
"Mami kenal dengan ibu tirinya Kharisa?" Rafael terlihat penasaran melihat kedekatan maminya dengan ibu sambung Kharisa di rumah sakit tadi. Rafael dan maminya baru saja tiba di apartemen mereka, Rafael pulang sebentar untuk mandi dan mengganti baju. Hanya mereka berdua di sana, Richan entah pergi kemana, tadi pamit lebih dulu dari rumah sakit. Sementara papinya tadi pagi pulang ke Jakarta karena harus melaksanakan tugasnya sebagai dokter spesialis bedah thoraks dan kardio vaskular.
"Dia sahabat mami dulu." Jawab Mami sambil merebahkan tubuhnya di sofa, ia memijat pangkal hidung dan keningnya, ia merasakan kepalanya berat, pasti karena kurang tidur. Walaupun ia tidak full di rumah sakit, tapi sejak Rakha masuk rumah sakit ia tidak bisa tidur nyenyak, susah sekali memejamkan mata dan sering terbangun. Tentu karena kondisi Rakha yang membuatnya merasa bersalah, ia yang menemani Rakha saat Rakha tiba-tiba sesak setelah muntah. Belum lagi rasa bersalahnya pada Kharisa karena selama ini telah menolaknya bahkan telah menyakiti hatinya dengan kata-kata penuh hinaan, dan ia melakukannya karena membenci orang tua Kharisa. Namun ternyata dugaannya terhadap orang tua Kharisa salah. Dan kini penyesalan menggelayuti hatinya. Ia sendiri belum berani menyapa Kharisa, apalagi minta waktu berdua untuk meminta maaf, karena Kharisa terlihat berusaha menghindarinya, setiap ia mendekatinya pasti Kharisa langsung beranjak pergi, begitu pun pada putranya Rafael. Mami bisa memaklumi bagaimana perasaan Kharisa dan untuk saat ini ia tidak terlalu banyak berharap mendapat maaf dari Kharisa, sekarang semua fokis pada kesembuhan Rakha.
"Mami kenapa?" Rafael sepertinya tidak ingin bertanya lagi tentang mama Lisna, keadaan maminya yang terlihat lemas dan terlihat tidak nyaman lebih menarik perhatiannya.
"Mami sedikit pusing dan gak tau kok jadi lemes begini."
"Mami pasti kecapean. Aku cek tekanan darahnya ya Mi." Rafael beranjak mengambil peralatan medis untuk mengecek tanda vital yang selalu disimpan di lemari khusus peralatan medis dan obat-obatan.
"Mami tekanan darahnya agak tinggi, 167/89 mmHg, kemungkinan karena kurang istirahat dan stress, bukan dari makanan kan? Aku perhatiin mami juga makannya kurang." Rafael yakin penyebabnya karena stress karena kondisi Rakha. Saat stres, tubuh melepaskan hormon kortisol dan adrenalin yang dapat menyebabkan peningkatan denyut jantung. Hormon-hormon ini juga dapat mempersempit pembuluh darah, sehingga terjadi peningkatan tekanan darah. Dengan istirahat dan relax biasanya cepat kembali normal.
"Mami istirahat saja di kamar, sudah waktunya juga untuk istirahat, tapi mami minum obat yah, aku kasih obat dosis ringan ya Mih, nanti satu jam lagi aku cek ulang tekanan darahnya, aku ambilkan dulu minumnya." Waktu sudah menunjukan pukul setengah sembilan malam, waktunya mami istirahat. Mami memang tidak lagi mengkonsumsi obat-obatan untuk kesehatan jantungnya, hanya suplemen untuk jantung yang rutin dikonsumsi setiap hari dan mengatur asupan makanannya. Mami pun mencoba menghilangkan kepenatannya dengan memejamkan kedua matanya, melupakan sejenak segala persoalannya, ia tidak ingin mengalami serangan jantung lagi, ia harus sehat agar bisa melihat cucunya lagi.
Rafael kembali ke rumah sakit setelah memastikan tekanan darah mami turun mendekati normal dan mami bisa istirahat, Richan pun yang entah dari mana sudah kembali ke apartemen. Walaupun sebenarnya di rumah sakit pun Kharisa masih bersikap dingin terhadapnya dan selalu menyuruhnya pulang, tapi tidak mungkin ia jauh dari putranya yang masih terbaring lemah dan belum juga sadarkan diri.
Tiba di rumah sakit ia lihat ada papanya Kharisa di sana, mereka berempat, Kharisa, Faisal, mama dan papanya tengah berbincang di ruang penunggu pasien. Dengan perasaan berdebar Rafael mendekati mereka, ia siap kalau papa Kharisa sampai mengomelinya karena ia tidak bisa menjaga Rakha dengan baik, tapi ternyata di luar dugaannya, papa Kharisa hanya menanyakan kondisi dan kemungkinan perkembangan cucunya. Rafael pun sebagai orang yang lebih paham dunia medis menjelaskannya. Ternyata papa Kharisa baru saja tiba belum sempat melihat Rakha, karena petugas sudah tidak mengijinkan keluarga untuk masuk, aturan di sana memang lumayan ketat, kecuali ada sesuatu hal, keluarga akan dipanggil oleh petugas.
