
Setengah jam sebelum jadwal pesawat yang ditumpangi Kharisa landing di bandara Changi, Rafael sudah stand by di sana untuk menjemput Kharisa, ia tidak ingin Kharisa lebih dulu naik taksi karena ia telat menjemput. Berkali-ali ia melihat jam di layar HPnya, merasa waktu berjalan begitu lambat. Sebetulnya ia tidak tenang meninggalkan Rakha walaupun ada mami dan kakaknya Richan yang menjaga putranya. Tadi Rakha sempat muntah walaupun hanya sedikit cairan yang keluar berwarna kecoklatan, dan itu mengganggu pikiran Rafael, dia curiga Rakha mengalami perdarahan lambung. Tadi ia langsung memberitau perawat disana dan langsung ditindak lanjuti oleh dokter yang merawat Rakha. Penanganan di rumah sakit itu termasuk cepat, petugasnya cepat tanggap, pantas saja rumah sakitnya terkenal sampai ke negara lain, hingga banyak pasien dari negara lain yang sengaja datang untuk berobat di sana.
Rafael berdiri dari duduknya saat mendengar pesawat yang ditumpangi Kharisa mendarat, ia mendekat ke pintu tempat keluar penumpang, padahal Kharisa dan mamanya pasti baru keluar pesawat dan harus melalui cek imigrasi, belum lagi mengambil koper atau barang-barang yang disimpan di bagasi. Ia berjalan mondar mandir, terlihat tidak tenang, entah kenapa ia ingat terus pada putranya. Kemungkinan Rakha harus dipasang selang NGT (Naso Gastric Tube), yang dipasang melalui hidung masuk ke lambungnya, tujuannya untuk memantau perdarahan lambungnya juga sebagai alat untuk membantu membersihkan lambungnya hila memang terjadi perdarahan di lambungnya, itu dugaan Rafael.
Ia pun menghubungi kakaknya menanyakan keadaan Rakha yang baru ia tinggal sekitar setengah jam yang lalu. Benar saja dugaannya, saat ia menghubungi kakaknya, dokter jaga sedang melakukan visit, melakukan observasi pada Rakha sekaligus menyampaikan instruksi dari dokter spesialis anak yang menangani putranya setelah tadi dikonsulkan, dan instruksinya adalah Rakha harus dipasang NGT. Rafael pun berkomunikasi langsung dengan dokter jaga lewat telpon kakaknya, ia meminta pemasangam NGT dilakukan setelah ia kembali ke rumah sakit, tentu saja ia ingin berada di samping Rakha saat dilakukan pemasangan selang melalui hidung yang pasti membuat Rakha takut bahkan menimbulkan rasa sakit dan tidak nyaman pada putranya.
Selesai beekomunikasi dengan dokter jaga, ia kembali memperhatikan pintu keluar penumpang, beberapa orang terlihat keluar dengan mendiring koper dan menenteng barang bawaannya, ia pun mengedarkan pandangan mencsri Kharisa dan mamanya. Tidak berapa lama terlihat dua wanita berhijab beda usia namun memiliki kemiripan wajah, berjalan cepat dengan wajah cemas sambil mendorobg kopernya, Rafael langsung menghampirinya.
"Assalamualaikum, biar saya yang bawa kopernya tante." Sapa Rafael sambil menarik koper yang di dorong mama Kharisa."
"Mari......, Risa sama tante tunggu di sana, saya ke tempat parkir dulu ambil mobil." Ujar Rafael lalu berjalan menuju tempat yang ditunjuknya.
"Sudah kubilang gak usah jemput, kenapa malah jemput, siapa yang jagain Rakha?" Kharisa sepertinya masih kesal pada Rafael.
"Ada mami dan Bang Richan yang jagain, tunggu sebentar yah." Rafael berjalan setengah berlari menuju tempat parkir mobilnya.
Perjalanan dari bandara menuju rumah sakit bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih setengah jam, Rafael mengemudikan mobilnya dengan kecepatan maksimal yang dibolehkan, ia tidak berani menaikan kecepatan walaupun ia ingin segera sampai di rumah sakit karena ini di negara orang dan negara yang termasuk disiplin menegakan peraturan.
Terdengar nada panggilan dari HP Rafael, ia mengambil HPnya di saku kemejanya, ia segera memasang earphone dan menerima panggilan yang ternyata dari kakaknya, pasti ada hal penting yang berkaitan dengan Rakha.
"Ya Bang?" Jawabnya sambil tetap berkonsentrasi menyetir.
"Apa.....?" Ekspresi wajah Rafael terlihat berubah, kaget campur cemas. Kharisa yang duduk di kursi penumpang di sebelahnya melihatnya dengan jelas.
"Lakukan saja yang terbaik, secepatnya Bang, Abang tanda tangan saja persetujuannya." Suara Rafael terdengar bergetar dengan wajah cemasnya, ia menambah kecepatan mobilnya berharap bisa segera sampai di rumah sakit, sepertinya terjadi sesuatu dengan putranya.
__ADS_1
"Ada apa El? Telpon dari siapa?" Tanya Kharisa dengan penuh khawatir, ia menduga yang barusan menelpon adalah kakaknya Rafael memberitahu kondisi Rakha. Kenapa Rakha? Apa yang terjadi dengan putranya? Rafael tidak menjawabnya.
"Rakha kenapa El, Rakha baik-baik saja khan?" Tanya Kharisa lagi, ia juga terlihat khawatir. Mama pun yang duduk di belakang menjadi ikut mengkhawatirkan cucunya.
