Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku
Kedatangan Fakhira


__ADS_3

Kharisa tengah merapihkan barang-barang miliknya juga milik Rakha saat HPnya yang di simpan di meja sofa berdering, hari ini hari kedua di tahun baru, Rakha sudah dibolehkan pulang dari rumah sakit. Rafael yang tengah duduk di sofa bersama Rakha sambil menonton film kartun kesukaan Rakha meraih HP Kharisa lalu melihat siapa yang menghubungi Kharisa, tampak tulisan nama A Isal terpampang di layar HP.


"Sa.. Faisal yang nelpon." ujarnya sambil meletakan kembali HP Kharisa di meja. Dalam hatinya ia bertanya ada urusan apa Faisal menghubungi Kharisa.


Kharisa menghentikan aktivitasnya, beranjak mengambil HPnya.


"Assalamualaikum, ya A?" Kharisa berjalan menuju meja makan dan duduk di kursi makan yang tidak jauh dari sofa tempat Rakha dan daddynya berada.


"Waalaikumsalam, gimana keadaan Rakha Neng?" Terdengar suara Faisal di seberang sana, diam-diam Rafael menguping suara Faisal yang samar-samar terdengar di telinganya, rupanya ia penasaran ditambah perasaan cemburu yang bergemuruh di dadanya.


"Alhamdulillah Rakha sudah baikan, sudah dibolehkan pulang oleh dokter, ni lagi beres-beres, tapi gak langsung pulang ke Indo, paling satu dua hari dulu istirahat di apartemen."


"Alhamdulillah, sykurlah sudah boleh pulang, nanti kabarin kalau sudah pulang ke rumah ya Neng, bapak sama ibu pengen nengok Rakha katanya."


"Ya nanti aku kabarin, eh tapi A, aku sama Rakha ada rencana ke Garut, sama mama papa juga, papa ingin tau pondok dan kenal sama Abah dan keluarga di sana, sekalian ingin ngucapin terima kasih katanya, tapi kalau Rakha benar-benar sudah pulih, ya paling semingguan setelah pulang ke Indo."


"Ya udah nanti A Isal kasih tau bapak sama ibu. Oh ya Neng, Teh Ira sekarang lagi di Singapura, berangkat kemarin, diundang temannya waktu kuliah di Mesir untuk ngisi acara motivasi untuk santri di sana, katanya ingin ketemu sekalian nengok Rakha, rencananya besok pulang. Mungkin sorean setelah acara mau ngehubungin Neng, jadi nanti Teh Ira langsung ke apartemen saja yah."


"Oh Teh Ira lagi di sini? Iya ke apartemen aja, asyik ketemu Teh Ira." Kharisa terlihat sumringah, kangen juga sudah lama tidak ketemu dengan kakak perempuan Faisal. Walau baru beberapa bulan mengenal Fakhira waktu ia masih kuliah, tapi ia merasa memiliki kakak perempuan. Harusnya beberapa hari yang lalu adalah hari pernikahan Fakhira, sayangnya batal. Kharisa jadi penasaran ingin tahu ceritanya seperti apa dan bagaimana perasaan Fakhira, pasti sedih dan kecewa.


"Neng tungguin aja Teh Ira pasti ngehubungi."


"Iya." Jawab Kharisa, kalau Teh Ira belum menghubungi juga, ia yang akan menghubunginya, batin Kharisa.


"Ya udah, salam aja buat Rakha sama Rafael." Faisal terdengar akan mengakhiri obrolannya.


"A Isal gak mau bicara dulu sama Rakha?" Malah Kharisa yang enggan mengakhiri sambungan telponnya. Setelah hubungan mereka dipastikan hanya sebagai kakak adik dan sahabat, dan telah hadir sosok ayah yang sesungguhnya bagi Rakha, Kharisa tetap ingin menjaga kedekatan Faisal dengan putranya tetap terjalin dengan baik, walau bagaimana pun Faisal adalah orang yang sangat berjasa bagi Rakha hingga bocah itu menjadi anak yang sudah terlihat bibit kesholehannya, cerdas dan sangat menyayangi momynya, itu tak lepas dari hasil didikan Faisal.


"Rakha lagi ngapain?" Tentu saja sebenarnya Faisal ingin bicara dengan anak asuhannya itu, tapi ia tidak mau mengganggu, khawatir Rakha sedang istirahat.


"Lagi nonton kartun kesukaannya sama Daddynya."


"Lain kali saja deh ngobrolnya, lagi asyik pasti dia, nanti kalau sudah pulang ke apartemen saja A Isal nelpon lagi. Ya udah ya Neng, sehat-sehat semuanya, salam juga buat Bi Dewi."


"Ya A, A Isal juga jaga kesehatan, semoga lancar segala urusannya."


