
" Bagaimana keadaan Rakha?" Tanya Faisal saat ia berada dihadapan Rafael yang baru keluar dari ruangan perawatan pasien. Rafael tertegun melihat kedatangan Faisal. Sebegitu dekatnyakah Faisal dengan putranya hingga jauh-jauh Faisal datang ke tempat ini? Apa Kharisa yang memintanya untuk datang ke sini atau ia datang atas inisiatifnya sendiri saat tau Rakha sakit dan tak sadarkan diri?
"Apa keadaan Rakha sudah membaik?" Tanya Faisal lagi saat Rafael hanya bergeming.
"Oh....Rakha masih belum sadar." Jawabnya
"Saya bisa masuk ke dalam untuk melihatnya?" Faisal bertanya karena ia tidak tau aturan kunjungan besuk di rumah sakit ini.
"Ya bisa, kebetulan lagi jam besuk, di dalam ada Mas Rendi juga."
"Saya masuk dulu." Faisal membuka pintu, lalu masuk ke ruang perawatan. Ternyata ruangan yang ia masuki bukan langsung ruang pasien, semacam ruang perantara tempat pengunjung bisa melihat pasien yang di rawat dari balik kaca, dan di sana ada beberapa keluarga pasien tengah melihat keluarganya yang terbaring lemah dari kejauhan. Pemandangan seperti ini bisa disaksikan saat jam besuk, setelah jam besuk habis, kaca-kaca besar itu akan ditutup gorden. Faisal mengenali sosok laki-laki yang tengah berdiri menghadap kaca membelakanginya, itu Mas Rendi, disampingnya seorang wanita berhijab, Faisal yakin itu pasti itu Kharisa.
"Neng....Mas Rendi....." Faisal menyapa mereka, yang merasa disebut namanya langsung menoleh.
"A Isal......." Kharisa dengan reflek memburu Faisal dan memeluknya.
"Rakha A....Rakha masih belum sadar......" isaknya, ia membenamkan wajahnya di dada Faisal, membuat Faisal tertegun, kaget juga dengan perlakuan Kharisa, selama mengenal dan dekat dengan Kharisa belum pernah mereka sampai bersentuhan fisik kecuali saat wisuda mereka saling bersalaman, itu pun karena eforia keberhasilan mereka sebagai ungkapan selamat dan berterima kasih karena saling membantu, saling mendukung hingga mereka sama-sama meraih kelulusan dengan hasil membanggakan. Apalagi Faisal sangat menjaga untuk tidak bersentuhan dengan yang bukan mahram. Dan kini tanpa diduga Kharisa memeluknya, sepertinya tanpa disadarinya, pasti karena beratnya beban yang sedang ditanggungnya saat ini, merasa Faisal sebagai orang yang selalu ada disaat ia susah, yang selalu membantu dan mendukungnya. Kharisa menumpahkan kesedihannya pada laki-laki yang ikut membesarkan dan mendidik Rakha, namun Faisal hanya bergeming, tidak membalas pelukan wanita yang beberapa waktu lalu memintanya untuk menjadi ayah bagi Rakha
"A, kenapa Allah terus saja menguji aku? Aku merasa Allah gak adil, apa dosaku begitu banyak hingga Allah terus saja menguji aku?" ujarnya sambil terisak dengan genangan air mata hingga membasahi baju Faisal. Faisal masih diam terpaku, namun dadanya terasa bergemuruh, ingin rasanya ia membalas merangkul tubuh wanita tegar namun kini terlihat lemah, tapi tak mungkin ia lakukan.
"Eu...Neng...." Faisal terlihat bingung, apa yang harus ia lakukan untuk melepaskan pelukan Kharisa. Akhirnya ia memegang bahu Kharisa, mendorongnya hati-hati, hingga terlihat wajah sembab dan pipi basahnya.
