Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku
Kecewa Boleh, Benci Jangan


__ADS_3

Malam sudah semakin larut, namun dua orang pria yang sejak tadi begitu menarik perhatian pengunjung kafe khususnya pengunjung wanita karena wajah dan penampilan mereka yang bisa dibilang cocok menjadi model atau artis tampaknya enggan untuk meninggalkan kafe yang berada di daerah Kemang Jakarta Selatan, mereka masih betah duduk sambil ngobrol menikmati secangkir kopi dan cemilan yang mereka pesan.


" El....Jadi orang tua Lo setuju pertunangan Lo dibatalkan?" Tanya pria yang wajahnya mirip orang korea bahkan tidak kalah dengan artis atau anggota boyband korea. Tadi Rafael sedikit bercerita kalau ia memiliki anak namun tidak diinginkan oleh orang tuanya dan ia tidal mengetahuinya, juga tentang pertunangannya pada sahabatnya yang duduk di depannya.


"Mereka belum memutuskan setuju tidaknya, soalnya Bokap buru-buru harus ke bandara, ada acara seminar di Hongkong. Yang penting mereka sudah tau kalau keputusan Gue sudah bulat untuk membatalkan pertunangan." Jawab Rafael setelah menyesap kopinya yang sudah tidak panas lagi.


"Yo...Gue bener-bener kecewa sama orang tua Gue, terutama nyokap Gue, Gue gak nyangka mereka tega berbuat seperti itu, apa mereka gak mikir gimana kalau anak perempuannya diperlakukan seperti itu?" Ujar Rafael dengan geram.


"Ya kecewa boleh, benci jangan." Ujar Mario


"Itu anak Gue Yo....darah daging Gue, darah daging mereka juga, dengan enteng mereka menyuruh menggugurkannya, dan menyembunyikannya dari Gue, nyokap Gue malah menfitnah Kharisa menghkianati Gue, mereka benar-benar gak punya hati." tambah Rafael dengan wajah kecewanya


"Mungkin mereka punya alasan tertentu." Sahabatnya yang bernama Mario itu menanggapi.


"Apapun alasannya tetap saja mereka salah." Ujar Rafael geram.


"Iya sih." Mario pun membenarkan kalau tindakan orang tua Rafael salah.


"Yang bikin Gue sedih, selama ini bokap kerjaannya menolong banyak orang mempertahankan agar bisa hidup, sementara ia ingin membunuh cucunya sendiri."


"Sekarang apa rencana Lo?" Tanya Mario


"Tentu saja Gue ingin hidup bersama dengan anak Gue dan ibunya, hanya Kharisa belum bisa nerima Gue lagi karena status Gue yang sudah bertunangan. Tapi Gue akan terus berjuang meraih hatinya lagi, seperti dulu Gue berjuang dapetin dia jadi pacar Gue, walau sempet ditolak dua kali." Mario terkekeh sendiri saat mengingat jaman SMA ia ditolak olah Kharisa tapi terus saja mendekatinya hingga akhirnya Kharisa menerima cintanya.


"Semoga semuanya lancar ya El, kita sama-sama saling mendoakan diberikan kemudahan menjemput jodoh kita, dan semoga Allah takdirkan jodoh kita sesuai yang kita harapkan." Ujar Mario terdengar sangat tulus, Rafael pun mengangguk setuju.


"Oh ya gimana dengan cewek gebetan Lo? Udah sampai mana?"


"Gue juga masih berjuang, kayanya sih dia nerima Gue, hanya waktunya saja belum pas, dia masih ingin fokus nyelesein kuliahnya, yah Gue akan sabar menunggu, semoga saja benar dia jodoh Gue." Jawab Mario senyum-senyum.


"Sepertinya cewe Lo kali ini sangat istimewa, eh tapi beneran kan Lo dah insaf gak main cewek lagi kan?" Rafael bertanya dengan serius, hatinya sebenarnya ragu dengan perubahan sahabatnya waktu SMA yang sudah mengenal free s*x sejak masa SMA dan sering berganti pasangan, tempat nongkrongnya di club malam dan sekarang dia sama sekali tidak pernah menginjakan kakinya di club dan tidak lagi menerima tawaran wanita cantik dan seksi. Kalau dia benar-benar insaf, berarti luar biasa bukan?


