Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku
Seperti Keluarga yang Utuh


__ADS_3

"Risa....tunggu." Kharisa langsung menoleh ke belakang, ia sudah tau siapa yang memanggilnya, tidak ada yang memanggilnya dengan panggilan itu selain Rafael. Ia menghentikan langkahya menunggu seseorang yang tadi memanggilnya, masih berada di mobil hendak memarkirkan mobilnya. Dengan setengah berlari ia menghampiri Kharisa sambil menenteng tas dan jas dokternya.


"Thanks sudah mau nunggu." Ujarnya.


"Ada apa?" Tanya Kharisa sambil mengerutkan keningnya.


"Ck....gak boleh yah kita jalan bareng atau ngobrol berdua?" Rafael berdecak kecewa, seolah harus ada hal penting dulu untuk bertemu Kharisa.


"Aku kira ada hal penting yang mau disampaikan."


"Memang ada, tapi tidak di sini, pulang kerja bisa kan kita ketemuan."


"Hari ini aku tidak tau pulang jam berapa, mau kunjungan ke perusahaan, tempatnya di luar kota." Kharisa ragu kalau hari ini bisa pulang tepat waktu.


"It's Ok, aku akan tunggu kamu." Rafael terlihat senang Kharisa tidak menolaknya.


"Nanti aku kabarin kalau sudah nyampe rumah." Ujar Kharisa sambil berjalan meninggalkan parkiran, Rafael pun mengikutinya.


"Cepet banget jalannya, sejak kapan jalannya cepat seperti ini?" Rafael mengikuti irama langkah Kharisa yang terkesan terburu-buru. Kharisa sengaja berjalan cepat agar bisa meninggalkan Rafael, soalnya ia melihat dari arah depan ada dua sahabat yang berjalan menuju ke arahnya, mereka adalah Vania dan Meita. Rupanya Kharisa menghindari berpapasan dengan mereka, terlalu malas pagi-pagi harus mendengarkan cemoohan Meita, karena pasti ada saja ucapan sinis keluar dari mulutnya.


"Ada yang harus aku kerjakan sebelum berangkat kunjungan, aku duluan yah." Kharisa mempercepat langkahnya meninggalkan Rafael menuju pintu masuk samping. Rafael hanya bisa menghela nafas, ia pun mengalah tidak mengejar Kharisa.


"Raf....kamu dari mana saja? Dari kemarin aku nyari kamu, sampai Bang Andre bosan kayanya lihat aku bolak balik nyari kamu." Tanya Vania saat berpapasan dengan Rafael.


"Kemarin aku pulang." jawab Rafael singkat. Ia belok munuju pintu masuk samping, Vania dan Meita pun mengikuti Rafael di belakangnya.


" Pulang? Kok gak bilang-bilang, tau kamu pulang aku kan bisa ikut." Terdengar nada kecewa dari ucapan Vania.


"Ngedadak, ada urusan yang harus diselesaikan."


"Raf, nih aku beliin sarapan, kamu pasti belum sarapan kan? Kita makan bareng di ruangan kamu yah." Rafael hanya diam sambil terus berjalan tidak bisa menolaknya.


Sementara di ruang kantor Marketing Kharisa sudah duduk di tempat kerjanya. Belum terlihat satu pun rekannya yang datang, ia memang paling sering datang duluan. Ia menatap layar komputernya yang baru dinyalakannya, yang menampilkan layar desktopnya. Pikirannya menerawang mengingat pertemuannya tadi dengan Rafael. Sebenarnya ia ingin bertanya bagaimana hasil pertemuan Rafael dengan orang tuanya, tapi ia terlalu malu untuk menanyakan itu, bisa-bisa Rafael mengira ia mengharapkan kembali padanya, walaupun harapan itu masih ada di hatinya namun ia berusaha membuang harapan itu karena tidak ingin kecewa. Apalagi tadi ia melihat Vania seolah mengingatkannya untuk menjauh dari Rafael.


Sering bertemu dengan orang yang kita cintai tapi ingin kita hindari memang akan terasa berat, tapi mau tidak mau ia harus belajar terbiasa dengan itu, apalagi ia tidak akan bisa terus menghindari Rafael, ia harus bersama-sama dengannya dalam rangka mendidik dan membesarkan putra mereka, walaupun bukan sebagai orang tua yang utuh. Ya Kharisa sudah bulat tidak akan mengharapkan Rafael. Walaupun Faisal memberi nasehat agar tidak tergesa-gesa mengambil keputuaan.


