
"Kharisa, akhir minggu ini ada acara meet and great untuk bagian marketing rumah sakit Setya Medika, kamu dan Zaki yang berangkat yah, nanti bareng saya, acaranya hari Sabtu dan Minggu di Jakarta. Kamu bisa kan?" Ujar Andre saat Kharisa menyerahkan lembar kunjungan klinik dan praktek bidan. Ia baru saja tiba di rumah sakit, sesuai jadwalnya hari Kamis tugasnya berkeliling bersama Zaki melakukan kunjungan ke klinik dokter dan praktek bidan.
"Sabtu besok Pak? Menginap?" Tanya Kharisa memastikan.
"Iya Sabtu besok, bisa kan? Acaranya full sabtu minggu, wajib menginap, akomodasi ditanggung rumah sakit." Jelas Andre.
"Oh....." Kharisa terlihat bimbang, ini pertama kalinua ia mendapat tugas luar harus menginap, berarti ia harus meninggalkan Rakha dua hari. Sebenarnya tidak masalah, karena ada mama dan Bi Nani yang akan menjaga Rakha, hanya entah kenapa ia merasa berat, padahal ini bukan pertama kalinya ia harus meninggalkan Rakha, duku waktu ia masih kuliah, Rakha sering di bawa mamanya ke pondok pesantren di Garut menginap dua sampai tiga hari di sana.
"Kenapa? Rakha bisa dikondisikan kan?" Sepertinya Andre memahami isi pikiran Kharisa yang merasa berat karena harus meninggalkan Rakha.
" Eu....eh bisa Pak."
"Bagus." ujar Andre dengan senyum. "Acaranya seperti training, ada materi juga game, saya sengaja milih kamu karena kamu mempunyai potensi bagus di dunia marketing, tinggal diasah lagi dengan ilmu dan sharing dengan yang lebih berpengalaman. Nanti kalian akan bertemu dengan tim marketing dari rumah sakit pusat dan cabang lain, jadi nanti bisa sharing pengalaman. Surat tugasnya sedang diproses HRD." Kharisa menganggukan kepalanya. Baiklah, mungkin ini kesempatan dia untuk mendapatkan ilmu tambahan di dunia marketing, untuk perkembangan karirnya juga. Batinnya.
"Hari Sabtu pukul enam kita berangkat dari rumah sakit, acaranya dimulai pukul sembilan, jadi tidak boleh terlambat berangkatnya, oke." Andre memang selalu on time dalam urusan waktu, dan itu selalu ia tekankan pada anak buahnya, ia paling tidak suka kalau ada bawahannya yang terlambat, on time salah satu kunci sukses tegasnya.
"Baik Pak. Kalau tidak ada lagi yang akan bapak sampaikan, saya permisi." Ujar Kharisa dengan sopan. Inilah yang disukai Andre dari Kharisa, walaupun mereka termasuk akrab, tapi Karisa tetap menjaga kesopanan terhadap atasannya.
"Tunggu Kharisa." Ujar Andre saat Kharisa hendak meninggalkannya.
"Ya Pak?" Kharisa pun membalikan badannya.
" Bagaimana kabar hubungan kamu dengan Rafael?" Pertanyaan Andre membuat Kharisa mengerucutkan keningnya, tumben Pak Andre menanyakan hubungannya dengan Rafael, disaat jam kerja lagi.
"Mmm....baik Pak." jawab Kharisa singkat.
"Maaf saya tanya begini soalnya saya perhatikan akhir-akhir ini dia lebih sering menyendiri." Rupanya Andre khawatir pada saudara sepupunya yang memang terlihat beda dari biasanya, pulang dari rumah sakit Rafael langsung masuk ke kamarnya, jarang ngobrol bareng Andre, diajak makan bareng juga selalu menolak dan menjawab " Nanti saja Bang." Andre memang bisa membayangkan bagaimana rumitnya persoalan yang sedang dihadapi Rafael, dan ia pun tidak bisa banyak membantu, hanya bisa memberikan saran.
"Tiap malam dia suka telpon kok Pak, bicara dengan Rakha, dua hari yang lalu pun ketemu dengan Rakha." Jelas Kharisa.
" Oh..ya sudah. Jangan lupa siapkan untuk hari Sabtu, jangan terlambat."
"Baik Pak, saya permisi." Kharisa menganggukan kepalanya dan berlalu meninggalkan ruangan Andre.
Hari Sabtu pun tiba, Kharisa sudah menyiapkan keperluannya yang akan di bawa ke acara Meet and Great Tim Marketing Rumah Sakit Setya Medika Group. Tidak banyak yang ia bawa, hanya baju kerja yang diperlukan untuk acara dan baju tidur yang dimasukan ke dalam travel bag kecil.