"Ha...ha...ha...Lo gak percaya? Insya Allah Gue benar-benar insaf, dan Gue lagi memperbaiki hidup Gue, sudah cukup masa lalu Gue yang bikin Gue jijik kalau mengingatnya. Sekarang Gue gak mau nyia-nyiain hidup Gue. Sebenarnya Gue malu sendiri bahkan gak percaya diri ngarepin wanita sholehah, sementara masa lalu Gue begitu berlumur dosa, tapi Gue yakin Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, yang Gue lakukan sekarang hanya berusaha memantaskan diri Gue semoga bisa pantas bersanding dengan wanita sholehah yang Gue impikan." Mario berkata dengan penuh penyesalan.


"Wah Gue benar-benar gak nyangka Lo telah berubah." Ucap Rafael sambil menepuk lengan Mario, Mario melebarkan senyumnya seolah memperlihatkan dia bahagia dengan keadaan dia saat ini.


"Gue yang gak nyangka ternyata Lo main-nain juga sama pacar Lo, dan tokcer langsung jadi ha...ha...ha...." Canda Mario

__ADS_1


"Eh Gue ngelakuin nya hanya sekali, itu juga gak sengaja, gak ada niat Gue ngerusak kehormatan Kharisa." Rafael tampaknya membela diri, dia tidak mau disamakan dengan Mario jaman dulu.


"Itulah lihainya setan menggoda manusia, makanya agama mengatur bagaimana seharusnya hubungan laki-laki dan perempuan yang bukan mahram, jangankan bersentuhan, berduaan saja gak boleh, karena yang ketiganya pasti setan yang menggoda agar manusia melakukan maksiat."


"Wuih....keren, bahasanya udah kaya ustad." Rafael benar-benar tidak percaya Mario bisa berkata-kata seperti itu. Mario tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Tapi Yo Gue gak nyesel melakukan itu setelah melihat anak Gue, Gue gak nyangka Gue punya anak, cakep, cerdas, lucu, bikin gemes, ah pokoknya ngangenin....."


"Husss... perbuatan dosa itu harus disesali, minta ampun dan taubat sama Allah. Zina itu termasuk dosa besar, kalau tidak bertaubat dan Allah tidak mengampuni, Allah akan berikan azabnya nanti di akhirat bahkan di dunia juga bisa kena azabnya." Mario menepuk punggung tangan Rafael, mengingatkan ucapannya yang tidak tepat.


"Tapi kalau gak gitu anak Gue gak akan lahir." Bantah Rafael.


"Anak itu karunia dari Allah dan sudah ditakdirkan oleh Allah lahir ke dunia sebagai anak Lo, tapi caranya salah, perbuatan dosanya tetap harus disesali sebagai kesalahan, minta ampun sama Allah dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi, kedepannya Lo hati-hati kalau berduaan dengan lawan jenis, misalnya saat berduaan dengan tunangan Lo atau dengan Kharisa, sebaiknya hindari deh jangan berduaan dengan lawan jenis."


"Kharisa mana mau diajak berduaan sama Gue, kemarin saja Gue bisa ngobrol berdua karena dibantu sepupu Gue yang jadi atasan dia. Dia sudah berubah, Gue pegang tangannya aja dia nolak, pake hijab dia sekarang, tapi tetep cantiknya gak berubah, malah tambah cantik dan tambah dewasa, dan cinta Gue gak berubah sama dia, jadi akan Gue perjuangkan, demi anak Gue juga." Rafael senyum-senyum sendiri, sepertinya tengah membayangkan wanita yang dicintainya.


"Wah bagus dong kalau dia berubah menjadi lebih baik, berarti Lo juga barus berubah memperbaiki diri, biar satu frekuansi sama dia. Gue diajarin sama mentor Gue untuk menjemput jodoh kita kan harus ikhtiar dan berdoa, nah ikhtiarnya itu bukan kita ngejar-ngejar dia, tapi mulai dari memperbaiki diri, memantaskan diri agar pantas bersanding denganya...." Belum sempat Mario menyelesaikan ucapannya, datang seorang pelayan laki-laki menghampiri mereka.


"Permisi Mas....maaf, ini sudah pukul dua belas malam, kami sudah mau tutup." Ujar pelayan itu sambil menangkupkan kedua tangannya di dada. Ternyata suasana kafe sudah sepi, tidak ada pengunjung lain selain mereka berdua.


"Oh iya Mas, maaf yak kita keasyikan ngobrol sampe lupa waktu." ujar Mario sambil beranjak berdiri.


