
POV Kharisa
Ternyata Rafael mengajak Rakha jalan-jalan ke wahana permainan di mall terbesar di Bandung. Dan ini yang kedua kalinya aku datang ke tempat ini bersama Rafael. Waktu kelas 11 SMA aku pernah datang ke sini bersama teman geng SMA ku, berlima perempuan semua, dan Rafael menyusul ikut gabung, padahal sudah kubilang jangan karena kami perempuan semua dan temenku yang lain gak ada yang bawa atau janjian dengan pacarnya, tapi dia maksa tetap datang, untung teman geng ku mengijinkan Rafael gabung, walau kenyataannya kami terpisah, aku berdua dengan Rafael menikmati wahana yang ada di sana. Dan sekarang aku menikmati momen kebersamaan lagi bersamanya tapi tidak hanya berdua, bertiga dengan Rakha buah hati tercinta.
Selesai shalat dhuhur dijama dengan shalat ashar di masjid yang terlihat megah, tidak jauh dari pintu gerbang masuk, kami langsung menuju tempat pembelian tiket masuk arena permainan. Dulu aku berjalan bergandengan dengan Rafael, sekarang pun kami berjalan bergandengan, bedanya aku tidak bergandengan langsung dengan Rafael, di tengah-tengah aku dan Rafael ada bocah berumur empat tahun yang menggandeng tanganku dan tangan Rafael, dia buah hati kami yang terlahir di luar nikah. Ia berjalan di tengah-tengah kami dengah wajah berseri, sangat jelas terpancar kebahagiaan di wajahnya. Ia pasti senang karena diajak ke wahana permainan yang belum pernah ia kunjungi sebelumnya, senang karena ditemani oleh Momy dan Dadynya.
Wahana yang pertama dikunjungi Rakha adalah Dunia Anak. Dalam wahana tersebut terdapat aneka permainan yang cocok untuk anak dibawah usia sepuluh tahun. Ada Komidi Putar, Mini Train, Mini Bumper Car, Tea Cup, Carousel, Jump Around, dan Bumper Boat.
Aku lihat Rafael begitu antusias menemani Rakha, memastikan Rakha aman saat berada dalam wahana tersebut. Aku duduk di kursi sambil memperhatikan mereka berdua, mereka benar-benar terlihat seperti ayah dan anak yang kompak. Aku merasa Rafael memang ingin mengganti waktunya yang hilang bersama Rakha, empat tahun ia tidak mengetahui keberadaan Rakha, begitu pun Rakha empat tahun bahkan lebih saat ia berada di kandungan tidak merasakan kasih sayang ayahnya, dan kini saatnya mereka saling mencurahkan kasih sayang diantara mereka.
Sejak tadi pagi terlihat sekali ekspresi Rakha yang babagia, bahagia karena akan menceritakan dadynya pada putrinya Kang Farhan, dan ayah ibunya Faisal.
"Momy aku mau kasih tau Khanza kalau aku juga punya ayah, dady aku sudah pulang, aku mau liatin foto dady sama Khanza."
"Aku juga mau celita sama Aki, sama Enin kalau dady aku sudah pulang." Itu yang dia ucapkan tadi pagi sebelum berangkat ke Bandung, tentu saja dengan wajah riangnya. Hingga saat di rumah Kang Farhan benar saja, saat berkumpul di ruang tengah ia langsung bercerita tentang dadynya di depan ayah ibu Faisal, juga Khanza yang tengah bermain dengan adiknya.
" Momy pinjam HPnya, aku mau liatin foto dady."
"Khanza ini ayah aku....lihat....ini Dady aku." ucapnya dengan bangga, ia memperlihatkan foto yang tengah bersamanya saat lomba mirip ayah di atas panggung.
"Aki, Enin, lihat....ini Dady aku..." Dengan semangat Raha memperlihatkan foto dadynya ke ayah ibu Faisal, mereka tidak terlihat terkejut, sepertinya sudah tau kalau Rakha sudah bertemu ayahnya, pasti Faisal sudah cerita, Faisal memang selalu terbuka kepada orang tuanya, kalau mereka bertemu pasti akan saling bertukar cerita, itu yang membuat aku senang saat berkumpul dengan keluarga Faisal.
Ah aku jadi ingat obrolan dengan Faisal saat di gasibu belakang rumah Kang Farhan tadi. Dia selalu bisa membuat hatiku tenang dan lega, dia selalu berpikir positif, tidak pernah berprasangka jelek pada orang lain, walaupun sudah jelas orang lain itu berniat tidak baik.
