Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku
Kapan Dady Pulang?


__ADS_3

Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu, detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari dan hari berganti minggu. Hari ini adalah minggu ke empat Kharisa bekerja di rumah sakit Setya Medika cabang, berarti satu bulan sudah ia menjalani masa percobaan sebagai staf marketing, maksimal masa percobaan adalah tiga bulan, namun karena penilaian kinerja Kharisa bagus ia telah diajukan untuk menjadi karyawan kontrak, siapa lagi kalau bukan diajukan oleh bosnya pak Andre.


Dan saat ini ia tengah berada di ruang HRD bertemu dengan Pak Alvin manajer HRD untuk menandatangani kontrak kerja selama satu tahun. Tentu saja Kharisa merasa bahagia, karena dengan menjadi karyawan kontrak maka ia mendapatkan hak lebih dari masa percobaan, seperti insentif, hak cuti, gaji pokok full 100 persen. Manajer HRD meminta Kharisa mempelajari isi Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) sebelum menandatanganinya. Ia pun membacanya dengan teliti, sepertinya isinya standar sesuai aturan tenaga kerja walaupun Kharisa sendiri tidak tau seperti apa standarnya. Hanya ada point yang membuatnya ragu, tentang masa kontrak, disana tercantum masa kontrak satu tahun, ada point yang menyebutkan


"Jika pihak kedua mengakhiri hubungan kerja sebelum jangka waktu berakhir, pihak kedua diwajibkan membayar ganti rugi kepada pihak pertama."


Ini yang membuat ia ragu, selama satu bulan ini ia memang menikmati pengalaman barunya, ia juga menyukai aktifitas pekerjaannya, hanya saja ia belum merasakan benar-benar nyaman, hingga ia berpikir apakah ia akan mampu bertahan selama satu tahun bekerja di sana, tapi kalau dilewatkan kesempatan ini belum tentu ada lagi. Akhirnya ia menandatangani lembar perjanjian kerja yang ada di hadapannya.


Selesai dengan urusan kontrak kerjanya ia kembali ke ruangannya, tampak rekan kerjanya tengah berada di meja masing-masing. Hari Sabtu marketing eksternal jarang tugas luar rumah sakit, biasanya lebih banyak menyelesaikan laporan selama satu minggu yang akan dilaporkan dalam rapat mingguan oleh manajer marketing.


"Duuuh yang baru tanda tangan kontrak....makan-makan nih kita. Selamat ya Kharisa." Ahmad mendahului mengucapkan selamat pada Kharisa, diikuti yang lainnya kecuali Siska yang tetap fokus pada layar monitornya.


"Makasih...." ujar Kharisa sambil duduk di mejanya.


"Boleh nanti habis gajian aku traktir, berarti makan sore dong pulang kerja, makan siang kita kan udah gratis." Ujar Kharisa sambil nyengir.


"Siap Neng, Aa Zaki ikut aja mau sore, mau malam siap pokonya."


"Ajak Pak Bos juga gak? Biar kita nebeng mobilnya." Ujar Mila semangat, kalau urusan makan-makan, apalagi sambil karokean ia memang jagonya.


"Mba Mila yang ngajakin pak Andre yah." Ujar Kharisa, ia masih segan dengan Pak Andre, apalagi akhir-akhir ini sering menggodanya.


"Siap, jadi tanggal satu yah kita makan-makan, tolong nanti diatur pekerjaannya ya Bapak ibu agar kita bisa teng go."


"Oke...oke ..." Zaki dan Ahmad mengacungkan jempolnya.


Pak Andre keluar dari ruangannya, kemudian berdiri di tengah-tengah meja anak buahnya.

__ADS_1


"Barusan Pak Alvin minta bantuan kita untuk acara penyambutan Yanmed baru dan beberapa dokter spesialis hari Senin besok, seperti biasa bagian seksi acara. Siska, Mila, Zaki kalian siapkan untuk acara itu, Ahmad dan Kharisa, kalian ke PT. Sumi Indo untuk program penyuluhan kesehatan, coba konfirmasi ke bagian yanmed dokter siapa yang ditugaskan sekalian pastikan materi penyuluhannya, mereka minta penyuluhan tentang Thypoid, beberapa minggu ini kasus Thypoid pada karyawannya meningkat, dua hari yang lalu saya sudah koordinasi dengan dokter Catur ."


