Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku
Mungkin Ini Saatnya


__ADS_3

Tiga hari berlalu setelah Rafael berkesempatan makan malam bersama dengan keluarga Kharisa dan putranya, selama tiga hari itu pula Kharisa berada dalam kebimbangan. Pasalnya malam itu sebelum Rafael meninggalkan teras rumahnya Rafael mengatakan sesuatu yang menggelitik hatinya.


"Sa....kapan kamu akan mengatakan pada Rakha kalau aku Dadynya?" Tanya Rafael saat mereka ada di teras, hanya berdua , berdiri saling berhadapan . Saat itu Kharisa hanya diam tidak menjawab.


"Aku sungguh tersiksa Sa, saat dia memanggilku Om Dokter, saat aku rindu ingin berada di dekatnya bahkan ingin memeluknya, aku hanya bisa membayangkannya saja. Tapi mungkin itu balasan untukku karena selama lima tahun kemarin aku tidak ada diantara kalian, tapi sungguh Sa aku benar-benar tidak tau." Rafael menghela nafasnya. Hatinya merasa sakit mengingat bagaimana orang tuanya yang begitu tega tidak memberitahunya tentang kehamilan Kharisa bahkan seolah dengan sengaja membuat mereka berpisah.


"Aku sudah bicara dengan orang tuaku, aku akan membatalkan pertunanganku dengan Vania. Aku juga menyampaikan kekecewaanku karena mereka menyembunyikan kehamilanmu dulu. Aku minta maaf atas perlakuan orang tuaku padamu dan keluargamu Sa." Ujar Rafael sungguh-sungguh. Kedua mata Kharisa tampak berkaca-kaca, tentu saja karena ia jadi mengingat kembali bagaimana perlakuan orang tua Tafael terutama ibunya terhadapnya dan juga Rakha.


"Ah maaf Sa kalau aku membuatmu sedih." Ujar Rafael saat melihat bening kristal jatuh di pipi Kharisa, tangannya hendak mengusap pipi Kharisa, namun tangan Kharisa lebih dulu mengusap pipinya sendiri.


"Ah....lupakan pertanyaanku tadi Sa, aku akan sabar menunggu sampai kamu siap memberitahu Rakha." Hati Rafael terasa perih melihat Kharisa menitikan air mata, ia bisa merasakan mungkin Kharisa masih merasakan kekecewaan padanya dan orang tuanya. Bersabar, itu yang harus ia lakukan, toh sampai saat ini Kharisa tidak melarang dia menemui Rakha.


"Sa...maafkan aku yah, udah jangan sedih lagi, senyum dong." Kharisa mengerucutkan bibirnya sambil mengeringkan matanya dengan kedua tangannya.


"Senyum dong.....aku gak akan pulang sebelum lihat kamu tersenyum." Goda Rafael.


"Udah sana pulang....." Kharisa menggerakan tangannya dengan gerakan mengusir, Rafael malah terkekeh merasa ia diusir.


"Senyum dulu, baru aku akan pulang." ujarnya dengan tetap bergeming di tempatnya.


"El....udah ah aku masuk." Kharisa membalikan badannya dengan memasang wajah cemberut, namun Rafael malah meraih tangan Kharisa dan menahannya.


"Ish....El...."Kharisa menepiskan tangan Rafael


"Aku gak akan bisa tidur kalau melihat kamu cemberut seperti itu, ayo senyum dulu" ujar Rafael.


"Apaan sih El....udah sana pulang, nih aku sudah senyum." Kharisa melebarkan bibirnya dengan terpaksa. Rafael tergelak melihat senyum terpaksa Kharisa.


"Iya deh....aku pulang yah. Kamu istirahat, tidur yang nyenyak. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Kharisa masih berdiri ditempatnya sampai mobil Rafael tidak terlihat lagi di depan rumahnya.


Obrolan di teras malam itu rupanya membuat ia berpikir, apa ia egois tidak memikirkan bagaimana perasaan Rafael yang pasti sangat merindukan putranya, bukankah sudah jelas kalau selama ini Rafael tidak mengetahui keberadaan Rakha karena memang orang tuanya yang tidak memberitahunya bahkan berusaha menyembunyikannya dari Rafael. Berarti Rafael tidak salah kan? Saat Rafael tahu Rakha putranya juga ia tidak menolak bahkan menyambutnya dan ingin diakui kalau ia ayahnya Rakha. Mungkin sudah saatnya Rakha tau siapa dadynya. Tapi ia bingung bagaimana cara menyampaikannya kepada Rakha.


