Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku
Tempat Berbagi Cerita


__ADS_3

Sudah tiga hari ini Kharisa selalu pas bertemu dengan Vania di kantin saat makan siang padahal Kharisa selalu terlambat memanfaatkan waktu istirahatnya karena tugas marketing eksternal, mungkin Vania sibuk jadi ia juga terlambat istirahatnya, danbia terlihat sendiri tanpa sahabatnya Meita.


Namun Kharisa melihat ada yang berbeda dari sikap Vania, lebih pendiam dan terlihat sering melamun. Seperti kemarin saat ia masuk ke kantin ia menemukan Vania sedang melamun sambil mengaduk-aduk jus berwarna merah, di depannya ada sepiring makan siangnya yang masih utuh belum tersentuh sepertinya. Wajahnya pun tidak terlihat ceria seperti biasanya.


"Mbak....kok malah melamun, hayo ngelamunin apa?" Kharisa menepuk pelan bahu Vania lalu duduk di sampingnya, makan siangnya sudah lebih dulu disimpan di meja, kali ini Kharisa memilih menu nasi rames daging kecap, oseng buncis, sambal goreng kentang dan mie goreng, rupanya ia kangen dengan menu makanan yang dulu saat di lingkungan pondok di Garut sering dikirim oleh keluarga Faisal kalau ada acara syukuran di rumah abah.


"Eh....Sa baru istirahat?" tanya Vania menutupi rasa kagetnya. Namun Kharisa bisa melihat Vania sepertinya sedang menghadapi masalah, Kharisa jadi merasa tidak enak, jangan-jangan berhubungan dengan hubungannya dengan Rafael, bisa saja sebenarnya menjadi beban bagi Vania karena sampai saat ini orang-orang taunya Vania masih tunangan Rafael, pasti akan heboh jika berita putusnya pertunangan mereka diketahui oleh salah satu karyawan rumah sakit, pasti beritanya akan langsung menyebar dan bisa saja itu menjadi beban bagi Vania.


"Mba kenapa? Lagi ada masalah?" Kharisa memberanikan diri bertanya, ingin memastikan apakah ia dan Rafael yang menyebabkan Vania terlihat memiliki masalah.


"Aku gak apa-apa Sa, hanya sedang tidak enak badan saja, jadi gak nafsu makan." Jawabnya.


"Mbak maaf ya kalau hubunganku dengan Rafael menjadi beban buat Mbak, maaf juga karena kami telah membuat Mbak kecewa." Kharisa kembali merasa bersalah karena secara tidak langsung ia menjadi penyebab putusnya pertunangan Vania dan Rafael.


"Apa sih Sa, kenapa jadi bahas itu lagi, aku tidak apa-apa, malah aku merasa lega, tidak ada beban sedikit pun, urusan orang lain yang akan mengetahui yang sebenarnya akhir hubunganku dengan Rafael itu gimana nanti saja, sekarang kita jalanin saja hari ini. Kamu jangan berpikir lagi kalau kamu salah. Oh ya gimana perkembangan hubungan kalian? Ada kemajuan?"


"Aku masih menunggu restu dari maminya Rafael." jawab Kharisa, nadanya terdengar berat.


" Ah tante Sarah, aku juga bingung dengan sikap tante Sarah, apa sebenarnya yang menjadi alasannya tidak mau nerima kamu. Padahal aku dan keluargaku sudah menerima kalau pertunangan itu tidak bisa dilanjutkan. Aku masih belum nemu alasan yang pas dari tante sarah kenapa nolak kamu." Terdengar helaan nafas dari bibir Vania.


"Lalu rencanamu bagaimana kalau tante Sarah tidak merestui kalian?"


"Entahlah Mba, aku sih bilang sama El kalau aku mau bersama lagi kalau maminya nerima aku."

