Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku
Kisah Masa Lalu


__ADS_3

Karyawan baru yang berjumlah dua belas orang kini tengah berada di ruangan auditorium yang telihat elegant layaknya auditorium di hotel berbintang. Mereka duduk di kursi yang ditata setengah lingkaran di tengah-tengah ruangan, di depannya telah terpampang layar proyektor menampilkan gambar bangunan rumah sakit tampak dari depan dengan tulisan:


...Selamat Datang...


...di Rumah Sakit Setya Medika...


...Kepuasan Pasien adalah Prioritas Kami...


Kharisa duduk di tengah, disebelah kirinya ada Arjuna yang tadi sempat berkenalan, ternyata ia seorang dokter umum, kini ia menggunakan jas putihnya yang tadi disimpan di tas ranselnya. Di sebelah kanannya seorang perawat, terlihat dari baju yang dipakainya khas baju perawat berwarna putih, ada enam orang yang menggunakan baju khas perawat, dua diantaranya laki-laki, aqda satu orang lagi laki-laki menggunakan jas dokter, dan tiga orang lagi perempuan berpakaian bebas tapi sopan sama dengan Kharisa, tapi belum tau profesinya sebagai apa. Rata-rata masih muda, seumuran dengan Kharisa sepertinya, hanya dua dokter tampan yang terlihat lebih tua dua atau tiga tahun dibandingkan yang lainnya.


Pak Hari Darmawan memberikan pengarahan terlebih dahulu, sekaligus perkenalan, ia mengenalkan dirinya sebagai staf HRD, kemudian meminta masing-masing karyawan baru mengenalkan dirinya. Ternyata tiga perempuan yang berbaju bebas itu seorang analis, asisten apoteker dan ahli gizi dan perawat yang duduk di samping Kharisa bernama Widya berasal dari Jakarta, orang tuanya tinggal di daerah Cilandak Jakarta Selatan, membuat Kharisa teringat dengan papanya yang juga tinggal di daerah Jaksel. Apa di Jakarta lebih sulit mencari pekerjaan hingga mengambil pekerjaan di sebuah kota kecil, tentu standar gajinya juga juga dibawah standar gaji ibu kota, walaupun memang biaya hidup di Jakarta lebih lebih tinggi, tapi setidaknya kalau orang tuanya tinggal di Jakarta, tidak perlu mencari kontrakan, tidak perlu mengeluarkan biaya untuk sewa. Mungkin saja Widya punya pertimbangan lain, pikir Kharisa. Begitulah Kharisa selalu penasaran dengan keputusan orang lain, bukan karena kepo, tapi lebih ingin mendapatkan ilmu dan pengalaman dari perjalanan hidup orang lain.


Pak Hari menyampaikan kegiatan yang harus diikuti oleh karyawan baru, yaitu masa orientasi selama tiga hari. Dua hari orientasi gabungan, dan satu hari orientasi di masing-masing divisi di hari terakhir. Orientasi gabungan dilakukan di auditorium, masa orientasi ini karyawan baru akan mendapatkan informasi atau pengetahuan yang berkaitan dengan pelayanan rumah sakit seperti company profile rumah sakit, tata tertib karyawan dan budaya kerja, patien safety, pencegahan infeksi nosokomial, excelent service, dan yang menarik bagi Kharisa ia akan mendapatkan materi Basic Life Support di hari ke dua, ternyata di rumah sakit ini tidak hanya petugas kesehatan saja yang mendapatkan materi itu, seluruh karyawan baru pasti diajarkan cara pertolongan pertama pada orang yang tiba-tiba tidak sadarkan diri, atau pingsan dan yang mengalami henti nafas dan henti jantung. Berarti ia akan diajarkan bagaimana cara melakukan Resusitasi Jantung dan Paru, pasti akan menjadi ilmu dan pengalaman yang sangat berarti.


"Minimal karyawan harus tau cara memberikan pertolongan, lebih bagus lagi bisa memberikan pertolongan tidak hanya kepada pasien tapi kepada siapa pun dan dimanapun yang membutuhkan sebagai tindakan pertolongan pertama sebelum ditangani oleh petugas medik." Jelas Pak Hari.


