Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku
Bahan Gosip


__ADS_3

Siang ini suasana kantin di rumah sakit Setya Medika tempat Kharisa bekerja terlihat ramai, waktu istirahat dan jam makan siang benar-benar dimanfaatkan oleh karyawan rumah sakit juga pengunjung rumah sakit untuk mengisi perut mereka. Kharisa sendiri tidak terlihat di sana karena memang masih dalam perjalanan pulang dari Singapura, setelah sembilan hari kerja tidak masuk dengan alasan ada keluarga yang sakit Kharisa akan menambah lagi empat hari sampai hari pernikahannya. Sebenarnya bukan keinginannya , tapi Rafael yang meminta Kharisa istirahat dan menyiapkan untuk hari H pernikahan mereka, walaupun hanya akad nikah tapi tentu perlu persiapan juga.


Tampak Vania dan sahabatnya Meita duduk berhadapan sambil menikmati makan siang mereka, sesekali Meita menanyakan pengalaman liburan Meita selama di Eropa, Vania pun menjawab seperlunya, lama-lama Vania jengah juga dekat-dekat dengan Meita yang kepo. Ia merindukan kebersamaan dengan sahabat barunya Kharisa, hampir tiga minggu mereka tidak bertemu, hanya beberapa kali ngobrol di telpon dan chat WA. Vania ikut bersedih mendengar kabar Rakha saat koma. Ia pun dengan tulus mendoakan kesembuhan putra dari mantan tunangannya.


"Van jadi dokter Rafael sebenarnya kemana sih, sampai hari ini belum masuk juga? Hampir sebulan loh dia gak masuk, lebih lama dari kamu yang liburan ke Eropa, aku kira dia nyusul kamu ke Eropa." Meita benar-benar kepo akan kabar dokter Rafael, penasaran dengan keberadaan tunangan sahabatnya, sementara sahabatnya terlihat begitu santai seperti yang tidak memikirkan keberadaan tunangannya, kok bisa? pikirnya.


"Dia masih di Singapura, ada keluarganya yang sedang sakit." Akhirnya Vania menjawab juga karena risih, padahal Meita sudah dapat info kalau Rafael berlibur akhir tahun di Singapura, sampai membuat dia keheranan, kenapa sepasang kekasih sahabatnya ini tidak berlibur bersama malah terpisah, terkesan aneh untuknya. Infonya dijamin bukan gosip lagi karena bersumber dari orang yang bisa dipercaya, dokter Arjuna. Hanya saja ia penasaran sudah tiga minggu kok masih belum masuk juga, padahal rumah sakit pasti sangat membutuhkannya secara kunjungan pasien terus meningkat, mungkin kalau pemilik rumah sakit begitu ya, bisa enak, suka-suka sendiri kapan masuk kerja, pikirnya lagi.


"Siapa yang keluarganya sedang sakit Mba?" Tiba-tiba terdengar suara perempuan yang baru saja duduk di sebelah Vania, ternyata Siska, rekan satu divisi Kharisa.


"Eh aku boleh duduk di sini ya Mba?" ijinnya, walau bagaimana pun ia lebih menghormati Vania karena sebagai anak pemegang saham rumah sakit.


"Bolehlah, tidak akan ada yang melarang, ini tempat umum." Jawab Vania ramah, walaupun ia anak pemegang saham ia tidak pernah membeda-bedakan dalam bergaul.


"Siapa yang keluarganya sedang sakit Mba?" Ternyata Siska lagi, kepo juga dia, mengulang pertanyaannya yang belum dijawab.


"Keluarganya dokter Rafael, katanya sakit di Singapura, makanya dokter Rafael masih di sana." Malah Meita yang menjawab seolah ia yang lebih tahu.


"Owh.....sama dong kaya si Kharisa, katanya ada keluarganya yang sakit di Singapura, sampai hari ini belum masuk kerja, ada kali hampir dua mingguan lah dia ijin gak masuk kerja, enak bener yah ijin sampai dua minggu, jatah cutinya aja belum dapat segitu. Kalau dokter Rafael mendinglah, kan dia pemilik rumah sakit ini, lah ini karyawan biasa, karyawan baru lagi." Ucap siska sambil geleng-geleng kepala dengan nada sinis.


"Yang bener? Pantesan gak pernah lihat dia, kirain tugas luar terus. Siapa keluarganya? Orang tuanya? Pak Andre memberi ijin?" Kini Meita yang keheranan dan terlihat kesal, kok bisa ada karyawan yang ijin selama itu, karyawan baru lagi, saingannya pula.


"Gak jelas siapa keluarganya, kata Pak Andre sih bukan orang tuanya, entahlah." Jawab Siska sambil mengaduk-aduk makanannya.