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Faisal menutup sambungan telponnya setelah Kharisa menjawab salamnya. Sementara laki-laki yang duduk di sofa sambil merangkul tubuh kecil yang bersandar di dadanya mencebikan bibirnya mendengar obrolan Kharisa dangan laki-laki yang selalu dicemburuinya. Apalagi Kharisa belum memberikan jawaban atas permintaannya kemarin, katanya minta waktu dua hari untuk meyakinkan lagi hatinya.

__ADS_1


*****


Waktu sudah menunjukan pukul lima sore saat Fakhira tiba di area apartemen dimana Kharisa dan putranya berada. Sekitar satu jam yang lalu setelah acara di pondok pesantren milik keluarga temannya selesai, ia langsung menghubungi Kharisa. Ia diminta memberikan paparan tentang bagaimana kiat-kiat sukses menuntut ilmu di Universitas terkenal di Kairo Mesir, juga memberikan motivasi kepada para santri agar berminat mengikuti langkahnya menuntut ilmu di sana melalui jalur beasiswa.


Diantar oleh temannya dan supir, tak sampai satu jam perjalanan ia sudah berada di depan gedung apartemen yang berada di pusat kota, namun suasana tidak terlalu ramai seperti di Indonesia. Sebelum memasuki lobi ia menghubungi Kharisa untuk memberitahu kalau ia sudah sampai di depan gedung apartemen, ia ingin memastikan gedungnya, karena ternyata gedung yang akan dimasukinya memiliki dua tower. Namun sudah beberapa kali dihubungi, Kharisa tidak mengangkat panggilan telponnya. Ia pun mengirim psan pada Kharisa


Sambil berjalan mendorong koper kecilnya ia memasuki lobi, melewati pintu yang otomatis terbuka ia masih berusaha menghubungi Kharisa, benar saja saat masuk lobi, ada dua area lift di sebelah kanan dan kiri, ia harus memastikan naik lift yang mana, tadi juga saat dihubungi Kharisa minta ia menghubunginya kalau sudah sampai di apartemen dan akan menjemputnya di lobi.


Masih mencoba menghubungi Kharisa ia mengedarkan pandangan lalu berjalan menuju sofa yang memang disediakan untuk pengunjung. Namun tiba-tiba


Brrukk


Tubuh Fakhira oleng, hampir terpental ke lantai, baru saja ia merasakan tubuhnya menabrak sesuatu yang keras. Ia memejamkan matanya dan pasrah kalau tubuhnya harus ambruk di lantai marmer yang terlihat mengkilat, namun ternyata tubuhnya masih tetap berdiri, dan ia merasakan ada sebuah tangan menahan pinggan dan bahunya, rupanya itu yang membuatnya tidak terjatuh. Saat ia membuka matanya betapa terkejutnya ia melihat wajah laki-laki yang persis dihadapannya begitu dekat hingga tatapan mata mereka bertemu. Jantungnya berdebar, ini pertama kalinya ia sedekat ini dengan laki-laki yang bukan mahramnya, dan semuanya berjalan begitu cepat.


"Astaghrifullah."


Ia tersadar ada dalam rengkuhan laki-laki itu. Fakhira langsung mendorong tubuh laki-laki itu, lalu mundur beberapa langkah.


"Are you oke? I'm sorry , it's accidentally, I walk in a hurry." Ujar laki-laki itu dengan bahasa Inggris yang terdengar fasih. Dari wajahnya jelas terlihat wajah orang asia, seperti orang Indonesia malah.


"I'm oke, ya..ya..I'm oke." Fakhira tidak berani melihat wajah laki-laki itu, ia menunduk sambil mengibas-ngibaskan tangannya di bahu bahu dan pinggang seolah membersihkan area yang tadi tersentuh oleh laki-laki yang masih berdiri di depannya, tentu saja laki-laki itu reflek tidak sengaja memegangnya agar gadis yang ditabraknya tidak terjatuh.


"Oh oke, once more, I'm sory." ujar laki-laki itu sambil menganggukan kepalanya. Fakhira juga menganggukan kepalanya tanpa melihat wajahnya. Laki-laki itu berjalan menuju llif, kemudian masuk saat pintu lift terbuka.


Tidak berapa lama HP Fakhira bergetar, ternyata Kharisa menghubungiya.


"Assalamualaikum, Teh Ira tunggu di lobi, aku


turun sekarang." Kharisa tidak memberikan kesempatan Fakhira menjawab telponnya, langsung menutupnya. Ia pasti terburu-bhru langsung turun dari apartemennya.


Tidak sampai lima menit, Kharisa sudah ada di lobi, terlihat sedikit ngosngosan.