"Eh...oh...maaf A, maaf....aku reflek tadi." Kharisa baru sadar kalau ia memeluk Faisal, pipinya yang basah memerah, bercampur rasa malu, ia mundur beberapa langkah dari Faisal.
"Gak apa-apa Neng." Faisal pun terlihat salah tingkah. Rendi yang berada di belakang mereka pura-pura tidak melihat, tapi senyum-senyum melihat tingkah adiknya yang kebablasan, ia tau Faisal laki-laki yang memiliki prinsip tidak bersentuhan dengan yang bukan mahram.
"Sabar ya Neng, ini ujian dari Allah, Allah ingin Neng lebih dekat denganNya, Allah ingin Neng menjadikanNya satu-satunya tempat bergantung, tempat meminta pertolongan. A Isal yakin Neng bisa melewati ini semua, yang penting kita tetap berikhtiar, oh ya,....A Isal ingin lihat Rakha, bisa?"
__ADS_1
"Di dalam ada Mama dan Mama Lisna, setelah mama keluar A Isal bisa masuk." Kharisa menyeka pipinya yang basah, rasanya matanya sudah perih karena menangis, juga karena semalam kurang tidur.
Tak berapa lama kemudian mama dan mama Lisna keluar. Rafael menyalami mama dan mama sambung Kharisa, hanya kepada yang dianggap orang tua ia mau bersalaman. Faisal masuk ke ruang perawatan pasien didampingi Kharisa. Betapa perih hatinya melihat anak asuhannya yang terbaring lemah dengan alat-alat medis yang menempel di tubuhnya.
"Assalamualaikum Rakha...." Ia membelai rambut Rakha.
Ya Allah panjangkan umurnya, ia sumber kebahagiaan kami. Gumamnya dalam hati. Ia pun mengangkat kedua tangannya, berdoa khusus untuk kesembuhan Rakha.
"Allahumma rabban naas mudzhibal ba’si isyfi antasy-syaafii laa syafiya illaa anta syifaa’an laa yughaadiru saqoman."
"Ya Allah Wahai Tuhan segala manusia, hilangkanlah penyakitnya, sembukanlah ia. Hanya Engkaulah yang dapat menyembuhkannya, tidak ada kesembuhan melainkan kesembuhan dariMu, kesembuhan yang tidak menyisakan rasa sakit." Ia kembali mengusap-usap kepala Rakha.
"Rakha, ini Om Isal datang mau ketemu Rakha, bangun yuk sayang." Ujar Kharisa dengan suara bergetar, ia berada di sisi sebelahnya, menggenggam tangan yang terpasang infus. Namun rupanya Rakha masih belum mau membuka matanya, masih betah berada di alam mimpinya.
Terdengar lantunan ayat suci yang keluar dari mulut Faisal, ia melantunkan surat Ar Rahman di sisi Rakha dengan suara pelan, agar tidak mengganggu pasien lain, tapi ia yakin Rakha bisa mendengarnya, dan berharap Rakha sefera membuka matanya. Di balik dinding kaca tempat pengunjung tampak Rafael berdiri memperhatikan kebersamaan Faisal bersama Kharisa dan Rakha, entah apa yang ada dalam pikirannya.
"Sarah....?"
"Lisna...." Mami Rafael berdiri dengan wajah tertegun melihat wajah yang dikenalnya, walaupun sudah banyak perubahan namun ia masih hapal banget siapa wanita di depannya ini. Begitu pun dengan mama Lisna ia masih mengingat dengan baik siapa wanita di depannya. Mereka bersalaman dan berpelukan. Benar mereka saling mengenal, sepertinya pernah dekat.
"Lama tidak ketemu, apa kabar?" Tanya mama Lisna.
"Aku baik, kamu sendiri gimana kabarnya?" Tentu saja mami Rafael bisa menduga kalau wanita dihadapannya ini tidak baik-baik saja, tubuhnya terlihat lebih kurus, rambutnya pun terlihat lebih tipis.