Dari dua hari yang lalu setelah ia mendapatkan surat tugas dari HRD ia langsung mem beri tau mamanya juga Rakha.
__ADS_1
"Sayang, hari Sabtu besok Momy ada tugas dari rumah sakit ke Jakarta dah harus menginap satu hari, jadi Rakha nanti baik-baik di rumah sama oma sama nenek yah."
"Kenapa halus nginep Momy, kan halusnya Momy libul gak kelja?" Begitulah Rakha, pasti tidak akan puas kalau tidak bertanya, yang ia tau setelah hari Sabtu momy nya libur tidak bekerja, dan waktu libur adalah waktu kebersamaannya bersama momynya.
"Karena ini tugas khusus untuk Momy, Momy tugas ke Jakartanya bareng teman Momy, bareng Om Andre juga." Jelas Kharisa. Kharisa sengaja menyebut Andre juga karena Rakha sudah mengenal Andre sebagai Om nya juga.
"Sama Dady juga?" Tanya Rakha dengan wajah penasaran.
"Dady gak ikut, karena Dady beda bagian sama Momy." Wajah Rakha terlihat sumringah mendengar Dadynya tidak ikut.
"Jadi aku boleh sama Dady ya Momy, aku pengen main baleng lagi sama Dady." Rajuk Rakha, ia memang selalu kangen sama Dadynya, tentu saja karena selama ini Rafael begitu perhatian padanya.
"Boleh, tapi nanti tanya dulu sama Dadynya, sibuk atau tidak, kalau Dady sibuk Rakha gak boleh ganggu Dady yah." Itulah obrolan Kharisa dengan putranya dan Rakha pun dengan mudah memahami kalau ia akan ditinggal Momynya saat hari libur minggu ini.
Rafael pun tau kalau Kharisa ada tugas ke Jakarta.
"Kamu tenang saja, biar Rakha sama aku, aku akan ngajak dia jalan-jalan, boleh kan?" Ujar Rafael lewat chat WAnya, ia belum sempat datang ke rumah Kharisa untuk bertemu langsung putranya, karena ia baru pulang dari rumah sakit pukul delapan malam.
"Boleh, tapi jangan jauh-jauh, jangan terlalu memanjakan Rakha juga, jangan semua keinginannya diturutin." Balas Kharisa, rupanya ia memperhatikan perlakuan Rafael terhadap Rakha terlalu berlebihan, dengan selalu membelikannya mainan dan selalu mengiyakan permintaan Rakha walaupun tidak saat itu langsung dipenuhi.
Dan ujung-ujungnya Rafael tidak bosan mengungkapkan harapannya agar mereka bisa bersama-sama menjadi keluarga yang utuh, demi putra mereka, Rakha. Dan seperti biasa Kharisa langsung mengakhiri chatnya.
Pukul setengah enam Kharisa berangkat ke rumah sakit diantar oleh Radit, sepupunya, anak Wa Dini yang kebetulan sedang pulang.
"Kok diantar pake mobil segala, lebih cepat pake motor lagi." Ujar Kharisa protes saat melihat Radit sudah berada di mobil di depan pagar rumahnya.
"Masih pagi dingin, biar Rakha bisa ikut gak kedinginan." Jawab Radit. "Pagi-pagi gini jalanan masih sepi, bakal cepet nyampenya." Tambanhnya.
"Ayo Rakha, mau ikut nganter Momy kamu gak?"
"Mau Om." Tentu saja Rakha mau, ia pun langsung berlari menuju mobil tanpa menunggu momynya membolehkan atau tidak. Kharisa hanya bisa menggeleng kepala. Ia pun pamit pada mamanya yang ikut mengantarnya sampai di teras.
Tidak sampai dua puluh menit Kharisa sampai di rumah sakit, ia turun di depan lobi, sebelumnya ia mencium dan memeluk erat putra semata wayangnya, seperti yang akan pergi lama meninggalkan Rakha padahal hanya dua hari satu malam saja ia meninggalkan Rakha.
"Baik-baik sama oma sama nenek yah." ujarnya, terakhir ia mengecup kening Rakha.
"Kiss Momy." Rakha pun mencium kedua pipi momynya.
__ADS_1
"A Radit tiitp Rakha, jangan diajakin main PS terus." ujar Kharisa sebelum turun dari mobil.
"Tenang Neng, aman sama A Radit mah." Jawab Radit sambil nyengir, sadar diri mainannya PS dan suka ngajarin Rakha main game.