"Shalat istikhorohlah, agar saat mengambil keputusan ada dalam bimbinganNya." Ujar Faisal saat hari Minggu kemarin ngobrol berdua di teras rumahnya.

__ADS_1


"Mintalah jika dia jodoh yang terbaik dekatkanlah, jika tidak berilah keikhlasan menerima ketetapan dari Allah." Ah Faisal memang selalu membuat Kharisa adem, dan tenang.


Kharisa pun tersadar dari lamunannya saat Zaki dan Ahmad masuk ke ruangan kantornya.


Ternyata benar, hari ini Kharisa pulang melebihi jam kerjanya, ia mengunjungi perusahaan yang ada di luar kota, ada empat perusahaan yang ia kunjungi di kota itu, kenapa sampai ke perusahaan di luar kota yang mereka kunjungi? Menurut bosnya, itu adalah peluang pasar, di sana belum ada rumah sakit yang besar yang memiliki fasilitas medik seperti rumah sakit Setya Medika. Selama ini bila ada kasus penyakit yang tidak bisa ditangani di rumah sakit dikota itu, mereka merujuknya ke rumah sakit di Bandung atau Jakarta, Bosnya itu memang jeli melihat peluang sekecil apa pun, dan ini menjadi pelajaran berharga bagi Kharisa yang harus ia ikuti jika mau sukses dalam dunia marketing.


Pukul setengah tujuh ia baru tiba di rumah sakit, ia langsung menuju mushola untuk shalat maghrib yang hampir masuk akhir waktu, kemudian ke parkiran motornya karena ingin segera pulang ke rumah. Kalau pulang terlambat seperti ini ia akan disambut oleh sikap protes putranya yang tidak suka ia pulang terlambat.


"Momy lama keljanya."


"Momy kenapa telat pulangnya?"


"Besok jangan kelja lagi, Momy di lumah aja." Seperti itulah bentuk protes putranya kalau ia pulang terlambat.


Apalagi tadi HPnya lowbath, ia lupa membawa charger dan power bank, dan entah kenapa kabel charger mobil invent rumah sakit tidak bisa dipakai, biasanya ia mencharge HPnya di mobil. Pasti Rakha menghubunginya menanyakan kenapa belum pulang.


Saat tiba di rumahnya, ia melihat sebuah mobil yang mulai dikenalnya sudah terparkir di depan rumahnya. Ia pun memasukan motornya di carport.


"Assalamualaikum." Kharisa masuk ke dalam rumah, namun di ruang tamu tidak terlihat ada siapapun. Ia pun masuk ke ruang tengah, rupanya penghuni rumah ini tengah berkumpul di meja makan sedang menikmati makan malam, termasuk pemilik mobil yang terparkir di luar juga ada di meja makan.


"Assalamualaikum." Ulang Kharisa, karena ucapan salam yang tadi tidak ada yang menjawabnya karena mereka pasti tidak mendengarnya.


" Wah lagi pada makan." Kharisa mencium pucuk kepala putranya.


"Momy kenapa balu pulang, Momy teleponnya juga mati." Rakha langsung memasang wajah cemberutnya. Sementara Rafael memperhatikan tingkah putranya yang sedang protes pada momynya.


"Besok Momy gak boleh kelja."


"Momy minta maaf, HP momy lowbath, lupa gak bawa chargernya."


"Rakha Momynya biar makan dulu yah, kasian Momy pasti cape dan lapar." Ujar Mama Kharisa.


"Neng Kharis duduk sini saja, Bibi sudah selesai kok makannya." Bi Nani beranjak dari kursinya, mengambil piring untuk Kharisa. Kharisa pun duduk di kursi di samping Rafael setelah mencuci tangannya.


"Aku langsung ke sini, tadi ngehubungi kamu gak aktif terus." Ujar Rafael . Kharisa menganggukan kepalanya.


"Ayo kita lanjutkan lagi makannya." Ujar Mama.

__ADS_1


Rafael mengambilkan nasi untuk Kharisa karena kebetulan tempat nasinya ada di dekatnya.


"Udah cukup." Kharisa menarik piringnya saat Rafael akan menambahkan lagi nasinya. Rafael pun menambahkan ikan, oseng sayuran di piring Kharisa.


"Makan yang banyak, kamu pasti cape kan kehabisan energi." ujar Rafael sambil menatap Kharisa, membuat Kharisa jadi sedikit salah tingkah.


