
"Momy.....aku dapat juala, ada pialanya." Setelah mengucapkan salam, ia langsung masuk ke dalam rumah mencari momynya.
"Oma...Nenek aku dapat juala, pialanya ada tiga." Ujarnya saat ia menemukan Oma dan neneknya di ruang tamu.
"Wah cucu Oma hebat, dapat juara apa, mana pialanya? Tanya Oma antusias.
"Dibawain Dady." Jawab Rakha sambil menoleh ke ruang tamu, sepertinya dadynya belum masuk ke dalam rumah.
"Waah ...jagoan Momy sudah pulang." Kharisa keluar dari kamarnya.
"Momy ayo sini, aku dapat tiga piala." Rakha menarik tangan momynya menuju ruang tamu, bersamaan dengan itu Rafael muncul menenteng goody bag berisi piala milik Raka dan satu kantong berisi dua box makan siang dan dua box snack jatah dari sekolah. Rafael melemparkan senyum pada Kharisa, kemudian mengeluarkan piala dan menyimpannya di atas meja.
"Momy tadi Dady hebat, gendong aku sambil lali, lalinya kencang, jadi dapat juala dua, ini pialanya" Rakha terlihat bersemangat bercerita dan menunjukan pialanya.
"Jagoan Dady juga hebat, pinter menyusun puzlenya, dapat juara satu deh, tos dulu dong." Rafael mangangkat tangannya ber high five dengan Rakha.
"Tadi dia percaya diri banget pas jalan di panggung, temen-temennya pada menyoraki memberi semangat, dia juga full smile. Kalau ada lomba model cilik pasti menang juga, memang keren jagoan dady." Rafael mengacak-acak rambut putranya yang masih terlihat rapi efek pemakaian pomade dadynya.
"Aku udah lihat, ada yang ngirim vidionya di group kelas Rakha."
"Kamu ada vidionya? Nanti kirim ke aku yah, pokoknya yang ada aku sama Rakha kirim yah." Ujar Rafael bersemangat. Tadi saat lomba Rafael sama sekali tidak memiliki dokumentasi, ia bingung mau minta tolong kepada siapa, karena tidak ada yang dikenalnya.
"Ya nanti aku kirim." Jawab Kharisa. "Jagoan mami dari mana sih, jam segini baru pulang, sudah shalat dhuhur belum?" Kharisa menarik Rakha duduk di sebelahnya.
"Aku sama Dady makan siang dulu Momy, udah sholat dong sama Dady beljamaah."Jawabnya bangga bisa shalat bareng dadynya.
"Memangnya makannya dimana, jauh tempatnya?" Rupanya Kharisa dari tadi menunggu kepulangan Rakha, disangkanya saat ia pulang kerja pukul satu siang Rakha sudah ada di rumah, karena tadi Rafael mengabari acara di sekolah selesai dan meminta ijin mengajak Rakha makan siang pukul setengah dua belas.
"Makan di lestoran, ada danaunya, aku makan sama ikan bakal, telus aku makan es klim sama Om Andle sambil main ayunan." Rakha memang tidak tau nama restorannya.
"Itu di restoran Sunda di kawasan industri yang dekat tol." Rafael menjelaskan tanpa ditanya. Kharisa menganggukan kepalanya tanda mengetahui tempatnya, ia pernah diajak makan sama Andre setelah kunjungan ke perusahaan.
"Momy tadi aku ketemu Oma sama Opa, telus aku salim sama Oma Opa." Ujar Rakha dengan polosnya membuat Kharisa penasaran.
"Oma, Opa?" tanya
__ADS_1
"Hemmm.....Kata Dady ayah sama ibunya Dady." Jawab Rakha sambil menganggukan kepalanya. Kharisa langsung menatap tajam Rafael.
"El kamu gak bilang akan membawa Rakha ketemu orang tuamu." Kharisa merasa tidak suka Rafael mempertemukan Rakha dengan orang tua Rafael yang dulu tidak menginginkan Rakha, rasa sakit itu masih terasa.
