Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku
Kontraksi


__ADS_3

"Neng Kharis kenapa?" Kharisa keluar dari kamar sambil memegang perutnya yang membesar, sesekali meringis membuat Bi Nani khawatir.


"Mules Bi, mau ke belakang dulu." Kharisa berjalan menuju kamar mandi yang berada di belakang dekat dapur. Bi Nani tidak melepaskan pandangannya dari Kharisa sampai masuk ke dalam kamar mandi. Lima belas menit kemudian ia keluar dengan perasaan lega, mulesnya sudah hilang.


"Neng Kharis, sarapan dulu." Ujarnya saat melihat Kharisa keluar dari kamar mandi, tidak terlihat meringis lagi membuat Bi Nani juga lega, berarti mulesnya mules biasa karena ingin BAB.


"Mama Udah berangkat Bi?" Kharisa melihat jam dinding, sudah jam delapan, biasanya mamanya berangkat ke kantor yayasan pukul delapan.


"Baru saja berangkat, tadi nyariin Neng Kharis, kata Mama kalau ada keluhan mules-mules langsung kabarin Mama." Kehamilan Kharisa memang telah melebihi dari taksiran persalinan, sudah lewat lima hari dari tanggal yang diperkirakan, kata dokter kandungan waktu kontrol terkhir kalau lewat satu minggu belum lahir harus kontrol lagi. Entah apa yang membuat janinnya belum mau keluar, sepertinya masih merasa nyaman berada dalam rahim Kharisa padahal posisi sudah masuk panggul. Kharisa pun sudah tidak nyaman dengan kehamilannya. Beberapa hari yang lalu terasa ada mulas dan perutnya terasa tegang, namun beberapa jam kemudian hilang tidak terasa lagi. Ia pun mengikuti saran mamanya juga saran ibunya Faisal untuk sering berjalan kaki, setelah shalat subuh ia pun berjalan kaki di sekitar area perumahan pondok, kadang ditemani Faisal setelah kegiatan ngaji rutin pagi sebelum berangkat sekolah. Namun kontraksi yang ditunggu tak kunjung datang.


Rencananya Kharisa akan melahirkan di klinik bersalin bidan yang paling dekat. Kharisa pun pernah periksa kehamilannya di tempat bidan tersebut. Bidannya sudah senior dan berpengalaman tentunya, ia bekerja di Puskesmas, sepulang dari Puskesmas ia praktek di klinik bersalin yang menyatu dengan rumahnya. Perbekalan untuk melahirkan sudah disiapkan dalam satu tas travel bag, berisi baju ganti, kain samping, pembalut post partum, perlengkapan bayi, perlengkapan mandi, semua sudah disiapkan, bila waktunya tiba harus pergi ke klinik bersalin tinggal membawanya.


Kharisa sedang menikmati sarapan lontong sayur sesuai yang diinginkannya, Bi Nani membelinya di pedagang yang biasa mangkal di depan gerbang pondok. Kharisa menambahkan sambal dari bungkus plastik ke dalam lontong sayurnya, kurang mantap memang kalau tidak pakai sambel, dan Kharisa memang menyukai makanan pedas.


"Neng Kharis, sambalnya jangan banyak-banyak." Ternyata Bi Nani melihat Kharisa menuangkan sambalnya lumayan banyak.


"Iya Bi.....ini kelihatannya aja banyak tapi sambalnya tidak pedas." Kharisa terlihat menikmati lontong sayur tanpa merasa kepedesan, hanya terasa hangat di lidahnya.


Selesai sarapan ia duduk di teras sambil membuka akun medsosnya, hanya melihat-lihat siapa tau ada pesan dari laki-laki yang selalu ditunggunya, ayah dari bayinya dan ternyata tidak ada pesan kecuali dari beberapa teman dekatnya di sekolah SMA yang menanyakan kabarnya, namun tidak dibalasnya. Kharisa tidak pernah membuat status atau memposting apapun, seolah ia menghilang dari peredaran dunia maya. Ia hanya bisa menghela nafasnya saat tidak menemukan informasi apapun tentang Rafael.


