
Di sebuah kamar yang cukup luas dengan nuansa hitam putih, dan furnitur yang tertata rapi, terlihat minimalis tapi tetap memperlihatkan kemewahan. Bau wangi maskulin yang tercium di seluruh area kamar menunjukan bahwa pemilik kamar ini adalah seorang laki-laki. Dan pemiliknya baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut basah, hanya berbalut handuk putih di pinggangnya menutupi hingga lututnya, namun mempertontonkan otot perutnya yang kencang walaupun belum membentuk sixpack yang sempurna, namun menunjukan kalau si pemilik kamar ini suka melakukan aktivitas olah raga. Ia mengambil sebuah celana pendek dan kaos polos berwarna putih, kemudian memakainya. Rambutnya yang basah ia keringkan dengan handuk, kemudian disisirnya dengan rapi. Waktu menunjukan pukul setengah tujuh, saat ia keluar dari kamarnya dan menuruni tangga menuju lantai bawah.
"El, kamu belum siap-siap?" Tanya seorang laki-laki separuh baya yang tengah duduk di kursi makan sambil menikmati sarapannya, kalau ditebak usianya diatas limapuluh lima tahunan. Di sebelah kirinya duduk wanita yang tidak muda lagi namun masih terlihat cantik.
"Aku masuk shiff siang Pi." Jawab Rafael, sambil mendudukan tubuhnya di kursi makan. Ia mengambil dua lembar roti, diolesnya dengan cream cheese kesukaannya, dan ia mulai menikmati sarapannya.
"Kapan kamu siap menggantikan Om mu di rumah sakit cabang yang di Jawa Barat? Papi sudah mulai jengah mendengar Om mu yang hanya main-main di sana."
"Pih, aku masih ingin adaptasi dengan kasus-kasus yang ada di sini, Papi sendiri tau kan kasus penyakit di sini jarang kutemui waktu aku kuliah dulu, kasusnya beda banget pih, aku masih butuh waktu untuk mempelajarinya." Rafael baru dua bulan berada di Jakarta, ia langsung terjun di rumah sakit milik keluarganya, rumah sakit Setya Medika pusat. Ia benar-benar ingin memulai dari nol mengembangkan karirnya sebagai dokter. Bekerja di rumah sakit sebagai dokter fungsional mengikuti jadwal dinas seperti dokter umum lainnya.
"Tapi disana juga kamu bisa sambil praktek di lapangan, mungkin jangan dulu langsung mengganti Rizal Pih, posisinya sama kaya di rumah sakit di sini juga gak apa-apa. Sudah waktunya juga kamu lebih dekat dengan Vania, dia pasti sudah sangat berharap kamu pindah ke sana." Ujar wanita yang duduk di depan Rafael yang tak lain adalah ibunya.
"Benar kata Mami mu, kasihan Vania sudah begitu sabar nungguin kamu, jadi kapan kamu siap ke sana, biar papi kondisikan untuk posisi kamu."
"Nanti dulu lah Pih, aku baru saja adaptasi di sini, masa harus pindah lagi, nanti kalau aku sudah siap aku kasih tau papi." Sepertinya Rafael tidak berminat menduduki posisi sebagai direktur, dia memang lebih menyukai bekerja di lapangan, bertemu langsung dengan pasien, bahkan rencananya ia ingin langsung mengambil spesialis, namun papinya minta ia terjun dulu di manajemen rumah sakit, karena kedepannya ia yang diandalkan untuk memegang kendali rumah sakit yang kini sudah memiliki dua cabang, cabang pertama di Tangerang Banten yang sudah berjalan lima tahun, cabang kedua di Jawa Barat yang baru berjalan dua tahun. Sementara yang pusat di Jakarta sudah berjalan lebih dari lima belas tahun.
"Jangan lama-lama El, kapan lagi kamu bisa dekat dengan Vania kalau kamu tidak mendekat padanya, selama di sini waktu libur kamu gak jelas, tiap Vania pulang ke Jakarta, kamu pasti sedang berdinas, kasihan dia, mami juga jadi gak enak sama keluarganya, apalagi maminya sudah menanyakan terus kapan mau meresmikan pertunangan kalian." Ujar mami Rafael.
"Mih, aku kan udah bilang gak mau cepat-cepat nikah, aku mau membangun karirku dulu Mih."
__ADS_1
"Mereka tidak minta kalian buru-buru nikah El, hanya bertunangan, agar kalian bisa lebih dekat dan saling mengenal, mereka hanya takut kalian tidak bisa menjalankan amanah dari kakekmu dan kakek Vania." Sepertinya mami Rafael merasa tidak enak didesak keluarga Vania untuk segera meresmikan pertunangan putranya. Rafael dan Vania memang sudah lama dijodohkan oleh masing-masing kakeknya yang ternyata bersahabat sejak muda dulu, kemudian mereka berucap kalau dari keturunannya harus ada yang berjodoh. Ternyata pada generasi keturunan pertamanya tidak memungkinkan untuk dijodohkan karena keturunan mereka putri semua, hingga jatuhlah perjodohan itu pada cucu mereka, sayangnya kedua kakek yang saling bersahabat itu tidak bisa menyaksikan cucunya sampai ke pelaminan karena mereka lebih dulu berpulang untuk selamanya.