" Rafael benar, alasan Neng untuk menolak ajakan Rafael untuk hidup bersama memang lemah, ikatan pertunangan bisa saja dibatalkan dengan cara baik-baik pada pihak wanita dan keluarganya yang dilamar, prosesnya tidak seribet memutuskan tali pernikahan. Apalagi alasan Rafael masuk akal, demi kebahagiaan Rakha, dan Rafael juga sangat mencintai Eneng, bukankah Eneng juga mencintai Rafael. Jadi kalau menurut A Isal gak ada salahnya kalau Eneng menerima ajakan Rafael untuk hidup bersama, dalam sebuah ikatan pernikahan tentunya, pasti Rakha pun akan senang bisa bersama-sama terus dengan momy dan dadynya." Entah kenapa aku selalu dengan mudah menerima apa yang diucapkan Faisal, mungkin karena aku sangat mempercayainya. Hingga terbersit dalam hatiku aku akan menerima Rafael.
"Kecuali kalau Neng sudah tidak mencintai Rafael, bahkan sudah menemukan laki-laki lain untuk dijadikan pendamping hidup, mungkin bisa menjadi alasan kuat untuk menolak Rafael." Ujarnya lagi. Kalau laki-laki lain jelas tidak ada yang kucintai selain Rafael. Walaupun pernah beberapa kali teman kuliah berusaha mendekatiku, aku pasti akan menghindarinya, aku selalu menjaga hatiku untuk ayah dari putraku, apalagi mereka kan tidak tau aku sudah mempunyai anak, bisa saja setelah tau aku mempunyai anak, mereka akan menjauhiku, jadi sebelum itu terjadi lebih baik aku menjauhinya. Begitu pun saat ini di tempat kerjaku, dokter Arjuna jelas-jelas berusaha mendekatiku, memberikan perhatian lebih padaku, tapi aku selalu membatasi diriku, tidak ingin memberilan perhatian lebih padanya karena aku hanya menganggapnya partner kerja.
Tidak pernah aku berusaha dekat dengan laki-laki lain, kecuali dengan Faisal, ya dia adalah laki-laki yang paling dekat denganku.Tentu saja dia laki-laki yang selalu melindungiku, selalu ada untukku, selalu hadir disaat aku membutuhkannya, walau hanya sekedar mendengarkan nasehatnya, aku merasa tenang dekat dengannya, apakah itu berarti aku mencintainya? Aku pernah beberapa kali bertanya pada hati kecilku, apakah aku mencintai Faisal? Aku sendiri bingung menjawabnya, yang jelas aku merasa senang berada di dekatnya, ada perasaan tenang, kadang aku juga kangen kalau sudah lama tidak bertemu dengannya, apalagi saat awal-awal aku pindah dan jauh darinya, bukan hanya aku, Rakha pun merindukannya. Aku juga tidak suka kalau ada perempuan lain yang dekat dengannya, apa itu berarti aku cemburu? Entahlah aku juga bingung dengan perasaannku sendiri, dan aku tidak berusaha memperjelas perasaanku, yang pasti sebelum Rafael kembali aku sangat mengharapkan Rafael kembali dan mencariku.
Mungkin karena Faisal menganggapku adik, jadi aku pun sama menganggapnya kakak. Beda lagi kalau Faisal memiliki rasa atau mencintaiku, apalagi mengungkapkannya padaku mungkin aku akan berusaha memperjelas perasaan yang kumiliki untuknya. Apalagi mama pernah berharap Faisal menjadi takdir jodohku, ibu mana yang tidak senang mempunyai menantu seperti Faisal, sudah jelas solehnya, baik, cerdas, bertanggung jawab, selalu berusaha menyenangkan orang lain, cakep lagi, aku pun tidak akan nolak kalau ditakdirkan berjodoh dengannya, bukankah Allah yang menentukan siapa jodoh kita, dan sepertinya tidak sulit untuk jatuh cinta pada laki-laki seperti Faisal. Ini misalkan kalau akhirnya aku berjodoh dengan Faisal aku akan menerimanya. Ah ya ampun kenapa aku jadi berpikir kemana-mana, belum tentu Faisal juga mau sama aku, dia terlalu baik, harusnya mendapatkan jodoh perempuan yang lebih baik dari aku.
"Momy....momy.....ayo kita ke pelmainan yang lain." Lamunanku pun buyar saat kudengar Rakha memanggilku dan menggoyang-goyangkan tanganku.
"Eh sudah selesai? Mau kemana lagi?" Tanyaku sedikit gugup saat aku bertatapan dengan Rafael yang sedang menatapku dengan lekat.
