Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku
Memantaskan Diri


__ADS_3

Weekend kali ini Rafael pulang untuk menengok maminya yang katanya masih sakit, sejak kejadian maminya mengalami serangan jantung ringan karena Rafael membatalkan pertunangan dengan Vania, hingga kini kondisi kesehatannya masih belum pulih, itu yang dikatakan maminya saat dihubungi lewat telfon.


"Gimana keadaan mami?" Tanya Rafael pada maminya saat dihubungi dua hari yang lalu. Bagaimana pun ada perasaan bersalah pada diri Rafael, maminya mengalami serangan jantung walaupun ringan itu karena tindakannya, membatalkan pertunangan tanpa dibicarakan lagi dengan mami papinya.


"Badan mami masih lemes, kadang tiba-tiba dada mami terasa nyeri, kalau sesaknya sudah berkurang, mami belum kuat keluar rumah." Jawab mami dengan suara lemah.


"Libur besok kamu pulang kan? Mami kangen sama cucu mami, ajak Rakha ke sini yah." Begitulah sang mami sekarang merindukan cucunya tapi tetap tidak mau menerima ibu dari cucunya. Tapi Rafael tetap menunjukan rasa sayang pada maminya,saiap tau dengan cara itu maminya bisa luluh mau menerima Kharisa.


Keinginan maminya untuk bertemu Rakha pun ia turuti walaupun sempat bersitegang dengan Kharisa yang sempat tidak memberi ijin Rakha dibawa Rafael menginap di Jakarta.


"Kamu bilang tidak akan membatasi aku sama Rakha, sekarang aku mau ajak Rakha kamu keberatan. Begini kan gak enaknya kalau kita hidup masing-masing."


"Aku gak pernah batasin kamu ketemu dengan Rakha, tapi kalau untuk dibawa menginap di rumah kamu aku keberatan, kamu tau alasannya." Bantah Kharisa.


"Sudah kubilang mami papi aku menyayangi Rakha, ini juga permintaan mami karena ia kangen cucunya, dan kondisi mami sekarang belum pulih total, kalau mami sehat aku akan suruh mami yang datang ke sini untuk ketemu Rakha, please ya Sa, siapa tau karena Rakha mami akan merestui hubungan kita." Kharisa hanya terdiam, entah kenapa setiap mengingat mami Rafael, hatinya masih terasa perih, selalu terbayang bagaimana sikap maminya Rafael yang mengacuhkannya juga Rakha, seolah luka yang telah kering kembali basah, karena luka itu belum sembuh sepenuhnya, walaupun hati kecilnya selalu berusaha untuk memaafkan Mami Rafael, melupakan sikapnya yang menyakitkan hati Kharisa, tapi tetap saja perihnya luka itu masih terasa.


"Boleh ya Sa, besok sore sudah nyampe sini lagi. Kita tanya Rakha, kalau dia mau ikut, kamu harus ngijinin, kalau dia gak mau ikut aku gak akan memaksanya, dia gak akan ikut. Gimana?"


Dan ucapan Rafael selalu tidak bisa dibantah, akhirnya Kharisa menyetujuinya, karena Rakha sendiri ingin ikut dadynya. Hanya saja Rakha yang memang termasuk anak yang kritis sempet menanyakan kenapa momynya gak ikut, saat dijelaskan bahwa ia hanya pergi dengan dadynya.


"Yah gak selu kalau Momy gak ikut, Momy ikut yah, aku nanti mau belenang di lumah Dady, Momy kan belum pelnah ke lumah Dady." Ujar Rakha dengan polosnya, tentu saja Kharisa harus berpikir dulu memberikan alasan yang tepat, agar putranya itu menerima alasannya dan tidak terus bertanya lagi.


"Momy sudah ada janji sama teman Momy, nanti teman Momy kecewa kalau Momy batalin, gak apa-apa kan Rakha sama Dady." Rakha terlihat merengut, tentu saja ia kecewa momynya tidak ikut.


"Nanti kan minggu depannya Rakha ke Jakarta lagi sama Momy, sama Oma, kita ke nikahannya Om Rendi." Rakha tidak merengut lagi, senyumnya terbit di bibirnya.


"Oh iya, aku lupa Om Lendi kan mau nikah." Tangan Rakha menepuk jidatnya, lagaknya seperti orang dewasa yang mengerti apa itu nikah.


"Jadi gak apa-apa kan sekarang kita berdua saja berangkatnya?" Tanya Rafael sambil menarik Rakha ke dalam pangkuannya.


"Oke deh." Jawab Rakha sambil menggelayut manja dipangkuan dadynya. Akhirnya Rafael dan Rakha langsung berangkat setelah Kharisa menyiapkan perbekalan baju Rakha.


