
Hari ini adalah jadwal Kharisa junjungan ke perusahaan sekaligus program penyuluhan kesehatan di salah satu perusahaan pabrik permen di kawasan industri, ini yang kedua kalinya program penyuluhan di perusahaan itu. Seharusnya yang mengisi penyuluhan adalah dokter Arjuna, tapi karena kondisi pasien di rawat inap full dan ada beberapa pasien di rawat inap yang memerlukan pemantauan khusus hingga memerlukan dua dokter di bangsal rawat inap dan ruang intensive care yang juga full. Akhirnya atas intruksi Manajer Yanmed salah satu dokter barulah yang ditugaskan, walaupun masih orientasi, kalau untuk memberikan penyuluhan pasti bisa dan menguasai materinya. Pihak perusahaan meminta penyuluhan tentang Demam Berdarah yang saat ini kasusnya memang meningkat, di musim penghujan memang menjadi siklus tingginya kasus demam berdarah, termasuk yang dialami karyawan dan keluarga perusahaan itu.
Pukul sembilan Kharisa dan Ahmad sudah standby di lobi menunggu dokter yang belum diketahui Kharisa siapa dokternya, ia hanya mendapat pesan dari dokter Arjuna kalau ia tidak jadi mengisi penyuluhan, gantinya akan diatur Yanmed. Dalam hatinya Kharisa berharap kalau Rafael yang akan menggantikannya, sekarang ia sudah mulai terbiasa akrab dengan Rafael di rumah sakit, akrab seperti dengan karyawan lain tentunya, tidak takut lagi duduk berdua di kantin sambil diskusi, kadang Vania ikut nimbrung hingga tidak ada kecurigaan dari karyawan kalau yang menjalin hubungan dengan Rafael adalah Kharisa, mereka taunya Vania masih tunangan Rafael, dan mereka membiarkan keadaan seperti itu, tidak ada yang keberatan.
Seorang laki-laki berjas putih khas dokter menghampiri Kharisa, tampilannya rapih, senyumnya menghiasi wajahnya yang ketampanannya masih kalah kalau dibandingkan dengan Rafael (versi Kharisa dan Othor), dengan kacamata bertengger di hidungnya yang mancung membuatnya terlihat smart. Kulitnya sedikit gelap, namun terkesan hitam manis, dengan tubuhnya yang tegap memberi kesan pertama bagi Kharisa kalau laki-laki di depannya itu 'Ganteng'.
"Selamat pagi dengan Mbak Kharisa?" Sapanya sambil mengulurkan tangannya.
"Saya Keanu, dokter yang menggantikan dokter Arjuna mengisi penyuluhan."
"Oh...ya, Saya Kharisa staf marketing, dan ini Mas Ahmad, staf marketing juga." Ujar Kharisa ramah. Sebenarnya ada sedikit kecewa ternyata bukan Rafael penggantinya, tapi melihat Keanu yang terlihat ramah ia mengenyampingkan kecewanya.
"Dokter sudah siap kan, materinya sudah ada kan?" Tanya Kharisa memastikan.
"Sudah saya kopi di flash disk, tapi saya gak bawa laptopnya."
"Laptopnya ada kok, kalau gitu kita berangkat sekarang ya dok." Mereka bertiga berangkat dengan mobil inventaris menuju kawasan industri.
Pukul setengah satu mereka sudah kembali ke rumah sakit, penyuluhan demam berdarah berjalan lancar, ternyata dokter Keanu menyampaikan materi dengan menarik, tidak membosankan, terlihat berpengalaman menangani kasus demam berdarah, terlebih bagaimana pencegahan dan penanganan awal yang bisa dilakukan di rumah menjadi perhatian peserta yang hadir. Pokoknya rekomended untuk dilibatkan dalam program marketing sebagai penyuluh kesehatan.
"Dok, sekalian kita makan siang bareng di kantin, sudah jam istirahat nih." Ajak Kharisa.