Saat Pak Hari masih memberikan pengarahan, tiba-tiba ia menganggukan kepalanya dengan senyum tersungging di bibirnya ke arah pintu masuk, rupanya ada seseorang yang masuk ke ruang auditorium.


"Silahkan ke depan Pak Andre." Ujar Pak Hari pada seseorang yang baru masuk ruangan, otomatis peserta yang hadir menoleh ke belakang, penasaran siapa yang datang.


Kharisa tertegun setelah tau siapa yang datang, laki-laki yang tadi dilihatnya keluar dari llift, seseorang yang mirip Rafael, ayah biologis dari putra kesayangannya. Ternyata namanya Andre, bukan Rafael. Laki-laki yang bernama Andre itu maju ke depan dan duduk di kursi dengan meja di depannya yang memang disediakan untuk pembicara.


"Silahlan lanjutkan Pak Hari, santai saja." Ujarnya.

__ADS_1


Ya sekarang makin jelas kalau dia bukan Rafael, hanya mirip saja di mata, hidung dan tekstur rahang yang tegas. Kharisa pun tidak tau wajah Rafael sekarang seperti apa, apa ada perubahan atau masih seperti dulu.


"Masih ada yang mau ditanyakan berkaitan dengan masa orientasi?" Tanya Pak Hari kepada seluruh peserta, tapi tidak terdengar sedikit pun jawaban dari peserta.


'Kalau tidak ada kita lanjutkan dengan materi yang pertama mengenai Company Profile Rumah Sakit yang akan disampaikan oleh Pak Andre Ananta Wirayudha, beliau bergabung sejak rumah sakit ini berdiri dua tahun yang lalu, jadi bisa dikatakan beliau ini perintis di sini, saat ini beliau menjabat sebagai Manajer Marketing, dan status beliau....masih single atau sudah ada kemajuan berubah jadi double Pak Andre?" Canda Pak Hari, rupanya Pak Hari dan Pak Andre merupakan rekan kerja yang cukup dekat, tidak segan untuk saling bercanda. Pak Andre pun langsung nyengir, kalau sudah urusan status pasti ia jadi bahan bulanan rekan kerjanya, bagaimana tidak, ia laki-laki yang mapan, usianya pun hampir memasuki kepala tiga, wajah ganteng, postur tubuh proporsional, cerdas, pekerja keras, memiliki masa depan karir yang bagus, tapi sayang statusnya single alias jomblo.


"Ya, untuk status nanti bisa tanya langsung kepada Pak Andre. Oke dari saya cukup, selanjutnya saya persilahlan Pak Andre untuk menyampaikan Company Profile Rumah Sakit." Pak Hari menyerahkan mikrofon yang di pegangnya kepada Pak Andre.


Pak Andre pun mulai membuka dengan memperkenalkan diri, ternyata ia aslinya dari Bandung, lahir dan besar disana, melanjutkan kuliah di salah satu universitas di Singapura jurusan Manajemen Bisnis. Kharisa jadi teringat kakaknya, Mas Rendi, tepatnya kakak sambungnya yang sama kuliah di Singapura, tapi lupa nama universitasnya, Mas Rendilah kakak yang paling menganggap ia adiknya diantara tiga kakak sambungnya yang semuanya laki-laki. Jadi kangen sama Mas Rendi, batin Kharisa.


"Sebetulnya saya hanya menggantikan Direktur dan Wadir untuk menyampaikan materi ini, Direktur berhalangan karena harus meeting di rumah sakit pusat, dan wadir harus memimpin morning meeting yang biasa dilaksanakan setiap hari Senin. Semoga apa yang saya sampaikan bisa menumbuhkan rasa cinta, rasa memiliki terhadap rumah sakit ini. Oh ya sebelumnya saya ucapkan selamat bergabung di Rumah Sakit Setya Medika."


