Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku
Tertunda Sesaat


__ADS_3

Kharisa dan Rafael baru tiba di rumah pukul setengah delapan, Kharisa lagsung masuk ke kamar menyiapkan baju gantinya karena akan langsung mandi, bajunya agak basah karena terkena air hujan. Rafael mengikuti Kharisa masuk ke kamar menenteng travel bag nya yang berisi baju ganti yang dibawanya dari mess.


"Kamarnya sempit yah, gak papa?" Sesuai dengan luas rumah tipe 45, kamar Kharisa hanya berukuran 3x4 m dan tidak memiliki kamar mandi di dalam.


"It's Ok, yang penting nyaman dan ada kamu di sisi aku." Goda Rafael membuat Kharisa mencebikan bibirnya, ia meletakan travel bagnya di lantai di sisi tempat tidur. Kamar Kharisa yang tidak terlalu luas tertata dengan rapi, membuat nyaman penghuninya. Kharisa menyalakan pendingin ruangan, walaupun di luar dingin tapi di dalam ruangan terasa panas bagi Kharisa, ia memang terbiasa dengan suhu yang sejuk.


"Aku mandi duluan, gak nyaman bajunya basah." Ujar Kharisa, ia membawa baju ganti dan handuk menuju kamar mandi yang berada di sebelah kamarnya.


Sementara Rafael tetap berada di kamar, ia memperhatikan dari dekat foto yang terpajang di dinding, dalam satu pigura terdapat beberapa foto Rakha yang menggambarkan perkembangannya sejak bayi, saat tengkurap, duduk, saat bisa berdiri dan berjalan sampai usia kita-kira tiga tahun.


Masa perkembangan Rakha itulah yang dilewatkan oleh Rafael. Hatinya berdesir melihat foto-foto itu, andaikan waktu bisa diputar saat tahu Kharisa hamil, tentu ia akan bertanggung jawab, tidak akan membiarkan Kharisa membesarkan putra mereka seorang diri. Tapi tentu saja waktu tidak bisa kembali, sekarang ia sangat bersyukur bisa disatukan dengan Kharisa dan Rakha, dalam hatinya ia berjanji tidak akan menyia-nyiakan mereka berdua, sekarang saatnya ia menunjukan tanggung jawabnya dengan menyayangi dan membahagiakan mereka.


Sepuluh menit kemudian, Kharisa masuk ke dalam kamar sudah berganti dengan baju dress kimono panjang berlengan pendek, namun kedua tangannya tertutup oleh hijab instannya, entah kenapa ia merasa canggung untuk melepas hijabnya di depan suaminya, kemarin pun saat tidur bersama Rakha ia tetap menggunkan hijabnya.


Tampak Rafael tengah duduk di meja belajar Rakha, tengah memegang sebuah foto berbingkai kertas karton yang dihias stiker bergambar Mcqueen.


"Foto itu aku cetak untuk tugas sekolah Rakha, harus bawa foto keluarga untuk dipajang di kelasnya, Rakha minta juga untuk dipajang di kamar, dia yang menghias piguranya." Kharisa duduk di tepi tempat tidurnya. Wajahnya terlihat segar setelah mandi air hangat. Ia menjelaskan foto itu karena di foto itu ada Faisal, takutnya Rafael salah duga ia sengaja menyimpan foto Faisal.


"Rakha sempet ngambek dan gak mau sekolah karena tidak ada fotonya bersama daddynya. Aku lihatin saja foto itu, untungnya mama nanya ke gurunya kalau foto keluarga itu tidak harus dengan ayah ibu, bisa dengan nenek, atau keluarga yang lain. Akhirnya ia mau foto itu, besoknya ia pun bersemangat ke sekolah." Ujar Kharisa sambil mengenang masa itu yang terasa berat ia lewati karena Rakha terus menanyakan daddynya.


Rafael tertegun mendengar cerita Kharisa, hatinya merasa teriris, yang tadinya bibit cemburu membakar hatinya saat melihat ada foto Faisal di sana, rasa cemburunya langsung menguap, yang ada kini rasa penyesalan di hatinya.


"Ayo mandi, mau shalat Isya berjamaah?" Ujar Kharisa pada Rafael yang masih tertegun memandang foto di tangannya.


"Ah ya, tungguin, kita shalat berjamaah." Rafael menyimpan kembali fotonya, sebuah senyuman terbit di bibirnya saat melihat sebuah foto dalam pigura duduk dimana ada gambar dirinya bersama Kharisa dan Rakha saat di sebuah wahana kapal bajak laut 'Sky Pirates' di arena bermain di Bandung.


"Ayo buruan mandi. Bawa handuk gak?" Kharisa kembali mengingatkan Rafael yang masih belum beranjak dari duduknya.


"Aku pinjam handuk kamu." Kharisa beranjak membuka lemari mengambil handuk baru untuk Rafael, kemudian menyerahkannya. Rafael pun keluar kamar menuju kamar mandi.


