
Rafael masuk ke dalam rumah messnya yang tidak terkunci dengan senyum berkembang di bibirnya, tampak Andre tengah duduk di sofa ruang tengah dengan laptop di pangkuannya. Rafael duduk di sebelahnya dengan ekspresi yang membuat Andre penasaran.
"Bahagian banget kelihatannya." Andre mengalihkan pandangan dari layar laptopnya, beralih pada sepupunya yang duduk di sebelahnya.
" Ah ......Akhirnya....." Rafael menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa sambil merentangkan kedua tangannya ke atas.
"Akhirnya.....?" Tanya Andre penasaran
"Kharisa akhirnya ngasih kesempatan ke Gue." Rafael menegakan tubuhnya menghadap Andre, menggoyang-goyang bahu sepupunya yang tidak bisa mengelak.
"Hey...gak perlu sampai gini kali, lebay Lo." Andre melepaskan tangan Rafael di bahunya.
"He..he..sory, Gue terlalu bahagia. Besok Gue traktir makan malam, terserah mau dimana tempatnya, Gue mandi dulu, trus tidur, semoga mimpi ketemu Kharisa." Rafael beranjak ke kamarnya membuka bajunya, kemudian keluar, masuk ke kamar mandi yang berada di samping kamarnya sambil bersenandung.
Terimalah lagu ini
Dari orang biasa
Tapi cintaku padamu luar biasa
Aku tak punya bunga
Aku tak punya harta
Yang kupunya hanyalah hati yang setia
Tulus padamu
Senandungnya masih terdengar beriringan dengan suara gemercik air dari shower yang mengguyur, membasahi kepala dan tubuhnya, membuatnya merasa segar.
Andre yang dengan jelas melihat bagaimana keceriaan sepupunya ikut merasakan kebahagiaannya. Ia tersenyum sendiri mendengarkan sepupunya yang berada di kamar mandi.
Akhirnya usahamu tidak sia-sia Bro, semoga mami kamu luluh dan merestui kalian berdua. Doa Andre dalam hatinya.
Selesai membersihkan tubuhnya, Rafael duduk bersandar di tempat tidurnya, mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil, sambil membuka hpnya. Rasanya ia ingin menghubungi Kharisa, padahal baru saja ia pulang dari rumahnya. Tapi ia mengurungkan niatnya, teringat obrolannya dengan Kharisa yang sedikit membuatnya ambigu.
"Anggap saja kita sedang taaruf, maksimal tiga bulan, kalau kita masih merasa saling cocok kita lanjutkan hubungan kita, kalau ternyata tidak ada kecocokan ya jangan kita paksakan." Itu jawaban Kharisa saat Rafael menanyakan kelanjutan hubungan mereka.
"Maksudnya kita pacaran dulu? Oke. No problem, yang penting status hubungan kita jelas, lebih serius." Apapun namanya, mau taaruf atau pacaran yang penting kedepannya ada harapan mereka bisa bersama, pikir Rafael saat itu.
"Bukan pacaran. Aku gak mau kita pacaran kaya dulu, aku maunya taaruf."
__ADS_1
"Taaruf?" Rafael mengernyit, ia pernah mendengar kata taaruf, tapi jelasnya seperti apa ia tidak tau. Ia mengira taaruf itu ya. pacaran, hanya beda istilah menggunakan bahasa Arab .
Taaruf....taaruf.....taaruf.......? Ia mencoba mengingatnya, dimana ia pernah mendengar kata itu. Ah ya...sobatnya Mario pernah menceritakan ia sedang taaruf dengan wanita yang sekarang akan menjadi istrinya. Ya semacam pendekatan, saling mengenal sifat karakter masing- masing, mengenal keluarganya, kalau ada kecocokan lanjut ke pernikahan. Itu yang ia ingat yang dijelaskan Mario. Dan sepertinya ia harus ketemu Mario lagi untuk sharing, mungkin nanti setelah Mario menikah ia akan menemuinya lagi.