"Aku juga tidak tau ada Mami Papi di sana, Bang Andre nelpon ngajak makan siang bareng, ya aku iyain sekalian ngajak Rakha makan siang, lagi pula Rakha kan ketemu oma opanya bukan orang lain"
"El.....aku tidak suka...." Kharisa menghentikan ucapannya, ia sadar ada Rakha di dekatnya.
"Rakha tidur siang dulu yah, pasti tadi cape kan habis ikut lomba." Sekarang memang waktunya tidur siang, Kharisa dan omanya memang membiasakan Rakha untuk tidur siang, untuk mendukung tumbuh kembangnya.
"Tapi aku masih mau sama Dady." rengeknya manja, matanya menatap Dadynya seolah minta dukungan agar tetap bersama Dadynya.
"Rakha tidur siang dulu yah, nanti besok Dady ajak Rakha jalan-jalan." Rafael malah menyuruh Rakha tidur siang, karena ia membutuhkan waktu untuk bicara dengan Kharisa.
"Benel besok jalan-jalan sama Dady?" Tanya Rakha memastikan, sepertinya dia masih ingin melepas kerinduan pada dadynya.
"Iya, besok pagi Dady ke sini, nyamper Rakha. Oke, sekarang Rakha bobo siang yah, sini Dady pengen peluk Rakha dulu." Rakha mendekat ke arah Dadynya, langsung merentangkan tangannya untuk dipeluk, Rafael pun memeluknya kemudian mencium pipi dan keningnya.
"Daah Dady....." Rakha melambaikan tangannya meninggalkan Rafael di ruang tamu, dibalas Rafael dengan lambaian tangan dan kiss by. Kharisa hanya mengantar Rakha ke kamarnya, lalu kembali ke ruang tamu menemui Rafael, ada omanya yang menemani Rakha tidur siang.
"El ....kedepannya aku mohon, aku tidak mau Rakha ketemu dengan orang tuamu?" Kharisa duduk di depan Rafael terhalangi meja, padahal Rafael berharap Kharisa duduk di sebelahnya, tadi ia sengaja pindah duduk di sofa panjang, ternyata Kharisa malah duduk di sofa tunggal di depannya.
"Orang tuamu tidak menginginkan Rakha, aku tidak mau mereka menyakiti Rakha atau Rakha diacuhkan oleh mereka." ujar Kharisa lirih. Terbayang lagi bagaimana perlakuan ibunya Rafael saat ia datang ke rumah Rafael, waktu itu Rakha berusia hampir satu tahun, tidak sedikit pun Ibunya Rakha menyentuh cucunya apalagi menggendongnya, apalagi saat minta mengadopsi Rakha, membuat luka lama terbuka kembali. Mungkin sekarang pun seperti itu mengacuhkan Rakha, rasanya sakit membayangkannya.
"Kamu salah sangka Sa, orang tuaku menerima Rakha sebagai cucunya, mereka menyesali perbuatan mereka. Kamu boleh tanya sama Rakha tadi bagaimana perlakuan Papai dan Mami terhadap Rakha. Malah papi sampai memeluk dan mencium Rakha, Mami juga mencium Rakha." Kharisa tertegun mendengarnya, benarkah? Tanyanya dalam hatinya
"Bukankah tiap orang bisa berubah Sa, dulu mungkin mami dan papi tidak menerima Rakha karena menganggap kita masih terlalu muda, tapi sekarang setelah melihat Rakha mereka langsung luluh, bahkan menyesali sikapnya yang dulu. Aku jadi yakin Sa mereka juga akan merestui kita."
"Merestui kita? Maksudnya?"
"Ya aku yakin mereka akan merestui kebersamaan kita, aku, kamu dan Rakha menjadi keluarga yang utuh." Keyakinan terpancar di wajah Rafael.