" Harapan Rakha untuk kembali sehat besar Om, nafas spontannya semakin bagus, sekarang rencananya mulai penyapihan ventilator atau alat bantu nafasnya, respon terhadap rangsangan juga semakin baik, kecuali rangsangan terhadap matanya saja yang belum ada, diberi rangsangan suara sampai rangsangan nyeri masih belum mau membuka." Jelas Rafael pada papa Kharisa.
"Hasil lab darahnya juga mulai membaik, trombositnya mulai naik walau belum normal. Hasil yang jam enam sore tadi sudah ada hasil belum Sa?" Tanya Rafael pada Kharisa, biasanya sebelum jam besuk selesai, petugas selalu memberitau hasilnya.
"Hasilnya naik lagi." jawab Kharisa singkat dan terkesan dingin, namun Rafael tak oernah mempermasalahkan sikap Kharisa terhadapnya, ia bisa mengerti perasaan ibu dari putranya itu yang memendam kekecewaan terhadapnya.
"Syukurlah, semoga besok semakin membaik. Kalau gitu Papa pulang ke apartemen dulu, besok ke sini lagi, jam berapa Papa bisa masuk melihat Rakha?"
"Jam sebelas saja, Mas harus sudah ada di sini." Jawab mama Kharisa.
__ADS_1
"Wi kamu ikut pulang? Gantian saja menunggu di sininya, kamu juga perlu istirahat dengan benar." Papa Kharisa tau istrinya belum pulang ke apartemen sejak ia datang ke sini.
"Aku temenin Kharisa di sini ya Mas, Faisal saja yang pulang ikut Mas, di sini juga gak boleh terlalu banyak keluarga yang menunggu, ya Sal, kamu istirahat di apartemen saja." Tentu saja mama tidak akan nyaman berada di apartemen, ia tidak akan membuat suamiya bingung untuk memilih akan satu kamar dengan istri yang mana? Di sana ada mama Lisna, lebih baik membiarkan suaminya menemani istri pertamanya yang sudah satu minggu lebih tidak bertemu karena tengah menjalani terapi di rumah sakit ini juga. Akhirnya papa pulang ke apatemen bersama Faisal.
Keesokan harinya, hari ketiga Rakha dirawat di ruang PICU, Rakha masih belum mau membuka matanya, mungkin dia tengah asik dengan dunia mimpinya hingga enggan untuk kembali ke alam sadarnya. Dari hasil pemeriksaan dokter yang merawatnya kalau pernafasannya stabil sampai sore, ventilatornya akan dilepas. Namun Kharisa masih tetap saja khawatir karena Rakha masih belum bangun dari tidurnya. Ya Rakha seperti sedang tidur nyenyak, terlelap di alam mimpinya.
Kharisa dan Faisal tengah berada di samping Rakha setelah papa Kharisa dan mamanya lebih dulu masuk menjenguk cucu mereka. Sementara Rafael masih menunggu di ruang tunggu.
Seperti kemarin Faisal membacakan ayat suci Al Quran, kemudian mengajaknya bicara, walaupun tidak ada respon dari Rakha.
"Rakha mau dengar lagi cerita Uwais Al Qorni? Om Isal ceritain lagi yah." Faisal pun bercerita kisah tokoh favorit Rakha, yang gak pernah bosan mendengar ceritanya.
"Katanya Rakha mau seperti Uwais, jagaain momy. Kalau mau seperti Uwais, Rakha harus bangun, jangan bikin momy sedih, kalau Rakha tidur terus gimana mau jagain momynya." Faisal melihat mata Rakha mengerjap, ia yakin kalau Rakha bisa mendengarnya.
"Jangan lama-lama tidurnya yah, Rskha harus jagain momy." Bisik Faisal di telinga kiri Rakha.
" Sabar Neng, Allah melihat ikhtiar untuk kesembuhan Rakha, tinggal kita jangan pernah putus terus mendoakannya, jangan pernah sedikitpun berpikir negatif. Oh ya A Isal mau telpon bapa dulu, mau telpon abah juga, kita minta doa dari abah, dan minta para santri mendoakan Rakha." Faisal memang sudsh memberitau orang tuanya tentang kondisi Rakha, namun belum memberitahu dan meminta doa khusus pada kakeknya.
"A Isal keluar dulu yah." Kharisa mengangguk mengiyakan, ia sendiri tidak akan keluar meninggalkan Rakha selama jam besuk. Setelah Faisal keluar, terlihat Rafael masuk menjenguk putranya.
