
Hari ketiga Rakha dirawat di ruang PICU, Faisal masih berat untuk kembali ke tanah air, pekerjaannya memang belum terlalu sibuk seperti dosen lain yang sudah senior yang sedang merekap nilai akhir semester mahasiswanya, tapi ia juga mempunyai tugas dari dosen guru besarnya untuk mulai membuat artikel ilmiah yang tentu memerlukan konsentrasi khusus untuk menyusunnya. Belum ia diminta untuk membantu mendampingi guru besarnya mengisi seminar di berbagai universitas di beberapa kota. Dan lusa adalah jadwal mendampingi guru besarnya seminar di Semarang.
Masih ada waktu sampai hari esok untuk berada di dekat Rakha walaupun tidak bisa full berada di dekatnya, seperti saat ini ia masih berada di apartemen bersama papa Kharisa dan mama Lisna, padahal ia ingin segera berangkat ke rumah sakit walaupun jam besuk masih dua jam lagi, tapi papa Kharisa sepertinya masih istirahat, setelah sarapan tadi papa tidur lagi, karena tadi malam baru bisa tidur pukul dua pagi. Harapan Faisal semoga sebelum ia kembali ke tanah air Rakha sudah mau membuka matanya.
Di dalam kamar apartemen, Faisal hanya duduk mengotak atik HPnya, ia membuka galery vidio acara dzikir dan doa bersama di pondok pesantren yang dipimpin oleh Abah langsung. Vidio itu dikirim oleh ayahnya tadi malam setelah acara selesai. Kembali ia menonton vidio itu untuk yang kesekian kalinya, dan tetap saja hatinya bergetar, matanya berkaca-kaca mendengar doa yang dipanjatkan abah untuk kesembuhan Rakha. Terlihat dan dapat dirasakan bagaimana Abah memanjatkan permohonannya dengan sungguh-sungguh kepada Sang Penentu Takdir dengan air mata berlinang, meminta yang terbaik untuk Rakha juga keluarganya. Jamaah yang hadir dengan penuh kesungguhan mengaminkan permohonan doa Abah. Faisal pun mengaminkannya dan berprasangka baik pada Sang Khalik pasti mengabulkan doa yang dipanjatkan, entah doa tulus siapa yang Allah kabulkan untuk kebaikan Rakha.
Faisal melihat jam di layar HPnya, masih pukul sembilan pagi, entah kenapa ia merasa waktu begitu lambat, rasanya ia ingin segera menuju rumah sakit, tapi Papa Kharisa tadi berpesan untuk berangkat bersama.
Faisal jadi teringat tadi malam, tepatnya saat mendekati tengah malam ia mendengar obrolan Papa Kharisa dengan Mama Lisna di ruang keluarga, saat itu Faisal memang belum tidur, ia hendak ke dapur mengambil minum namun ia batalkan karena mendengar papa dan mama Lisna tengah membicarakan sesuatu yang menyangkut Kharisa. Mereka duduk di sofa membelakangi Faisal.
"Mas kenapa gak ngasih tau kalau Sarah adalah neneknya Rakha? Tadi sore aku ketemu dengannya. Kami ngobrol banyak." Terdengar nada kecewa dari suara Mama Lisna. Faisal yang hendak menuju ruang makan menghentikan langkahnya di depan kamar, ia tidak bermaksud menguping tapi kakinya seolah terpaku untuk berbalik ke kamar saat mendengar nama Rakha disebut.
"Dia bicara apa?"
"Selama ini dia salah paham, sampai saat ini dia belum tau alasan yang sebenarnya Mas meninggalkannya, dia masih sangat membenci Mas, dan itu menjadi alasan kenapa ia tidak mau menerima Kharisa."
"Kenapa Mas tidak berusaha mengajaknya bicara?"
"Aku tidak mau mengungkit lagi masa lalu."
"Tapi Mas kesannya jadi egois, tidak memikirkan kebahagiaan Kharisa. Sarah juga menganggap Mas mengkhianati aku, dia mengira Dewi wanita penggoda, ini juga yang menguatkan dia menolak Kharisa. Tapi sekarang dia terlihat menyesal, aku sudah jelaskan semuanya. Ditambah dengan kondisi Rakha saat ini, dia sangat merasa bersalah. Dia ingin meminta maaf pada Kharisa dan menerima Kharisa sebagai calon menantunya."
"Syukurlah kalau dia sudah menyesalinya." Ujar Papa.
"Tapi Mas tetap harus bicara dengannya, saling minta maaf dan memaafkan, perbaiki hubungan sebagai saudara, kita sudah tua Mas, sudah punya kehidupan masing-masing, sudah bahagia dengan keluarga masing-masing juga, apalagi dia akan menjadi besan kita, tidak mungkin kita saling membenci karena masa lalu."
