
" Kharis barang-barangmu yang akan dibawa sudah dimasukan semua kan?" Mama melihat koper Kharisa yang masih terbuka. "Ini mau dibawa?" Beberapa stel baju Kharisa masih tergeletak di tempat tidur, kemudian Mama menyimpannya ke dalam koper.
"Mah aku gak mau pergi Mah, kita ikuti saja keinginan Papa, aku juga gak mau hamil Mah, aku gak mau punya anak, aku masih ingin sekolah." Kharisa terisak lagi, kalau disuruh memilih ia bersedia menggugurkan janinnya, ia sendiri belum siap punya anak dengam kondisi seperti sekarang, hamil dan punya anak di luar pernikahan tidak pernah ada dalam mimpinya, ditambah ayah si janin sampai saat ini tidak ada kabarnya, entah akan bertanggung jawab atau tidak, tapi itulah yang sekarang terjadi padanya harena kesalahan yang ia buat sendiri, tidak bisa menjaga mahkota kehormatannya.
"Khariiis....Mama tidak mau berdebat lagi, setelah sarapan kita langsung berangkat, sebelum nanti siang Papamu datang." Mama sadar putrinya masih belum bisa berfikir dewasa, masih labil, dan mudah dipengaruhi sehingga sering berubah-ubah dalam mengambil keputusan. Semalam ia sudah setuju akan pergi dengan Mamanya, sekarang kembali ragu.
"Mah apa kata orang nanti, aku hamil di luar nikah, apa kata teman-temanku kalau tau, aku gak mau hamil mah, aku mau menggugurkannya saja." Kharisa mulai terisak lagi.
"Kharis, kamu mau jadi pembunuh? pembunuh anakmu sendiri? Mama gak mau kamu jadi pembunuh sayang. Kita akan merawat dan membesarkannya bersama-sama, Mama yakin kamu akan menyayanginya setelah ia lahir" Mama mengelus kepala putrinya dengan penuh sayang, walaupun hatinya sakit dengan perbuatan dosa yang dilakukan putrinya, tapi tetap rasa sayang kepada putrinya lebih besar, ia tidak mungkin meninggalkan putrinya dalam kesusahan, tidak akan membiarkan putrinya terjerumus ke dalam jurang dosa yang lebih dalam. Bahkan untuk melindungi putrinya ia rela berpisah dengan laki-laki yang dicintainya, meninggalkan kebahagiaan bersama suaminya, ia rela melakukan itu semua. Toh ia tidak akan menjadi durhaka meninggalkan suami yang mengajaknya melakukan perbuatan dosa, justru ia ingin melindungi dirinya dan putrinya dari azab api neraka .
"Mah....Karin belum ingin punya anak, gimana sekolahku nanti? Aku ingin kuliah, gimana dengan cita-citaku Mah?"
"Kalau kamu belum ingin punya anak, kenapa kamu melakukan perbuatan hina itu? Sekarang kamu harus bertanggung jawab dengan akibatnya." ujar Mama tegas.
" Maaah......." Lirih Karina
"Oke....kalau kamu tidak mau pergi dari sini tidak masalah, tapi Mama tetap akan pergi. Mama tidak mau menanggung dosa lagi untuk yang kedua kalinya, cukup sekali saja kesalahan Mama tidak bisa menjaga dan mengawasi kamu dengan baik." Air mata mama mulai menggenang dan menetes di pipinya, membuat Kharisa merasa bersalah.
"Bereskan lagi baju-bajumu ke dalam lemari sebelum Papa datang, tapi maafkan Mama , Mama tetap akan pergi." Mama keluar dari kamar Kharisa menuju kamarnya. Sementara Kharisa buru-buru turun dari tempat tidurnya segera mengejar Mamanya.
"Mah....aku ikut Mama." teriaknya, namun Mamanya sudah masuk ke dalam kamarnya. Kharisa pun membuka pintu kamar Mamanya tanpa mengetuknya. Mama langsung menoleh dan menghentikan kegiatannya, ia baru saja memasukan perhiasan berharganya ke dalam tas yang pasti akan ia butuhkan.