"Boleh langsung istirahat yah? Saya tidak perlu lapor ke Yanmed dulu kalau saya sudah kembali." Tanya Keanu ragu, takut melanggar aturan tugas luar.
"Gak perlu dok, kan ini jam istirahat, ayo kita langsungbke kantin saja." Ahmad ikut menimpali, ia langsung menilai kalau dokter Keanu ini orang yang disiplin, tidak neko-neko.
"Yanmednya juga paling lagi istirahat ke luar kayanya." Kharisa baru ingat kalau Rafael tadi ngirim pesan kalau ia akan menjemput Rakha dari sekolah dan mengajaknya makan siang di restoran fastfood yang menyajikan fried chicken dan burger. Kharisa pun diajak namun langsung menolaknya, belum berani jalan bareng bertiga di kota kecil yang memungkinkan untuk bertemu dengan seseorang yang dikenalnya.
"Wah, sekarang sampe hapal kalau istirahatnya keluar, sudah jadi soulmate nih?" Ahmad memang sering memperhatikan kedekatan Khsrisa dengan manajer Yanmed namun menilainya normal, akrab sebatas rekan kerja itu yang dilihatnya.
__ADS_1
"Eh...hanya pernah lihat dia keluar pas jam istirahat." elak Kharisa tak ingin Ahmad berpikir jauh.
"Mbak Kharisa dekat dengan dokter Rafael yah? Hebat yah dia masih muda, kayaknya lebih muda dari saya, katanya lulusan luar negri juga yah?" Sepertinya Keanu penasaran dengan atasannya yang masih muda tapi sudah memiliki jabatan. Ia pun mencari tau untuk menghilangkan penasarannya sambil berjalan menuju kantin melewati poliklinik yang terlihat ramai.
"Dekat sebagai rekan dok, ya kan Kharis?" Malah Ahmad yang menjawab. "Di sini gak ada yang berani mendekati dokter Rafael, sudah ada yang punya dia, tunangannya juga ada di sini, nanti saya kasih tau tunangannya kalau ada di kantin, biasanya dia makan siang di kantin, jangan sampai dokter Keanu juga naksir tunangannya dokter Rafael, mereka sama-sama anak pemegang saham rumah sakit." Penjelasan Ahmad membuat Kharisa beberapa kali menelan ludahnya, ia hanya diam tidak berkomentar apa pun.
"Wah...mereka penerus rumah sakit ini dong." Keanu mulai paham siapa atasannya.
"Sepertinya dokter Rafael memang disiapkan untuk memegang rumah sakit ini, direktur rumah sakit itu pamannya juga." Tambah Ahmad, ia terlihat bersemangat menjelaskan yang ia tau tentang rumah sakit tempatnya bekerja. Mereka pun sampai di kantin yang terlihat ramai dengan karyawan yang memanfaatkan waktu istirahatnya dengan makan siang, ada juga yang hanya ngobrol sambil menikmati minuman.
"Sebelah sana ada yang kosong." Kharisa menunjuk tempat duduk yang masih kosong, cukup untuk mereka bertiga.
"Dokter silahkan duluan mengambil makan siangnya, nanti duduk di sana saja ya dok, saya ke tempat duduknya duluan biar gak ditempatin." Kharisa mempersilahkan Keanu lebih dulu mengambil makanannya bersama Ahmad.
"Ayo Dok bareng saya, sudah ada vouchernya kan?" Ujar Ahmad. Keanu pun menunjukan voucher makan yang diambil dari saku bajunya, kemudian menuju both makanan dan minuman. Sementara Kharisa berjalan menuju kursi yang kosong berada di sudut ruangan.
"Eh ternyata ada Mba Vania." Kharisa sudah hapal postur tubuh Vania dari belakang, Vania duduk di meja sebelah tempat kosong yang ditandai Kharisa, seperti biasa dengan soulmatenya Meita.
"Belum ambil makanannya?" Tanya Vania heran melihat Kharisa yang duduk di kursi tapi belum ada makanan yang dibawanya.