"Teh Iraaaa." Kharisa merentangkan tangannya dengan senyum lebar di bibirnya, ia memeluk wanita anggun dengan hijab lebar segi empat bermotif abstrak berwarna dasar coklat susu serasi dengan gamis polosnya dan terlihat elegant. Mereka cipika cipiki lalu berpelukan. Entah kenapa Kharisa memeluk Fakhira begitu dalam seolah ia merasakan kepahitan yang dialami Fakhira dan ingin memberikan kekuatan, padahal Fakhira terlihat biasa saja tidak menunjukan kesedihan di wajahnya.


"Assalamualaikum Sa? Gimana kabarnya? Rakha udah sehat kan?"


"Eh...Waalaikumsalam teh, alhamdulillah sehat teh, Rakha juga sudah baikan." Saking senangnya kharisa baru sadar ia sampai lupa menyapa dengan salam.


"Maaf ya teh nunggu lama, tadi aku lagi di kamar mandi jadi gak keangkat HPnya" ujarnya lagi.

__ADS_1


"Gak apa-apa Sa."


"Ayo teh kita ke atas." Ajak Kharisa, Kharisa meraih koper Fakhira, Fakhira pun mengikuti Kharisa menuju lift.


Tiba di depan apartemennya, Kharisa menekan tombol pin untuk membuka kunci pintu masuk.


"Assalamualaikum......Rakha lihat siapa yang datang." Ucap Kharisa bersemangat dengan suara stereonya.


"Waalaikumsalam." Terdengar jawaban salam dari ruang tengah.


"Wa Ilaaaa.... " Rakha menghampiri dengan setengah berlari.


"Rakha jangan lari-lari dulu." teriak Kharisa spontan, Rakha pun melambatkan langkahnya, merangkul tubuh Fakhira yang tingginya sama dengan momynya. Fakhira mensejajarkan tubuhnya dengan Rakha, membalas pelukan Rakha lalu mencium kedua pipinya yang tirus.


"Salim dulu dong." ujarnya sambil mengulurkan tangan kanannya, Rakha pun menyambutnya mencium punggung tangannya.


"Alhamdulillah Rakha udah sehat, Wa Ira seneng lihatnya." ucap Fakhira penuh syukur, ia sangat sedih saat mendengar kabar Rakha coma, bahkan Faisal mengirim vidionya saat Rakha terbaring lemah di ruang PICU. Kebersamaannya dengan Rakha selama di pondok pesantren walau hanya beberapa bulan membuatnya sangat menyukai bocah yang menggemaskan itu. Sama seperti adiknya Faisal, Fakhira senang bercerita jisah rosul dan para sahabatnya.


"Ayo Teh, kita ke dalam." Ajak Kharisa


"Ayo Wa." Rakha menuntun Fakhira masuk ke ruang tengah.


"Eh...Bang Richan sudah nyampe." Ujar Kharisa saat melihat seseorang duduk di sofa berdampingan dengan Rafael. Richan menoleh sebentar, hanya tersenyum, kemudian fokus lagi ke layar HPnya, ia memang tidak banyak bicara, lebih pendiam dibandingkan Rafael. Ia baru saja datang ke apartemen Kharisa, rupanya tadi berselisih jalan dengan Kharisa saat ia turun ke lobi.


Tentu saja Richan datang untuk menengok keponakannya setelah dua hari kemarin menghilang entah kemana, katanya merayakan tahun baru dengan teman-temannya dari Amerika yang menyusulnya berlibur di Singapura. Rafael bisa menduga malam tahun baru seperti apa yang dilalui oleh kakaknya, ia hanya bisa mendoakan semoga kakaknya diberikan hidayah, meninggalkan gaya hidupnya yang jelas bertentangan dengan agama dan norma di masyarakat.


"El...kenalkan ini Teh Ira kakaknya Faisal." Rafael berdiri dari duduknya mengulurkan tangan hendak bersalaman namun menariknya lagi saat Fakhira menangkupkan kedua tangannya di dadanya. Fakhira menebak kalau yang dikenalkannya ini adalah ayahnya Rakha.


"Fakhira." ujarnya sambil menganggukan kepalanya, senyumnya mengembang di bibirnya, tidak terlihat kalau di dalam hatinya masih menyimpan luka.


"Rafael." Balas Rafael dengan senyum ramahnya.


"Teh Ira ini Bang Richan kakaknya Rafael." Kharisa pun mengenalkan kakak ya Rafael yang tengah duduk memainkan Hpnya.


"Bang Richan kenalkan, ini Teh Ira." Richan pun berdiri mengangkat kepalanya.


"Eh....." Fakhira terkejut saat melihat wajah laki-laki di depannya yang lebih tinggi darinya. Tentu saja ia ingat, wajah itu tadi begitu dekat dengan wajahnya. Dan entah kenapa jantungnya tiba-tiba berdetak cepat.


bersambung....

__ADS_1


__ADS_2