Hari minggu pagi Rafael menemani Rakha berenang di kolam renang di rumahnya, ini salah satu alasan Rakha mau ikut dengan Rafael, ia ingin berenang di rumah dadynya. Rakha memang kagum dengan rumah dadynya yang besar dan ada kolam renangnya, sangat jauh dibandingkan dengan rumah yang ditempatinya bersama Momy dan Omanya, tapi ia belum paham tentang harta kekayaan, ia hanya tau rumahnya kecil dibandingkan rumah dadynya. Ia tidak tau kalau Momynya juga dulu tinggal di rumah besar dan mewah walaupun tidak sebesar rumah dadynya, karena Kharisa memang tidak pernah menceritakan kehidupan masa lalunya pada Rakha. Kharisa masih menganggap Rakha masih terlalu kecil untuk tau kalau momynya meninggalkan rumah, meninggalkan papanya.


Setelah berenang, papi Rafael mengajak Rakha jalan-jalan, mami Rafael juga mau ikut menemani cucunya, ternyata kondisi Mami Rafael tidak seperti yang dibayangkan Rafael yang hanya berbaring di tempat tidur. Mami terlihat lebih segar dari sebelumnya, entah sekarang karena ada cucunya mami terlihat sehat seperti biasanya atau kemarin ia hanya berpura-pura belum pulih agar mendapat perhatian dari putranya, Rafael sendiri tidak ingin mempertanyakan itu, melihat maminya sehat dan bersemangat ingin jalan-jalan dengan Rakha membuatnya merasa lega, rasa bersalahnya sebagai penyebab maminya sakit mulai ia sisihkan.


Rafael sendiri tidak ikut menemani Rakha, ia membiarkan papi dan maminya lebih dekat dengan Rakha dengan harapan mereka luluh mau menerima Kharisa sebagai menantunya. Sebenarnya papi Rafael sudah menerima Kharisa, tinggal maminya yang masih bersikeras menolak tanpa memberitahu alasannya kenapa.


Rafael memanfaatkan waktunya yang tinggal lima jam lagi berada di Jakarta dengan mengunjungi sahabatnya waktu SMA, Mario di rumahnya, karena setelah ashar ia harus kembali lagi sesuai janjinya mengembalikan Rakha pada Momnya sore ini.


Rumah Mario terlihat ramai, keluarga besarnya tengah berkumpul karena dua minggu lagi sahabatnya itu akan mengakhiri masa lajangnya. Ternyata laki-yang terkenal playboy, don juan, casanova diantara teman club basketnya itu malah paling duluan menuju ke pelaminan, memutuskan untuk hidup dengan satu wanita pujaannya yang katanya susah untuk mendapatkannya. Makanya Rafael sengaja mendatangi Mario untuk sharing, berguru lebih tepatnya untuk meminta tips agar bisa menaklukan wanita pujaannya. Sepertinya diantara temannya yang lain Mariolah yang bisa diajak sharing, karena dialah yang sekarang hidupnya lurus, disaat teman yang lain masih sibuk menikmati kesenangan dengan dunia malam, datang ke club malam, bersenang-senang dengan berganti wanita, Mario menutuskan untuk hijrah, padahal dulu ia yang paling parah.

__ADS_1


"Hai Bro, tambah pangling nih calon pengantin." Ujar 'Rafael saat melihat Mario keluar dari ruang tamu.


"Jangan lebay Lo, dari dulu Gue emang begini kan, cool penuh pesona ..ha....ha....ha...." Canda Mario. "Ayo masuk."


"Kayanya lebih enak di sini deh." Rafael langsung duduk di kursi yang ada di teras. Mereka berdua pun terlihat asyik ngobrol.


" Jadi gimana ceritanya saat Lo ketemu anak Lo?" Mario memang sudah tau kalau Rafael telah memiliki anak, Rafael sendiri yang cerita di group WA tim Basket SMA. Awalnya Rafael mengirim fotonya yang tengah berdua bersama Rakha dengan kata-kata "Sudah seperti ayah dan anaknya kan?"


"Kenalkan anak Gue, namanya Rakha Athaillah Prasetya." Tanpa malu lagi Rafael mengenalkan putranya pada temannya di group WA


"Jangan gila Lo, anak dari Hongkong?"


"Mirip sih, itu pasti ponakan Lo."


"Eh ini anak kakak Lo yang cewek yah? Gak mungkin anak kakak Lo yang cowok kan?"


"Cakep...cakep....." Begitulah respon teman-teman Rafael di group WA, tidak ada yang percaya kalau dia sudah punya anak.


Rafael pun menceritakan pada Mario bagaimana kisah Kharisa yang berjuang sendirian saat hamil, dan membesarkan Rakha tanpa dia di sisinya, itu semua karena mamanya sama sekali tidak memberitahunya, sampai kemudian ia bertemu Kharisa dan menemukan putranya. Mario mendengarkannya sambil mencermatinya.


