Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku
Siap Mengungkap Kisah Lama


__ADS_3

Tiba di rumah sakit Rafael bergegas keluar dari mobil sejuta umat milik rumah sakit yang berhenti di depan lobi, tanpa pamit kepada penumpang lain dan supir yang telah mengantar mereka dari kunjungan ke sekolah TK. Entah ia lupa kalau ada penumpang lain atau karena dadanya yang berkecamuk ingin segera membuktikan suatu kebenaran yang selama ini mengganggu pikirannya. Dokter Elsa, Zaki dan Siska saling berpandangan keheranan melihat Rafael yang langsung meluncur masuk lewat pintu lobi yang otomatis terbuka saat ia melewatinya.


Dengan tidak sabar berkali-kali ia menekan tombol lift berharap pintunya segera terbuka. Dua orang pengunjungbrumah sakit yang juga sedang menunggu pintu lift terbuka memperhatikan laki-laki berjas putih khas seorang dokter yang terlihat gusar, mereka mungkin akan menduga kalau sang dokter sedang buru-buru harus segera menangani pasien yang kritis.


Ting...


Pintu lift pun terbuka, dua pengunjung itu mempersilahkan Rafael lebih dulu masuk. Entah kenapa Rafael merasakan lift itu bergerak sangat lamban. Dua pengunjung itu keluar saat pintu lift terbuka di lantai empat. Ia pun segera menekan tombol tanda panah menutup. Saat pintu lift terbuka ia berjalan setengah berlari menuju ruangan kantor marketing.


Brukkk


Meli yang berada di dalam ruangan langsung menoleh ke pintu yang terbuka dengan kasar.


Tampak Rafael mengedarkan pandangan mencari seseorang yang ingin segera ditemuinya, namun ia tidak menemukannya.


"Pak Andre ada?" Tanyanya pada Meli yang masih terlihat bengong.


"Eu...eh gak ada dok, sejak pagi keluar belum kembali ke ruangan lagi." Ujar Meli gugup melihat wajah Rafael yang terlihat gusar, tatapan mata tajam dan suara ya g terdengar tegas.


Rafael pun keluar dari ruang marketing tanpa pamit terlebih dahulu membuat Meli kembali melongo. Di depan ruang marketing ia menghubungi seseorang.


"Bang, dimana?" Tanyanya tanpa basa basi


"Di ruang direktur, kamu sudah di rumah sakit? terdengar suara jawaban dari pesawat telpon genggamnya.


"Barusan nyampe."Jawab Rafael


"Ya udah sini, sekalian makan siang di sini, ada yang ngirim sate maranggi dan sop iga, sekalian Om Direktur ingin ketemu katanya" Terdengar lagi suara Andre dengan jelas. Rafael pun berjalan menuju ruang direktur yang tidak jauh dari ruang marketing.


Di ruang direktur, ia langsung menyantap hidangan makanan yang menggoda seleranya, jarang ia makan sate maranggi yang khas bumbunya hanya menggunakan kecap tanpa bumbu kacang.


"Kalian habiskan semuanya, Om mau keluar dulu." Ujar direktur rumah sakit dengan santai. Begitulah kalau mereka bertemu tanpa ada karyawan lain akan terlihat santai, layaknya hubungan paman dan keponakan.


"Om mau kemana?" Tanya Andre curiga, ia sudah tau kalau Om nya ini suka keluar rumah sakit di saat jam kerja untuk urusan pribadi, apalagi kalau bukan urusan perempuan.


"Gak usah curiga gitu, ada undangan pertemuan Asosiasi Rumah Sakit tingkat Kabupaten." Ujar Om Direktur dengan mata mendelik melihat ekpresi curiga keponakannya yang pernah beberapa kali memergokinya saat sedang meet up dengan perempuan yang berganti-ganti.


"Syukurlah kalau merasa dicurigai." Jawab Andre nyengir. Kini tinggal Rafael dengan Andre yang baru selesai dengan makan siangnya.


"Bang aku mulai ada gambaran tentang anak Kharisa, dan aku harus memastikannya langsung dengan bertanya pada Risa. Aku ingin memastikannya langsung hari ini juga. Aku mau minta bantuan abang, tolong hubungi dia posisinya ada dimana, aku hubungi gak diangkat, pesanpun belum dibacanya."