"Aku mau naik pelahu telbang itu Momy." Ujar Rakha yang dengan takjub memperhatikan sebuah kapal layar bajak laut yang seolah sedang berlayar berkeliling mencari ladang gandum. Sky pirates, nama wahana itu.
"Oke, let's go, kita naik kapal laut itu, kita akan jadi bajak laut." Ujar Rafael sambil menuntun Rakha, aku pun mengikutinya.
__ADS_1
"Kamu sepertinya melamun terus dari tadi, mikirin apa?" Tanya Rafael, saat berada di kapal bajak laut, Rakha asyik melihat pemandangan di bawah, dari atas kapal itu bisa terlihat wahana permainan yang lainnya.
"Gak ada..." jawabku bohong. Kalau aku jujur, aku bilang ngelamunin Faisal, pasti ia akan ngambek lagi, cemburu pastinya, seperti tadi, terlihat dia cemburu saat tau Faisal yang menjemputku dan aku berada di rumah keluarga Faisal.
"Jangan mikirin yang aneh-aneh, pikirkan saja kita akan hidup bersama dan bahagia bersama Rakha." Ujarnya lagi tanpa melihat ke arahku. Aku hanya mencebikan bibirku mendengar ucapannya , tapi sepertinya aku akan memikirkannya setelah mendapat pencerahan dari Faisal.
"Sini Boy, kita foto dulu." Ia menarik Rakha yang tengah melihat ke bawah di pinggir kapal.
"Rakha bisa gak fotoin Momi sama Dady?" Tanya Rafael.
"Bisa, bisa Dady, aku juga suka foto pake HP Momy." jawab Rakha bersemangat.
"Sip Rakha fotoin yah pake HP Dady." Rafael pun memberikan HPnya yang telah di set kamera, lalu ia berpindah duduk di sebelahku, ia begitu dekat, bahkan tangan kirinya meraih bahuku membuat jantungku berdebar.
"Jangan gini El..." Aku berusaha melepaskan lengannya di bahuku.
"Hanya untuk foto." Dia malah menjawab seperti itu tanpa melepaskan tangannya yang merangkul bahuku.
"Sudah Dady....tapi Momynya gak senyum."
"Once again Boy, sekali lagi, senyum Sa...." Kali ini aku berusaha tersenyum, walau dengan perasaan dongkol karena sikap Rafael yang seenaknya.
"Sekarang kita bertiga. Come here Boy, kita selfie." Rakha pun pindah duduk diantara aku dan Rafael, tangan Rafael kembali merangkul Rakha dan bahuku.
"Dady aku mau fotonya di pajang di kamal aku." Seru Rakha saat melihat foto kami bertiga, dia terlihat sangat senang.
Keluar dari Sky pirates, Rafael mengajak Rakha merasakan jadi pembalap, wahana Car racing antriannya sangat panjang, untunglah Rafael membeli tiket VIP, jadi tidak harus mengantri lama.
Wahana berikutnya yang dikunjungi adalah Ocean World Science Center, Rakha terlihat takjub bisa menjelajahi dunia bawah laut, bisa melihat giant squid, cumi-cumi terbesar di dunia dalam ukuran asli dan aneka satwa laut lainnya. Lebih takjub lagi saat masuk ke Arctic Adventure dengan teknologi Augmented Reality, dia sangat menikmatinya, bahkan ia bersorak saat seolah-olah menyentuh dan bermain bersama hewan-hewan kutub seperti beruang kutub, paus, penguin, anjing laut, dan lainnya.
Wahana terakhir yang dikunjungi adalah Marvel superheroes 4D.
"Dady ada Captain America, sepelti mainan yang Dady kasih ke aku." Seru Rakha sambil menunjuk tokoh superhero yang dikenalnya. "Ada Spidelman juga." Serunya lagi. Kami pun menyaksikan film tokoh superhero dalam versi 4 D. Rakha sudah mulai terlihat kelelahan dan mengantuk, ia melewatkan jadwal tidur siangnya. Dan tak terasa waktu sudah menunjukan pukul lima sore.
"El, Rakha sepertinya sudah kelelahan, sebaiknya kita pulang saja, sudah sore juga, besok dia harus sekolah." Ujarku pada Rafael saat keluar dari bioskop 4D.
"Oke, kita pulang, mau cari tempat makan dulu gak?" Tanyanya. Ia menuntun Rakha yang sudah terlihat mengantuk.
"Gak usah, langsung pulang saja." Untungnya tadi mampir ke restoran cepat saji saat di perjalanan menuju mall untuk makan siang, tadi pun membeli cemilan dan minuman yang ada di area tempat bermain, jadi masih terlalu kenyang untuk makan lagi.