"Mungkin ada pertimbangan khusus kenapa Pak Andre memberikan ijin, pasti sudah ditembuskan ke HRD dan direktur juga, sudah ah kita gak perlu ngurusin yang bukan urusan kita." Ujar Vania mencoba menutup pembahasan tentang Kharisa.


"Iya sih, mungkin juga karena ia sudah mengajukan resign, makanya tidak dipermasalahkan." Sambung Siska.


"Dia mau resign? Bukannya dia sudah tanda tangan kontrak, kena pinalty dong." Tanya Meita bersemangat, seolah ini berita bagus untuknya.


"Hemmm, katanya dia akan bayar pinaltynya, kata Pak Andre yah, makanya divisi marketing sekarang sedang mencari gantinya." Jelas Siska lagi

__ADS_1


"Sampai puluhan juta loh, bisa sampai lima puluh juta itu, dia kan baru beberapa bulan tanda tangan kontraknya. Mampu gitu dia, kalau aku sih sayang uang segitu dipake buat bayar denda, lagian sombong amat dia, masih lama habis kontrak sudah ngajuin resign, emang dapet kerjaan lain sebagus apa sampai resign berani bayar pinalty?" Vania hanya bisa menarik nafas mendengar ocehan Meita.


"Ehmmm.....ini masih kosong kan? Kami boleh duduk sini yah." Tiba-tiba terdengar suara bariton yang membuat tiga orang yang tengah ngobrol menoleh ke sumber suara.


"Boleh banget dokter Juna, dokter Keanu, silahkan selama kursinya belum terisi." Jawab Meita dengan bersemangat. Masih ada tiga kursi yang kosong, Arjuna langsung duduk di kursi di samping Vania, posisi Vania diapit oleh Arjuna dan Siska. Sementara Keanu duduk di sebrang Arjuna disamping Meita hingga ia bisa dengan jelas melihat wanita yang dulu diam-diam disukainya, mungkin sampai sekarang.


"Siapa yang mau resign?" Tanya Arjuna. "Eh maaf tadi gak sengaja dengar obrolan kalian." ucap Arjuna sambul nyengir, rupanya ia gak mau dinilai kepo urusan orang lain.


"Si Kharisa yang mau resign." Jawab Siska cepat.


"Haaah...Kharisa mau resign?" Begitu terkejutnya Arjuna mendengar Kharisa yang akan resign, rasanya tidak percaya, beberapa kali chat WA gak ada bahasan dia mau resign. Dia hanya bilang ada urusan yang harus diselesaikan saat ditanya kenapa gak masuk-masuk kerja.


"Iya, dua minggu yang lalu sudah mengajukan suratnya, tapi belum juga resign, sudah bolos terus." Jawab Siska dengan wajah sinis.


Dengan rasa penasaran Arjuna mengambil HP di saku celananya. Ia ingin memastikan sendiri kebenarannya. Rasanya gak rela kalau tidak lama lagi ia tidak bisa bertemu dengan gadis yang sedang berusaha didekatinya, bahkan perjalanan untuk meraih hati gadis pujaannya itu sepertinya masih panjang, tidak ada tanda-tanda Kharisa membalas perhatiannya, namun ia akan memperjuangkannya. Entah karena benar-benar cinta atau karena obsesi yang mengingatkannya padavseseorangbdi masa lalunya. Semoga saja perasaan Arjuna terhadap Kharisa tidak terlalu dalam karena jelas tidak akan berbalas, bahkan tidak lama lagi akan ada kejutan untuknya yang mungkin saat itu akan dideklarasikan sebagai hari patah hati untuknya.


Sementara dua orang di depan dan disebelahnya, sesekali saling mencuri pandang dengan jantung yang berdebar-debar. Akankan cerita masa lalu mereka berlanjut kembali? Disaat sang pangeran cinta mengetahui dewi cintanya telah menjadi tunangan rekan sejawatnya yang sekaligus menjadi bosnya.


Pesawat yang membawa rombongan Kharisa dari Singapura baru saja landing di Terminal Tiga Bandara Soeta tepat pukul dua belas lewat tiga puluh lima menit. Setelah check di bagian imigrasi mereka menuju tempat bagasi, barang-barang yang mereka bawa lumayan banyak, kalau saat berangkat hanya koper berisi pakaian, sejarang bertambah dengan aneka macam oleh-oleh, termasuk yang punya Fakhira yang tadinya hanya satu koper kecil kini bertambah dua tentengan travel bag. Mama sengaja membelikan oleh-oleh untuk keluarga Abah di Garut.


"Momy, aku lapar." Rengek Rakha sambil menggelayut manja di lengan momynya. Sepertinya benar ia sedang 'mamayu'.