"Gak El....kita tidak mungkin bersama, aku tidak mau merusak pertunanganmu dengan Vania." Vania menggelengkan kepalanya, tidak setuju dengan yang diucapkan Rafael, bagaimana pun ia seorang wanita, ia tidak ingin menyakiti wanita lain, walaupun ia juga pernah merasakan kekecewaan dan sakit hati tapi itu sudah berlalu, sekarang ia sudah merasakan kebahagiaan bersama Rakha.
"Sa.....ijinkan aku bertanggung jawab atas kesalahan yang telah aku lakukan, aku berjanji akan membahagiakanmu dan Rakha, Rakha membutuhkan kita sebagai orang tuanya." Rafael berusaha meyakinkan Kharisa, ia harus bisa meyakinkannya, demi Rakha, demi cinta mereka berdua, Rafael yakin masih ada cinta di hati Kharisa untuknya walaupun tidak sebesar dulu, saat ia belum membuat Kharisa kecewa.
__ADS_1
"Kamu masih bisa bertanggung jawab atas Rakha tanpa kita hidup bersama El, aku tidak ma......" Kharisa belum selesai bicara tapi Rafael sudah memotongnya.
"Sa , kenapa kamu selalu menolak, kamu tidak mencintaiku lagi Sa? Apa karena laki-laki itu?" Rafael terlihat gusar membayangkan kalau Kharisa mencintai laki-laki yang dimaksudnya.
"Maksudmu siapa? Faisal? Sudah kubilang tidak ada hubungannya dengan Faisal." Suara Kharisa terdengar bernada tinggi, ia tidak suka Faisal dibawa-bawa atau dijadikan alasan dalam hubungan Kharisa dan Rafael. Sudah jelas alasannya karena status Rafael yang sudah menjadi tunangan Vania. Dan Kharisa tidak mau menjadi perusak pertunangan itu. Masih terngiang di telinganya ucapan ayah Rafael saat memberikan sambutan tadi.
"Sekalian saya sampaikan juga, putra bungsu saya ini statusnya baru saja bertunangan dengan seseorang yang juga bagian dari rumah sakit ini, anda juga pasti sudah mengenalnya, saya mohon calon menantu saya silahkan berdiri." Kharisa masih mengingat ucapan ayah Rafael tadi.
"Sengaja saya umumkan agar kalau ada diantara anda yang naksir salah satunya lebih baik mundur dari sekarang dari pada patah hati....ha...ha...ha...lebih baik cari yang single saja, seperti direktur kita yang masih betah dengan status jomblonya." Ucapan ayah Rafael itu seolah ditujukan untuknya dan ia harus sadar diri.
"Kalau alasannya karena pertunanganku dengan Vania, kamu tenang saja Sa, aku akan membatalkannya, tekadku sudah bulat, aku tidak bisa hidup dengan Vania, aku tidak mencintainya Sa, aku minta waktu sampai akhir bulan ini untuk menyelesaikannya dengan Vania dan keluarganya." Kharisa malah menggelengkan kepalanya, ia tidak ingin Rafael melakukan itu.
"Gak El, kamu jangan lakukan itu, kamu bisa tetap menjadi ayah untuk Rakha, walau kita tidak bersama, aku janji tidak akan menghalangi kalau kamu ingin bertemu dengan Rakha, tantangan kita terlalu besar untuk bersama, aku sudah bahagia seperti ini, aku juga yakin kamu akan bahagia bersama Vania, kamu bisa belajar mencintai Vania, dia wanita yang baik." Kharisa percaya dengan yang diucapkan Faisal kalau cinta bisa datang karena terbiasa asal kita mau membuka hati dan menerima takdir kita, Allah itu Maha membolak balikan hati manusia , bisa merubah rasa benci menjadi cinta atau sebaliknya.