"Mah aku ikut Mama...." ucap Kharisa.
"Syukurlah.....Mama tidak bisa jauh darimu sayang, Mama sayang kamu Nak." Mereka saling berpelukan dengan air mata yang kembali berjatuhan.
"Aku juga tidak bisa jauh dari Mama....Aku sayang Mama." Tentu saja selama ini Kharisa tidak pernah jauh dari Mamanya untuk waktu yang lama, hanya dua sampai tiga hari saja Mama meninggalkan Kharisa bila harus menemani suaminya ke luar kota atau ke luar negri. Itu pun jarang sekali, malah seringnya Kharisa yang ikut kalau pas libur sekolah.
"Kalau gitu, ayo kemasi barang-barangmu yang mau dibawa, lalu kita sarapan." Kharisa pun menganggukan kepalanya dan beranjak meninggalkan kamar mamanya.
Terlihat di meja makan telah tersedia makanan yang disiapkan Bi Nani untuk sarapan. Saat Mama hendak duduk di kursi ia melihat sebuah travel bag di dekat meja makan, itu bukan punya Kharisa, lalu punya siapa?
"Bi Nani.....Bi......" Sambil menunggu Kharisa Mama memanggil asisten rumah tangganya yang sudah dianggapnya seperti saudara.
__ADS_1
"Ya Bu...." Bi Nani pun menghampiri Mama.
"Ini tas siapa?"
"Oh....itu punya saya Bu." jawab Bi Nani sambil menunduk
"Loh Bi Nani mau kemana? Mau pulang kampung?" Mama terlihat keheranan.
"Saya mau ikut Ibu." Rupanya Bi Nani mengetahui majikannya akan pergi dari rumah, padahal Mama tidak pernah memberitahu Bi Nani.
"Bibi tau saya mau pergi?"
"Maaf Bu, saya tidak sengaja mendengar ibu bicara dengan Neng Kharis. Ijinkan saya ikut bersama Ibu dan Neng Kharis Bu."
"Bi....kehidupan saya ke depan mungkin tidak akan sama seperti sekarang, saya belum tentu bisa menggaji Bi Nani, sebaiknya Bi Nani tetap di sini."
"Kalau Ibu dan Neng Kharis tidak ada, Bapak pasti tidak akan tinggal di rumah ini, tidak akan ada pekerjaan yang harus saya lakukan, saya pasti dipulangkan oleh Bapak, dari pada saya pulang ke kampung lebih baik ikut Ibu, Ibu gak usah mikirin harus ngegaji saya, asal saya bisa bersama Ibu dan Neng Kharis itu cukup buat saya, jadi mohon ijinkan saya ikut Ibu." Ucapan Bi Nani sepertinya sungguh-sungguh.
"Bu...bukankah ibu pernah bilang sudah menganggap saya saudara ibu, walaupun saya merasa tidak pantas, jadi Ibu tidak usah merasa tidak enak."
"Bi Nani jangan bicara seperti itu, saya memang menganggap Bi Nani seperti saudara sendiri."
"Kalau begitu ijinkan saya ikut Ibu." Bi Nani keukeuh ingin ikut majikannya yang sangat baik padanya.
"Ya udah Bi Nani boleh ikut saya." Bi Nani terlihat sumringah.
"Terima kasih Bu, kalau gitu saya beres-beres dulu, masih ada barang yang akan saya bawa." Bi Nani bergegas menuju kamarnya.
Waktu menunjukan pukul setengah delapan pagi saat Kharisa dan Mama menikmati sarapannya, Rencananya mereka akan meninggalkan rumah pukul delapan.
Ting......Ting.......
Mama membuka HP nya, ada pesan masuk yang ternyata dari suaminya.
__ADS_1
"Jam sembilan temanin aku undangan."
"Kamu siap-siap, aku sudah di jalan."
Sontak mama terkejut dengan pesan suaminya, berarti ia harus segera meninggalkan rumah ini.