"Ya nanti Mas bicara dengannya. Tapi aku mohon kamu jangan kasih tau Dewi tentang ini, aku gak mau dia berpikir macam-macam."
"Dewi bukan tipe wanita pecemburu." Kekeh Mama Lisna. " Buktinya sama aku dia gak pernah cemburu." Tambahnya.
"Itu karena kamu wanita luar biasa yang mau berbagi suami dengannya. Apa kamu gak pernah cemburu kalau aku sedang bersama Dewi?"
__ADS_1
"Ha...ha....kamu aneh Mas setelah lebih dari dua puluh tahun kamu baru menanyakan ini, kalau aku cemburu aku gak akan pernah nyuruh kamu nikah lagi sama Dewi. Yah mungkin ada cemburu tapi dikiiiit. Aku hanya ingin melihatmu bahagia, sebagaimana kau selalu berusaha membuatku bahagia." Mama Lisna menyandarkan kepalanya di lengan Papa, dibalas papa dengan merangkul tubuh Mama Lisna, mengecup pucuk kepala istrinya. "Terima kasih sampai saat ini kamu selalu berada di sampingku, mendukungku. Kamu, Dewi dan Kharisa adalah wanita yang sangat aku cintai, aku janji akan melindungi dan membahagiakan kalian."
Pemandangan itu tak luput dari netra Faisal yang berada di belakangnya. Ia sedikit paham dengan apa yang didengarnya, hingga akhirnya Faisal kembali masuk ke kamar, lalu merebahkan tubuhnya di tempat tidur sambil merenungi obrolan yang tadi ia dengar hingga akhirnya ia memejamkan mata terlelap dalam tidur malamnya.
Kini kata-kata mama Lisna terngiang kembali di telinganya.
"Tapi sekarang dia terlihat menyesal, aku sudah jelaskan semuanya. Ditambah dengan kondisi Rakha saat ini, dia sangat merasa bersalah. Dia ingin meminta maaf pada Kharisa dan menerima Kharisa sebagai calon menantunya." Berarti maminya Rafael sudah menerima Kharisa, jadi tidak ada alasan bagi Kharisa untuk menolak Rafael, Rakha berhak mendapatkan kebahagiaan bersama orang tuanya.
Apakah ini petunjuk untuknya atas kebimbangan hatinya menjawab permintaan Kharisa untuk mejadi ayah bagi Rakha. Setelah beberapa hari yang lalu ia meminta petunjuk kepada Yang Maha Kuasa, baru hari ini hatinya merasa lebih condong untuk menolak permintaan Kharisa. Kini saatnya Faisal memantapkan hati, menyatukan Kharisa, Rafael dan Rakha adalah keputusan yang tepat.
Drrrttt....drrrttt.....
HPnya yang tergeletak di atas nakas bergetar tanda ada panggilan masuk, tampak nama wanita yang tengah ada dalam benaknya terpampang di layar.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam.....A Isal Rakha sudah sadar." Terdengar suara begitu kencang disertai isakan bercampur tawa.
"Alhamdulillah....beneran Neng?" Tanya Faisal memastikan lagi, kabar ini yang ia tunggu-tunggu.
"Ya A Isal ke rumah sakit sekarang."
*****
Sementara di ruang PICU, Kharisa dan Rafael tengah memeluk putra kesayangan mereka yang baru saja bangun dari tidur panjangnya.
"Mo...my......." lirih Rakha.
"Ini Momy sayang....Alhamdulillah Rakha sudah bangun." Isak Kharisa campur bahagia.
"Daddy........" Rakha menoleh pelan ke sebelah kirinya dimana Rafael membungkuk disampingnya.
__ADS_1
"Daddy's here Boy." Senyum bahagia terpancar di wajah Rafael, menghilangkan wajah penyesalan yang sejak kemarin menghiasi wajahnya, ia mengecup pucuk kepala putranya dengan mata memburam karena genangan air mata bahagia, lalu genangan itu jatuh membasahi pipinya.
Tadi sekitar pukul delapan pagi, setelah dokter spesialis yang merawat Rakha melakukan pemeriksaan, Kharisa dan Rafael dipersilahkan masuk. Di depan Rakha yang masih terbaring di tempat tidur pasien, dokter menjelaskan perkembangan Rakha yang mengalami kemajuan. Setelah tadi malam ventilatornya dilepas, pernafasannya tetap stabil, saturasi oksigennya juga stabil di atas 96%. Rangsangan terhadap nyerinya bagus, dan matanya sudah bisa membuka saat diberi rangsangan, namun kembali tidur seperti yang ngantuk berat. Dokter meminta mereka berdua menemani Rakha dan memberikan rangsangan atau mengajaknya bicara. Kharisa dan Rafael pun tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu.
Secara bergantian Kharisa dan Rafael mengajak Rakha bicara, mereka mengungkapkan perasaan mereka, harapan mereka jika Rakha telah sehat.