__ADS_1


"Gambaran gimana? Kamu sudah ketemu ayah anak itu?" Tanya Andre penasaran.


"A..aku curiganya aku ayah anak itu." Ucapnya


"Ukhuk....ukhuk...."Ucapan Rafael membuat Andre tersedak.


"Maksud kamu?" Andre tidak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Aku curiga aku ayah dari anak itu." Ulangnya


lagi.


"Memangnya hubungan kamu dengan Kharisa sudah sejauh apa? Kalian sudah pernah melakukannya?"


"Kami hanya melakukannya satu kali, apa mungkin bisa sampai hamil?"


"Apa mungkin.....apa mungkin, ya mungkinlah. Kamu yang lebih paham, kaya bukan dokter saja." Ujar Andre tertawa hambar. Tidak menyangka sepupunya yang disebutnya jenius ini ternyata bodoh juga.


"Maksudku, waktu itu kami masih SMA, aku baru selesai ujian akhir, kami melakukannya tidak sengaja, dan hanya sebentar. Waktu itu aku berpikir tidak mungkin sampai hamil, dan aku meyakinkan Kharisa kalau dia tidak akan hamil, karena Kak Arlita saja yang waktu itu sudah menikah lebih dari tiga tahun tak kunjung hamil. Sampai aku berangkat ke Amerika Kharisa juga tidak pernah mengeluh ada tanda-tanda kalau dia hamil, jadi selama ini aku tidak pernah berpikir ke sana." Jelas Rafael.


"Tapi......saat aku akan berangkat ke Amerika, dia gak jadi datang menemuiku di bandara karena sakit, muntah-muntah dan demam, katanya gastritisnya kambuh, mungkin saja saat itu ia mengalami hiperemesis gravidarum. Ah bodohnya, aku tidak pernah terpikirkan sampai sana."


"Ck.....jangan samakan aku sama Om gresek itu." Ujar Rafael tidak rela disamakan dengan Omnya yang sering berganti pasangan.


"Tunggu....tunggu kenapa kamu bisa curiga kalau kamu ayah anak itu?"


"Tadi aku bertemu dangannya, di sekolah TK yang tadi dikunjungi, namanya Rakha. " Kini terbayang wajah anak itu yang membuat hatinya berdesir saat menatapnya.


"Wajahnya terlihat tidak asing, dan aku merasa pernah melihat wajah itu, tentu saja mengingatkan pada wajahku saat aku seumur dia."


"Saat kutanya nama ibunya, dia menjawab dengan nama lengkap Kharisa."


"Saat kutanya cita-citanya dia tidak mau jadi dokter karena sekolahnya jauh , lama dan tidak bisa pulang katanya, ternyata dadynya, begitu dia menyebut ayahnya, dady......ternyata dadynya sekolah dokter, jauh dan gak pulang-pulang. Bukankah itu berarti yang dijelaskan Kharisa tentang dadynya Rakha adalah aku?"


"Dan yang membuatku tambah yakin, ada namaku disematkan di nama panjangnya, Prasetya. Aku melihat nama lengkapnya tertulis di pintu lokernya. Menurut Abang gimana? Tidak salah kan kalau aku curiga kalau aku ayah kandungnya?" Tanya Rafael seolah minta dukungan dari Andre. Andre diam tidak menjawab, ia terlihat mengurut keningnya, kepalanya tiba-tiba terasa berdenyut mendengar penjelasan Rafael. Ia membayangkan pasti ini akan menjadi rumit kalau benar Rafael ayah dari anak itu.


"Maka dari itu Bang, aku harus memastikan langsung dengan bertanya pada Kharisa , jadi tolong abang hubungi dia, pastikan posisinya dimana, aku akan mengajaknya bicara di luar,


"Dia lagi kunjungan ke tiga perusahaan, mungkin sampai sore baru selesai karena lokasinya lumayan jauh, tunggu saja dia pasti tidak mau diajak pergi di jam kerja." Ujar Andre.

