Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku
Saat Mereka Bertemu


__ADS_3

Pukul setengah tiga siang tadi Rafael baru keluar dari ruang direktur bersama para manajer lainnya, harusnya pukul satu siang mereka sudah bisa pulang karena hari Sabtu jam kerja hanya setengah hari, tapi karena ada rapat mendadak mereka baru bisa keluar rumah sakit setelah rapat selesai, ya itu bagian dari loyalitas mereka pada perusahaan, apalagi mereka berada pada level manajer yang dituntut memiliki loyalitas tinggi. Sebenarnya hal seperti ini sudah biasa dan tidak jadi masalah bagi Rafael, dengan senang hati ia akan memberikan loyalitas tinggi pada rumah sakit, apalagi rumah sakit milik keluarganya sendiri. Tapi ada yang berbeda dari Rafael saat Rapat siang ini, ia terlihat gelisah setelah waktu menunjukan pukul satu siang, beberapa kali ia melihat jam di tangannya yang dirasakan begitu cepat jarum jamnya beputar. Begitulah biasanya sikap seseorang kalau sudah memiliki janji yang waktunya telah terlewati dari waktu yang ditentukan.


Rafael memang memiliki janji untuk bertemu dengan putranya, walaupun sebenarnya ia sendiri tidak menentukan waktunya pukul berapa akan menemui putranya, ia hanya bilang akan datang sore hari. Namun ia sudah memiliki rencana untuk membelikan Rakha sesuatu, entah mainan atau makanan. Kalau pukul satu ia sudah keluar rumah sakit ia bisa berlama-lama ketemu dengan Rakha, tapi sekarang waktunya sudah terpotong satu setengah jam, dan setelah bertemu dengan Rakha ia akan berangkat ke Jakarta untuk menemui orang tuanya. Dengan tergesa-gesa ia menuju mess, ia ingin mandi agar tubuhnya terasa segar, memilih baju terbaik yang ia miliki, dan ia telah terlihat rapi dan wangi, seperti yang mau berkencan dengan kekasihnya saja ia kembali memperhatikan penampilannya dari cermin di depannya, takutnya ada yang kurang. Setelah dirasa penampilannya sempurna ia pun tersenyum puas. Siapapun yang melihatnya pasti akan berdecak kagum melihat ketampanan dan penampilannya saat ini, apalagi wajahnya terlihat berseri berbeda dari biasanya yang terkesan dingin.


"Jadi mau kencan nih....gila, ini beneran deh bakal bikin Kharisa berpikir seribu kali buat nolak kamu." Ujar Andre saat Rafael baru keluar dari kamarnya. Rafael mencebikan bibirnya, ia tau dugaan Andre tentang Kharisa akan melenceng jauh, Kharisa bukanlah wanita yang dengan mudah akan kembali padanya hanya karena terpesona pada ketampanannya saja, ia termasuk wanita yang keras kepala dengan prinsipnya.


"Aku berangkat dulu ya Bang, langsung balik ke Jakarta." Rafael bejalan menuju pintu keluar.


"Kalau Vania nanyain gimana?"


"Jangan bilang aku pulang, bilang saja ada urusan." Kalau tau Rafael pulang, pasti akan nyusul dia, sementara Rafael ingin menyelesaikan urusannya dulu dengan orang tuanya setelah itu baru dengan Vania. Andre pun menganggukan kepalanya, dalam hatinya ia merasa kasihan pada Vania, walau bagaimana pun Vania tidak bersalah, ia menerima perjodohan dengan Rafael salah satunya karena menganggap Rafael laki-laki single, dan sepertinya Vania telah lebih dulu menyukai Rafael, bahkan mungkin sudah tumbuh rasa cinta di hatinya pada laki-laki yang baru beberapa minggu lalu melamarnya dengan terpaksa.


Karena waktu sudah beranjak sore, Rafael memutuskan tidak mampir ke toko mainan, pasti akan menghabiskan kan waktu lama, lebih baik berlama-lama dengan putranya. Ia hanya mampir membeli pizza yang dulu menjadi makanan favorit Kharisa. Hampir pukul empat sore ia baru tiba di rumah Kharisa, disambut oleh bocah laki-laki yang tengah bermain di teras sendirian.


"Om doktel......kesini lagi?"


"Gak boleh ya Om datang ke sini lagi?" Hati Rafael mencelos mendengar pertanyaan Rakha, apa ia tidak mengharapkan kedatangannya? Tanyanya dalam hati.


"Boleh dong Om doktel, ayo masuk." Kini hatinya kembali berseri saat Rakha menarik tangannya membawanya ke ruang tamu.