"Kamu bisa lihat sendiri, aku sedang menjalani terapi Cancer." Jawab Mama Lisna, ia tidak mali-malu lagi penyakitnya diketahui orang lain. Mami Rafael menganggukan kepalanya, ia memang sudah mengetahui itu, bahkan mengetahui kalau Lisna dimadu, dan madunya adalah ibu dari wanita yang menjadi ibu dari cucunya. Tapi tunggu, barusan Lisna keluar dari ruangan pasien bersama madunya, saling bergandengan, dan Lisna berarti baru saja menengok Rakha. Berarti hubungan Lisna dengan madunya baik- baik saja?
"Kamu sedang apa di sini? Ini putramu?" Tanya mama Lisna.
__ADS_1
"Ya ini putraku yang kedua." Richan yang tengah duduk langsung berdiri, tersenyum, kemudian menyalami mama Lisna.
"Cucuku di rawat di dalam, keadaannya masih belum sadar."
"Kok bisa sama, cucuku juga keadaannya masih belum sadar."
"Cucuku namanya Rakha, terkena DHF, dua hari yang lalu mengalami aspirasi yang membuatnya sesak nafas dan tak sadarkan diri."
"Rakha...? Jadi....?" Mama Lisna tau seperti apa kisah putri sambungnya, tidak diterima oleh keluarga ayah dari putranya.
Dan kini dua wanita yang ternyata sahabat lama itu tengah berada di sebuah cafetaria rumah sakit. Ternyata mereka bersahabat sejak kuliah hingga sama-sama bekerja di perusahaan yang sama. Lebih dari tujuh tahun hubungan persahabatan mereka terjalin hingga mereka berpisah setelah mami Rafael menikah karena dijodohkan.
"Mas Dewa tidak pernah mengkhianatimu, ia meninggalkanmu demi kebaikanmu, ia hanya pura-pura menjalin hubungan dengan Wina agar kamu membencinya dan kamu tidak merasa berat berpaling darinya. Papamu yang meminta Mas Dewa meninggalkanmu karena telah menjodohkanmu dengan suamimu. Jadi jika kamu ingin membalas sakit hatimu pada Mas Dewa melalui Kharisa, itu salah. Kharisa tidak tau apa-apa dan tidak ada hubungan dengan cerita masa lalumu dengan Mas Dewa."
"Dan dugaanmu Mas Dewa telah menyakitiku dengan memiliki istri lagi itu salah juga. Mas Dewa memang membagi cintanya, tapi itu karena peemintaanku, aku yang meminta Mas Dewa menikah lagi, bahkan istrinya Dewi itu aku yang memilihnya, aku yang memintanya, hubungan kami bertiga juga baik, Kharisa pun aku anggap sebagai putriku, begitu pun dengan anak-anakku, Dewi menganggap sebagai anaknya."
"Sekarang kita sudah tua, entah berapa tahun lagi sisa umur kita di dunia, dan kini saatnya kita membahagiakan anak-anak kita, membahagiakan mereka.
"Aku memang menolak Kharisa karena sakit hati dengan Mas Dewa, benci juga pada mamanya karena aku pikir Mas Dewa juga menyakiti kamu Lis. Aku tidak rela Mas Dewa memberikan cintanya pada perempuan lain, aku ikhlas Mas Dewa bersamamu, hanya kamu, yang pantas mendapatkan mas Dewa."
"Yang sudah terjadi biarlah terjadi, sekarang tinggal kita memperbaiki. Aku yakin Kharisa akan memaafkanmu, dia anak yang baik, hanya kamu harus bersabar, dia sedikit keras kepala."
"Aku senang bisa bertemu lagi dengan kamu, dan ternyata kita memiliki cucu yang sama."
bersambung
Cung siapa yang tebakannya betul kalau mami Rafael punya cerita masa lalu dengan papa Kharisa?🤗
__ADS_1