Tiba-tiba ia merasakan perutnya mules seperti mau BAB, ia pun menuju ke kamar mandi, apa ini efek dari sambal di lontong sayur yang ia makan tadi, jadi mules lagi padahal tadi sudah BAB. Cukup lama ia di kamar mandi ternyata perutnya lumayan terasa melilit tapi malah BABnya tidak keluar. Akhirnya setelah mulesnya hilang ia keluar dari kamar mandi. Ia duduk sofa ruang tengah sambil nonton TV walaupun tidak ada acara yang disukainya, akhirnya ia nonton FTV yang entah judulnya apa, ia tidak memperhatikannya.


Waktu menunjukan pukul sebelas siang saat ia merasakan perutnya mules lagi, ia buru-buru ke kamar mandi, melewati Bi Nani yang tengah memasak di dapur. Bi Nani pun menoleh sebentar melihat Kharisa masuk ke kamar mandi.


"Kenapa Neng? mules lagi?" tanya Bi Nani saat Kharisa keluar dari kamar mandi.


"Iya Bi, tapi gak keluar, sekarang udah hilang mulesnya." jawab Kharisa sambil mengelus-elus perutnya.


"Apa mules mau melahirkan Neng?" Bi Nani terlihat khawatir.


"Ini mulesnya kaya mau BAB Bi, kata Bu Bidan kalau mau melahirkan perutnya juga kenceng."

__ADS_1


"Karena sambal lontong sayur tadi kali ya Neng, kebanyakan sambalnya." Bi Nani menduga karena sambal, ia sendiri tidak tau mules mau melahirkan seperti apa, karena ia belum pernah punya anak.


"Iya mungkin Bi, tapi tadi gak terlalu pedas kok." Bantah Kharisa, memang tadi rasanya tidak terlalu pedas.


"Ya udah bibi buatkan teh hangat yah, biar enak perutnya." Karina menganggukan kepalanya dan kembali ke ruang tengah.


Tepat setelah adzan dhuhur terdengar suara mama Kharisa mengucapkan salam.


"Assalamualaikum." Terlihat Mama masuk ke ruang tengah.


"Waalaikumsalam." Kharisa menoleh dan melebarkan bibirnya, kemudian mencium tangan mamanya.


"Mah aku dari tadi gak enak perut, mules kaya mau BAB." Mama langsung duduk di dekat putrinya.


"Perutnya kenceng gak, kontraksi gak?"


"Gimana yah, kerasa ada gerakan gitu tapi gak aktif banget, mulesnya kaya mau BAB tapi gak keluar, eh tapi pas pertama mules keluar BAB, kesininya cuma mules doang."


"Udah sering mulesnya?"Mama mulai terlihat khawatir, mungkin ini tanda-tanda Kharisa mau melahirkan.


"Sepertinya ini kontraksi sayang.....ini tanda mau melahirkan." Mama memegang perut Kharisa dan merasakan perut Kharisa menegang tapi cuma sebentar.


"Hilang lagi Mah mulesnya."


"Sayang....sepertinya bayi ini akan segera lahir, kita tunggu lagi mulesnya, kalau benar pasti akan berulang dan jaraknya akan semakin pendek, kalau sudah setengah jam sekali mulesnya kita ke klinik bidan yah.


"Lebih baik sekarang kita shalat dulu, terus makan siang. Kasih tau Mama lagi kalau ada mules dan kontraksi lagi yah."


"Mules lagi?" Tanya mama saat mereka berada di meja makan menikmati makan siang. Kharisa menganggukan kepalanya sambil memegang perutnya yang terasa tegang, kali ini mulesnya terasa lebih lama membuat Kharisa meringis kesakitan, kemudian menghilang lagi


"Jaraknya sudah kurang dari satu jam dari yang tadi yah?" mama melihat jam dinding, terakhir Kharisa mules saat ia datang.

