, saya permisi, mari...mari dokter Juna." Kharisa meninggalkan kedua dokter dihadapannya. Rafael diam terpaku menatap kepergian Kharisa


"Maaf dok, bisa minta waktunya sebentar sebelum Morning meeting, ada yang mau saya sampaikan tentang doktek bangsal."


"Hmm...ya udah sekarang saja ke ruangan saya." Mereka berdua menuju ke ruangan Yanmed setelah melakukan absensi.


*****


Tepat pukul empat sore Rafael meninggalkan rumah sakit menuju rumah Kharisa. Tiba di rumah Kharisa ia disambut mama Kharisa.


Rafael masuk.


"Makasih tante." Rafael duduk di sofa ruang tamu. Rafael mengedarka pandangannya mencari keberadaan putranya.


"Rakha sedang belajar ngaji di masjid." Ujar mama sepertinya paham Rafael mencari Rakha.


Setiap hari Rakha belajar mengaji di masjid, baru akan pulang pukul lima nanti, Rafael lupa kalau putranya itu punya kegiatan sore, mungkin karena tadi terlalu bersemangat untuk bertemu putranya. Sementara Kharisa belum terlihat kepulangannya, belum ada motornya terparkir di carport.


"Tante buatkan minum dulu yah, mau kopi atau teh?"


"Gak usah repot-repot tante, eu.... bisa kita bicara sebentar tante?" Mumpung ada kesempatan berdua dengan mama Kharisa, rupanya ada yang ingin Rafael sampaikan.


"Oh ya..ada apa?" Mama Kharisa mengerutkan keningnya. Ia duduk di sofa di sisi sebelah kanan Rafael.


"Aku mau minta tolong sama tante." Mama kembali mengernyit lagi.

__ADS_1


"Aku ingin menemui papa Kharisa, tante bisa bantu kan?"


"Aku ingin minta maaf, dan ingin menyampaikan kalau aku ingin bertanggung jawab atas apa yang kulakukan dulu, walau mungkin terlambat. Tante bisa bantu kan?" Ucapan Rafael terlihat sungguh-sungguh, dan mama melihatnya jelas.


" Nanti kalau ketemu papa Kharisa tante sampaikan yah, mudah-mudahan papa Kharisa mau dan ada waktu luang."


" Tapi......"


"Tante tidak usah khawatir, aku siap kalau papa Kharisa marah-marah atau bahkan menghajarku, aku memang pantas mendapatkannya." Sempat terpikir oleh Rafael kalau ia tidak akan dengan mudah diterima oleh keluarga Kharisa.S


"Papa Kharisa mempunyai sifat yang keras, tapi nanti coba tante sampaikan kepada papa Kharisa yah."


"Terima kasih banyak tante." Akhirnya ada jalan untuk bertemu papa Kharisa, Rafael ingin segera mendapat restu dari papa Kharisa. Rafael menoleh ke arah pintu masuk saat mendengar suara motor masuk halaman rumah, siapa lagi kala bukan Kharisa. Waktu menunjukan pukul lima kurang seperempat saat Kharisa masuk ruang tamu.


"El......." Ternyata benar Rafael datang ke rumahnya setelah pulang kerja, masih menggunakan baju yang sejak tadi pagi dipakainya.


"Tante ke dalam dulu ya El." Ujar Mama Kharisa , ia pun berjalan ke ruang tengah meninggalkan Kharisa dan Raf


"Apa yang ingin kamu bicarakan El....?"


"Kamu pasti cape, istirahat saja dulu, nanti baru kita ngobrol." Padahal tidak terlihat wajah lelah yang menghiiasi sajahnya. Tentu saja ini hanya akal-akalan Rafael agar bisa lebih lama ti rumah Kharisa.


"Aku gak cape El, ayo mau bicara apa? "


"Hmmm baiklah...... aku ingin mmbicarakan hibungan kita, kamu bersedia...?"


"Ok.' Kharisa menyetujui keinginan Rafael. Mereka pun terlibat dalam obrolan santai tapi serius. Membahas hubungan mereka ke depannya. Semalam Kharisa telah memikirkannya, demi putranya Rakha, ia akan memberikan kesempatan pada Rafael.


"Anggap saja kita sedang taaruf, maksimal tiga bulan, kalau kita masih merasa saling cocok kita lanjutkan hubungan kita, kalau ternyata tidak ada kecocokan ya jangan kita paksakan. Dan satu lagi aku juga ingin mendapat restu dari orang tuamu." Ucapan Kharisa membuat senyum tipis terbit di wajahnya. Ada secercah harapan bagi Rafael, ia masih memiliki kesempatan


untuk bersama Kharisa dan putranya.


bersambung


Hai reader.... gak papa pendek yah, yang penting up, maaf sering bolong upnya yah, minggu ini ada kerjaan yang harus diselesaikan. πŸ™πŸ™


Mana penggemar Rafael....? Kok gak ada suaranya.

__ADS_1


Rafael atau A Isal yah.....Othor bingung milih yang manaπŸ€”


__ADS_2