"Jadi kita bubar jalan nih?" Tanya Rafael saat berada di parkiran.


"Iyalah, besok kan harus kerja, Lo juga besok pagi-pagi harus balik ke tempat kerja Lo kan?"


"Iya sih, pagi-pagi Gue sudah harus berangkat, padahal Gue masih pengen ngobrol sama Lo, kayanya ngobrol sama Lo bikin adem, Gue juga pengen belajar banyak dari Lo." ujar Rafael jujur.


"Gampanglah nanti kita ngobrol lagi, masih banyak waktu, biar nyantai ngobrolnya enakan di rumah Gue aja, kapan-kapan Lo main ke rumah Gue yah, pas libur, sekarang Gue gak ke Bandung tiap libur kok, jadi hubungi saja kalau mau ke rumah, Oke." Ujar Mario


" Ya udah, sekarang kita pulang, Gue cabut yah." Rafael pamit, dan berjalan menuju mobilnya. Begitu pun dengan Mario.


Rafael melajukan mobilnya dengan santai sambil menikmati alunan lagu yang diputar oleh satsiun radio yang dinyalakan di mobilnya. Jalanan ibu kota tidak sepadat saat dia berangkat menuju kafe. Ia sengaja pulang malam agar tidak bertemu dengan maminya. Setelah selesai membicarakan pembatalan pertunangannya dengan Vania tadi siang ,ia langsung keluar rumah. Ya ia kecewa dengan sikap maminya, mennadikan perjodohannya dengan Vania sebagai alasan ia tidak menerima Kharisa dan putranya. Kini terbayang lagi kejadian tadi siang saat mereka berbicara bertiga.


"Aku sudah bertemu dangan Kharisa, ternyata Papi dan Mami selama ini menyembunyikan sesuatu dari aku. Kenapa Mi, Pi?" Ujar Rafael setelah mereka selesai makan siang, mereka masih duduk di meja makan, mami Rafael masih menikmati puding sebagai makanan penutupnya. Tentu saja Mami Papi Rafael terlihat terkejut mendengar ucapan putra bungsu mereka.


"Kamu bertemu dia dimana?" Tanya Mami santai, padahal tadi dia terlihat terkejut.

__ADS_1


" Itu tidak penting Mi, yang penting sekarang adalah aku ingin tau bagaimana bisa Papi dan Mami menyembunyikan itu semua dari aku, dan Papi malah ingin membunuh cucu Ppi sendiri, kenapa Mi, Pi....?" Tanya Rafael dengan suara bergetar. Kekecewaan tampak di wajahnya.


" Karena kamu sudah dijodohkan dengan Vania El." Jawab Mami. "Karena kakekmu sebelum meninggal berpesan, salah satu cucunya harus menikah dengan salah satu cucu sahabatnya, kakeknya Vania."


"Salah satu cucunya kan? Berarti bisa saja bukan aku, kenapa tidak abang saja yang dijodohkan." Yang dimaksud Rafael adalah kakaknya, setelah lulus kuliah S2nya di Amerika ia tidak mau kembali ke Indonesia, ia lebih betah di sana dan memilih hidup di sana.


"Kamu sendiri tau kondisi abangmu seperti apa." Ujar Mami dengan wajah sedih. Ya Rafael sangat tau kondisi abangnya, ia lebih suka tinggal di Amerika tentu saja karena ada alasannya, Rafael sendiri baru tahu dua tahun yang lalu, ia menemukan kelainan pada kakak laki-lakinya, awalnya ia tidak merasa aneh saat teman laki-laki abangnya datang ke apartemen, kadang hanya seorang, kadang beberapa orang. Namun lama kelamaan ia mulai menemukan keganjilan saat teman laki-laki abangnya memanggil 'honey', kemudian mereka juga bertengkar membicarakan seseorang yang dari namanya dipastikan laki-laki. Teman abangnya seperti tengah cemburu. Dan lebih gilanya lagi, ia menemukan mereka sedang berciuman di kamar abangnya. Ya abangnya Rafael seorang penyuka sesama jenis. Makanya ia lebih senang menetap di Amerika.


"Tapi Kharisa hamil anak aku Mi, aku ayahnya harusnya bertanggung jawab." Ujar Rafael dengan nada tinggi.