__ADS_1


"Ayo makannya dihabiskan mumpung mulesnya hilang, kamu harus banyak tenaga buat nanti melahirkan, setelah makan di cek keluar lendir nggak yah."


"Mah apa nanti nyerinya lebih parah dari sekarang?" Kharisa mulai terlihat cemas, ia membayangkan nanti nyerinya seperti apa saat melahirkan, sekarang saja sakitnya sudah dirasakan lebih dari mules karena mau BAB.


"Jangan dipikirkan dulu, jalanin saja, kan sudah diajarin teknik cara mengurangi nyerinya sama Bu Bidan. Ayo makannya dihabiskan, nanti minum air kelapa muda yah biar segar." Mama langsung meminta Bi Nani membeli kelapa muda di rumah warga sekitar, di sini mudah mendapatkan buah kelapa muda, kadang langsung ngambil dari pohonnya yang tumbuh di sekitar rumah penduduk.


Makin sore Kharisa makin merasakan sakitnya lebih sering dan dirasakan lebih lama, butiran keringat tampak menghiasi kening dan pelipisnya. Wajahnya pucat menahan nyeri saat perutnya kontraksi. Ia tidur miring di tempat tidurnya saat nyeri itu datang, sambil menarik nafas panjang.


"Aduh Bi....ini sakit banget Bi....." Kharisa merasakan perutnya tegang sekali."


"Sabar ya Neng...." hanya ucapan sabar yang kekuar dari mukut Bi Nani. Bi Nani pun dengan setia menemani sambil mengusap perut dan pinggang bagian belakang, bibirnya tak lepas dari bacaan dzikir dan doa berharap anak asuhannya bisa melewati proses persalinan dengan lancar.


"Mah sakit banget Mah...." Sekarang frekuensi mulesnya kurang dari setengah jam dengan durasi lebih dari lima menit.


"Mama ke rumah Wa Rahmat dulu minta diantar ke klinik bidan." Mama bergegas keluar rumah menuju rumah sebelahnya dan terlihat Faisal sepertinya baru pulang dari Masjid karena masih menggunakan sarung dan baju koko.


"Sal Bapak ada...?" terlihat kecemasan di wajah mama.


"Bapak belum pulang Bi....kata ibu lagi rapat di kantor Depag Kabupaten, ada apa Bi? Bi Dewi kelihatan gelisah gitu?"


"Kharisa kayanya mau melahirkan Sal, udah mules-mules, tadinya Bi Dewi mau minta diantar ke klinik bidan, tapi belum pulang yah?"


"Kharisa mau melahirkan?" Kini Faisal yang terlihat cemas. "Udah mules banget ya Bi? Kalau Isal yang nganter gimana? Bapak gak bawa mobil, tadi pagi dijemput temennya."


"Emang Isal bisa bawa mobil?" Tanya Mama ragu, ia belum pernah lihat Faisal nyetir mobil.


"Kalau deket bisa Bi, ke klinik bidan yang di jalan raya itu kan? Insya Allah bisa. Isal bilang ke ibu dulu ya Bi."


"Ya, Bi Dewi siap-siap dulu ya Sal, mobilnya bisa dibawa ke sini kan?"


"Iya Bi...." Faisal masuk ke rumahnya untuk ijin pada ibunya sekalian mengambil kunci mobil.

__ADS_1


Sepuluh menit kemudian, mobil yang akan mengantar Kharisa sudah siap di halaman rumah, Faisal turun dari mobil, dengan berlari kecil menghampiri Kharisa yang tengah digandeng oleh mama dan Bi Nani. Faisal pun mengantar Kharisa dengan perasaan cemas dan berdebar-debar, dan terus berdoa semoga Kharisa diberikan kekuatan.


bersambung......


__ADS_2