
POV Faisal
Terkejut? Pasti.
Mendengar ucapan Kharisa memintaku menjadi ayah Rakha, dan aku mengerti maksudnya, menjadi ayahnya berarti aku menikahi ibunya.
Menikah dengan Kharisa? Pernah terbersit keinginan menjadi suami Kharisa dan menjadi ayah Rakha, saat mereka belum bertemu Rafael dan tidak tau keberadaannya dimana. Tapi mengungkapkan perasaanku saja aku tidak berani, padahal aku yakin kalau aku sangat menyayangi Kharisa, mungkin juga mencintainya, ya mungkin aku mencintainya. Karena aku selalu membunuh perasaan cinta itu, jangan sampai tumbuh subur, jadi aku sendiri saru dengan perasaanku sendiri, yang jelas aku sangat menyayangi Kharisa juga Rakha. Aku ingin melihat mereka bahagia, saat mereka sedih atau terjadi sesuatu dengan mereka, aku pun merasakannya, bahkan saat berjauhan, seperti ada ikatan batin antara aku dengan mereka.
Ya aku tidak berani mengungkapkan perasaanku, karena aku tau Kharisa mencintai Rafael, begitu pun dengan Rafael sangat mencintai Kharisa, ditambah ada Rakha diantara mereka, makin kubuang jauh-jauh perasaan itu. Menyayanginya sebagai kakak terhadap adiknya dan sebagai sahabat cukup bagiku, asalkan bisa melihat mereka bahagia.
Dan saat aku mendengar Kharisa memintaku menjadi ayah Rakha, entah kenapa aku tidak merasa bahagia, mungkin karena aku tau Kharisa mengucapkannya saat hatinya sedang sedih, marah dan kecewa atas apa yang baru terjadi padanya.
"Neng...tenang dulu, jangan terburu-buru mengambil keputusan." Aku mengingatkannya kembali, jangan sampai ia nanti menyesal, hidup bersama Rafael dan Rakha adalah impiannya sejak dulu, tentu tidak akan mudah merubah keputusan kalau bukan karena sedang emosi.
"Aku sudah memikirkannya sejak tadi A."
"Sudah minta petunjukNya? Shalat istikhoroh dulu kalau bingung mengambil keputusan, agar tidak salah langkah. Menurut A Isal bicarakan baik-baik dengan Rafael, pasti dia belum tau apa yang dibicarakan Neng sama ibunya, siapa tau masih ada cara untuk meluluhkan hati ibunya atau ada jalan keluar yang lain."
Kulihat Kharisa menggelengkan kepalanya. Mulai keluar keras kepalanya, kalau sudah seperti ini gak bisa dikasih masukan, lebih baik nunggu saat ia lebih tenang.
"Gimana A?" Tanyanya sambil menatapku. Benar kan ia tidak bisa diarahkan, sepertinya ia kecewa berat dengan ibunya Rafael. Kebanyakan wanita memang mudah memaafkan, tapi sulit untuk melupakan, mungkin Kharisa bisa dengan mudah memaafkan ibunya Rafael, tapi tidak bisa melupakan bagaimana ibunya Rafael menorehkan luka di hatinya, pasti jadi berdampak pada hubungannya dengan Rafael. Apa ia benar-benar tidak akan memperjuangkan lagi hubungannya dengan Rafael? Rafael pasti tidak akan terima begitu saja, ia akan terus memperjuangkan Kharisa dan Rakha.
"Apa?" Aku pura-pura tidak mengerti maksudnya, entah kenapa aku merasa Kharisa sedang bercanda walaupun dia terlihat serius. memintaku menjadi ayah Rakha seperti memintaku mengantar dia ke suatu tempat, atau memintaku membantu mengerjakan tugasnya saat kuliah.
"Permintaanku tadi." Jawabnya sambilK menunduk.