"Bukan pacaran ya, kita tidak boleh pergi berduaan, jangan sering-sering telfon, kalau ada yang penting untuk dibahas baru boleh telfon. Aku tidak akan membatasi kontakmu dengan Rakha, kalau mau telfon boleh lewat HPku, tapi untuk komunikasi dengan Rakha. Mau ke rumah ketemu Rakha gak apa-apa, tapi kalau mau ketemu aku ya kalau memang ada hal penting yang harus dibicarakan." Penjelasan Kharisa membuatnya ingin protes tapi ia urungkan,
Rafael pun menyimpan kembali HPnya, ia akan mengikuti keinginan Kharisa dengan konsep taarufnya yang belum begitu ia pahami. Yang penting Kharisa sudah memberikan lampu hijau, memberikan kesempatan waktu tiga bulan, tentu saja ia tidak akan menyia-nyiakannya. Yang harus ia lakukan sekarang adalah mendekati maminya, meraih hatinya agar mau menerima Kharisa, ia juga penasaran apa sebenarnya yang membuat maminya tidak mau menerima Kharisa, pasti ada alasan lain selain karena ingin mewujudkan keinginan kakeknya untuk mempunyai menantu dari keluarga Vanesa.
Rafael juga teringat nasehat Mario.
"Kejar pemilik hatinya, Allah itu Maha membolak balikan hati, mudah bagi Allah merubah hati seseorang, dari benci menjadi suka atau sebaliknya."
Ah ya....dekati Allah, minta padaNya. Batinnya.
Rafael meraih lagi HPnya, ia menyeting alarm pukul tiga pagi. Inilah saatnya ia memperbaiki diri, lebih mendekat kepada Sang penentu takdirnya. Berharap Allah akan mengabulkan segala doanya, membukakan jalan untuk mewujudkan impiannya membangun keluarga dengan Kharisa dan putranya.
Malam belum terlalu larut, tapi Rafael mulai memejamkan matanya, berharap bisa tidur nyenyak dan bangun di sepertiga malam untuk merajut cinta dengan Sang penentu takdirnya dan tak perlu waktu lama ia pun terlelap dalam tidurnya.
*****
Sementara di tempat yang berbeda, Kharisa sedang membacakan buku cerita berbahasa Inggris. Rakha ingin dibacakan cerita The Ugly Duck, Itik Si Buruk Rupa.
''Why are you sad?'' said one of the swans who approached the gray duck.
The goose group just laughed.
“Who said you were ugly? You are very beautiful like us.'' Replied Goose.
Kharisa menghentikan membaca buku ceritanya, melihat putranya yang ternyata matanya sudah terpejam sempurna.Tadi bilangnya belum ngantuk hingga minta dibacakan buku cerita setelah sebelumnya melantunkan doa sebelum tidur, surat alfatihah dan tiga surat pendek 'Three Qul ' (Al Ikhlas, Al Falaq, An Nas). Tapi baru dibacakan cerita setengahnya, dia sudah terlelap tidur.
Kharisa beranjak dari tempat tidur, mengecup lembut kening putranya, lalu keluar kamar menuju kamar mamanya. Ia mengetuk pintu, mencoba membuka pintu yang ternyata tidak terkunci.
"Mah....." Ia menyembulkan kepalanya dari balik pintu, terlihat mamanya tengah duduk bersandar di tempat tidur tengah memandangi layar HPnya.
"Mah, aku ganggu gak?" Kharisa masuk, menutup kembali pintunya.
"Sini sayang....." Mama merentangkan tangan kirinya, menggeser duduknya.
"Mama lagi apa?" Kharisa duduk di samping mamanya, memperhatikan layar HP mamanya.
"Mama lagi lihat foto-foto kemarin, papa yang kirim, kamu mau lihat?"
__ADS_1
"Mau dong, ada foto akunya kan?" Kharisa meraih HP yang diserahkan mamanya, satu persatu ia lihat, senyuman pun terbit di bibirnya, rasa bahagia pun menghiasi hatinya, melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah orang-orang yang disayanginya.
"Aku seneng lihat mama sama papa tersenyum seperti ini." Ucapnya dengan mata berembun.