"Om doktel mau ketemu aku atau Momy?"


"Om mau ketemu dua-duanya, nih Om bawain pizza buat Rakha sama Momy." Rafael menyimpan dua kotak pizza di meja, ada pasta dan juga salad.


"Wah Om doktel ini kan makanan kesukaan Momy." Ternyata Kharisa masih menjadikan pizza sebagai makanan paforitnya, sampai Rakha pun mengetahuinya.


"Kalau Rakha suka pizza gak?" tanya Rafael dengan wajah sumringah, sepertinya tidak salah kali ini dia membawa pizza.


"Aku juga suka tapi yang banyak cheesenya."


"Sama kaya Om dong, Om juga sukanya yang banyak kejunya, it's so yummy, iya kan?" Rakha pun mengangguk-angguk.


"Boleh di buka sekalang Om?" rupanya Rakha sudah mencium wangi keju panggang yang menggoda, Rafael memang memesan pizzanya dengan ektra cheese.


"Boleh dong, ayo kita buka." Saat Rafael dan Rakha tengah membuka box pizza, Kharisa telah berdiri di dekat mereka.


"Kamu sudah datang ternyata." ujar Kharisa, ia mendudukan tubuhnya di sofa, sepertinya ia baru selesai mandi, wangi lavender dari sabun mandinya tercium jelas oleh indra penciuman Rafael, ternyata Kharisa pun masih sama seperti dulu, pecinta wangi lavender. Kalau ditanya bagaimana perasaan Kharisa saat bertemu Rafael, tentu saja masih ada debaran yang ia rasakan, berusaha setia menunggu dalam waktu yang tidak sebentar, ditambah hadirnya Rakha buah cinta mereka tentu tidak akan mudah mengikis rasa cinta yang telah bersemayam di hatinya, tapi seperti yang ia ucapkan ia akan mengikhlaskan Rafael kalau memang mereka tidak bisa bersama, ia akan selalu ingat ucapan Faisal saat mereka makan steik di cafe , bisa dibilang itu nasehat Faisal sebelum mereka pulang.


"Pasrahkan semuanya pada Allah, mudah bagi Allah membolak balikan hati seseorang, menumbuhkan rasa cinta atau menghilangkannya, bukankah jodoh kita sudah ditetapkan oleh Allah bahkan sebelum kita lahir ke dunia. Kalau memang jodoh pasti akan Allah mudahkan jalannya di waktu yang tepat, kalau tidak berjodoh berarti kita harus berlapang dada, yakin saja Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik." Ya, ia akan berpegang pada nasehat yang diberikan Faisal.


"Momy lihat, Om doktel bawa pizza kesukaan Momy, aku ambilin buat Momy." Rakha begitu antusias mengambil potongan pizza buat momynya.


"Ada spageti dan salad juga, kamu paling suka saladnya juga kan?" Rafael mengeluarkan salad dan spageti dari kantong yang berbeda.


"Kamu terlalu berlebihan membawa makanan sebanyak ini El, lain kali ga perlu repot-repot seperti ini." Ujar Kharisa sambil menerima potongan pizza dari putranya.


"Tidak akan repot kalau untuk kamu dan Rakha, tiap hari aku membawa makanan seperti ini juga tidak akan bisa mengganti masa yang hilang selama lima tahun kemarin." Ucapan Rafael membuat Kharisa hanya bisa diam tidak membalas dengan ucapan lagi.


"Aku ke belakang dulu ambil minum." Ujar Kharisa sambil beranjak dari duduknya.


Sambil menikmati pizza, Rafael dan Rakha terlihat bercengkrama, Rakha banyak bercerita tentang teman-teman di sekolahnya, hingga mereka tidak menyadari kalau ada seseorang ya sudah berdiri di depan pintu


"Assalamualaikum......." Ucap seorang laki-laki dengan tas ransel di punggungya dan menenteng plastik berlogo sebuah mini market tengah berdiri di depan pintu.


"Waalaikumsalam... Om Isal.....yeeehh Om Isal datang......" Rakha langsung bersorak menghampiri Faisal, ia meraih dan mencium punggung tangan Faisal. Faisal berjongkok memeluk Rakha dan dibalas oleh Rakha dengan pelukan kedua tangan mungilnya, lalu Faisal mencium kening Rakha. Pemandangan itu tak luput dari perhatian Rafael yang merasa iri melihat kedekatan putranya dengan seorang laki-laki yang belum ia kenal.


