Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku
Belum Saatnya


__ADS_3

Hari Sabtu pagi Rakha terlihat santai duduk di sofa sambil menonton film kartun dengan tokoh anak kembar dari negara tetangga dengan gaya bicara khas melayunya. Sepertinya Rakha tak pernah bosan menontonnya walaupun yang ditayangkan sudah berulang kali di putar dan ia tonton. Hari Sabtu sekolahnya memang libur, tapi tidak dengan momynya yang harus tetap berangkat kerja walaupun hanya setengah hari. Rakha pun sudah memaklumi, momynya bekerja untuk menjemput rejeki yang Allah sebarkan di muka bumi, rejekinya untuk biaya sekolah Rakha, membeli kebutuhan makanan, baju, sepatu, dan keperluan lainnya. Itu yang dijelaskan oleh Faisal kepada Rakha, hingga anak itu tidak pernah protes. Rakha akan protes kalau momynya pulang terlambat dan tidak mengabarinya terlebih dahulu, Rakha sudah hapal betul jam kerja momynya


"Momy....ada telepon." Teriak Rakha saat mendengar nada dering HP momynya yang ada di atas meja.


"Who's call Boy?" Tanya Kharisa dari dalam kamarnya.


"My Bos." Rupanya Rakha sudah bisa membaca tulisan yang terpampang di layar HP momynya. Kharisa pun segera keluar kamar dengan hijab yang belum terpasang dengan benar.


Ada apa Pak Andre nelpon pagi-pagi begini. Tanya Kharisa dalam hati.


"Assalamualaikum. Ya Pa Andre ada yang bisa saya bantu?" Tanya Kharisa dengan sopan, walaupun Pak Andre tidak dapat melihatnya.


"Waalaikumsalam, Kharisa kamu belum berangkat kan?" Tanya Pak Andre dengan suara yang terdengar serak, sepertinya baru bangun tidur.


"Belum Pak, masih di rumah."


"Aku mau minta tolong boleh?" Tanya Pak Andre lagi. Kharisa merasa heran kenapa pake nanya dulu untuk meminta tolong, biasanya juga di kantor langsung keluar intruksi.


"Ya Pak, apa yang harus saya kerjakan?"


"Bukan soal pekerjaan, aku mau nitip sesuatu sekalian kamu berangkat kerja, belikan nasi uduk yang pernah kamu bawa ke kantor, dua porsi, pake ayam goreng kelapa, tempe mendoan. sambelnya banyakin, kamu gak keberatan kan?"


"Saya kira minta tolong apa Pak, tentu saya tidak keberatan, nanti saya belikan Pak, cukup dua porsi saja Pak?" Kharisa sempat berpikir kalau ia harus mengerjakan pekerjaan kantor lebih awal ternyata minta dibelikan nasi uduk.


"Ya cukup, buat sarapannya calon bos yanmed kita, dia pengen makan nasi uduk katanya, kaya orang ngidam saja. Pake uang kamu dulu yah, nanti di kantor aku ganti."


"Oh iya Pak." Kharisa menganggukan kepalanya, padahal Pak Andre tidak melihatnya.


"Oh ya, nanti sekalian kamu anterin ke mes yah, kamu sudah tau kan mes saya?"


"Rumah yang ke dua kan Pak?" Tanya Kharisa memastikan.


"Ya, yang ke dua. Terima kasih sebelumnya ya Kharisa, sory jadi ngerepotin."


" Gak kok Pak, sama-sama." Kharisa pun menutup sambungan telponnya. Entah kenapa ingat nasi uduk ia jadi ingat seseorang yang suka juga makan nasi uduk kalau sarapan, siapa lagi kalau bukan Rafael. Setelah jadi kekasihnya ia baru tau kalau Rafael sering mampir sarapan nasi uduk di warung tenda di dekat sekolahnya, katanya nasi uduk disana enak, sama ayam goreng kampungnya.

__ADS_1


"Momy, kenapa diam beldili di situ?" Tiba-tiba Kharisa mendengar suara putranya, ia pun terhenyak, rupanya ia malah melamun.


" Eh...Momy lagi ngecek pesan di HP Momy." Jawabnya, sambil buru-buru membuka chat WAnya, ternyata ada pesan baru masuk dari Faisal.