"Neng......" Aku menghela nafas sesaat. Ingin rasanya menjawab iya, tapi hati ini terasa berat. Banyak yang harus dipertimbangkan, aku juga tidak ingin hanya mengikuti hawa nafs*ku, jadi tidak mungkin kujawab sekarang.
"Sebaiknya kita tidak membahasnya sekarang, pernikahan adalah bagian dari ibadah, bahkan ibadah terlama sampai kita menutup usia, harus dibicarakan dengan kepala dingin." Aku mencoba memberi masukan lagi.
__ADS_1
"Jadi A Isal tidak bersedia?" Rupanya ia masih ingin membahasnya dan malah menunjukan kalau ia serius dengan permintaannya, tapi tentu saja aku tidak bisa menjawab pertanyaannya sekarang.
"Ah ya....aku memang tidak pantas untuk menjadi pendamping A Isal, aku wanita pendosa, kotor....."
l
"Neng. A Isal tau Neng masih emosi, lebih baik kita bicarakan lagi nanti yah, A isal tidak bisa menjawabnya sekarang, pernikahan itu bukan untuk main-main, banyak yang harus dipertimbangkan " Aku langsung memotong ucapannya.
"Maaf, A Isal memang harusnya mendapatkan pendamping yang lebih baik dari aku, wanita yang masih suci, sholehah....."
"Neng bukan begitu, justru A Isal yang tidak pantas menjadi pendamping Neng dan ayah Rakha." Ternyata aku juga tidak percaya diri untuk maju menjadi pendamping Kharisa, mengingat latar belakangnya dari keluarga berada, sementara pekerjaanku saja masih belum meyakinkan untuk bisa memenuhi kebutuhan Kharisa dan Rakha, belum lagi rencanaku untuk melanjutkan sekolahku ke jenjang S2 yang mengandalkan beasiswa, walaupun papa Kharisa menawarkan untuk membiayai kuliahku, tapi aku tidak ingin menyusahkan orang lain, lebih baik berusaha sendiri dulu sampai maksimal.
" Gak pantas gimana? A Isal baik, sholeh, perhatian, bertanggung jawab, sayang sama Rakha, mama juga suka sama A Isal, apanya yang gak pantas. Mungkin aku yang gak pantas untuk A isal."
"Bukan seperti itu Neng, bukankah selama ini Neng mencintai Rafael? Lebih dari lima tahun Neng menunggu dia kan, jadi jangan terburu-buru ngambil keputusan." Aku berusaha menyadarkan dia, jangan sampai ia menyesal dikemudian.
"Neng......" Belum sempat aku bicara ia sudah memotongnya lagi.
"Mudah bagiku untuk mencintaimu A, Rakha pun pasti senang A Isal jadi ayahnya." Ya Allah kenapa aku semakin berat untuk menjawab iya, saat mengingat Rakha yang terbayang adalah kebersamaan Rakha dengan Rafael, Rafael lah yang lebih pantas menjadi ayahnya Rakha.
"Neng, A Isal tidak bisa menjawabnya sekarang, sebaiknya kita bicarakan lagi nanti." Kulihat ia menundukan wajahnya, aku tau ia sedang bimbang, aku tidak ingin memanfaatkan keadaan ini, walaupun hati kecilku juga berharap aku bisa mendampingi Kharisa, dan membahagiakannya.
Kudengar getaran dari HP dari dalam tas Kharisa, sepertinya ada panggilan telp. Ia mengambilnya. Kulihat panggilan telpon dari Rafael namun ia merejecknya.
"Kenapa gak diangkat?" Tanyaku, tapi Kharisa tidak menjawabnya, ia membaca chat WAnya, sepintas kulihat ada beberapa pesan masuk.
"A kita pulang." Ujarnya, sambil memasukan HPnya ke dalam tasnya. Syukurlah, berarti pembicaraan tadi tidak dilanjutkan lagi. Aku pun mengikuti langkahnya yang tergesa-gesa menuju tempat parkir dimana motor Kharisa berada, padahal sebentar lagi memasuki waktu ashar.