"Sudahlah Mih, jangan dulu bahas pertunangan, biar mereka merintis dulu karir masing-masing. Nanti Papi bicara langsung dengan orang tua Vania. Toh Vania juga masih belajar meniti karirnya, dan EL juga tidak akan kemana-mana, El pasti bisa memenuhi keinginan kakeknya, betul kan El?" Ujar papi, namun El tidak menjawabnya, dia asyik menikmati rotinya yang tinggal seperempatnya lagi.
Maafkan aku Pih, aku masih ingin mencari seseorang di sini, gadis yang membuatku jatuh cinta untuk pertama kalinya, gadis yang dulu namanya selalu di hatiku, bahkan sampai saat ini aku tidak bisa menghilangkannya dari hatiku, masih berharap apa yang kalian sampaikan tentangnya itu tidak benar, aku ingin membuktikannya sendiri, setelah benar terbukti akan kuhapus nama itu dari hatiku walaupunbpasti akan sulit karena aku tidak bisa berbohong kalau aku masih sangat mengharapkannya. Rafael
*****
Sementara di kota yang berbeda sebuah motor matic merah tampak memasuki area parkir rumah sakit Setya Medika, sebuah rumah sakit terbesar di kota itu dengan bangunan berlantai enam ditambah fasilitas yang lumayan lengkap cukup menarik perhatian warga di kota itu dan daerah sekitar untuk mengunjunginya disaat membutuhkan pelayanan kesehatan. Motor matic itu telah terparkir diantara deretan motor lainnya, pemiliknya membuka helm dan mengaitkannya di kaca spion, lalu merapihkan hijabnya yang sedikit berantakan, kemudian melangkah menuju lobi rumah sakit yang terkesan mewah seperti lobi hotel. Jam dinding yang terpasang di resepsionis menunjukan pukul setengah delapan. Suasana lobi mulai terlihat ramai oleh pengunjung yang mendatangi bagian customer service dan resepsionis, beberapa karyawan rumah sakit, terlihat dari seragam yang dipakai, mulai berdatangan menuju sebuah ruangan ukuran
3 x 2 meter yang terdapat mesin absensi di dalamnya.
Dengan percaya diri ia masuk ke dalam lift bersama beberapa pengunjung lainnya, ia menekan angka enam sesuai yang diinfokan bahwa ia disuruh datang ke lantai enam. Tidak ada orang lain lagi di dalam lift itu setelah yang lain keluar dari lift di lantai tiga dan empat kecuali ia sendiri.
Pintu lift terbuka, ia keluar dari lift, Di area depan lift terdapat dua pasang sofa melingkar dengan meja di tengah-tengahnya, ia mengedarkan pandangan ke kanan dan ke kiri mencari dimana ia harus menunggu. Akhirnya ia memutuskan duduk di sofa, semoga saja sofa ini memang disediakan untuk tamu menunggu. Tidak berapa lama lift terbuka, beberapa karyawan keluar dan menuju arah sebelah kiri, sepertinya lantai enam ini diperuntukan untuk kantor. Seorang laki-laki muda dengan penampilan yang lumayan rapi dengan kemeja dan celana bahan menghampiri dan duduk didepannya.
"Hai." Sapanya dengan senyuman menghiasi bibirnya. Ia membalas dengan senyum dan menganggukan kepalanya.
"Kamu karyawan baru juga?" Tanyanya lagi.
__ADS_1
"Iya."
"Sama, kenalkan Arjuna, panggil saja Juna." Arjuna mengulurkan tangannya.
"Kharisa." Ia menyambut uluran tangan Arjuna. Syukurlah ada teman yang sama-sama karyawan baru walaupun tidak tau di bagian apa.
Pukul delapan kurang sepuluh, sofa pun mulai dipenuhi oleh laki-laki dan perempuan yang ternyata karyawan baru juga, Kharisa menghitung yang duduk di sofa dan yang berdiri ada dua belas orang, termasuk dengannya.
Tepat pukul delapan seorang laki-laki muda bertubuh tinggi dan ramping lengkap dengan ID card menggantung di dadanya bertuliskan namanya Hari Darmawan/ Staf HRD menghampiri dan mengarahkan karyawan baru untuk masuk ke Auditorium yang berada di sebelah kanan dari lift.
Saat Kharisa beranjak berdiri, bersamaan dengan pintu lift terbuka, keluar seorang laki-laki yang wajahnya terlihat mirip dengan seseorang yang selama ini dia tunggu kedatangannya, bahkan setelah lebih dari lima tahun menunggu Kharisa masih mengharapkannya.
Rafael? Eh....tapi bukan, sepintas mirip, tapi aku tidak tau sekarang Rafael seperti apa, apa itu Rafael? Tanya Kharisa dalam hatinya.
Jantung Kharisa tiba-tiba saja berdetak cepat, ingin rasanya ia menghampiri untuk memastikan tapi laki-laki itu berjalan dengan cepat ke arah ruangan kantor, sementara ia pun harus segera menuju auditorium.
bersambung.......
Benerkan Rafael muncul, tapi apakah dalam waktu cepat bisa bertemu Kharisa?
__ADS_1
Enaknya segera bertemu atau ntar dulu yah?
Hayu atuh kasih komen, jangan lupa like juga yah.🤗🙏