"Baik Pak." Jawab Kharisa dan Ahmad berbarengan.


Pukul satu siang Kharisa sudah bersiap untuk pulang, hari ini ia ingin pulang tepat waktu karena ingin mengajak Rakha jalan-jalan ke arena bermain sekalian membeli bahan untuk tugas sekolah Rakha. Kemarin sore saat ia pulang ke rumah ia menemukan Rakha sedang duduk di kursi teras dengan wajah sedih, bahkan tidak menyambutnya seperti biasanya.


"Assalamualaikum Boy......" Saat itu Kharisa langsung menyapa putranya sambil jongkok mensejajarkan posisi tubuh dengan putranya. Rakha masih diam, malah memalingkan wajahnya yang cemberut.


"Loh kok anak soleh gak jawab salam momy, ada apa? Kata Om Isal apa, kalau ada yang mengucapkan salam wajib di ....jawab." Ujar Kharisa, lalu mencium pipi Rakha yang mulus.


"Kumsalam" Jawab Rakha masih dengan wajah cemberutnya.


"Kenapa anak momy kok cemberut...?"


"Aku gak mau sekolah lagi." ujar Rakha sambil menunduk, membuat Kharisa terkejut dengan ucapan putranya.


"Loh kenapa gak mau sekolah, kan seru di sekolah banyak teman, bisa bermain bareng, makan bareng."


"Momy kapan Dady pulang? Aku mau foto baleng Dady dan Momy." Tanya Rakha, hati Kharisa merasa teriris mendengar pertanyaan putranya. Kapan Dady pulang? Tentu saja ia tidak akan bisa menjawabnya, keberadaannya dimana pun ia tidak tahu, mau menghubungi keluarganya juga percuma, yang ada ia akan terancam dipisahkan dengan putranya, lebih baik tidak bisa menghubungi Rafael dari pada harus berpisah dengan putranya. Ia mulai merasakan kedua matanya menghangat.


"Momy kenapa Dady gak bisa di telpon? Haidar papanya kelja jauh tapi bisa di telpon." Ujar putranya lagi. Kharisa masih bergeming, tentu saja masih memikirkan harus menjawab apa. Ia berusaha menahan agar genangan hangat di kedua matanya tidak bertambah lagi, apalagi jatuh di pipinya. Kharisa mengecup kening Rakha kemudian menangkup kedua pipinya.


"Dady kan sedang sekolah, jadi tidak bisa diganggu, nanti kalau sudah selesai sekolahnya pasti akan nelpon Rakha, lalu pulang dan kita bisa foto bareng." Alasan sekolah yang selalu dijelaskan kepada Rakha, jujur ia sendiri bingung ke depannya apalagi yang harus ia jelaskan kalau ia tidak bisa bertemu Rafael. Ada perasaan menyesal kenapa sejak awal tidak dijelaskan saja kalau dadynya sudah meninggal, pasti Rakha tidak akan bertanya lagi dan ia tidak akan bingung seperti ini, tapi ada perasaan tidak tega kalau harus menghilangkan jejak ayah biologisnya, karena ia pun masih berharap Rafael akan mencarinya setelah selesai kuliahnya dan mereka akan bertemu lagi. Masih ada kesempatan satu tahun lagi untuk nanti berusaha menemui Rafael, mungkin saja sekarang Rafael sedang menjalankan masa profesi dokternya, setelah selesai pasti pulang ke Indonesia, pikir Kharisa saat itu.


Lalu mama Kharisa muncul keluar dari ruang tamu.


"Cucu Oma masih belum mau masuk nih, masih mau di luar?" Ternyata mama sudah tau apa yang terjadi pada cucunya.

__ADS_1


"Oma sudah telpon Miss Shinta loh, kata Miss Shinta boleh kok fotonya gak ada ayahnya juga, boleh foto sama omanya atau saudara yang lain." Mama tadi memang mengubungi walikelasnya Rakha menanyakan tugas foto yang harus di bawa hari Senin.


"Tuh ....bener kan Oma, itu kata Miss Shinta?" Tanya Kharisa untuk menyakinkan Rakha.