"Om Isal ini ada Om Doktel.......temannya Momy." Faisal berdiri dan menoleh ke sosok laki-laki yang sudah bisa ia tebak kalau itu adalah Rafael, dari wajahnya bisa dilihat kalau laki-laki itu begitu mirip dengan Rakha.


"Oh Iya...kenalkan Faisal." Faisal mengulurkan tangannya sambil tersenyum ramah. Rafael pun meraih tangan Faisal, mereka saling berjabat tangan. Namun Rafael terkesan dingin menyambut Faisal.


"Om Isal mau pizza gak, aku ambilin yah." Faisal duduk di sofa bersebrangan dengan Rafael, mereka memperhatikan Rakha yang tengah mengambil potongan Pizza kemudian memberikannya pada Faisal. Sambil tersenyum Faisal menerimanya.


"Om Isal aku kasih tau Momy dulu yah kalau Om Isal udah datang. " Rakha berjalan menuju ruang tengah kemudian ke dapur meninggalkan Rafael dan Faisal yang sedang memasukan sedikit demi sedikit pizza ke dalam mulutnya.


"Terima kasih sudah menjaga Kharisa dan Rakha selama ini." Ujar Rafael tiba-tiba, membuat Faisal berhenti mengunyah pizza di mulutnya.

__ADS_1


"Maaf sudah merepotkan, mulai saat ini aku yang akan menjaga mereka." Ujar Rafael lagi. Faisal menganggukkan kepalanya seolah paham maksud ucapan Rafael.


"Tidak merepotkan, saya sudah menganggap Kharisa dan Rakha seperti keluarga sendiri, Rakha anak yang baik dan cerdas, dia pasti sangat senang bisa bertemu dadynya." Ujar Faisal dengan santai, wajahnya begitu tenang, berbeda dengan Rafael yang masih menunjukan sikap dingin.


Kharisa dan Rakha masuk ke ruang tamu, Kharisa membawa empat gelas minuman dingin berwarna kuning di atas nampan, sementara Rakha membawa dua box mainan lego yang beberapa hari yang lalu dibelikan Farael.


"Om Isal, lego aku sekalang tambah banyak, ini dikasih hadiah dali Om doktel, om doktel ngasih mainan banyak, ada mobil balap kecil juga, nanti Om Isal main balap mobil sama aku yah." ujar Rakha bersemangat.


"Ya besok kita main nya yah." ujar Faisal, Rakha pun mengangguk senang.


"Minum dulu A, kok tumben cepet nyampenya?" Tanya Kharisa pada Faisal, baru satu jam setengah yang lalu Faisal mengirim pesan pada Kharisa memberitau ia baru berangkat.


"Pakai travel ternyata lebih cepat, jalanannya lancar juga." Jawab Faisal sambil mengambil minuman di meja. Rafael memperhatikan interaksi keduanya, ia tambah yakin kalau hubungan Faisal dengan Kharisa sangat dekat begitu juga dengan putranya.


"Om Isal, aku sudah hapal surat Al Insyilohnya, aku mau setolan sekalang." Rakha tiba-tiba berdiri dengan semangat, seminggu sekali dia akan setoran hapalan Al Qurannya pada Faisal, bila tidak bertemu langsung lewat vidio call.


"Nanti saja habis maghrib sayang, sekarang Om Isalnya masih cape." Ujar Kharisa, Rakha langsung memasang wajah cemberutnya, padahal ia sudah bersemangat menyetorkan hapalannya.


"Ayo kalau mau sekarang, mau dimana? disini saja yah." Akhirnya Faisal mengiyakan, tidak tega melihat wajah Rakha yang cemberut.


"Di dalam saja Om Isal, di sini malu ada Om Doktel." Jawab Rakha nyengir


"Gak usah malu, biar Om Dokter tau kalau Rakha udah pinter hapalan Qurannya." Bujuk Rafael, Rakha malah menggelengkan kepalanya.


"Di dalam saja Om, ayo....." Rakha menarik tangan Faisal mengajak ke ruang tengah, mau tidak mau Faisal pun mengikutinya. Ia menganggukan kepala pada Rafael tanda pamit, Rafael membalasnya dengan senyum hambar di bibirnya.


"Eh Oma mana?" Tanya Faisal sambil berjalan ke ruang tengah.


"Oma lagi pelgi sama Enin Dini." Jawab Rakha


Kini tinggal Kharisa berdua denga Rafael di ruang tamu yang hanya terhalang oleh dinding dengan ruang tengah.


"Aku gak ditawarin minum?" tanya Rafael dengan nada datar.


"Itu kan udah aku siapin minuman untukmu El, mium aja." Jawab Kharisa sambil menunjuk gelas berisi minuman yang terlihat segar.