__ADS_1


"Kalian harus memperjuangkan untuk bersama, demi Rakha, kamu gak boleh egois Sa, harus memikirkan Rakha, dia butuh orang tua yang utuh untuk mendampinginya." Inilah yang membuat Kharisa merasa bersalah pada Vania, dimata Kharisa Vania adalah wanita yang baik, berhati lembut dan tulus.


Obrolan mereka terputus saat seseorang berjalan melewati meja mereka, membawa satu baki makanan dan minuman, lalu duduk di meja disebelahnya.


"Dokter Keanu, baru makan? Gabung sini dok." Ternyata Keanu baru sempat istirahat setelah disibukan oleh pasien di IGD. Namun saat Keanu berjalan mendekat, Kharisa melihat Vania diam terpaku dengan wajah yang pucat. Apa benar Vania memang sedang tidak enak badan? Tapi tadi ia baik-baik saja, apa ada hubungannya dengan Keanu? Bukankah mereka sudah saling mengenal? Keanu bilang Vania adalah adik kelasnya. Atau diantara mereka ada sesuatu? Tanya Kharisa dalam hatinya. Dan Kharisa tambah yakin melihat gelagat dua orang yag duduk satu meja dengannya terlihat grogi, saling diam, bahkan tidak saling menyapa. Ada apa diantara mereka? Ini membuat Kharisa penasaran dan ingin menanyakannya langsung kepada Vania.


Dan saat ini Kharisa bertemu lagi dengan Vania di kantin, seperti hari sebelumnya pukul satu siang mereka baru sempat ke kantin untuk mengisi perut mereka.


" Hai Sa, bareng lagi kita." Vania duduk di depan Kharisa dengan semangkuk baso dan orange juice kesukaannya.


"Baru istirahat Mbak, sibuk yah?" Kharisa menghentikan suapan makannya.


"Iya aku mulai nyicil ngerjain buat laporan akhir taun sama ngejar piutang rumah sakit yang tiga bulan ini masih di luar. Aku mau ngajuin cuti akhir taun, mau liburan bareng keluarga." Keluarga Vania rencana liburan ke Eropa akhir taun ini, sekalian taun baruan di sana. Mungkin keluarganya ingin menghibur Vania yang di taun ini mengalami kekecewaan, walaupun sebenarnya sudsh mengikhlaskannya. Kharisa jadi ingat ajakan Rafael untuk liburan ke Singapura bersama Rakha di tahun baru nanti. Rafael memintanya menyiapkan berkas administrasi pembuatan paspor untuk Rakha, sekaligus yang punya Kharisa, paspornya harus diperpanjang, karena masa berlakunya telah habis. Kharisa sendiri belum mengiyakan untuk ikut, ia ingin melihat kondisi dulu meungkinkan tidak untuk mengajukan cuti, secara dia adalah karyawan yang paling baru bergabung di bagian marketing, seniornya juga pasti ada yang mengajukan cuti, tidak mungkin Andre meng a**cc pengajuan cuti stafnya bersamaan.


"Mba aku boleh bertanya gak? Tapi maaf kalau terlalu bersifat pribadi dan Mbak Vania tidak mau menjawabnya gak papa gak usah dijawab." Ujar Kharisa setelah menghabiskan es teh manisnya.


"Mau tanya apa?"


"Mbak Vania kan dulu adik kelasnya dokter Keanu, kenal dekat dong sama dokter Keanu?"


"Kenapa nanya dokter Keanu? Jangan bilang kamu naksir sama dia." Vania memicingkan matanya.


"He..he...nggak lah Mbak, aku gak pernah berani naksir yang lain setelah punya Rakha. Tapi dokter Keanu memang ganteng sih, manis, posturnya oke, cowok banget, jangan-jangan dulu waktu SMA Mbak naksir dia, waktu SMA dia ganteng juga gak Mbak" Sambil senyum-senyum Kharisa memperhatikan ekspresi wajah Vania yang sedikit terhenyak, Kharisa sengaja memancing-mancing dan sepertinya kena sasarannya.