"El kenapa kamu gak jawab? Rakha baik-baik saja kan?" Kharisa bertanya lagi karena Rafael masih belum menjawab pertanyaannya, entah apa yang disampaikan kakanya di telpon, yang jelas Rafael terlihat gusar.
"Aku belum tau kondisinya Sa, dokter lagi memeriksanya." Jawab Rafael, entah jujur atau tidak jawabannya.
"Aku tidak akan memaafkanmu kalau terjadi sesuatu pada Rakha El." Pipi Kharisa terlihat basah, entah karena rasa rindu pada putranya juga rasa khawatirnya terjadi sesuatu pada putranya atau hatinya yang masih jengkel dengan Rafael.
Akhirnya mereka tiba di dpan lobi rumah sakit. Rafael segera keluar, menyerahkan kunci mobil pada petugas yang biasa melayani valet parking, disusul Kharisa dan mama keluar dari mobil tanpa membawa kopernya.
Tanpa suara, tanpa banyak bertanya Kharisa mengikuti Rafael berjalan dengan cepat, karena ia idak tau Rakha dirawat di ruang mana. Mama sedikit tertinggal tapi berusaha menyesuaikan karena perasaannya tidak enak, merasa terjadi sesuatu pada cucu kesayangannya dan ingin segera bertemu dengan cucunya. Kharisa tidak tau Rakha dirawat di ruang mana, ia terus mengikuti Rafael hingga mereka masuk ke dalam lift kemudian keluar di lantai dimana ruang perawatan berada, namum Karisa terlihat mengerutkan keningnya saat membaca petunjuk arah di lantai itu. Intensive Care, Operating Room dan Rafael berhenti di depan pintu yang diatasnya bertuliskan PICU (Pediatrik Intensive Care Unit).
"Kenapa kesini El ? Dimana Rakha?" Kharisa mulai cemas kembali,ia semakin yakin kalau terjadi sesuatu dengan
"Ditangani dokter bagaimana?"
"Ayo masuk." Rafael bukannya menjawab, ia malah mangajak Kharisa dan Masuk.
Ternyata di ruang tunggu pasien, tampak Mami papi Rafael dan kakaknya Richan tengah duduk berkumpul, mata mami terlihat merah, pipinya basah. Mereka langsung berdiri saat melihat Rafael datang, disusul Kharisa dan mama di belakangnya.
"Mana Rakha? Mana anakku, aku ingin bertemu Rakha." Kharisa langsung menanyakan keberadaan putranya, suaranya terdengar kencang, membuat penunggu pasien lain menoleh padanya.
" Tenang dulu Sa....."
__ADS_1
"Bang, Pih apa yang terjadi pada Rakha? bagaimana keadaannya?"
"Rakha mengalami aspirasi saat muntah, GCS 3, sekarang sedang tindakan intubasi." jawab Papi Rakha. Ia baru datang ke rumah sakit namun sempat mendengar penjelasan dokter yang merawat Rakha.
"Ya Allah......" Tubuh Rafael terlihat lemas, wajahnya terlihat syok mendengar jawaban papanya. Ia menyesal kenapa tadi meniggalkan Rakha.
"Kenapa El? Kenapa dengan Rakha? Apa yang terjadi padanya?" suara Kharisa kembali menjadi pusat perhatian, ia bertanya karena jawaban papi Rafael yang menggunakan istilah medik tidak bisa ia pahami.
"Maafkan aku Sa...." Rafael menatap Kharisa dengan mata berkaca-kaca, berat rasanya menyampaikan keadaan Rakha pada Kharisa.Ia sendiri masih tidak percaya kalau kondisi Rakha menurun bahkan mengalami henti nafas, dan coma. Tiba-tiba terpikir hal buruk terjadi pada putranya.
"Rakha coma." Tentu saja Kharisa dan mamanya terkejut dan syok."Kharisa menggelengkan kepalanya. Ia berjalan menuju pintu ruang rawat inap pasien PICU yang tertutup, mencoba membuka handle pintu, namun pintunya terkunci.
"Tidak mungkin.....aku ingin bertemu Rakha, aku ingin melihat anakku." Ucap Kharisa dengan suara bergetar dan berlinang air mata. Tiba-tiba ia berbalik ke arah tempat duduk keluarga Rafael.
"Apa yang kalian lakukan pada anakku? Dari dulu kalian memang tidak pernah mengharapkannya, tapi kenapa kalian harus menyakitinya, dia tidak berdosa, harusnya aku saja yang kalian sakiti, jangan anakku." Ucapnya penuh amarah, mama mendekatinya menenangkan putrinya.
"Sudah Sa....jangan seperti ini." Mama meraih bahu putrinya, sementara mami Rafael terlihat terpukul, air matanya tak henti-henti mengalir di pipinya, terlihat wajah penyesalan yang teramat dalam.
"Mereka dari dulu memang selalu menyakiti aku dan anakku Mah, apa kalian tidak cukup dengan menyakitiku, menolakku?" Ucapnya lagi.
"Tidak seperti itu Sa, mereka sangat menyayangi Rakha....." Rafael mendekat, ingin rasanya ia memeluk Kharisa saling memberi kekuatan, ia pun saat ini dalam kondisi rapuh.
"Kalau kalian menyayangi Rakha, kenapa kalian membiarkannya mengalami hal seperti ini? Kalian lebih paham dunia medis, tapi kenapa membiarkan Rakha coma, itu yang disebut sayang sama Rakha." Tubuh Kharisa bergetar, ia tak kuasa lagi berdiri, tubuhnya melorot di lantai, Rafael yang melihat keadaan itu, segera meraih tubuh Kharisa ke dalam pelukannya.
"Maafkan aku Sa...maafkan aku......"
__ADS_1
bersambung