Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku
Siapa Wanita Itu? (2)


__ADS_3

POV Vania


Dulu salah satu alasan yang membuatku tidak ingin jatuh cinta adalah takut sakit hati. Saat masa SMA aku pernah mengalaminya. Aku pernah menyukai seseorang, jatuh cibta pada seseorang lebih tepatnya, pada kakak kelasku, di atasku satu tahun. Penampilannya sederhana, wajahnya pun tidak terlalu tampan tapi enak dipandang karena penampilannya selalu bersih dan rapih, dan yang kutau dia berasal dari keluarga sederhana tapi ia terkenal pintar, bahkan ia masuk ke sekolah SMA karena mendapat beasiswa. Sekolahku sekolah swasta yang terkenal di Jakarta dengan biaya masuk dan SPP bulanan yang cukup tinggi, mungkin kalau bukan karena beasiswa ia tidak akan sekolah di sana karena biayanya yang lumayan mahal. Dengan beasiswa itu ia berhasil lulus dengan nilai terbaik di lingkup sekolah dan nilai terbaik ke tiga se DKI Jakarta.


Sayangnya aku bertepuk sebelah tangan, padahal aku mengira ia juga menyukaiku, karena aku tau ia suka memperhatikanku, hingga akhirnya aku memberanikan diri mengungkapkan kalau aku menyukainya lewat sahabatku, tentu saja aku tidak berani mengungkapkan langsung karena malu, sahabatkulah yang membantuku menyampaikan padanya. Namun setelah ia tahu kalau aku menyukainya ia malah menjauhiku, bahkan ia selalu menghindariku saat kami akan berpapasan, padahal sebelumnya kami saling menyapa kalau bertemu, kadang diskusi bersama di Komunitas Karya Ilmiah Remaja (KIR), aku sering konsultasi untuk membuat artikel yang akan diterbitkan di mading atau di majalah sekolah. Tapi setelah itu, tidak ada lagi diskusi, apalagi konsultasi karena ia tidak pernah menampakkan dirinya di komunitas KIR. Dan selama satu semester sebelum kelulusannya aku jarang sekali melihatnya, ia benar-benar menghindar dariku.


Tentu saja aku merasa sakit hati, ia adalah laki-laki yang pertama kali aku sukai, bisa dibilang ialah cinta pertamaku tapi sayangnya malah membuat sakit hatiku. Aku kecewa, marah, malu hingga akhirnya aku pun tidak ingin melihatnya lagi. Sejak saat itu aku tidak ingin merasakan jatuh cinta lagi, apalagi setelah aku tau aku akan dijodohkan, aku tidak pernah sekali pun menyukai laki-laki yang berusaha mendekatiku.


Aku menyetujui perjodohanku dengan Rafael cucu sahabat kakekku tanpa banyak pertimbangan, karena aku pikir Rafael juga sama menerima perjodohan ini bukan karena terpaksa. Aku tau ia laki-laki yang baik, pernah beberapa kali bertemu dengannya walaupun hanya saling menyapa, ia dari keluarga baik-baik, ayahnya terkenal dermawan, hubungan antar keluarga pun sudah begitu dekat karena terikat oleh ikatan bisnis juga, hingga tak ada alasan aku untuk menolaknya. Tujuan ku hanya satu ingin membahagiakan kedua orang tuaku juga nenekku.


Tapi ternyata niat baikku itu membawaku pada keadaan menyedihkan yang pernah kurasakan dulu, aku ditolak lagi oleh laki-laki yang kucintai. Kenapa ini harus kualami di saat telah tumbuh benih-benih cinta dihatiku. Aku membuka lagi hatiku untuk belajar mencintainya karena ia calon suamiku, aku pikir walaupun dijodohkan akan lebih baik kalau pernikahanku dilandasi rasa cinta, walaupun aku tidak tau apakah Rafael mencintaiku atau tidak, aku hanya punya keyakinan, seiring dengan waktu ia juga akan belajar mencintaiku, hingga aku pun meminta setelah resmi berrunangan tidak terburu-buru menuju pernikahan.


Tapi ternyata kenyataannya berbeda dengan keyakinanku, Rafael menerima perjodohan ini dengan terpaksa, bahkan ia tidak ingin belajar mencintaiku, aku pikir karena karakternya yang memang cool aku memakluminya kalau ia tidak pernah memberikan perhatian yang lebih padaku, sikapnya yang cuek kuanggap hal biasa, tapi ternyata ia memang tidak ingin berusaha mencintaiku, bahkan sekarang ia ingin memutuskan hubungan pertunangan kami.


Setelah kepergian Rafael, aku hanya bisa mengungkapkan kesedihanku dengan menangis, tangisku tumpah setelah menahan dadaku yang terasa sesak, aku hanya bisa menangis hingga air mataku kering tidak keluar lagi, tapi setelah itu hatiku lebih lega.


Ya Tuhan...beginikah nasibku, haruskah aku merasakan sakit hati lagi, ditolak untuk kedua kalinya oleh laki-laki yang kucintai? Apa salahku, apa kekuranganku hingga untuk merasakan manisnya cinta saja Engkau tidak mengijinkannya.