Niatnya semakin bulat saat menjelang tidur Rakha mengungkit dadynya.

__ADS_1


"Momy, sekalang aku punya dua Om baik." Ujar Rakha sambil berbaring terlentang, tangannya mengusap-usap pergelangan tangan Momynya, kebiasaan Rakha sebelum tidur kalau ditemani Kharisa seperti itu.


"Hmmm." Kharisa menanggapi ucapan Rakha, ia sudah bisa menebak siapa yang dimaksud.


"Om Isal dan Om Doktel." Ujar Rakha, walaupun momynya tidak bertanya siapa yang dimaksud Rakha.


"Om Isal bilang sayang sama aku, suka ngajalin aku ngaji, baca dan nulis, suka ngasih aku hadiah. Om Doktel juga baik sama aku, ngasih hadiah banyak." Kharisa masih diam tidak menanggapi ucapan putranya. Ia hanya mengelus-elus kening putranya agar cepat tertidur.


"Momy....kalau nanti Dady pulang, bawa hadiah buat aku gak?"


Deg. Jantungnya terasa berhenti berdetak, ternyata Rakha masih ingat Dadynya, padahal setelah dua mingguan lebih ia tidak pernah menanyakan lagi dadynya. Ucapan putranya serasa menamparnya, mengingatkannya kalau Rakha masih mengharapkan Dadynya pulang.


Oke Rakha, Momy akan memberitahumu kalau sebenarnya Dadymu sudah pulang, Momy akan pikirkan dulu kalimat yang tepat untuk memberitahumu. Beri waktu Momy dua hari. Batinnya saat itu, sambil berpikir bagaimana cara memberitau Rakha agar Rakha percaya dan mau menerima dadynya, karena Rakha sudah mengenal dadynya lebih dulu sebagai Om Dokter. Andai saja Rafael datang dengan kondisi tidak bertunangan dengan wanita lain, tentu ia tidak akan ragu untuk mengenalkannya sabagai dadynya. Tapi sudahlah tidak usah membahas yang berandai-andai, sekarang tinggal memikirkan bagaimana cara menyampaikan kepada Rakha kalau Om dokternya itu adalah dadynya.


Kamis sorenya Kharisa pulang dari rumah sakit disambut dengan muka cemberut putranya. Pasti ada sesuatu yang membuat Rakha cemberut seperti itu, jangankan menyambutnya, menjawab salam pun tidak, ia duduk di kursi teras rumah, menyangga dagunya dengan tangan kanannya, tidak menoleh sedikit pun saat Kharisa menyapanya.


"Anak Momy kenapa cemberut gitu, kok gak jawab salamnya. Kalau gak jawab salam kata Om Isal gimana ayo." Kharisa sengaja bawa-bawa nama Faisal biasanya akan mempan.


"Kumsalam." Benar saja ia menjawab salam walau setelah diingatkan.


"Besok-besok aku gak mau sekolah." ujar Rakha masih dengan wajah cemberutnya. Kharisa langsung mengernyit. Ia sudah curiga biasanya Rakha kalau tidak mau sekolah kalau ada hal yang berkaitan dengan dadynya, tapi kali ini urusan apa lagi soal dadynya.


"Memangnya kenapa gak mau sekolah, nanti temen-temen Rakha pada nyariin dan bakal kangen sama Rakha, Rakha juga nanti bakal kangen sama temannya."


"Kata miss Shinta nanti ke sekolah halus baleng dadynya, dady aku pasti gak bisa datang." Jawab Rakha merengut. Benar saja ternyata karena sesuatu yang berurusan dadynya.


"Siapa bilang dady gak bisa datang ke sekolah Rakha?" Kharisa semakin yakin untuk memberitau dadynya pada Rakha.


"Dady kan jauh, lagi sekolah." Rakha masih berpikir tidak mungkin dadynya bisa pulang.