"Lalu rencana Lo gimana?" Tanya Mario


"Lu pake trik apa hingga calon istri Lo mau sama Lo." Rafael tidak sabar langsung bertanya pada sepupunya.


"Ha...ha....ha...Gue gak pake trik-trikan."


"Dita beda banget sama cewek-cewek lain yang pernah Gue kenal, dia ngejaga banget prinsipnya."


"Trus kok bisa akhirnya dia sama kamu, mau diajak ke pelaminan lagi." Tanya Rafael heran.


"Gue diajarin sama mentor Gue bukan ngejar dia, tapi ngejar pemilik dia."


"Maksudnya?" Rafael terlihat tambah penasaran.


"Deketin yang menciptakannya, terus pantaskan diri ." Tambah Mario, Rafael masih mengernyit.


"Lo tau gak, mudah bagi Allah untuk membuat Kharisa nerima Lo, Allah itu Maha membolak balikan hati, cuma masalahnya pernah gak Lo minta padaNya, minta Kharisa jadi jodoh Lo, minta dilembutkan hatinya untuk nerima Lo."


"Ya berdoa meminta secara khusus sih belum, cuma Gue sering ngomong dalam hati sendiri semoga Kharisa mau nerima Gue, semoga Kharisa jodoh Gue, sering malah, bukankah Allah Maha Mengetahui, termasuk apa yang ada di dalam hati kita?" Tanya Rafael, tentu saja ia sangat berharap bisa bersama Kharisa dan takdir berpihak padanya.


"Raf Elo dulu nih waktu belum bisa beli sendiri sesuatu yang Lo inginkan, Lo pasti minta sama bokap Lo kan?" Tanya Mario pada sahabatnya, Rafael menganggukan kepalanya.

__ADS_1


"Misalnya waktu jaman SMA Lo kan pengen banget motor sport, Lo ngomong gak sama bokap Lo waktu Lo pengen motor itu?"


"Ya ngomong lah, Gue minta sama bokap Gue." Jawab Rafael langsung.


"Dan bokap Lo beliin kan? Nah kalau Lo gak ngomong, bokap Lo kira-kira beliin gak?"


"Ya nggak lah, kan Gue gak minta."


"Padahal mungkin saja bokap Lo tau kalau Lo tuh pengen motor sport, mungkin bokap Lo pernah lihat Lo sering mandangin gambar motor sport, atau Lo pernah bawa brosurnya tapi Lo gak berani minta. Dan sebelum Lo ngomong langsung minta tu motor bokap Lo gak beliin karena bokap Lo ngira Lo gak sungguh-sungguh pengen motornya." Rafael manggut-manggut mendengar ucapan Mario.


"Coba perhatikan kalau anak kecil ingin sesuatu trus belum dikasih, dia akan terus merengek pada orang tuanya, menangis bahkan ada yang sampai guling-guling di lantai hanyak untuk mendapatkan yang diinginkannya, dan setelah itu orang tuanya mengabulkan keinginan anaknya, karena melihat anaknya sungguh-sungguh, mungkin kalau gak diturutin bisa tambaj kejer tuh anaknya. Nah Allah juga sama kaya orang tua anak itu, disaat hambanya sungguh-sungguh meminta, misalnya Lo berdoa sampai Lo nangis, Lo berdoa,di waktu mustajab di sepertiga malam sekalian Lo sholat tahajud, masa sih Allah gak ngasih, pastilah akan ngasih, tapi ada catatannya, Allah itu ngasih yang terbaik buat hambanya, bisa saja permintaan hambanya gak dikasih karena menurut Allah tidak baik buat hambanya, tapi Allah akan menggantinya dengan yamg lebih baik untuk hambanya." Rafael tampak merenungi ucapan sahabatnya yang luar biasa menurutnya, kok bisa Mario yang dulunya paling eror diantara mereka ini jadi yang paling alim.


"Gue jadi takut kalau Kharisa bukan jodoh Gue, sebenarnya Gue ada saingan juga sih, berat lagi, dia dekat banget sama Kharisa dan anak Gue, dia yang dampingin Kharisa saat masa-masa sulitnya, dan Gue perhatikan sampai sekarang Kharisa masih tergantung sama dia, apa yang dia ucapkan pasti Kharisa ijutin" Suara Rafael terdengar melembut, ternyata dia tidak percaya diri juga, malah menganggap Faisal saingan beratnya.