"Please Sa....kamu tidak bisa memaksaku untuk mempertahankan pertunanganku, tapi aku akan memaksamu untuk menerimaku lagi, oh ya aku juga belum pernah memutuskan hubungan kita walau kita berpisah, aku ingatkan kalau kamu lupa, jadi status kamu masih pacar aku."
"He..he... El hubungan kita telah berakhir saat kita tidak saling kontak, hubungan kita sekarang hanya karena ada Rakha diantara kita, hubunganmu dengan Vania lebih kuat karena kamu sudah melamarnya dan itu melibatkan dua keluarga besar, itu yang seharusnya dipertahankan." Kharisa terkekeh mengingat hubungannya dengan Rafael yang seolah terputus selama lima tahun tanpa kabar berita, walaupun ia sendiri berusaha setia menunggu tidak berpaling ke lain hati termasuk kepada Faisal, tapi ia merasa hubungannya dengan Rafael saat ini sudah tidak terjalin lagi, ya sejak ia tau Rafael bertunangan dengan Vania.
"Justru karena ada Rakha hubungan kitalah yang lebih kuat, Rakha lebih berhak kita menjadi orang tuanya yang utuh Sa, kalau kamu memang sudah tidak memiliki perasaan cinta lagi sama aku, setidaknya kamu pikirkan demi kebahagiaan Rakha. Bukankah kamu juga bisa belajar lagi mencintai aku."
"Sudahlah El....kita tidak usah membahas ini lagi, yang pasti aku tidak ingin menjadi perusak hubunganmu dengan Vania, aku tidak ingin Vania membenciku." Sudah cukup orang tua Rafael yang membencinya, tambahnya dalam hati.
"Oke Sa, terakhir, please listen to me. Aku tidak akan merubah pendirianku, aku akan memperjuangkan hubungan kita, because I love you and our son, I love you both. And we will live together and be happy. Oke." Rafael bicara dengan tegas, seolah tidak memberi kesempatan Kharisa untuk menyanggah lagi. Dalam hatinya ia bertekad akan berjuang membuat Kharisa mencintainya lagi bila memang cinta Kharisa telah pudar untuknya. Tentu saja ia mempunyai kekuatan dengan adanya Rakha.
"Aku pamit dulu, terima kasih telah memberikan kesempatan untukku menjadi ayah untuk Rakha, aku tidak akan menyia-nyiakannya."
"This day is realy the father's day for me." Rafael mengucapkannya dengan mata berkaca-kaca, membuat Kharisa terenyuh melihatnya, ia pun hanya diam tidak bisa berkata-kata lagi. Saat ini Kharisa merasa Rafael begitu dewasa dan bertanggung jawab, ia juga tau dan merasakan Rafael masih sangat mencintainya, pertunangan Rafael dengan Vania hanya karena mengikuti keinginan orang tuanya, jadi haruskan ia melembutkan hatinya untuk kembali menerima Rafael dan membina keluarga yang utuh demi Rakha dan demi cinta mereka tentunya, karena didalam hati Kharisa yang terdalam rasa cinta itu masih ada, tumbuh kuat dan besar, ia hanya takut untuk memperjuangkannya.
"Oke aku pulang dulu, jangan lupa kirim vidio dan foto kegiatan di sekolah Rakha tadi. Salam untuk mama kamu, juga Rakha, sampaikan kalau aku sangat menyayanginya." Rafael pun beranjak berdiri.
"Aku pamit. Assalamualaikum." ujarnya, lalu meninggalkan ruang tamu menuju mobilnya yang terparkir di pinggir jalan depan rumah Kharisa. Kharisa mengantarnya sampai teras.
bersambung
Hai...aku datang untuk menemani malam minggu readerku tercinta.
__ADS_1
Jangan lupa dukung Othor dengan meninggalkan like dan komen, biar tambah semangat lanjutin ceritanya. Semoga besok bisa Up lg.🤗
Thanks atas dukungannya yah.🙏