"Assalamualaikum, by Rakha...." Kharisa pun turun dari mobil.
"Waalaikumsalam, by Momy, I love you." Ujar Rakha sambil melambaikan tangannya dari jendela, kacanya sengaja dibuka oleh Radit.
"I love you too." Kharisa membalas lambaian tangan Rakha. Ia baru masuk ke dalam lobi setelah mobil yang membawa Radit dan Rakha menghilang dari pandangannya.
"Selamat pagi Mbak Kharisa." Sapa petugas security yang berjaga di dalam lobi. Rupanya petugas security itu sejak tadi memperhatikan Kharisa dari balik pintu kaca sejak mobil yang membawa Kharisa berhenti di depan lobi. Untung saja petugas security itu tidak mendengar ucapan Rakha yang menyebut Kharisa Momy. Sepertinya petugas security itu mengira anak kecil di dalam mobil itu keponakan atau saudara Kharisa.
"Pagi Pak, lihat Zaki sudah datang ke sini belum Pak?" Tanya Kharisa sambil mengedarkan pandangan ke seluruh area lobi, dan Zaki belum terlihat batang hidungnya.
"Belum ada, Mbak. Mau pergi ya Mba?"
"Iya Pak, ada tugas luar ke Jakarta, dengan Pak Andre dan Zaki." jawab Kharisa, ia mengambil HP untuk menghubungi Zaki, memastikan posisinya di mana.
"Mbak, sepertinya itu mobil Pak Andre." Baru saja Kharisa akan menghubungi Zaki, terlihat Zaki keluar dari mobil Andre yang berhenti di depan lobi. Ternyata Zaki sudah bersama Andre.
"Oh iya, saya ke sana ya Pak, terima kasih." Kharisa segera keluar lobi dan masuk ke mobil Andre lewat pintu penumpang belakang. Andre pun melajukan mobilnya meninggalkan area rumah sakit tepat pukul enam pagi sesuai rencana.
Perjalanan menuju kota Jakarta sangat lancar, mungkin karena hari Sabtu, dan masih pagi hingga jalanan tol pun cukup lengang, apalagi masuk jalur tol layang membuat mereka lebih cepat sampai, tidak perlu berebut jalanan dengan kendaraan besar seperti truk dan bis atau bahkan truk tronton yang kadang membuat perjalanan sedikit lambat.
Pukul delapan mereka sampai di hotel tempat acara berlangsung, sebuah hotel bintang empat di kawasan Jakarta Selatan. Ya dua jam di perjalanan menuju ibu kota termasuk rekor cepat, padahal tadi mereka berhenti di rest area bekasi barat setelah keluar jalur tol layang untuk membeli makanan untuk mengganjal perut di jam sarapan.
Sebagian panitia dari rumah sakit pusat telah hadir menyiapkan tempat untuk registrasi ulang. Mereka menyambut kedatangan Andre, Kharisa dan Zaki, dan langsung mengarahkan ke meeting room, tentu saja mereka mengenal Andre, karena sebelumnya Andre pernah ditempatkan di pusat walau hanya beberspa bulan, dan selama dua tahun ini pernah beberapa kali mengunjungi rumah sakit pusat untuk koordinasi dan sharing dengan tim Marketing senior di pusat.
Mereka dipersilahkan menikmati hidangan coffie break sebelum acara di mulai. Tempatnya di selasar meeting room tempat acara berlangsung. Di area tersebut terdapat beberapa meeting room dari yang ukuran ruangan kecil yang hanya memuat sekitar sepuluh orang hingga ruangan yang memuat sampai seratus orang. Dan beberapa ruangan juga sepertinya sudah di booking.
Para peserta pun mulai berdatangan, seluruh peserta berjumlah tiga puluh orang yang merupakan staf marketing dari Setya Medika group, dari rumah sakit pusat, cabang, dan klinik satelit.
Lima belas menit sebelum acara di mulai, Kharisa ijin ke toilet, ia berjalan melewati beberapa meeting room, saat berada di ujung area meeting room ia berpapasan dengan dua orang laki-laki setengah baya yang sangat dikenalnya. Mereka sama-sama tertegun, saling menatap tanpa berkedip, seperti tiga orang yang mendadak menjadi patung, saling bergeming, tanpa saling menyapa, hanya tatapan yang berubah menjadi tatapan kerinduan yang mendalam, bahkan kini pandangan Kharisa menjadi memburam.
Akhirnya terjadi juga pertemuan antara dua orang yang saling merindukan, di waktu dan tempat yang tidak disangka-sangka.
bersambung....
__ADS_1