__ADS_1


"Kalau Kharisa menolak untuk diajak bicara, aku akan bantu, aku ijinkan besok Kharisa mencuri waktunya agar bisa menjelaskan semuanya sama kamu. Aku akan atur pertemuan kalian. Besok aku kabari." Tambah Andre membuat Rafael melebarkan bibirnya.


Tepat pukul empat sore, Rafael sudah standby duduk di sofa lantai enam agar bisa melihat Kharisa saat di depan lift. Satu persatu karyawan rumah sakit mulai meninggallkan ruang kerjanya, namun ia belum melihat Kharisa keluar dari ruanganya. Dua puluh menit ia menunggu di sana. Apa kharisa belum pulang ke rumah sakit? Atau langsung pulang ke rumahnya? Ia pun memutuskan untuk bertanya langsung pada Andre. Ia mengambil HP di jas dokternya, dan akan mengubungi Andre sepupunya.


Saat mencoba akan menghubungi Andre, terlihat sosok yang sedang ditunggunya berdiri di depan pintu lift. Ia pun beranjak menghampirinya


"Risa kita harus bicara, aku minta waktumu sebentar sebelum kamu pulang, bisa kita cari tempat yang nyaman untuk ngobrol, please yah." Pinta Rafael dengan wajah memohon. Saat Kharisa akan menjawabnya, tiba-tiba seseorang menggelayut manja di lengan Rafael.


"Maaf kamu nunggu lama ya Raf, tadi aku nyelesein dulu laporan harian, biar gak numpuk."


Oh tidak......Rafael lupa, sore ini ia berjanji akan mengantar Vania membeli sesuatu yang diperlukannya. Kini tubuhnya terasa membeku, tidak mungkin ia melepaskan tangan Vania yang kini menggandengnya masuk ke dalam lift. Karisa pun ikut masuk bersama dua orang staf lainnya.


Ting


Pintu lift terbuka, Kharisa pun buru-buru keluar terlebih dulu, kemudian melangkah cepat menuju ruang absent , kemudian berjalan menuju tempat parkir, berharap tidak melihat lagi Rafael bersama Vania, karena hanya akan membuat hatinya luka.


*****


Keesokan harinya Andre mengajak Kharisa mengunjungi salah satu perusahaan telekomunikasi besar di negeri ini, sayangnya perusahaan itu sudah menjadi milik negara asing, millik negara tetangga. Pa Andre akan negosiasi program medical ceck up untuk karyawan perusahaan tersebut.


Setelah pertemuan dengan pihak perusahaan selesai, mereka pun menuju area parkir yang tempatnya lumayan jauh dari gedung kantor.


Tiba-tiba Kharisa menghentikan langkahnya saat melihat sosok yang dikenalnya tengah berdiri bersandar di mobilnya yang terparkir di samping mobil Andre.


"Sudah lama nunggu? Sory kalau kelamaan nunggunya." Ujar Andre.


'Belum lama ." Ujarnya


"Kalian pergilah berdua, cari tempat yang nyaman untuk berbicara. Di dekat sini ada danau, di kawasan wisata, kalau hari kerja sepertinya tidak terlalu ramai. Aku akan mengunjungi dua perusahaan lagi. Kalau sudah selesai kabari aku, pulangnya Kharisa harus denganku lagi


KIni Kharisa berada di dalam mobil milik Rafael, mereka akan menuju danau yang disarankan oleh Andre. Di sepanjang jalan mereka hanya diam, tidak ada satu kata pun yang lepas dari mulut mereka. Kharisa menoleh ke jendela di samping kirinya, ia melihat banyak parabola besar berwarna putih bagaikan jamur raksasa. Pikirannya bertanya-tanya apa yang ingin dibicarakan Rafael, apakah ia akan menjelaskan apa jawaban maminya Rafael? Atau ia ingin mendapatkan penjelasan langsung darinya? Kalau benar ia pun sudah siap untuk mengungkap kisahnya lima tahun yang lalu.


bersambung.......


Maaf nunggu yah....hari ini ada yang harus diselesaikan di dunia nyata. 🙏


Dan maaf kalau ceritanya pendek, asli ini mata dah sepet, insya Allah besok Othor Up lagi.


Biar Othornya semangat jangan lupa like, komennya yah, kasih masukan membangun yah🤗

__ADS_1


__ADS_2