"Kharis...kita harus segera pergi sekarang, Papa sedang di jalan menuju ke sini. Keluarkan koper dan barang-barangmu, mama pesan taksi sekarang." Mama segera menghubungi no yang disimpan di HPnya untuk memesan taksi.
"Bi Nani.....Bi...."
"Ya Bu...?" Bi Nani segera menghampiri Mama.
"Bi...Bawa koper, tas ke teras, kita akan pergi sekarang, saya sudah pesan taksi, sekalian hubungi Pak Anwar suruh ke sini sekarang juga." Bi Nani segera menghubungi Pak Anwar supir pribadi majikannya, kemudian membawa koper dan travel bag ke teras sambil menunggu taksi datang.
Sepuluh menit kemudian taksi yang dipesan sudah ada di depan rumah, Bi Nani dibantu Pak Anwar memasukan koper dan travel bag ke dalam bagasi.
"Pa Anwar....jangan pulang dulu yah, tunggu Bapak mau ke sini sedang di jalan, nanti kunci rumahnya kasihin ke Bapak yah." Mama tidak menyebutkan akan pergi ke mana, Pak Anwar pun tidak bertanya majikannya akan pergi kemana, disangkanya akan pergi berlibur, dan akan menuju bandara, ia sama sekali tidak curiga kalau Mama, Kharisa dan Bi Nani akan meninggalkan rumah ini, entah sampai kapan, mungkin sementara atau selamanya tidak akan kembali ke rumah ini.
"Ayo masuk Kharis, kamu duduk di depan, ayo Bi....." Mama masuk ke mobil terlebih dahulu diikuti Bi Nani
"Mah Kharis mau pipis dulu bentar yah." Kharisa berlari kecil masuk ke dalam rumah, ia menyimpan HPnya di meja tempat memajang foto keluarga sebelum masuk ke kamar mandi di dekat ruang tengah. Selesai dengan urusannya Kharisa dengan tergesa-gesa keluar menuju mobil, ia tidak ingin mamanya menunggu terlalu lama. Setelah Kharisa duduk di kursi penumpang, mobil pun melaju meninggalkan rumah yang selama ini menjadi tempat yang nyaman bagi mereka.
Suasana di dalam mobil taksi itu begitu hening, tidak ada seorang pun yang bersuara. Mama tidak menampakan kesedihan di raut wajahnya, ia berusaha menguatkan dirinya untuk ikhlas meninggalkan kebahagiaan bersama suaminya, toh sekarang ia dan suaminya telah berbeda prinsip dan ia tidak akan pernah menuruti perintah suaminya untuk menggugurkan calon cucunya sendiri yang sedang tumbuh dan berkembang di rahim putrinya, ia tidak ingin menunjukan kesedihannya walaupun sebenarnya hatinya sakit, perih, ia harus menutupinya.
Saat mobil taksi sedang melaju pelan karena antrian kendaraan di depannya, Mama melihat mobil Papa dari arah berlawanan, tentu saja Papa akan menuju ke rumah untuk menjemput Mama, entah bagaimana reaksinya saat tidak menemukan Mama dan putrinya di rumah.
Maafkan aku Mas....mungkin aku bukan istri yang baik untukmu. Maafkan aku meninggalkanmu, aku tidak bisa hidup bersamamu dalam bayang-bayang rasa bersalah dan dosa. Selamat tinggal Mas......
Sementara Kharisa menatap jalanan dengan pandangan kosong, ia sudah pasrah mengikuti arahan Mamanya karena ia percaya Mama sangat menyayanginya pasti tidak akan membiarkan ia menderita, ia hanya menyesalkan kenapa sampai harus meninggalkan papanya, ia juga menyayangi papanya walaupun kemarin ia merasakan kemarahan papanya, tapi ia yakin papanya juga sangat menyayanginya.
Pa... maafkan Kharisa, karena Kharisa kita jadi seperti ini, semoga ini hanya sementara kita berpisah, semoga Papa memaafkan Kharis. Selamat tinggal Pah.
bersambung*.........
__ADS_1