"Takdir jodoh itu sudah diatur oleh Allah, bahkan sudah direncanakan oleh Allah sebelum kita lahir ke dunia. Ketika tiba saatnya bagi jiwa untuk bertemu, tidak ada apa pun di bumi yang dapat mencegah mereka untuk bertemu, di mana pun masing-masing berada. Ketika dua hati ditakdirkan untuk satu sama lain, tidak ada jarak yang terlalu jauh, tidak ada waktu yang terlalu panjang, dan tidak ada cinta lain yang dapat memisahkan mereka. Tapi.... kalau bukan jodoh sekuat apapun kita mengejarnya, sebesar apapun pengorbanan kita, kita tidak akan bisa meraihnya. Itu yang harus kita yakini." Ucapan Mario terdengar begitu meyakinkan, tentu saja ia sudah merasakannya. Sekuat apa pun menghindar kalau jodoh pasti ada jalannya untuk bertemu, itu yag ia rasakan.


"Dalem banget ternyata ilmu Lo, Gue gak nyangka lu jadi bijak begini. Eh tapi Lo ngomong gini karena Lo udah dapet jodoh yang sesuai keinginan Lo kan, coba kalau jodoh Lo dapetnya yang tidak sesuai dengan keinginan Lo apa lo akan ngomong seperti itu juga?" Rupanya Rafael masih ragu dengan urusan takdir.


"Gue ngomong karena sudah pernah ngalamin langsung dan memang seperti itulah takdir. Jangan khawatir dengan jodoh yang sudah di atur Yang Maha Kuasa, tapi bukan berarti juga kita hanya diam menunggu jodoh itu datang, tugas kita adalah ikhtiar dan berdoa. Ikhtiarnya bukan kita ngejar- ngejar dia, tapi pantaskan diri kita dan dekati pemiliknya, doa yang kuat, kalau perlu sampai keluar air mata. Udah itu aja pesan Gue mah, Gue jadi kaya penasehat ya he...he...." Kekeh Mario


"Bentar, Gue belum paham dengan memantaskan diri itu seperti apa?" Rupanya Rafael tertarik dengan ikhtiar yang dilakukan sahabatnya yang ternyata membuahkan hasil.


"Memantaskan diri itu intinya kita memperbaiki diri. Lo pernah dengar gak kalau laki-laki yang baik itu untuk perempuan yang baik dan sebaliknya. Ternyata itu ada ayatnya dalam Al Quran, surat An Nur kalau gak salah, ayat berapanya Gue lupa tapi isi ayatnya kurang lebih seperti ini.


"Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (surga). "


"Lo pernah bilang kan kalau Kharisa sekarang berbeda, berhijab, rajin shalatnya, lebih taat beragama, kalau menurut Gue sekarang hidupnya lebih baik, dia sudah paham ilmu agama. Nah Lo sendiri gimana? Sudah satu frekuensi belum sama Kharisa? ya meskipun Lo mungkin masih jauh ilmunya tapi minimal Lo ada niat untuk belajar. Jadi Lo bisa selaras dengan Kharisa. Jadi kalau misalnya Lo tuh jodohnya Kharisa kalau Lo belum satu frekuensi sama dia gak bakalan klih deh, ini pengalaman Gue yah, tapi di saat Lo udah mulai memperbaiki diri , jalan menuju jodoh Lo akan terbentang dengan luas, Allah yang akan mendekatkan dengan caranya." Rafael terlihat meresapi ucapan sahabatnya yang diiyakan oleh hati kecilnya, masuk akal juga batinnya.


"Sekarang mulailah memperbaiki dari kewajiban sehari-hari, sholat lima waktu, Lo udah mulai rajin sholat kan?" Tanya Mario menyelidik.


"He...he...Gue udah mulai ngerjain sholat, tapi kadang masih ada yang bolongnya, terutama sholat subuh." Jawab Rafael jujur sambil nyengir. "Eh tapi tadi Gue shalat subuh dibangunin anak Gue." Rafael terkekeh mengingat tadi pagi Rakha yang membangunkannya.


"Ya baguslah yang penting teruslah memperbaiki diri, bergantung pada Allah, dijamin Lo gak bakal kecewa."


Rafael bersyukur bisa ketemu Mario dan sharing dengannya, sekarang dia terlihat bersemangat untuk memulai memantaskan diri, sebagai ikhtiarnya mendapatkan jodoh terbaik, sesuai harapannya. Bersatu dengan Kharisa dan putranya dalam sebuah keluarga yang diimpikannya.


bersambung


Hai readerku tercinta, Siapa yang kangen ma Mario? Aku hadirkan di sini dengan nasehat bijaknya walaupun dikit. Yang ingin tau kisahnya ada di novel pertamaku Akhirnya Cinta itu Hadir, yang belum mampir, silahkan mampir yah🤗


Eits jangan lupa tinggalkan like, komennya, hadiah juga, vote juga bagi yang masih punya stoknya😁 (maaf maruk yah🙏)

__ADS_1


__ADS_2