" Nempatin dulu tempatnya takut keburu diisi orang, aku bareng Mas Ahmad sama dokter Keanu, tuh lagi ambil makanan." Jawab Kharisa santai, namun Vania terlihat mengerutkan keningnya.
"Dokter Keanu?" Tanya Vania penasaran, ia baru tau ada dokter yang bernama Keanu, tapi entah kenapa dia terlihat gusar mendengar nama itu.
"Dokter Keanu dokter baru, baru dua hari bergabung, dia habis ngisi penyuluhan di perusahaan bareng aku dan Mas Ahmad, gantiin dokter Arjuna." Jelas Kharisa.
"Oh....." Vania manggut-manggut, tapi sepertinya dia tidak berniat menghabiskan makanannya, ia mengaduk-aduk orange juice di depannya, namun seperti ada yang sedang ia pikirkan.
"Mbak....aku jadi ganggu makannya yah." Kharisa menyentuh tangan Vania yang tengah diam, tidak menyentuk makanannya lagi.
__ADS_1
"Eh nggak....aku udah kenyang kok." Ujar Vania bohong, ia makan baru beberapa suap saja, entah kenapa setelah mendengar nama Keanu, perasaannya jadi tidak enak, naf su makannya pun jadi hilang.
"Silahkan di sini dok....." Kharisa mempersilahkan Keanu duduk, saat Keanu menghampirinya, diikuti oleh Ahmad.
"Sekarang giliran saya ambil makan, silahkan Mas Ahmad, seatnya aman nih, aku ambil makan dulu." Kharisa meninggalkan tempat makannya, mulai mendatangi both makanan untuk memilih yang diinginkannya saat ini. Ahmad dan Keanu pun duduk di kursi yang sejajar dengan Vania. Vania bukannya tidak tau ada Ahmad dan satu orang laki-laki yang duduk di meja sebelahnya, ia mendadak diam terpaku.
Tidak lama kemudian Kharisa datang membawa sebuah baki berisi satu porsi nasi dan satu mangkok soto betawi dan es teh manis. Mereka bertiga terlihat khusu menikmati makan siang masing-masing.
Di meja sebelah tampak Vania dan Meita sudah berdiri hendak meninggalkan meja, mereka sudah selesai makan siangnya dan harus kembali ke ruang kerjanya, karena waktu sudsh menunjukan pukul satu siang.
"Sa, aku duluan yah." Vania pamit pada Kharisa.
"Oh iya Mbak." Kharisa menganggukan kepalanya dengan senyum di bibirnya.
"Itu, yang sebelah sini, tunangannya dokter Rafael." Bisik Ahmad pada Keanu. Keanu langsung mengangkat wajahnya penasaran ingin melihat tunangan atasannya. "Vania.....?" Gumamnya pelan, namun terdengar oleh Kharisa.
"Dokter kenal sama Mbak Vania?" Tanya Kharisa, namun Keanu terlihat bergeming menatap kepergian Vania yang belum terlalu jauh.
"Mbak....Mbak Vania....." Tiba-tiba Kharisa memanggil Vania membuat Vania menoleh ke belakang.
"Sebentar.....aku lupa ngenalin dokter Keanu, gak papa balik lagi kan, kayanya Dokter Keanu kenal sama Mbak, coba Mbak juga kenal gak?" Kharisa menghampiri Vania, lalu menuntun Vania menuju tempat duduk Keanu dan Ahmad.
"Dok, kenalkan ini Mbak Vania, accounting di rumah sakit ini, Mbak ini Dokter Keanu." ujar Kharisa.
Vania dan Keanu saling bertatapan, namun mereka sama-sama diam, tidak ada yang memulai untuk bersalaman membuat Kharisa mengernyitkan keningnya.
bersambung.....
Hai readerku tercinta🤗
__ADS_1
Ada yang bisa nebak siapa Keanu?
Tulis di komen yah, yang betul aku kasih jempol deh👍😀