Aku melajukan motor Kharisa dengan kecepatan sedang, selama di perjalanan ia hanya diam tidak terdengar suaranya sedikitpun, padahal biasanya ia terus bicara walau kadang aku memintanya mengulang karena tidak terdengar jelas. Aku pun ikut diam, berusaha konsentrasi dengan jalanan yang tidak terlalu padat.
__ADS_1
Tiba di depan rumah Kharisa, kulihat ada mobil Rafael terparkir di sana. Kharisa membuka pintu pagar, aku pun memasukan motor, memarkirkannya di carport.
Saat masuk ke ruang tamu, kulihat pemandangan yang membuatku bertambah yakin kalau Rafael adalah ayah yang pantas untuk Rakha, selain jelas karena ia ayah biologisnya, aku pun bisa melihat bagaimana rasa tanggung jawabnya sebagai seorang ayah, rasa sayang dan perhatiannya terhadap Rakha tidak perlu diragukan lagi.
Rafael tengah berdiri menggendong Rakha sambil mengusap-usap punggung bocah menggemaskan yang katanya sedang sakit. Jadi teringat dulu kalau Rakha sakit aku menggendongnya, ia memang suka rewel kalau sedang demam, inginnya digendong terus sampai ia tidur terlelap baru dipindahkan ke tempat tidurnya.
Kulihat Rakha begitu nyaman di pangkuan dadynya, kedua tangan kecilnya memeluk tubuh kekar dadynya seolah tidak ingin lepas dari gendongan dadynya.
"Sa, kamu dari mana? Are you ok?" Tanya Rafael dengan wajah khawatir, pasti Rafael mengkhawatirkan Kharisa.
"Sini biar Rakha tidur di kamar." Kharisa hendak mengambil alih Rakha namun Rafael menolaknya.
"Tidurnya belum nyenyak, biar aku gendong dulu, badannya masih demam. Kenapa kamu gak bilang kalau Rakha sedang sakit, aku kan bisa bawakan obat dan vitamin untuk Rakha." Rupanya Rafael baru tau kalau Rakha sakit, Kharisa tidak memberitahunya.
'Demamnya juga baru tadi malam, dan aku masih menyimpan obat penurun panasnya." Ujar Kharisa dengan wajah ditekuk, aku jadi tidak enak ada diantara mereka berdua.
"Sa, ini kunci motornya, aku ke rumah Wa Dini dulu." Aku pun pamit, walaupun sebenarnya masih ingin berada di sana, ingin bertemu Rakha pastinya, bocah yang selalu membuatku rindu bertemu dengannya, sayangnya ia sedang sakit dan sudah ada seseorang yang menjaganya yang membuatku tenang meninggalkannya. Aku menganggukan kepalaku dengan senyum di bibirku pada Rafael tanda aku pamit padanya. Ia membalasnya dengan anggukan kepalanya. Saat aku keluar rumah Kharisa aku merasa menemukan jawaban dari pertanyaan Kharisa tadi, dan aku merasa yakin dengan ini.
bersambung
Hai Readerku tercinta, aku usahakan nih untuk up tiap hari, karena aku ingin cepat-cepat membawa Kharisa pada kebahagiaannya, tapi sebelumnya, siap-siap dulu naik roller coaster yah, gak usah baper , ini hanya sebuah cerita yang Othor harapkan dapat memberikan pelajaran untuk kita semua. Jadi pendukung Rafael dan Faisal tetap semangat yah. Yang pasti akhirnya happy ending. Maaf kalau kesannya berputar-putar karena ceritanya masih panjangπ
Jangan bosan untuk nge like setiap selesai membaca tiap episodenya yahπ€
Thanks yang sudah komen, pasti kubaca dan kujadikan bahan masukan untuk jalan ceritanya.π
Salam
Umi Haifa πππ
__ADS_1