__ADS_1


Saat ini aku tidak tau apa yang harus aku lakukan, alasan Rafael ingin membatalkan pertunangan cukup masuk akal bagiku. Ia harus mempertanggungjawabkan perbuatan di masa lalunya. Aku tidak menyangka ia sudah memiliki anak dari wanita yang ia cintai, usianya sudah empat tahun, berarti anak itu lahir saat Rafael kuliah di Amerika, lalu Rafael tidak mengetahuinya? Bagaimana bisa? Jadi selama ini anak itu lahir dan hidup tanpa ayah? Lahir di luar pernikahan? Bagaimana perasaan ibu dari anak itu, mengandung anak dan melahirkan tanpa suami di sisinya?Apa dia tidak meminta pertanggungjawaban Rafael saat tau dia hamil? Apa mami dan papi Rafael juga tidak mengetahuinya? Tapi rasanya tidak mungkin.


Aku jadi terpikir untuk menanyakannya pada mami Rafael, apa mereka sudah tau dengan rencana Rafael untuk membatalkan pertunangan kami? Apa mereka juga tau tentang anak Rafael? Selama ini mereka tidak pernah cerita apapun tentang Rafael.


Aku mengambil handphoneku, aku akan menghubungi mami Rafael, ini masih belum terlalu malam untuk menelponnya. Aku harus tau dulu dengan jelas apa yang diucapkan Rafael tadi sebelum aku mengambil keputusan, terutama tentang anaknya juga ibu dari anak itu, kalau perlu aku harus tau siapa ibunya, wanita yang dicintai Rafael di masa lalunya. Aku pun menghubungi mami Rafael lewat panggilan WA.


"Halo Tante....maaf aku nelfon malam-malam, tante sudah tidur? Maaf kalau mengganggu."


" Tante belum tidur sayang, ada apa, tumben malam-malam nelfon? Kamu baik-baik saja kan?" Syukurlah mami Rafael belum tidur, jadi aku tidak mengganggu istirahatnya. Aku menduga ia sudah mengetahui kalau Rafael ingin memutuskan pertunangan kami, dari suaranya terdengar ia begitu khawatir, apalagi aku menelfonnya malam-malam.


"Bukannya besok kamu kerja? Apa kamu memang ada rencana pulang ke Jakarta? Besok kebetulan jadwal tante kosong dari jam sebelas siang."


"Rencananya aku mau cuti tante, kalau tante bisa besok pagi aku berangkat, jam sebelas sudah ada di Jakarta." Lebih baik aku ngambil cuti, agar aku bisa segera menyelesaikan masalah ini, bekerja pun pasti hatiku tidak tenang.


"Hmmm....kayanya mending tante yang kesana aja deh, kasian kamu pasti nanti balik lagi kan? Cape nanti, besoknya harus kerja lagi, ambil cutinya berapa hari?" Aku yakin Mami Rafael mengkhawatirkanku, mungkin ia sudah tau kalau anaknya telah mengatakan pembatalan pertunangan, ia juga pasti sudah menduga apa yang ingin aku bicarakan dengannya.


"Iya, rencananya nanti aku balik lagi tante, gak enak kalau cuti lama-lama, di sini lagi sibuk laporan akhir bulan." Jawabku jujur.

__ADS_1


"Tuh kan....ya sudah besok tante ke sana, setelah acara tante selesai langsung berangkat, paling jam duaan deh tante nyampe sana."


"Wah, saya jadi merepotkan tante, maaf ya tante." Terus terang aku merasa tidak enak jadi menyusahkan mami Rafael, sebenarnya bisa saja aku ketemu mami Rafael pas pulang weekend, tapi aku tidak akan merasa tenang, aku gak mau sedihku berlarut-larut, aku harus mendapat kejelasan agar yakin dalam mengambil keputusan.


"Gak kok sayang, kan sekalian tante nengok anak tante, sudah seminggu lebih tante gak ketemu Rafael." Jadi weekend kemarin Rafael gak pulang ke Jakarta, padahal aku tanya Bang Andre, katanya dia pulang, gak ada di mess. Pasti dia bersama anaknya dan wanita yang dicintainya. Mengingat itu hatiku terasa perih. Tapi aku harus tegar, aku tidak ingin orang-orang di sekitarku tau kalau aku sedang terluka.


"Van....Vania...sayang, kamu masih di sana? Kamu baik-baik saja?" Ternyata aku melamun, hingga aku tidak mendengar suara Mami Rafael memanggilku.


"Eh iya tante, maaf....aku jadi gak enak merepotkan tante."


"Udah gak apa-apa, jadi besok tante langsung ke mess kamu saja yah, nanti tante kabarin kalau sudah nyampe rumah sakit."


"Baik Tante, makasih, sekali lagi maaf jadi merepotkan dan maaf mengganggu malam-malam. Saya tutup ya Tante, selamat beristirahat." Aku tutup sambungan telfonnya, aku pun sedikit merasa lega, Mami Rafael selama ini bersikap baik padaku, ia juga menunjukan kalau ia menyayangiku, padahal aku sudah senang akan mendapatkan mertua sebaik mami Rafael, tapi sepertinya itu tidak akan menjadi kenyataan. Ah aku benar-benar pesimis, hubungan pertunanganku dengan Rafael sepertinya tidak akan bisa dipertahankan. Aku harus mulai merelakannya walaupun nanti keputusan pastinya aku serahkan kepada orang tuaku. Ya, walaupun aku punya keputusan sendiri, tapi seperti biasa keputusan akhirnya aku akan mengikuti keputusan orang tuaku, karena bagiku kebahagiaan orang tuaku segalanya bagiku.


Ah... aku ingin malam ini cepat berlalu, aku ingin segera mendapatkan kejelasan dari Mami Rafael, aku harus tau cerita yang sebenarnya, aku harus tau siapa wanita itu, kalau perlu aku ingin bicara dari hati ke hati dengannya, agar kalau memang aku harus melepaskan Rafael aku benar-benar ikhlas melepasnya.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2