Berdiri di belakang imam shalat yang tak lain adalah suaminya membuat Kharisa terharu, ini adalah ketiga kalinya Rafael menjadi imamnya saat shalat. Saat shalat subuh tadi pagi berjamaah bersama Rakha juga, lalu shalat maghrib tadi di cafe dan sekarang shalat Isya.


Walaupun bacaan shalatnya belum terlalu fasih, pengucapan makhroj saat membaca surat Al Fatihah dan surat pendek masih terdengar belum sempurna, tapi bagi Kharisa ini merupakan kemajuan yang luar biasa. Ia tetap menjadi makmum yang baik bagi Rafael. Ia yakin Rafael akan terus memperbaiki ibadahnya bahkan ia pernah mengatakan ingin ia yang mengajarkannya pada anak-anaknya kelak termasuk Rakha yang pengetahuan dan kemampuan membaca Al Qurannya sudah lebih maju dari daddynya.


Rafael baru saja mengakhiri ibadah shalatnya, ia masih duduk di atas sajadahnya, begitu pun dengan Kharisa, jari tangannya bergerak-gerak menghitung lafadz dzikir yang diucapkannya di dalam hati, mengagungkan asma Allah disertai rasa syukur atas apa yang telah Allah berikan untuknya. Kemudian mengangkat kedua tangannya memanjatkan doa.

__ADS_1


"Kamu berdoa apa?" Tanya Rafael setelah Kharisa selesai berdoa. Kini mereka saling berhadapan.


"Hhmmm?" Kharisa sedikit terkejut melihat Rafael yang sudah berada di depannya menghadap ke arahnya.


"Aku didoakan gak? Slalu doakan aku ya Sa, agar aku bisa menjadi suami dan ayah yang baik, doakan juga aku menjadi pribadi yang lebih baik." Ujar Rafael menatap Kharisa.


"Insya Allah, kamu selalu ada dalam doaku." Jawab Kharisa, senyum tulus terbit di bibirnya.


"Makasih ya Sa."


Kharisa hanya menganggukan kepalanya, ia hendak melepas mukenanya namun ditahan oleh Rafael.


"Kita shalat sunah dua rakaat dulu yu Sa." Ujar Rafael senyum-senyum.


"Shalat sunah rawatib ba'diah Isya?" Kharisa memang belum full mengerjakan shalat rawatib, yang sudah rutin ia kerjakan baru shalat sunah setelah shalat maghrib dan shalat fajar atau shalat sunah sebelum shalat subuh. Padahal Faisal pernah mengingatkan agar mulai menjalankan shalat sunah rawatib, karena keutamaannya luar biasa, dibebaskan dari siksa api neraka, diangkat derajatnya dan dibangunkan rumah di surga


"Shalat rawatib shalat apa?" Rafael malah balik bertanya, sepertinya ia baru mendengarnya.


"Shalat sunah sebelum atau setelah shalat wajib." Jawab Kharisa


"Lalu shalat sunah apa?" Kharisa mencoba menduga-duga dalam hatinya maksud dari Rafael, shalat taubat mungkin atau shalat hajat?


Rafael menggeser duduknya lebih dekat dengan Kharisa.


"Shalat sunah yang biasa dikerjakan sebelum melaksanakan kewajiban suami istri." Ujarnya setengah berbisik, padahal tidak akan ada yang mendengar suara mereka.


Ucapan Rafael membuat Kharisa merona dan sedikit terkejut. Apa berarti malam ini Rafael akan meminta haknya.


"Eh...." Kharisa terlihat kikuk.


"Kamu keberatan? Mumpung hanya ada kita berdua." Sepertinya Rafael tidak ingin melewatkan kesempatannya, kalau ada Rakha ia tidak akan bisa berkutik.


"Eh...iya...eh maksudnya tidak." Kharisa menjadi gugup, sebenarnya ia sudah memperkirakan kalau malam ini Rafael akan meminta haknya, tapi tetap saja rasanya ia belum siap, lebih ke arah malu sebenarnya. Rafael pun tersenyum lebar mendengar jawaban Kharisa.


"Kalau gitu kita langsung saja mumpung masih punya wudhu." Rafael beranjak berdiri, namun Kharisa tetap bergeming dalam duduknya, ia tengah berpikir dari mana Rafael tau tentang shalat sunah yang akan mereka kerjakan, sepertinya sudah mempelajarinya. Ia sendiri belum sempat mencari infonya atau menanyakan pada ahlinya, hanya pernah mendengar sekilas dalam sebuah khutbah nikah temannya. Kharisa pun akhirnya berdiri memulai shalat sunahnya mengikuti Rafael sebagai imamnya.