Di ruang tunggu, Faisal langsung menghubungi ayahnya, kemudian menghubungi kakeknya setelah tahu dari ayahnya kalau kakeknya sedang berada di rumah, tidak sedang melakukan kegiatan di pondok atau di luar pondok.
Abah ikut prihatin mendengar kondisi Rakha yang sudah dianggap sebagai bagian keluarganya. Faisal pun meminta secara khusus pada Abah untuk mendoakan kesembuhan Rakha.
"Doa terbaik akan Abah panjatkan untuk kesembuhan Rakha, Abah juga akan minta para santri ikut mendoakan, bada maghrib dan saat qiyamul lail nanti, kita gedor pintu langit dengan dzikir dan doa." Doa adalah senjata seorang mukmin, itu sabda Rasulullah. Setelah segala ikhtiar dilakukan namun belum membuahkan hasil, bukan berarti harus terpuruk pada keadaan, masih ada senjata yaitu doa, memohon dengan penuh harap kepada Sang Penentu Takdir. Sementara dzikir ibarat rayuan, pujian kepada Sang Penguasa Alam Semesta agar menetapkan takdir sesuai harapan yang dipanjatkan.
"Bibimu ada di sana? Abah ingin bicara." Sepertinya ada pesan khusus yang ingin Abah sampaikan kepada mama Kharisa, Faisal menyerahkan HPnya ke mama Kharisa yang duduk di sebelahnya. Dengan khidmat mama mendengarkan apa yang disampaikan Abah walaupun dari jarak jauh.
__ADS_1
"Mas, aku mau minta ijin." Ujar mama Kharisa pada suaminya yang duduk di sebelahnya
"Mau kemana? Siapa yang nelpon?" Tanya papa penasaran, tadi melihat mama manggut-manggut saat bicara menerima telpon.
"Abah, bapak mertua Teh Dini, kyai di pondok pesantren tempat aku dan Kharisa dulu." Papa terlihat mengangguk, ia memang belum pernah bertemu dengan Abah.
"Aku minta ijin untuk gunakan uang yang Mas transfer tiap bulan ke rekeningku. Aku mau sedekahkan uang itu." Rupanya Abah memberi nasehat untuk bersedekah, Mama pun merasa diingatkan, kalau ia memiliki tabungan yang lumayan besar, dan tabungannya belum pernah dikeluarkan zakatnya karena baru tau beberapa waktu yang lalu kalau ternyata suaminya selama ini selalu mengirim nafkah lahir. Mama pun belum pernah mengecek langsung rekeningnya. Kalau dihitung mungkin mencapai lebih dari satu milyar.
"Bersegeralah bersedekah, sebab bala bencana tidak pernah bisa mendahului sedekah. Belilah semua kesulitanmu dengan sedekah. Obatilah penyakitmu dengan sedekah. Sedekah itu sesuatu yang ajaib. Sedekah menolak 70 macam bala dan bencana, dan yang paling ringan adalah penyakit kusta dan sopak.” (HR.At-Thabrani)
Abah tadi menjelaskan berlandaskan hadist tersebut, dengan sedekah semoga bisa menjadi jalan kesembuhan Rakha. Dan mama pun tidak ragu dengan yang disampaikan Abah, ia berniat akan mensedekahkan satu milyar dari tabungannya setelah mendapat ijin suaminya.
"Itu uang kamu, terserah mau kamu apakan uang itu. Tapi apa tidak terlalu besar untuk disedekahkan?" Tanya Papa setelah mama menyebutkan nilai yang akan ia sedekahkan.
"Ternyata uang belum tentu menjadi sumber kebahagiaan, nyawa cucuku lebih berharga karena ia sumber kebahagiaanku. Nikmat yang Allah berikan sudah terlalu banyak untukku, dan aku ingin membaginya kepada yang lain. Aku akan sedekahkan ke pondok Abah, panti asuhan yang biasa kita kesana dan yayasan Teh Dini. Semoga ini akan menjadi jalan untuk melapangkan kesembuhan Rakha."
"Kapan mau ditransfer uangnya? Kalau hari ini. Mas bisa antar ke Bank, kalau gak salah di dekat sini ada kantor Bank tempat menyimpan uangmu, besok Mas pulang ke Jakarta yah, bareng sama Lisna, Rendi tadi pagi sudah duluan pulang." Papa tidak banyak bertanya lagi, bahkan ia pun berniat akan mengeluarkan sebagian hartanya saat kembali ke Jakarta.
" Habis dhuhur ya Mas." Jawab Mama bersemangat, ia sangat berharap sedekah ekstrimnya ini membuka pintu langit, dan doanya untuk kesembuhan Rakha Allah kabulkan.
bersambung
Hai readerku tercinta🤗
Aku bergadang nih demi bisa Up, pingin Rakha cepet sembuh, cepet sadar. Ayo bantu like,komen, kirim hadiah biar Rakha cepet bangun.😀
Kopi mana kopi☕
__ADS_1
Meni gak ada yang ngirim kopi😞