__ADS_1


"Kayanya bener nih dulu Mbak Vania naksir dokter Keanu, atau jangan-jangan sempet jadian, ya Mbak?" Cecar Kharisa.


" Iiih...sok tau kamu yah." Vania mengaduk-aduk kemudian menyesap jusnya yang masih setengahnya.


"Habis aku perhatiin dari kemarin-kemarin sikap Mbak Vania kaya aneh gitu, apalagi saat ada dokter Keanu, kaya yang syok gitu, trus pada saling diam, gak saling nyapa, padahal kalian kan teman lama, aku jadi curiga ada apa-apa. Bener ya Mbak ada cerita masa lalu dengan dokter Keanu?" Tanya Kharisa penasaran, entah kenapa Kharisa begitu kepo, padahal tidak pernah ia ingin tau urusan orang lain, hanya saja melihat sikap Vania yang berbeda seperti sedang memiliki masalah membuatnya ingin membantunya, minimal menjadi tempat berbagi cerita untuk mengurangi bebannya. Kharisa ingin berbuat baik pada Vania yang telah berbaik hati padanya.


Dan benar saja, wajah Vania berubah menjadi sendu, seolah membenarkan kecurigaan Kharisa.


"Maaf Mbak, kalau pertanyaanku terlalu pribadi, aku hanya ingin menjadi sahabat Mbak Vania, menjadi tempat saling berbagi cerita, tapi kalau Mbak Vania gak mau cerita gak apa-apa. Maaf ya Mbak kalau aku lancang." Kharisa mengerti mungkin Vania belum bisa percaya padanya.


"Sa....aku sudah lama tidak punya tempat untuk berbagi cerita, terakhir aku punya sahabat yang dekat itu saat masa SMA."


"Mbak, kalau Mbak percaya sama aku, aku bisa menjadi teman untuk berbagi cerita, aku tau beban Mbak seperti apa, aku pun salut mbak begitu tegar, tapi akan lebih ringan kalau beban kita bagi dengan yang lain, itu yang aku rasakan." Tentu saja Kharisa merasakan bagaimana menghadapi permasalahan yang berat tapi terasa ringan saat ada tempat untuk berbagi cerita bahkan bisa mendapat sumbangan solusi untuk menghadapinya. Ah jadi kangen kan sama Faisal, sudah beberapa minggu ini tidak ketemu langsung dengan dia.


"Pulang kerja nanti kamu sibuk gak? Mampir ke mess ku bisa ?" Sepertinya Vania percaya pada Kharisa, ia memang butuh sahabat yang bisa sejalan dan satu frekuensi dengannya, Meita yang dekat dengannya dirasakan tidak sejalan, sering mereka beda pemikiran bahkan sebenarnya ia kurang cocok dengan Meita, dan sepertinya ia merasa cocok dengan Kharisa, ia melihat ketulusan pada diri orang yang telah membuat tunangannya memutuskan hubungan pertunangan dengannya dan lebih memilih Kharisa, tapi anehnya tidak ada sedikitpun perasaan benci pada Kharisa, yang ada malah perasaan empati dan salut pada wanita yang telah berjuang membesarkan putranya tanpa suami disampingnya.


"Bisa Mbak." Jawab Kharisa tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk lebih dekat dengan Vania, kini saatnya ia berbuat baik kepada wanita yang telah merelakan Rafael untuknya.


bersambung


Hai readers tercinta🤗😘


Hampir semuanya bisa nebak nih, pada ingat ternyata dengan cinta pertama Vania yang bertepuk sebelah tangan, bahkan ia dijauhi oleh laki-laki yang dicintainya. Ya laki-laki itu adalah Keanu. Apakah akan ada CLBK? Pantengin terus yah, sambil nunggu restu mami Rafael yang belum mau nerima Kharisa. Hadeeeuuuuh...maunya apa sih tu si Mami😡

__ADS_1


__ADS_2