
Tiga hari sudah Kharisa tinggal di tempat baru, lingkungan baru, di sebuah kabupaten tepatnya di Jawa Barat yang berada di tengah-tengah antara Bandung dan Jakarta. Sebuah kota kecil yang mulai tumbuh geliat perekonomiannya seiring dengan perubahan dari daerah agraris menjadi daerah Industri. Setelah dibukanya area industri dibeberapa bagian wilayahnya, mulailah berdiri perusahaan-perusahaan, pabrik-pabrik dengan berbagai macam produksi produksi , baik berskala besar maupun kecil meramaikan perekonomian di kota itu, penduduk pendatang pun berdatangan bersaing dengan penduduk lokal untuk mendapatkan pekerjaan. Termasuk Kharisa yang mencoba mencari peruntungan memasukan lamaran pekerjaan ke beberapa perusahaan yang berdiri di wilayah kota tersebut, dari mulai perusahaan yang bergerak dalam produksi nutrisi untuk bayi dan anak, perusahaan farmasi dan kecantikan produksi makanan, beberapa perusahaan otomotif yang besar, sampai rumah sakit ia layangkan lamarannya.
Kenapa Kharisa tidak mencari pekerjaan di kota besar seperti Jakarta atau Bandung? Ternyata mama Kharisa ingin menempati rumahnya yang sebelumnya disewakan keoada orang lain. Rumah yang dibeli mama tanpa sepengetahuan papa Kharisa, dari hasil tabungannya yang disisihkan dari jatah uang bulanannya. Rumah sederhana memiliki tiga kamar, ruang tamu, ruang keluarga ruang makan yang menyatu dengan dapur dan satu kamar mandi. Tapi rumah itu cukup nyaman untuk mereka tempati berempat. Rumah itu persis berhadapan dengan rumah Wa Dewi, kakak mamanya Kharisa, dulu Wa Dewilah yang menawarkan rumah itu pada mama Kharisa, yang punya rumah menjualnya karena pindah ke luar kota dan harganya lumayan termasuk murah. Mama Kharisa pun tertarik siapa tau suatu saat ia membutuhkannya, dan ternyata benar, sekarang rumah itu ditempatinya bersama ptri dan cucunya walaupun tidak pernah terbayangkan sebelumnya, karena niatnya membeli rumah itu awalnya untuk investasi semata.
"Neng Kharis, beres-beresnya sama bibi saja, itu....Rakha di luar terus tidak mau masuk." Bi Nani langsung mengambil alih mengeluarkan buku-buku milik Kharisa yang tinggal satu dus lagi belum dirapihkan.
"Rakha kenapa memangnya Bi?" Tanya Kharisa
"Tadi sih bilang ke bibi ingin ketemu Om Isal, setelah mandi duduk di kursi teras, sampai sekarang gak mau diajak masuk, sudah dibilangin sebentar lagi maghrib." Jawab Bi Nani sambil memasukan buku ke dalam lemari kaca di ruang tengah. Kharisa pun beranjak menemui putranya.
"Loh Boy, kok masih di luar, come in....sudah mau maghrib." Kharisa berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan putranya yang tengah duduk di kursi dengan tangan bersedekap, gayanya seperti orang dewasa, namun wajahnya terlihat merengut.
"Momy....aku mau pulang." Ujar Rakha dengan wajah memelas.
"Pulang ke mana? Ini kan rumah Rakha." Kharisa mengerti dengan yang diucapkan putranya, mereka baru tiga hari tinggal di tempat yang baru dan Rakha masih belum merasa tinggal di rumahnya.
"Rumah yang ada Om Isal, Enin, Aki." Maksud Rakha rumah yang ditempati di pondok pesantren.
__ADS_1
"Sekarang kita kan sudah pindah ke sini, ini rumah punya Oma, jadi rumah Rakha juga. Nanti kapan-kapan kita main ke Enin, ke Aki, sekarang kita masuk yuk, mau momy gendong." Bujuk Kharisa.
"Tapi di sini gak ada Om Isal." Tiba-tiba wajah Rakha memerah, genangan air mulai terlihat di matanya. Rupanya Rakha masih merajuk, mungkin karena kangen sama Om kesayangannya itu. Bisa dipahami bagaimana perasaan bocah itu. Biasanya setiap hari Rakha bertemu Faisal, bahkan bermain dan belajar bersama. Faisal memang selalu menyempatkan diri menemui Rakha walaupun itu hanya sekedar mengantarkan makanan kesukaan Rakha susu rasa vanila dan cemilan rasa keju. Baik saat di kontrakan waktu Faisal dan Kharisa masih kuliah atau pun saat di rumah di pondok pesantren.
Kalau waktu Faisal luang ia akan mengajak Rakha bermain atau belajar, Faisal mengajarkan membaca dan menulis, menggambar bahkan membaca Quran dengan metoda 'Ummi', Faisal juga yang membelikan bukunya, mengenalkan kisah para nabi dan rosul, para sahabat rosul dan kisah-kisah teladan lainnya. Dan Rakha sangat menyukai kisah-kisah itu, bahkan hapal tokoh-tokohnya, ia kagum dengan cerita Nabi Ibrahim yang saat dibakar, ditolong Allah hingga tidak merasakan apinya panas, ia juga sampai membenci binatang yang namanya cicak, sama dengan momynya yang juga membenci hewan yang suka menempel di dinding rumah. Kalau momynya membencinya karena jijik, sementara Rakha membencinya karena cicak dianggap musuh nabi Ibrahim yang membantu meniup api agar membakar tubuh nabi Ibrahim.