"Nanti Momy kasih tau Dady, pasti Dady mau datang ke sekolah Rakha." Mata Rakha langsung membulat mendengar ucapan Momynya, ia langsung duduk tegak menatap Momynya dengan mata berbinar.


"Benelan Dady bisa datang ke sekolah?" Tanyanya masih tidak percaya dengan Momynya. Kharisa menganggukan kepalanya sambil tersenyum haru.


"Memangnya kapan Dady harus ke sekolah Rakha?" Kharisa memang belum tau ada kegiatan apa di sekolah Rakha, hari ini ia belum sempat mengecek group WA sekolah Rakha, biasanya info kegiatan sekolah akan diinfokan di group WA.

__ADS_1


"Ada sulatnya di tas aku." Rakha turun dari kursi dam masuk ke dalam rumah. Kharisa menghembuskan nafas panjang. Ya sudah saatnya Rakha tau siapa dadynya yang ia tunggu selama ini. Kharisa pun masuk ke dalam rumahnya.


"Ini Momy....." Rakha menyerahkan surat resmi pemberitahuan dari sekolah. Kharisa membacanya sambil duduk di sofa ruang tengah, ternyata ada acara 'Father's Day' di hari Sabtu. Acara yang dirancang untuk semakin mendekatkan antara ayah dan anak. Banyak kegiatan perlombaan yang bisa diikuti, seperti lomba menggendong anak, lomba mirip ayah, lomba masak bersama ayah, lomba menyusun puzle, menggambar bersama ayah dan masih ada beberapa lomba lainnya yang bisa diikuti. Sengaja acaranya diadakan di hari libur sekolah agar orang tua bisa hadir terutama ayah, kebanyakan hari Sabtu kantor - kantor pada libur, sementara di rumah sakit tempat Kharisa bekerja hari Sabtu tetap masuk walau setengah hari. Kharisa jadi ragu apakah Rafael bisa datang ke acara itu atau tidak, ia harus memastikannya dulu. Malam ini ia akan menghubungi Rafael untuk memastikannya.


"Ayo Momy telpon dady, bilang halus ke sekolah aku nanti." Rakha tidak sabar untuk memastikan dadynya untuk datang ke sekolah.


"Iya nanti malam Momy hubungi, sekarang Dadynya masih sibuk." Rakha terlihat sedikit kecewa karena tidak bisa menghubungi dadynya.


"Assalamualaikum...." Mama terlihat masuk ke ruang tamu pulang dari pengajian di majlis taklim masjid perumahan.


"Waalaikumsalam." Jawab Kharisa dan Rakha bersamaan.


"Oma....kata Momy nanti Dady bisa datang ke sekolah aku." ujar Rakha sambil meraih tangan Omanya dengan wajah berseri, tadi siang ia sempet cemberut di depan Omanya, sampai tidak mau tidur siang walau dibujuk omanya. Mama Kharisa langsung menoleh pada putrinya, dengan ekspresi tanda tanya, Kharisa hanya memberikan senyuman sebagai jawabannya. Mama tidak terlalu banyak bertanya, ia sudah mempercayakan kepada Kharisa, keputusan apapun yang diambil oleh putrinya ia akan mendukungnya. Selama ini juga Kharisa sering membahasnya bersama, meminta pendapat mamanya. Ia hanya ingin putri dan cucunya bahagia.


"Mah, doakan yang yang terbaik yah, Insya Allah besok aku akan memberitahu Rakha tentang dadynya." Ujar Kharisa saat mama duduk juga di sofa, sementara Rakha mulai membongkar mainannya.


"Sudah dibicarakan dengan Rafael?" tanya Mami.


"Malam ini aku akan menghubunginya." Jawab Kharisa, mama pun menganggukan kepalanya.


"Mama akan mendukungmu. Mungkin inilah saatnya Rakha tau siapa ayahnya, dia pasti senang."


bersambung......


Kira-kira Rafael bisa hadir mendampingi Rakha di acara Father's Day gak yah?


Lomba apa yang cocok diikuti mereka kalau Rafael bisa datang...?


Jangan lupa like komennya, yang mau ngirim hadiah mangga diantos🤗😁😘


Thanks semuanya🙏


wassalam


Umi Haifa😘😘

__ADS_1


__ADS_2