__ADS_1
"Boy, sini Dady gendong, kamu ngantuk yah?" Rakha pun tidak menolak digendong dadynya, ia benar- benar kelelahan. Dan tidak lama dalam gendongan dadynya, Rakha pun tertidur.
Selama perjalanan pulang, Rakha tertidur dengan pulas, ia dibaringkan di kursi penumpang belakang agar bisa nyaman tidur, sementara aku duduk di depan disamping Rafael. Kami hanya saling diam dengan pikiran masing-masing, aku tidak mengajaknya bicara karena takut mengganggu konsentrasinya yang sedang menyetir, bingung juga mau ngajak ngobrol apa, takut ujung-ujungnya ngebahas hubungan kami berdua, jujur saja aku belum bisa ngambil keputusan mau seperti apa hubungan kami kedepannya.
Tak terasa sampai juga kami di kota tempat tinggal kami, hanya satu jam setengah perjalanan yang kami tempuh, padahal jalan tol cukup padat dengan kendaraan yang akan menuju Jakarta. Rakha masih tertidur saat kami sampai di depan rumah.
"Biar aku yang gendong." Ujar Rafael, saat aku akan menggendong Rakha. Ia pun menggendong Rakha mengikuti langkahku masuk ke dalam rumah, Mama dan Bi Nani menyambut kepulangan kami.
"Langsung ditidurkan saja di kamar." Mama membuka pintu kamarku, aku sebenarnya tidak enak Rafael jadi masuk ke kamarku yang sempit ini, tentu saja sempit kalau dibandingkan dengan kamarku yang dulu di Jakarta. Ia membaringkan Rakha, merapihkan posisinya agar nyaman, lalu mengecup keningnya.
"Istirahat ya Boy, kamu pasti sangat lelah, Dady pulang dulu." Hatiku mencelos saat mendengar bisikan Rafael di telinga Rakha, tentu saja Rafael harus pamit karena tidak bisa tinggal di sini bersamaku dan Rakha.
"Aku pulang dulu, besok sore atau malam aku ke sini lagi boleh?" Aku menganggulan kepalaku sebagai jawabannya.
" Terima kasih." Ujarku sebelum dia keluar kamarku.
"Untuk?" Dia malah balik bertanya
"Sudah mengajak Rakha jalan-jalan." jawabku
"Aku yang terima kasih, sudah mengijinkan Rakha jalan-jalan bersamaku, bersamamu juga." Aku menganggukan kepala lagi, menurutku ia tidak perlu berterima kasih, karena sudah pasti Rakha sangat senang hari ini, bisa jalan-jalan bareng dadynya, menikmati aneka permainan yang menyenangkan untuknya.
Rafael pun pamit pada mama, aku mengantarnya sampai ke teras. Ia pun masuk ke dalam mobilnya, namun ia keluar lagi dengan membawa kantong plastik berlogo toko roti kesukaan mama. Oh ya tadi sebelum keluar mall aku mampir ke toko roti kesukaan mama dan aku juga tentunya, waktu di Jakarta mama sering membeli roti dengan brand itu, 'Roti Berbicara'. Aku menyebutnya seperti itu, aku pun memilih dua potong cheese cake untuk Rafael, ia sangat suka itu.
"Nih, hampir saja aku bawa ke mess." ujarnya sambil menyerahkan kantong berisi roti dan cake, aku pun merimanya.
"Aku pamit lagi yah, Assa....."
"Tunggu El.....ini untuk kamu." Aku menyerahkan dua kotak kecil berisi cheese cake.
"Apa ini?"
"Cheese cake." jawabku. Ia pun mengambilnya.
"Makasih, masih ingat cake kesukaanku." Ujarnya tersenyum bahagia, entah kenapa aku merasa senang melihat dia tersenyum bahagia seperti itu. Ah tentu saja aku masih ingat dengan apapun yang disukai atau tidak disukai Rafael.
"Aku pamit lagi, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, hati-hati." Ia memberi tanda OK dengan jarinya, kemudian menuju mobilnya. Aku pun masuk ke dalam setelah mobil Rafael melaju dan tidak terlihat lagi.
__ADS_1
Hari ini terasa melelahkan, tapi hati ini terasa bahagia, bahagia karena melihat putraku tersenyum bahagia, aku merasa hari ini adalah Family time untuk Rakha, waktu untuknya mengisi kebersamaan dengan momy dan dadynya. Semoga kedepannya selalu ada Family Time untuknya.
bersambung.....