"Oh..Rakha sudah lapar? Sebentar.......mau gak makannya ditemenin Oma sama Opa, Momy mau nungguin koper sama oleh-oleh, ada mainan Rakha juga. Mau yah?" Bocah yang sekarang terlihat lebih tirus itu menganggukan kepalanya, gak masalah ditemani Omanya yang penting segera makan, karena cacing diperutnya tidak tahan menahan lapar.


Akhirnya Rakha bersama Opa dan Omanya keluarbdukuan menuju resto yang ada di bandara, yang lainnya masih menunggu bagasi keluar.


Kharisa senyum-senyum sambil menggelengkan kepalanya, ia duduk di troli bertumpu pada kedua lututnya. Rupanya ia swdang membaca pesan WA dari dokter Arjuna.


"Neng beneran katanya mau resign"


"Kok tega ninggalin A Juna sih."

__ADS_1


"Belum juga A Juna dikenalin sama orang-orang di rumah, udah mau kabur aja."


"Mau kemana sih? Tapi masih di kota ini kan?"


"Kalau A Juna kangen boleh main ke rumah yah?"


Serentetan pesan dari Arjuna membuatnya senyum sendiri, ada-ada saja dokter muda itu, pikir Kharisa. Ia tidak pernah menganggap ucapan Arjuna serius, karena bawaannya seperti sedang menggodanya saja, dan semoga saja benar Arjuna hanya menggodanya, ia tidak ingin membuat dokter baik hati itu kecewa.


"Ada apa senyum-senyum sendiri? Ada yabg lucu?" Tanya Rafael yang ternyata sejak tasi memoerhatikan Kharisa.


"Eh...nggak, hanya baca pesan dari dokter Arjuna, sepertinya sudah pada tahu kalau aku mau resign, kayanya aku lagi jadi bahan gosip." Jawab Kharisa sambil menormalkan ekspresi wajahnya.


"Mana lihat." Rafael mengulurkan tangannya meminta HP Kharisa.


"Eeeh....gak usah lihat juga kali." Kharisa menjauhkan HPnya.


"Kenapa aku gak boleh lihat? Dia pasti godain kamu kan? Mana sini lihat." Tangan Rafael masih terulur masih berusaha meminta HP Kharisa. Awas saja kalau benar Arjuna menggoda calon istrinya, batinnya.


"Gak usah lihat El." Kharisa tetap menolak permintaan Rafael, ia tidak mau terjadi salah paham diantara mereka bertiga. "Eh itu sepertinya barang kita sudah ada." Kharisa mengalihkan perhatian Rafael, beberapa barang milik mereka sudah terlihat di atas conveyor. Mereka mulai mengambil barang milik mereka, disatukan dalam dua troli. Sementara Fakhira menyimpan barang dalam satu troli.


"Sini saya yang bawa trolinya." Fakhira terkejut mendengar suara yang dikenalnya, ia menoleh ke sebelah kanannya, ternyata benar itu suara laki-laki yang di kenalnya saat di Singapura, siapa lagi kalau bukan Richan kakaknya Rafael. Fakhira terlihat heran, pasalnya tadi ia tidak merasa melihatnya saat check in bandara Changi, tapi kenapa sekarang laki-laki itu sudah ada di bandara, dan sepertinya satu pesawat.


"E.... eh, Bang Richan pulang juga? Tadi satu pesawat?" Tanya Fakhira gugup. Entah kenapa sejak kejadian bertabrakan di lobi apartemen jantungnya berdebar-debar bila berada dekat dengan Richan.


"Kita satu pesawat, but I'm with my friends." Jawab Richan sambil menunjuk tiga orang temannya yang berjalan di depan mereka. Tampak dua laki-laki bule dengan postur badan tinggi dan satu orang asia yang hampir sama tingginya.


"Owh....." Hanya itu yang keluar dari mulut Fakhira. Ia terus melangkahkan kakinya, tangan kanannya ikut mendorong troli walaupun sebenarnya tanpa tenaga, karena tenaga Richan sudah cukup untuk mendorong troli barang mereka.


Setelah melewati pintu exit penumpang Rafael mengajak mereka ke resto tempat putranya sedang makan siang bersama Oma Opanya, Rafael pun mengajak kakaknya. Terlihat Richan berpamitan dengan tiga orang temannya, mereka terlihat sangat akrab, saling berpelukan saat akan berpisah, membuat Fakhira kagum akan kedekatan mereka, mereka pasti bersahabat dekat di negri orang. Ia jadi teringat dengan sahabat-sahabatnya yang dulu sama-sama berjuang di negri yang terkenal dengan sebutan bumi para Nabi.


bersambung.....

__ADS_1


Hi...hi...Fakhira memang polos, tidak bisa membedakan kedekatan dengan sahabat atau kedekatan yang ada 'sesuatu' diantara hubungan satu jenis.


__ADS_2