"Iya , fotonya boleh kok gak ada ayahnya juga, fotonya boleh dihias dengan pigura dari kertas, nanti akan ditempel di dinding kelas, begitu kata Miss Shinta." jelas mama, membuat Rakha tidak cemberut lagi.


"Kita kan ada foto bareng waktu di Ancol, yang sama Om Isal, yang itu saja Rakha mau gak? Nanti kita cetak dan kita hias." Ujar Kharisa bersemangat, berharap putranya tidak bersedih lagi.


"Iya mau, yang ada Om Isalnya. Momy coba lihat fotonya di HP momy." Rakha pun akhirnya kembali ceria dan tampak bersemangat untuk melihat fotonya dan ingin segera mencetak dan menghias tugas fotonya.


"Oke, besok siang kita cetak fotonya dan kita beli bahan untuk menghiasnya, sekalian Rakha boleh main di Play Zone." Ujar Kharisa setelah memperlihatkan foto yang dimaksud di HPnya.


"Yeeehhh.....asyiiiik, momy baik deh, aku sayang sama momy." Rakha mencium pipi momynya lalu memeluknya dengan wajah bahagia.


Dan siang ini Kharisa pulang tepat waktu untuk memenuhi janjinya pada putranya yang sangat disayanginya.


*****


Sementara di tempat lain, di ruang praktek poli umum, seorang dokter muda tengah duduk termenung, jadwal prakteknya telah selesai, pasien terakhir pun sudah selesai ditangani sejak setengah jam yang lalu, tapi ia terlihat enggan untuk keluar dari ruang prakteknya. Ya dia adalah dokter Rafael, dokter umum yang juga putra dari pemilik rumah sakit yang saat ini lebih suka sibuk di lapangan melayani pasien langsung dari pada berada di balik kursi kebesaran menyandang jabatan direktur. Hari ini adalah hari terakhirnya ia bertugas di sana, mulai hari Senin ia akan bertugas di rumah sakit cabang di Jawa Barat dengan jabatan barunya sebagai Manajer Pelayanan Medik, walaupun sebenarnya ia merasa kurang pas dengan jabatannya, tapi demi misinya menemukan kekasih hatinya akhirnya ia menerima tawaran papinya.


Ia baru saja membaca pesan dari Maminya


"El kalau sudah selesai tugasnya segera pulang, kamu harus persiapan untuk nanti malam, jangan sampai kamu kelelahan, kita tidak boleh terlambat datang ke rumah Vania."


Ia membuang nafas dengan kasar, menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, menatap langit-langit dengan tatapan kosong. Ada rasa penyesalan kenapa ia menyetujui maminya untuk mempercepat pertunangannya dengan Vania. Pertunangan yang tidak ia inginkan, tentu saja karena ia tidak pernah mencintai Vania. Saat ini ia tidak berani menjadi pemberontak karena alasan kesehatan maminya, tiga tahun yang lalu maminya mengalami serangan jantung, hingga menjalani operasi bypass. Alasan untuk menolak pertunangan dengan Vania juga tidak ada, saat ia menolak dengan alasan mencintai Kharisa dan akan mencarinya, maminya malah menceritakan sesuatu yang membuatnya kecewa.


"Untuk apa mencarinya, sudah jelas ia meninggalkanmu, tanpa kabar, bahkan ia telah mengkhianatimu, mungkin dia terlalu malu untuk menghubungimu. Kamu tidak usah mengharapkannya lagi, dia sudah bahagia dengan laki-laki lain, bahkan dia sudah memiliki seorang anak laki-laki." Ujar maminya tiga tahun lalu, sebelum mengalami serangan jantung.

__ADS_1


Tentu saja Rafael sangat terkejut dengan apa yang disampaikan maminya, ada rasa kecewa, tapi ia tidak percaya Kharisa telah memiliki anak dari laki-laki lain, ia tau seperti apa Kharisa, tidak mungkin menikah muda, ia tau impian masa depan Kharisa seperti apa. Ia pun bertekad untuk membuktikannya sendiri. Tapi sampai saat ini ia belum bisa menemukan Kharisa, sementara ia harus mengikuti keinginan maminya bertunangan dengan Vania. Ya malam ini Rafael akan bertunangan dengan Vania, sekarang ia akan menjalani dulu keinginan maminya, sambil berharap suatu saat bisa menemukan Kharisa.


bersambung......


__ADS_2