"El , dengarkan Papi." Saat itu Papi Rafael baru bersuara. "Kharisa hamil saat masih duduk di sekolah SMA, kamu baru akan melanjutkan kuliahmu. Kamu bayangkan kalau Papi menikahkan kalian, bagaimana sekolah Kharisa? Bagaimana juga dengan kamu, pasti kamu tidak akan bisa fokus dengan kuliahmu? Makanya sebagai bentuk tanggung jawab kita, papi meminta dia menggugurkannya, agar dia tetap bisa sekolah, merai cita-citanya, begitu pun dengan kamu, dan kamu apakah kamu tidak berpikir bagaimana dengan harga diri papi? Saat orang-orang tau anak papi yang papi banggakan memiliki anak di luar nikah, apa kamu tidak memilirkan itu? "


"Harga diri? Papi bicara harga diri? Bagaimana kalau orang-orang tau kalau papa, seorang dokter spesialis terkenal menggugurkan janin cucunya sendiri, membunuh darah dagingnya sendiri, apa Papi masih punya harga diri?" Rafael menjeda sejenak, ia menahan emosinya sesaat.


"Aku memang salah, aku membuat malu keluarga, merusak harga diri papi, tapi apakah aku juga harus menjadi laki-laki yang tidak bertanggung jawab, menelantarkan anaknya sendiri?"


"Kharisa tidak menggugurkan kandungannya Pi, dia membesarkan anakku sendiri, dia rela meninggalkan papanya yang setuju dengan usulan papi saat itu". Saat itu Papi terlihat terkejut.


" Kenapa Pi? Papi tidak tau? Papi tidak tau kalau cucu Papi sekarang telah tumbuh menjadi anak yang sehat, tampan dan cerdas? Anak itu mirip aku Pi, jangan bilang kalau papi juga tidak tau Pi." Papi Rafael menatap istrinya dengan tajam. Mami pun terlihat gugup ditatap oleh suaminya, ada apa dwnvan Mami? kenapa ia terlihat vugup


"Eu... El tapi kamu sekarang sudah bertunangan dengan Vania." Ucap Mami ragu.


"Apa yang dipikiran Mami itu hanya ada Vania? Aku sudah memutuskan untuk membatalkan pertunangan dengan Vania, dan tidak memerlukan persetujuan Papi dam Mami karena aku sudah dewasa. Aku berhak menentukan hidupku sendiri, Selama ini sudah cukup aku mengkuti keinginan Papi sama Mami tanpa pernah menolaknya sedikit pun. Kali ini biarkan aku menentukan hidupku sendiri, memilih jodohku sendiri." Rafael menghentikan ucapannya sendiri. Papinya pun baru sadar kalau ia sudah terlambat sepuluh menit menuju bandara.


"Kita bicarakan lagi ini nanti, Papi barus berangkat sekarang, sepulang dari Hongkong nanti Papi hubungi."


Rafael memukul setir mobilnya, saat mengingat obrolan dengan orang tuanya belum tuntas, padahal ia ingin segera menyampaikan pembatalan pertunagannya kepada Vania dan keluarganya, dan memberi kepastian kepada Kharisa kalau ia tidak perlu ragu lagi untuk kembali bersama demi buah hati mereka. Namun ia harus menungu, menunggu sampai ayahnya kembali dari Hongkong.


Tidak terasa ia sudah memasuki jalanan menuju rumahnya, sepi dan langit pun terlihat gelap, tidak terlihat gemerlapnya bintang bertaburan di langit, bulan pun sepertinya enggan untuk menampakan dirinya. Dan kini ia telah berada di depan pintu gerbang rumahnya, entah kenapa ia merasa enggan untuk masuk ke dalam rumahya, malas rasanya bertemu dengan maminya, tapi ia ingat ucapan sahabatnya tadi.


"Kecewa boleh, benci jangan"


Sabar El....


bersambung......


Hai Readerku tercinta, maaf baru Up tengah malam nih. Anggap saja kemarin-kemarin Othor lagi liburan dulu, perlu refreshing juga kan otaknya, biar ngehalu nya lancar.😁

__ADS_1


Tak bosan-bosannya Othor mengucapkan terima kasih atas dukungannya. Jangan bosan untuk meninggalkan like, komennya yah. Apa? mau ngasih hadiah? oWww boleh banget tuh. Sama votenya juga? Yess.....Thanks Terima kasih semuanya.☕


__ADS_2