"Neng A Isal mau ke sana yah, ni udah di bis, udah masuk tol."


"Rakha ada di rumah kan?"


"Rakha Om Isal ngirim pesan, katanya mau ke sini, sudah di jalan naik bis." Ujar Kharisa pada putranya.


"Yeeeeaaahh....Asyik Om Isal mau ke sini." Ujar Rakha sambil loncat kegirangan di atas sofa.


"Ayo mandi dulu, terus sarapan, nanti Om Isal keburu datang loh, mandinya minta dibantu sama nenek yah, Momy sudah pake baju kerja, nanti takut basah."


"Okey Momy." Rakha pun beranjak dari sofa, mencari neneknya yang tengah berada di dapur bersama Omanya.


"Nenek.....aku mau mandi, Om Isal mau ke sini." Ujar Rakha kegirangan.


Waktu masih menunjukan pukul tujuh lebih seperempat saat Kharisa memarkirkan motornya di tempat parkir karyawan yang berada di area belakang rumah sakit. Ia berjalan sambil menenteng kantong plastik berisi nasi uduk menuju mess karyawan yang berada tidak jauh dari area parkir. Di belakang bangunan rumah sakit terdapat bangunan dua lantai untuk mess staff dan dua belas unit rumah inventaris tipe 36 khusus untuk level direktur, manajer dan dokter spesialis. Di depan area mess terdapat lapangan basket dan lapangan futsal yang biasa juga dipakai menjadi lapangan voli. Lapangan itu seringnya dipakai oleh karyawan di sore hari selepas mereka pulang kerja. Pagi itu hanya terlihat empat orang karyawan laki-laki yang tengah bermain basket, dua diantaranya perawat yang ia kenal, karena sering bertemu saat ia kunjungan pasien rawat inap, sepertinya mereka masuk shiff siang atau malam.


Kharisa mempercepat langkahnya menuju deretan rumah inventaris yang terlihat sepi, tidak terlihat satu pun penghuninya berada di luar. Ia mengetuk pintu rumah yang ke dua, tidak berapa lama pintu lun terbuka.


"Gak usah Pak, aku cuma mau nganterin ini." Kharisa menolak karena tidak enak kalau harus masuk ke rumah atasannya sendirian, khawatir ada yang melihat dan rimbul salah sangka.


"Ini Pak." Kharisa menyodorkan bungkusan nasi uduk.


"Oke deh, nanti saya ganti uangnya di kantor." Ujar Pak Andre sambil menerima bungkusan dari Kharisa.


"Gak usah diganti saja Pak, anggap saja saya nraktir Pak Andre, kapan kagi saya bisa nraktir Pak Andre, mumpung murah meriah...he...he...." Kekeh Kharisa, harga nasi uduk plus ayam goreng tidak seberapa dibandingkan nraktir makan di restoran, pikirnya.


"Gaklah, aku sudah minta tolong, masa dibayarin juga, nanti aku ganti." Jelas saja Pak Andre merasa tidak enak, masa sudah nyuruh, gratis pula.


"Kalau gitu saya pamit dulu Pak, assalamualaikum." Kharisa pun meninggalkan Pak Andre yang masih berdiri di depan pintu.


"Waalaikumsalam." Pa Andre pun masuk ke dalam rumah dan menutup pintunya.

__ADS_1


"Siapa?" Tanya laki-laki muda yang baru keluar dari kamar mandi, yang tak lain adalah Rafael, sengaja ia menginap di mess sepupunya karena pagi ini ia akan mulai mencari keberadaan wanita yang masih mengisi hatinya. Walaupun belum ada petunjuk yang jelas ia akan mencoba menjelajahi kota yang disebut Bu Amalia wali kelas Kharisa dulu sebagai kota tujuan pengiriman raport dan fortofolio Kharisa.