"Tuh udah adzan Maghrib, masuk yuk, kita shalat maghrib, habis shalat kita vidio call Om Isal, yuk!" Mata Rakha terlihat berbinar saat mendengar akan vidio call Om kesayangannya. Ia beringsut turun dari kursi, menarik tangan momynya masuk ke dalam rumah. Kharisa hanya tersenyum melihat tingkah putranya, Rakha memang mudah merajuk tapi mudah dirayu dan biasa lagi. Kharisa berdiri dan mengikuti putranya yang menuntunnya ke kamar mandi untuk berwudhu. Kharisa bersyukur, diusia putranya yang masih dini, baru menginjak empat tahun sudah mau melaksanakan shalat, walaupun bacaannya belum hapal, hanya surat alfatihah dan beberapa surat pendek yang dihapalnya, ia akan shalat menjadi makmum mengikuti mamynya, omanya atau Bi Nani yang dipanggilnya nenek.
Selesai shalat maghrib Rakha langsung menagih janji momynya, dan Kharisa pun menepati janjinya.
" Assalamualaikum" Terlihat wajah Faisal dengan senyum lebarnya sambil melambaikan tangan.
"Om Isal kapan mau ke sini?" Baru juga tiga hari yang lalu Faisal mengantar Rakha ke tempat baru, sudah nanya kapan datang lagi.
"Kan Om baru kemarin nganter Rakha, kalau Om Isal libur nanti main ke tempat Rakha yah." Baru tiga hari kemarin Faisal mulai bekerja di kampus tempat kuliahnya, saat wisuda kelulusan ia ditawari oleh Dekannya untuk menjadi dosen disana, dengan status dosen kontrak atau honorer, tapi dekannya memberikan gambaran peluang untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil, asal lulus mengikuti tes CPNS penempatannya pasti di kampus almamaternya. Setelah mendapat dukungan dari keluarganya Faisal pun mengambil kesempatan itu.
"Rakha udah ngaji belum? Rakha masih suka ngaji kan?"
__ADS_1
"Aku suka ngaji sama momy habis shalat maghrib....tapi sekalang telpon Om Isal dulu." Ya sekarang Kharisalah yang mengajari putranya belajar termasuk belajar membaca Quran, kalau Ummi satu, Karisa masih mampu mengajari putranya.
"Pinter, nanti kalau Om Isal kesana, Om Isal tes yah."
"Nanti kalau nilainya bagus, aku dikasih hadiah Om?" Tanya Rakha bersemangat.
"Ya, nanti Om Isal kasih hadiah."
"Yeeaahhh....." Rakha bersora kegirangan, anak itu memang suka sekali dengan hadiah, walaupun hanya eskrim atau susu kesukaannya, ia sangat senang. Kharisa memang sudah mengenalkan reward dan punishment. Kalau Rakha bersikap dan berbuat baik, bisa mengerjakan tugas dengan baik Rakha akan mendapatkan hadiah, tapi kalau sebaliknya, maka akan mendapatkan hukuman, hukuman ringan tentunya, seperti tidak bileh nonton film kartun kesukaannya atau tidak boleh makan eskrim dalam waktu yang ditentukan, alhasil anak itu selalu bersikap baik, hany sesekali saja rewel dan merajuk seperti tadi sore, tapi masih bisa dikondisikan.
"Om Isal....bental lagi aku mau sekolah, aku udah lihat sekolahnya bagus, ada taman belmainnya dan banyak gambal lucu, Om Isal nanti ke sekolah aku yah" Kemarin Rakha diajak omanya ke sekolah yang dikelola oleh kakaknya dan kakak iparnya, Wa Dewi mengajak adiknya untuk aktif membantu kegiatan sosial di yayasannya, dan mama Kharisa sepertinya tertarik, ia pun siap membantu administrasi di yayasan seperti yang ia lakukan dulu membantu yayasan pondok pesantren milik keluarga besar Faisal.
"Keren....." Faisal mengacungkan jempolnya. Dua laki-laki beda usia itu masih terlihat asyik ngobrol jarak jauh, terdengar celotehan Rakha yang diselingi oleh tawa riangnya. Ngobrol jarak jauh seperti ini saja sudah membuat Rakha lupa dengan kesedihannya, Kharisa pun bisa bernafas lega, semoga saja besok-besok putranya tidak merajuk lagi dan terbiasa menjalani hari-harinya tanpa Faisal di dekatnya.
Kehadiranmu memang sangat berarti bagi kami, tanpamu aku seperti kehilangan satu sayapku, membuatku timpang, seperti ada yang kurang, dan yang pasti tanpamu terasa beda, tapi aku harus membiasakan diriku jauh darimu, menjalani hari-hari tanpamu.
bersambung.......
__ADS_1
Satu episode lagi Rafael akan muncul, kawal terus yah.😊