"Rumah sakit ini merupakan cabang dari rumah sakit Setya Medika yang di Jakarta yang sudah berdiri sejak lima belas tahun lalu, tentu saja memiliki visi dan misi yang sama, berarti standar pelayanannya pun sama dengan mengutamakan kepuasan pasien. Visi misi rumah sakit ini bisa di lihat, ayo kita baca sama-sama. Visi..............." Peserta pun membaca bersama -sama visi misi rumah sakit yang terpampang di layar.


"Visi misi ini harus kalian hapal, dan ini menjadi acuan saat kita bekerja."


Sejak saat itu persepsinya yang menganggap anak club basket yang terkenal urakan, playboy, sukanya menggoda anak-anak cheers leader mulai memudar, tidak semua seperti itu, Rafael mulai terlihat berbeda dari temannya di club basket. Ia yang tergabung dalam eskul cheers leader jadi banyak kesempatan untuk sering bertemu dengan kakak seniornya itu, baik saat latihan atau saat momen perlombaan.


Ingatannya semakin dalam masuk ke masa saat pertama kali kenal dengan Rafael.


"Kenapa...?" Tanya Rafael saat melihat Kharisa terduduk di pinggir lapangan basket sekolahnya dengan wajah meringis sambil memegang pergelangan kaki kirinya, tadi ia berjalan tertatih dari tengah lapangan menghentikan latihannya, sementara teman yang lainnya masih meneruskan latihannya.


"Sepertinya keseleo." Jawabnya masih sambil meringis. Rafael yang berada di dekatnya mau tidak mau berusaha untuk menolongnya.

__ADS_1


"Coba buka sepatunya." perintah Rafael, kemudian ia mengambil sesuatu dari dalam tasnya, sebuah salep pereda nyeri yang biasa ia gunakan kalau nyeri pada ototnya atau terkilir.


"Sini..." Rafael hendak meluruskan kaki kiri Kharisa, baru saja tangannya menyentuh tumit Kharisa, Kharisa langsung menepisnya, bahkan seperti memukul punggung tangannya membuat Rafael terkejut.


"Jangan pegang." Hardik Kharisa, ekspresi wajahnya terlihat tidak suka.


"Aku hanya ingin meluruskan kakimu biar relaks, dan mengoles dengan salep ini." Jawab Rafael dengan sedikit ketus, rupanya ia tersinggung dengan sikap Kharisa yang menepis tangannya dan menghardiknya, padahal niatnya tulus ingin menolongnya.


"Aku bisa sendiri." Jawab Kharisa tak kalah ketusnya, lalu mengambil salep di tangan Rafael dan mengoleskannya pada pergelangan kaki kirinya.


Sejak kejadian itu Rafael mulai mendekati kharisa, dari mulai menyapanya, mengajaknya ngobrol, memberikan minuman isotonik saat istirahat latihan, hingga mengajaknya pulang bareng, mengantar Kharisa pulang maksudnya. Walaupun awalnya Karisa selalu berusaha menjauh dan menghindar hingga setelah tahu kalau Rafael juga kakak kelas yang berprestasi ia mulai membuka hatinya untuk menyukai Rafael, yang ternyata banyak disukai oleh siswi lain baik teman seangkatan Rafael, maupun adik kelasnya. Hingga akhirnya Rafael menyatakan cintanya, Kharisa pun menyambut perasaan Rafael dengan perasaan yang sama.


"Coba kamu, sebutkan nama dan dari divisi mana?" Samar-samar terdengar suara seseorang bertanya tapi Kharisa masih berada di alam bawah sadarnya, hingga ia tersadar saat seseorang mengetukan balpoint di punggung tangannya.


"Hey, kamu ditanya Pak Andre." Bisik Arjuna pada Kharisa.


"Eh...iya Pak, maaf bisa diulangi Pak?"


bersambung.......


Alhamdulillah bisa Up lagi. Sabar yah readers, ternyata masih belum saatnya Kharisa bertemu Rafael. Habis Rafaelnya belum mau pindah ke rumah sakit cabang, coba aja mau pindah, pasti ketemu tuh dua orang yang saling mencari cinta masa lalunya.


Ayo dukung dengan like dan komennya yah, biar Othor semangat😁🤗

__ADS_1


Salam hangat.


Umi Haifa


__ADS_2