"Minuman itu di depanmu jelas untukmu El." Kharisa merasa aneh dengan sikap Rafael, yang seperti anak kecil saja.


"Oke, aku minum yah." Rafael pun meneguk minuman di gelasnya.


Terdengar jelas suara Rakha yang mulai membacakan setoran ayatnya dengan ciri khas cadelnya, huruf R nya masih belum bisa diucapkan dengan jelas.


Alam nasyloh laka shodlok


Wawadho’naa ‘anka wizlok


Alladzii ankqodho dhohlok


Walofa’naa laka dziklok


Fa-inna ma’al ‘usli yuslool


Inna ma’al ‘usli yusloo


Fa-idzaa faloghta fangsob


Wa-ilaa lobbika falghob


Shodhaqollahuladziim.


"Alhamdulillah.....wah Rakha makin nambah hapalannya, hebat. Besok tambah lagi ayatnya yah, masuk surat Ad Duhaa. Sekarang Rakha belajar mengucapkan hurup R coba, biar baca ayat Al Quran nya tepat. Coba rrrrrrrrrrrr."


"Llllrrrrrrrllll......" Raka mengikuti yang dicontohkan Faisal.


Mendengar Raka belajar mengucapkan huruf R, Kharisa senyum-senyum sendiri, kalau sama Faisal dia akan nurut, tapi kalau diminta belajar mengucapkan hurup R oleh Kharisa pasti banyak alasan untuk menolaknya.

__ADS_1


"Dia nginap di sini?" Tanya Rafael memecah kesunyian.


"Siapa?"


"Laki-laki itu...." Jawab Rafael tanpa mau menyebutkan namanya.


"Oh...Namanya Faisal." Ujar Kharisa mengingatkan. "A Isal nginap di rumah Wa Dini, rumah yang didepan, Wa Dini kakaknya Mama, A Isal keponakan suami Wa Dini." Jelas Kharisa.


"Apa dia sangat berarti bagi kamu juga bagi Rakha?" Wajah Rafael terlihat merengut, sepertinya ia begitu khawatir kalau Faisal akan menjadi penghalang bersatunya kembali ia dengan Kharisa, ternyata tampang dan penampilan Faisal menarik juga, hanya terlihat lebih sederhana, tapi cocok juga kalau bersanding dengan Kharisa, belum lagi Rakha yang begitu akrab dengannya, dan pasti sangat menyayanginya, bisa saja Rafael kalah saing dengannya, ia harus bekerja ekstra untuk meraih hati Kharisa dan putranya.


"Tentu saja dia sangat berarti bagi kami, Allah menghadirkan dia dalam kehidupan kami, membuat kami kuat menjalani hidup sampai sekarang ini."


"Jadi dia juga yang menjadi alasan kamu menolak untuk kita bersama menjadi orang tua utuh buat Rakha?" Tanya Rafael dengan nada sinis.


"El bukankah, sudah aku jelaskan alasannya, kamu sudah bertunangan dengan wanita lain, aku tidak ingin menjadi perusak hubunganmu dengan Vania."


"Tapi itu karena terpaksa Sa, aku tidak mencintai Vania, aku mencintai kamu Sa, kita akan bisa bersama lagi, bersama anak kita Sa" Rafael berusaha meyakinkan Kharisa, namun Kharisa menggelengkan kepalanya.


"Nggak El....apapun alasannya kamu tetap tunangan Vania, calon suaminya." Kharisa tetap teguh pada pendiriannya tidak akan menjadi perusak hubungan orang lain, ia juga wanita, pasti merasakan apa yang dirasakan Vania kalau Rafael sampai membatalkan pertunangannya.


"Kami baru tunangan Sa, masih bisa dibatalkan." ujar Rafael sambil menatap Kharisa mencoba menyelami apa sebenarnya yang ada di pikiran Kharisa hingga tidak memikirkan kepentingannya sendiri juga kepentingan Rakha yang membutuhkan keluarga yang utuh.


"Jangan El, jangan dibatalkan, akan terlalu rumit kalau kita memperjuangkan kebersamaan kita, orang tuamu pasti tidak akan setuju."


"Sa dengarkan aku...."Rafael menarik kedua tangan Kharisa dalam genggamannya, Kharisa berusaha menariknya namun genggaman tangan Rafael begitu kuat. "Lihat aku Sa....." Kharisa memberanikan diri menatap Rafael yang tengah menatapnya dengan tatapan tajam namun mendamba.