__ADS_1


Selesai shalat Rafael kembali membalikan badannya menghadap Kharisa, ia mengulurkan tangan kanannya, Kharisa menyambut tangan Rafael mencium punggung tangannya. Lalu Rafael mengecup kening Kharisa, membuat Kharisa berdesir. Sebetulnya Rafael ingin memanjatkan doa khusus untuk istrinya, sayangnya ia lupa bacaannya, padahal sudah dicoba dihapalnya.


Mereka merapihkan alat shalatnya, menyimpannya di lemari. Dengan canggung Kharisa duduk di sisi tempat tidur di sebelah Rafael.


"Sa, aku boleh dong lihat rambut kamu, masih sama seperti dulu gak?" Kharisa tidak menjawab, hanya menganggukan kepalanya.


"Aku buka yah." Dengan hati-hati Rafael membuka hijab instan Kharisa, tampak rambut hitamnya tergerai sebahu.


"Kamu masih sama cantiknya seperti dulu, sekarang makin cantik malah." ujar Rafael jujur. Tangan Rafael terulur merapihkan rambut Kharisa ke belakang telinganya. Kharisa mengangkat kepalanya memberanikan diri melihat suaminya, dan tatapan mereka saling bertemu. Debar jantung Kharisa pun mulai terasa, ia menundukan kepalanya tidak kuat melawan tatapan mata Rafael yang penuh kerinduan.


Namun tangan Rafael malah mengangkat dagunya hingga kepala Kharisa kembali terangkat, dan Kharisa merasakan wajah Rafael semakin mendekat ke arahnya, membuat jantungan semakin berdebar cepat.


Kharisa pasrah saat sebuah benda kenyal menyentuh bibirnya, ia hanya bisa memejamkan matanya sambil merasakan sentuhan yang terasa lembut di bibirnya. Ini bukan pertama kalinya diperlakukan seperti ini oleh Rafael, dulu saat pacaran masa SMA beberapa kali mereka melakukannya, tadi pagi pun ia mendapatkannya. Tapi tetap saja tubuhnya terasa panas dingin, bahkan telapak tangannya terasa basah.


Sentuhan di bibirnya itu makin lama makin dalam, semakin menuntut hingga tanpa sadar Kharisa pun menikmatinya, bahkan mulai membalasnya, kedua tangannya kini sudah berpindah di leher suaminya, sesekali meremas rambut pendek suaminya.


Mereka belum ingin saling melepas, malah semakin bergairah seolah ingin membayar kerinduan mereka setelah sekian lama berpisah dan kini disatukan kembali dalam sebuah ikatan pernikahan yang membuat mereka tenang dan nyaman mencurahkan kerinduan dan kasih sayang mereka.


Di saat mereka semakin bergairah mencurahkan kasih sayang mereka hingga tidak disadari mereka sudah berada di atas tempat tidur dengan posisi Rafael mengungkung Kharisa, tiba-tiba HP Kharisa berdering, namun mereka mengabaikannya. Phonsel yang berada di meja belajar Rakha itu terus meraung, menggelepar menuntut sentuhan pemiliknya.


Merasa terganggu dengan suara yang makin lama makin memekakan telinganya, akhirnya Kharisa melepaskan diri dari Rafael dengan mendorongnya.


"El ada telpon....." ujarnya dengan terengah. Dengan berat hati Rafael melepaskan istrinya. Kharisa turun dari tempat tidurnya, meraih HPnya dengan tangan gemetar, menatap layar HPnya, ternyata panggilan vidio call dari mamanya. Ia merapihkan bajunya lalu mencari hijab instannya, tidak mau terlihat kalau rambutnya berantakan.


Kharisa mengatur nafasnya yang masih terengah, jantungnya pun masih terasa berdetak cepat. Setelah merasa lebih tenang ia menekan tomboh hijau di layar HPnya, langsung saja terlihat wajah bocah kecil yang selalu dirindukannya dengan wajah cemberut, sepertinya sedang merajuk.


"Momyy.......aku nunggu momy dali tadi gak nelpon-nelpon, Daddy aku mana?"


Kharisa hanya bisa nyengir di depan putra kesayangannya, merasa bersalah karena memang sejak siang tadi belum menghubungi Rakha, padahal ia janji akan menghubunginya.


Tadinya setelah shalat Isya ia akan menghubungi Rakha, tapi gara-gara Rafael mengajaknya shalat sunah dua rakaat ia lupa rencananya untuk menghubungi Rakha.


"Momy...Daddy mana?" Tanya Rakha lagi, sepertinya ia khawatir kalau daddynya pergi meninggalkannya kalau belum melihatnya. Kharisa menoleh ke suaminya yang berada di tepat tidur, masih mengatur nafasnya, Kharisa hanya bisa iba melihat suaminya yang harus memadamkan gairahnya, tapi salah sendiri terlalu awal meminta haknya hingga lupa pada putranya, dan sekarang harus ikhlas kegiatan tadi tertunda sesaat.


bersambung

__ADS_1


.


__ADS_2