Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku
Sehati


__ADS_3

"Aku gak bisa El." Jawab Kharisa tegas.


"Sa, Rakha pasti senang kalau kamu datang, kita bisa jalan-jalan bareng, itu kan yang Rakha inginkan."


"Aku gak bisa!"


"Please Sa, biar seru liburan Rakha." Rafael terus mencoba mempengaruhi Kharisa.


"Di sana ada mami kamu kan?" Tentu sajaKharisa tidak mau lagi bertemu dengan maminya Rafael.


"Sa, sebenarnya mami yang minta kamu untuk datang ke sini." Rafael mengatakan yang sebenarnya, memang maminya yang meminta agar Kharisa menyusul ke Singapura.


"Haaah....? Untuk apa? Untuk menghinaku lagi?" Nada suara Kharisa terdengar emosi, ia tidak mau direndahkan lagi oleh mami Rafael , cukup kemarin yang terakhir ia bertemu dengannya.


"Sa, mami sepertinya mulai luluh, dia minta kamu datang karena tidak mau melihat Rakha sedih, mami tahu kalau kebahagiaan Rakha adalah berada di dekatmu."


"El, setelah apa yang mami kamu lakukan sama aku, kamu masih percaya sama mami kamu? Aku gak percaya El, dia pasti merencanakan sesuatu lagi untuk nyakitin aku."


"Sa, aku bisa lihat mami tidak ada niat untuk menyakiti kamu. Ini kesempatan buat kita untuk bisa bersama Sa, aku lihat mami seperti yang menyesal, aku bisa lihat itu dari sikapnya, apalagi saat melihat Rakha nangis saat kangen kamu. Percaya sama aku Sa." Rafael tak akan gampang menyerah meyakinkan Kharisa, ia merasa ini kesempatan untuknya mendekatkam lagi maminya dengan Kharisa, sayangnya Kharisa sudah tidak percaya lagi dengan maminya. Wajar sih Kharisa bersikap seperti itu, setelah perlakuan mami Rafael terhadapnya.


"Sudahlah El, aku tidak bisa, lagi pula lusa kalian pulang kan, aku akan jemput Rakha di bandara, kabarin aku jadwal landingnya. Minggu depan aku juga ada rencana ke Singapura bareng mama papa, Rakha pasti aku ajak juga." Kharisa sudah tidak bisa dibujuk lagi, bukan karena keras kepalanya, tapi karena ia sudah menutup hatinya untuk mami Rafael, walaupun sebenarnya ia tau itu kurang baik, tapi ia terlanjur sakit hati dengan mami Rafael.


Rafael tidak bisa berkata-kata lagi, ia hanya diam, penuh penyesalan, membayangkan kalau Kharisa teguh pada pendiriannya tidak mau bersamanya.

__ADS_1


"Rakha sudah bangun?" Terdengar suara Kharisa menanyakan putranya.


"El....? Kharisa memanggil Rafael karena Rafael tidak menjawab pertanyaannya.


"Ah....apa Sa?" Rupanya Rafael melamun.


"Rakha sudah bangun ?" Ulang Kharisa


"Belum, masih nyenyak tidur, kamu mau lihat? Ganti vidio call yah." Tanpa persetujuan Kharisa, Rafael mengganti mode vidio call, agak lama diterima Kharisa, karena ia memasangkan dulu hijab instannya.


"Dia tidur nyenyak kan? Tadi habis jalan-jalan ke Sea Aquarium Sentosa, lanjut berenang. Kecapean kayanya." Rafael mengarahkan layar HPnya ke tempat tidur dimana Rakha berbaring, terlihat nyenyak tidurnya. Kharisa pun merasa tenang melihat putranya baik-baik saja.


"Nanti aku kirim foto-fotonya, tadi dia bilang coba kalau difotonya bareng momy, pasti seru. Dia bilang gitu Sa." Kharisa hanya diam memperhatikan putranya yang terlihat begitu damai.


"Siapa yang telpon?" Tanya mama saat Kharisa keluar dari kamarnya.


"Rafael." Kharisa kembali duduk di sofa ruang tengah di samping mamanya.


"Kharis kok gak bilang mama, mama kan kangen sama Rakha, ingin vidio call sama cucu mama." Dua hari tidak melihat cucunya pasti membuatnya kangen.