"Staffku, nganterin nasi uduk spesial untuk calon bapak direktur rumah sakit Setya Medika. Karyawan baru belum satu bulan, menguasai English, kerjanya juga good, bakal jadi andalanku dia. Cantik, sholeh lagi, pake hijab, rajin shalatnya. Aku juga kayanya naksir tapi aku sudah janji tidak akan berpaling dari Hana, ha...ha....ha...dan dia juga lebih cocok jadi adikku kayanya." Pak Andre memang sudah punya kekasih, adik tingkatnya waktu kuliah, sekarang sedang melanjutkan S2nya di Singapura, tahun ini masuk tahun kedua. Tidak ada yang tau kecuali keluarganya karena Pak Andre tidak pernah membicarakan urusan pribadinya pada orang lain. Karyawan rumah sakit taunya Pak Andre single, hingga beberapa karyawan wanita berusaha mendekatinya, yang paling bersemangat adalah Meita, staff keuangan, bagian akunting, teman dekatnya Vania, calon tunangannya Rafael.


"Hati-hati Bang jangan main api." Rafael mengingatkan kakak sepupunya, ia sendiri tidak tertarik untuk bertanya tentang staff yang diceritakan sepupunya. Yang ada di otak dan di hatinya saat ini hanyalah Kharisa.


"Gak lah, kan udah aku bilang tidak akan berpaling dari Hana. Tenang saja aku tipe laki-laki setia, walaupun banyak godaan di luar sana. Udah ayo sarapan dulu, aku nanti duluan berangkat yah, kamu santai saja, anggap saja rumah sendiri, emang ini kan punya babeh kamu Raf...he....he..." Andre menata nasi uduknya ke dalam piring di meja makan, mereka pun mulai menyantap menu sarapannya.


"Aku juga mau pergi Bang, aku mau jalan-jalan. Bang tau gak perumahan tipe elit di sini, ya tipe-tipe cluster gitu?" Tanya Rafael.


"Kamu mau beli rumah di sini?" Tanya balik Andre


"Ya cuma mau lihat-lihat."


"Ya, ada beberapa perumahan yang temasuk elit di sini, tapi tidak seperti di Jakarta tentunya, nanti aku kirim nama perumahannya, lokasinya dimana cari di Go'Map." Sebagai orang Marketing tentu saja Andre hapal peta wilayah kota ini.


"Kamu beneran gak apa-apa jalan sendiri, kalau perlu orang untuk nemenin, nanti aku cariin, yang jelas bukan cewek yah, bisa kena semprot Vania nanti. Oh ya kamu gak mau nemuin Vania dulu? Rumahnya yang paling ujung kalau mau mampir." Walaupun Vania bukan seorang manajer, karena ia orang spesial, calon menantu owner rumah sakit, ia diberikan hal tinggal di rumah inventaris yang kebetulan juga kosong.


"Nanti aja deh Bang." Rafael sudah tidak sabar untuk mencari Kharisa, rencananya hari ini ia akan mendatangi perumahan yang ada di kota ini. Menurut logikanya, keluarga Kharisa adalah keluarga berada, sama sepertinya. Di Jakarta saja tinggal di perumahan elit, jadi kalau memang tinggal di kota ini kemungkinan tinggal di perumahan elit juga.


Setelah kakak sepupunya berangkat kerja dengan berjalan kaki menuju rumah sakit, tidak berapa lama ia pun keluar dengan mobilnya. Ia akan memanfaatkan dua hari liburnya untuk mencari kekasih hatinya yang telah lama hilang. Kalaupun saat ini belum saatnya menemukannya akan ada hari-hari selanjutnya untuk terus mencarinya, sampai menemukannya. Ia sudah memutuskan untuk menerima tawaran Papinya memegang jabatan Manajer Yanmed di rumah sakit Setya Medika di kota ini.


bersambung.......


Bagaimana? Sudah seperti di sinetron?


Sasaran sudah hampir di depan mata tapi kalau takdir belum menentukan ya maaf jadi muter dulu.....he...he...he... jangan kecewa, ada saatnya Rafael bertemu dengan Kharisa, juga dengan buah hati mereka.


Terima kasih sudah mampir.πŸ™


Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like dan komennya, biar Othor tetap semangat.


Yang punya bunga, kopi atau masih ada stok votenya boleh banget kalau mau ngirim.( he...he..ngarep.com)


Yang belum kenalan sama pasangan Andika-Kharisa, Mario-Dita, silahkan mampir ke novel satunya, sudah mau episode akhir. Diantos...πŸ™πŸ™πŸ™πŸ€—πŸ€—πŸ€—

__ADS_1


Salam HangatπŸ€—


Umi Haifa


__ADS_2