"Momy janji, Momy akan penuhi keinginan Rakha, Rakha mau apa? Rakha mau kemana Momy temanin, tapi Rakhanya harus bangun dulu. Rakha gak kangen Momy? Katanya Rakha mau jagain Momy? Kalau mau jagain Momy Rakha harus bangun....ayo bangun sayang." Kharisa tak kuasa menahan isakan dan air matanya, selalu begitu saat di depan Rakha. Rasanya ia tak akan mampu kalau sampai Rakha tidak bangun lagi.
"Daddy janji akan bareng Rakha terus, Daddy akan antar Rakha ke sekolah. Kemarin Rakha bilang mau ke rumah Abah, Rakha mau main sama Khansa, nanti Daddy antar kemana Rakha mau." Saat di apartemen, Rakha cerita mau liburan juga ke tempat Abah, nanti di sana ada Khansa mau liburan juga di tempat kakeknya, rupanya Rakha masih ingat saat bertemu Khansa di Marilina Resto di Bandung, Khanza yang bilang mau liburan di tempat Abah. Dan Rakha meminta Daddynya untuk ikut.
"El Rakha barusan membuka mata...." Tiba-tiba Kharisa terhenyak melihat putranya membuka mata namun menutup kembali. Rafael pun langsung memperhatikan Rakha dan memberi rangsangan nyeri dengan mencubit pelan dadanya.
"Nggghhh....." Terdengar suara erangan Rakha diikuti gerakan tangannya.
"Rakha.....open your eyes, come on Boy. Ini Daddy, ada Momy juga, ayo buka matanya." Rafael menepuk-nepuk pipi Rakha, mata Rakha tampak mengerjap-ngerjap, lalu perlahan membuka matanya. Walaupun Rafael seorang dokter, saat ini ia tidak berwenang melakukan pemeriksaan dan tindakan kepada Rakha, ia segera memberitahu petugas.
Dokter jaga dan perawat segera datang untuk memastikan kondisi Rakha. Saat Rakha sedang dilakukan pemeriksaan, Kharisa segera menghubungi Faisal memberitahu kondisi terbaru Rakha yang sudah membuka matanya.
"Momy.....aus...." Ucap Rakha lemah, tangannya bergerak meraih sesuatu yang ada di hidungnya. Ada selang NGT yang masih terpasang di lubang hidungnya, dan masker oksigen menutupi hidung dan mulutnya, mencoba ditariknya dengan gerakan yang lemah, namun dengan gerak cepat Rafael manahannya.
"No.... sayang, jangan dilepas, oke!" Rafael memegang tangan kanan rakha, sementara Kharisa memegang tangan kirinya.
"Minum....." Rupanya Rakha benar-benar kehausan, sejak ia tidak sadarkan diri, ia memang dipuasakan, baru tadi malam ia mendapatkan makanan cair setelah dipastikan cairan lambungnya jernih, tidak ada tanda perdarahan di lambung, itu pun diberikan melalui selang NGT yang terpasang di hidungnya.
"Oke Rakha boleh minum sedikit-sedikit pake pipet yah." Rafael dengan hati-hati mengangkat sedikit masker oksigen, memberikan minum menggunakan pipet agar tidak tersedak lagi, hanya untuk membasahi tenggorokan Rakha yang kering. Setelah minum Rakha terdiam, memperhatikan sekitarnya dengan wajah bingung akan keberadaannya, terakhir yang diingatnya ia di apartemen Daddynya. Tapi kini ia merasa berada di tempat asing.
"Abah mana....?" Tiba-tiba Rakha menanyakan Abah. Kharisa dan Rafael saling pandang, heran kenapa tiba-tiba Rakha menanyakan Abah.
"Abah di pondok, Rakha mau ketemu Abah? Nanti kalau Rakha sudah sembuh, kita ke tempat Abah yah." Ujar Kharisa, masih keheranan kenapa yang diingat Rakha malah Abah, padahal sejak pindah ia belum bertemu lagi dengan Abah. Rakha pun menganggukan kepalanya.
Bersamaan dengan jam besuk, gorden yang menutupi dinding kaca dibuka oleh petugas, tampak di ruang transit pengunjung beberapa keluarga pasien sudah menunggu disana, termasuk keluarga yang akan membesuk Rakha, tampak mama, papa, mama Lisna dan Faisal berdiri menghadap kaca, tampak kebahagiaan terpancar dari wajah mereka setelah tau kalau Rakha sudah sadar kembali. Dan secara bergantian mereka masuk menemui Rakha dengan rasa penuh syukur, harapan dan doa mereka Allah kabulkan, bisa bertemu lagi dengan Rakha, bocah pintar yang menggemaskan.
__ADS_1
bersambung
Mana pendukung Faisal? Semangat yah, semoga Othor gak dihujatš