"Rakha lagi tidur, kecapean katanya habis berenang. Nanti habis maghrib kita vidio call Rakha." Kharisa menghembuskan nafas panjang membuat mama menoleh ke arahnya.


"Ada apa? Rafael bicara apa?" Mama tahu putrinya tengah memendam sesuatu.

__ADS_1


"Gak terlalu penting Mah." Jawabnya, tak ingin mamanya tau kegundahan hatinya.


"Kharis gak mau cerita sama mama alasan kenapa ibunya Rafael gak nerima kamu? Mama heran, apa kurangnya anak mama sampai gak mau nerima kamu sayang, padahal kamu telah melahirkan cucunya, Rafael juga sangat mencintai kamu, sekarang malah dia sudah menyayangi Rakha, padahal kan tinggal restui hubungan kalian, selesai masalah, enak semuanya, Rakha senang punya orang tua utuh, Rafael juga pasti bahagia bisa bersama kamu dan Rakha. Rasanya mama jadi ingin ketemu dan bicara dengan ibunya Rafael." Kharisa terdiam mendengar ucapan mamanya.


"Kamu tahu alasannya apa?" Tanya mamanya lagi.


"Eh...itu....karena maminya Rafael tetap ingin menjalankan amanat kakeknya Rafael, menjodohkan Rafael dengan Vania." Jawab Kharisa, tidak mungkin ia menjelaskan alasan yang sebenarnya.


"Kemarin mama bilang sama papa, gimana kalau kamu tetap menikah dengan Rafael walaupun tanpa restu ibunya, toh ayahnya merestui kalian kan? Yang penting papa merestui, papa kan yang nanti jadi wali kamu yang menikahkan kamu. Tapi papa gak setuju, papa ingin kamu menikah dengan restu orang tua calon suami kamu." Mama menjeda sejenak, menatap putrinya lalu mengusap kepalanya.


" Mama juga sudah bilang ke papa kalau kamu sudah mengambil keputusan untuk meninggalkan Rafael dan akan mengajukan pengunduran diri dari pekerjaan kamu."


"Trus respon papa gimana?" Kharisa menoleh pada mamanya.


"Papa setuju kamu keluar dari kerjaanmu, dan minta kita kembali ke rumah, papa juga yang akan bayarin uang finalty kamu. Untuk huhunganmu dengan Rafael, papa minta kamu bersabar, papa akan coba bicara dengan orang tua Rafael terutama dengan ibunya."


"Mah, papa gak usah ketemu orang tua Rafael, aku sudah bulat kok untuk meninggalkan Rafael."


"Papa bilang belum tentu nanti ada laki-laki yang tulus mencintai kamu dan tulus menyayangi Rakha, makanya kamu disuruh bersabar dulu." Kharisa terdiam, ternyata papanya memikirkannya sampai sejauh itu. Ia juga tidak bisa membayangkan hidup dengan laki-laki lain yang belum tentu bisa menerima kekurangannya dan menyayangi Rakha dengan tulus, kecuali laki-laki seperti Faisal, saat ini hanya Faisal yang ada dalam benaknya yang dianggap pantas untuk menjadi ayah Rakha, tapi akankah Faisal menerima permintaannya? Dan pantaskah ia menjadi pendamping Faisal? Tapi demi Rakha ia jadi ingin menanyakan lagi pada Faisal, tak apa kesannya ia yang mengejar-ngejar.


"Kalau menurut mama ada sih, yang bisa menerima masa lalu kamu dan menyayangi Rakha tulus......Faisal." Baru saja di benak Kharisa terlintas Faisal, ternyata mamanya berpikiran sama, memang sehati ibu dan anak ini. Tapi tak mungkin Kharisa menceritakan kalau ia sudh meminta Faisal menjadi ayah Rakha tapi Faisal belum menjawabnya, malu rasanya kalau orang lain tahu ia yang maju lebih dulu, walau itu mamanya sendiri.


"Mama sangat setuju kalau kamu sama Faisal, tapi....siapa pun juga nanti jodohmu, mama akan terima dan mama akan dukung." Mama memeluk putri satu-satunya yang sangat disayanginya, Kharisa pun membalas pelukan mamanya.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2