"Pulang dari sini aku akan menemui orang tuaku, aku akan bicarakan dengan mereka, jadi aku mohon tunggu aku, dan kita akan bersama dengan anak kita menjadi sebuah keluarga yang utuh. Kamu dengar kan Sa..." Belum sempat Kharisa memberikan jawaban apapun, terdengar Rakha memanggilnya, ia segera menarik tangannya dari genggaman Rafael.


"Momy....aku mau ke masjid dulu sama Om Isal, Om doktel mau ikut ke masjid gak baleng aku. sama Om Isal?" Tanya Rakha polos


"Om mau langsung pulang saja, kebetulan Om mau ke Jakarta, nanti Om main lagi ke sini boleh gak?"


"Boleh dong Om doktel, nanti aku mau main basket sama om Doktel, kata Momy Om Doktel pintel main basketnya." Ujar Rakha sambil melibat ke arah Momynya.


"Iya, nanti Om ajarin main basket. Sekarang Om boleh peluk Rakha gak, Om pasti akan kangen deh sama Rakha." Terlihat tatapan mata yang begitu merindu dari mata Rafael.


"Boleh Om doktel, aku juga akan kangen sama Om doktel." Rakha mendekat ke arah Rafael, begitu pun Rafael, ia mensejajarkan tubuhnya dengan Rakha lalu memeluknya dengan penuh sayang, jantungnya berdebar kencang, namun ia merasakan hatinya begitu perih, lima tahun ia berpisah dengan Kharisa, dan selama itu pula ia tidak mengetahui ada benih yang dititipkan pada kekasihnya, hingga baru beberapa hari ini ia mengetahui darah dagingnya yang saat ini tengah dalam pelukannya. Ia berusaha menahan sekuat tenaga agar tidak meneteskan air mata, dan ia berhasil. Ia usap kepala putranya, lalu ia cium keningnya. Sementara Kharisa dan Faisal hanya bisa melihat interaksi ayah dan anak itu dengan rasa haru, harapan yang dulu untuk mempertemukan Rakha dengan ayahnya terwujud sudah, tinggal kesiapan Kharisa untuk menjelaskan kepada Rakha siapa sebenarnya laki-laki yang dipanggil Om Dokter oleh Rakha.


"Om sekalian pamit pulang yah, Rakha baik-baik sama Momy yah." Rafael melepas pelukannya, bersamaan dengan itu terdengar suara adzan maghrib yang menggema dari masjid yang tidak jauh dari rumah Kharisa.


"Om doktel hati-hati di jalannya yah, jangan ngebut-ngebut." Rafael terkekeh mendengar nasehat dari putranya.


" Iya." Jawabnya sambil menganggukan kepala.


"Aku ke masjid dulu ya Om, dah Om doktel." Rakha melambaikan tangannya. " Ayo Om Isal. Salamualaikum." Faisal dan Rakha pun berjalan menuju masjid.


"Aku juga pamit, mau langsung ke Jakarta. Kamu ingat yang aku katakan tadi Sa, please tunggu aku, oke." Kharisa hanya bergeming tidak menanggapi ucapan Rafael. Sebelum beranjak Rafael meraih dompet di saku celananya, mengeluarkan sebuah kartu debet bersama selembar kertas yang dilipat dan menyodorkannya pada Kharisa.


"Pegang ini, pakailah untuk keperluanmu dan Rakha, kartunya atas namaku, passwordnya belum diganti ada di dalam kertas ini. Ambillah." Kharisa masih bergeming tidak berniat untuk mengambilnya.


"Sepertinya tidak perlu El, aku masih bisa memenuhi kebutuhan Rakha." Tolak Kharisa.


"Jangan membuatku menjadi laki-laki tidak berguna Sa, Rakha anakku, sudah seharusnya aku yang membiayai segala kebutuhannya, dan kamu adalah ibu dari anakku, jadi kumohon ambillah Sa." Akhirnya Rafael meraih tangan kiri Kharisa, meletakan kartu debet di telapak tangan Kharisa.


" Aku pamit ya Sa, Assalamualaikum." Rafael pun meninggalkan Kharisa yang masih terpaku menatap kartu di tangannya.


bersambung......


Haii readerku tercinta🤗


Siapa yang masih bingung milih Rafael atau Faisal..?


Yang sudah menentukan pilihan jangan plinplan yah, dukung terus pilihannya sampai Kharisa menentukan sendiri pilihannya.


Thanks dukungan dari semuanya, thanks like komennya, hadiahnya, juga votenya, itu yang membuat Othor bersemangat melanjutkan ceritanya.

__ADS_1


Thanks yah.🤗😘😘


__ADS_2