"Momy tadi aku juga makanannya diambilin Om Doktel." Ujar Rakha bangga karena ia juga diperlakukan sama dengan momynya.


"Kata Om dokter makannya halus banyak bial sehat, aku makan ikannya banyak." tambahnya lagi.


"Iya, sekarang ayo Rakha habiskan dulu makannya, bisa sendiri makan ikannya?" Rakha menganggukan kepalanya. Kharisa memperhatikan putranya saat makan, ternyata benar ia makan ikannya dengan lahap, Mama dan bi Nani memasak ikan gurame asam manis, sepertinya Rakha menyukai masakan ikan gurame ini. Begitu juga Rafael memperhatikan putranya yang duduk di depannya. Antara sedih dan bahagia yang dirasakan Rafael. Sedih karena ia melewatkan masa emas tumbuh kembang putranya, dan saat ini pertama kalinya melihat putranya makan sendiri. Bahagia malam ini punya kesempatan makan malam bersama orang-orang yang disayanginya. Andai saja hal seperti ini bisa dirasakan setiap hari tentu ia sangat bahagia. Bagaimana tidak, mereka terlihat seperti keluarga yang utuh.


Selesai makan Rafael mengajak Rakha menuju ruang tamu. Sementara Kharisa langsung mandi karena merasa gerah.


"Om doktel, es klimnya boleh dimakan sekalang gak? Aku kan sudah makan, jadi pelutku gak akan sakit." Rakha menagih janji Rafael yang tadi membawakan dua box eskrim buat Rakha.


"Ya boleh, bisa ambil sendiri es krimnya?" Tanya Rafael, tadi mama menyimpannya di freezer.


"Bisa Om doktel, aku ambil dulu yah." Dengan wajah cerianya Rakha kembali menuju ruang makan, hati Rafael berdesir, semudah itukah membuat putranya senang, andai saja Rakha tau kalau yang dipanggil Om Dokter ini adalah dadynya. Rasanya ia tidak sabar untuk dipanggil Dady oleh putranya.


Rakha kembali ke ruang tamu membawa satu box es krim diikuti Bi Nani yang membawa nampan berisi mangkuk kecil, sendok dan dua gelas air putih.


"Ayo Om kita makan es klimnya, ini tempatnya buat Om." Rakha menyodorkan mangkuk kecil untuk Rafael. Mereka berdua pun menikmati es krimnya sambil Rakha bercerita tentang sekolah dan teman-temannya.


Kharisa datang saat mereka telah menghabiskan es krim di mangkuk mereka. Matanya langsung tertuju pada Rafael.


"Aku hanya bawa es krim, dan gak ada salahnya kan makan es krim malam-malam, kamu juga pernah makan es krim malam-malam kan?" Rafael lebih dulu membela diri sebelum Kharisa menegurnya karena membiarkan Rakha makan eskrim. Ia senyum puas saat Kharisa mencebikan bibirnya sambil duduk di sofa di depannya.


"Rakha shalat Isya dulu gih, Momy tadi udah shalat duluan." Ujar Kharisa disambut Rakha dengan anggukan kepala. Tidak sulit bagi Rakha kalau urusan shalat karena memang sudah dibiasakan untuk shalat di awal waktu, siapa lagi kalau bukan karena Faisal yang menanamkan kebiasaan itu. Nasehat Faisal memang selalu membekas di hati Rakha karena biasanya dicontohkan melalui cerita atau kisah teladan yang mudah dicerna.


"Om doktel aku sholat dulu yah." Rakha pamit dan beranjak meninggalkan Rafael dan Kharisa.


"Mau sekalian shalat juga di sini?" Tanya Kharisa


"Aku shalat di mess saja." Jawab Rafael, Kharisa menganggukan kepalanya, yang penting ia sudah mengingatkan Rafael shalat, terserah ia mau shalat atau tidak bukan urusannya. Kharisa tau kalau Rafael belum terlalu memperhatikan kewajibannya sebagai muslim, sebagai mana dirinya dulu lima tahun yang lalu. Ingin rasanya ia mengingatkan itu, karena walau bagai manapun Rafael adalah ayah kandung putranya, berharap Rafael pun memberikan contoh yang baik kepada buah hati mereka.


"Sa....saat ini aku bahagia banget, bisa berkumpul bersama, makan bersama, kita seperti keluarga yang utuh. Bisakah kita terus seperti ini?"

__ADS_1


bersambung.....


__ADS_2