"Aku seneng sekali Mah.....akhirnya Mama bisa kembali bersama Papa lagi, terima kasih Mah, sudah membuatku bahagia." Bening embun itu akhirnya jatuh di pipinya. Mama merangkul putrinya.
"Maafkan Mama yang telah membuatmu berpisah dengan Papa." Mama pun tak kuasa menahan air matanya.
"Mama gak salah, mama telah memberikan yang terbaik untuk aku, aku tidak menyesal telah mengikuti keinginan mama, malah aku berterima kasih, karena apa yang mama lakukan semua untuk kebaikan aku."
"Mama sangat bangga punya putri seperti kamu." Mama mengecup kening putrinya, lalu menyeka air mata yang membasahi pipi Kharisa.
"Aku juga sangat bersyukur dan bangga lahir dari seorang ibu yang hebat seperti mama." Kini Kharisa yang mengecup kedua pipi mamanya.
"Sepertinya aku kangen tidur berdua sama mama, sejak ada Rakha kita gak pernah tidur berduaan seperti ini ya Mah." Kharisa memeluk mamanya dari samping.
"Hey....mahmud itu Rakha sama siapa di kamar? Sendirian?"
"Rakha udah tidur kok Mah, sesekali gak papa tidur sendiri, sambil mulai belajar juga tidur sendiri, masa tidur bareng aku terus, ini karena gak ada kamar lagi aja tidur bareng aku, dulu aku juga saat sekolah TK kan tidur sendiri." Kharisa jadi teringat masa lalunya saat mulai tidur sendiri, awalnya takut kemudian minta ditemani Bi Nani karena Mama dengan tegas tidak mau menemani lagi.
"Hmm ya Rakha harusnya sudah belajar tidur sendiri. Kalu kita kembali ke rumah kita, dia akan punya kamar sendiri. Oh ya, mama jadi ingin bertanya, rencana Kharis kedepannya seperti apa?" Mama menegakkan duduknya, sepertinya ia ingin bicara serius dengan putrinya. Kharisa tampak diam tidak langsung menjawab.
"Tadi Rafael bicara sama Mama, ia ingin ketemu sama Papa, tapi mama ingin tau dulu rencana kamu seperti apa?"
"Tadi aku sudah putuskan ngasih kesempatan Rafael, aku kasih waktu tiga bulan untuk aku sama dia saling mengenal lagi, aku memang masih mencintai dia, tapi aku ragu karena orang tua Rafael sepertinya belum nerima aku, aku gak mau kalau orang tuanya tidak merestui. Aku juga gak tau kenapa mereka tidak nerima aku, padahal mereka sudah nerima Rakha sebagai cucunya, mungkin mereka masih keukeuh menjodohkan Rafael dengan wanita pilihan mereka." Kharisa menghela nafasnya.
"Kamu yang sabar yah, mama akan dukung apapun keputusanmu, Mama yakin kamu sudah bisa menentukan langkah yang tepat untuk kebahagiaanmu juga Rakha." Mama mengusap lembut rambut putrinya yang tergerai sebahu.
"Yang aku pikirkan adalah kebahagiaan Rakha, karena kebahahiaanku ada pada kebahagiaannya. Aku mersakan kebahahiaan saat Mama kembali bersama Papa, aku jadi berpikir Rakha pun akan bahagia melihat bekersamaan Momy dan Dadynya, itulah kenapa aku mencoba membuka diri untuk bersama Rafael dengan catatan dalam waktu tiga bulan ini kami cocok dan orang tuanya merestui."
"Ya...Mama yakin, kamu akan menemukan kebahagiaanmu, karena sesungguhnya bahagia itu kita yang menciptakan. Jadi Rafael boleh ketemu Papa? Mama akan bicara dengan Papa, Mama juga belum sempat cerita ke Papa tentang Rafael. Mama yakin saat ini papamu sudah berubah, sekarang lebih lembut." Ujar mama sambil menyelipkan rambut Kharisa kebelakang telinganya.
"Duuuh...yang udah ngerasain Papa lebih lembut...." Ujar Kharisa dengan senyum menggoda.
"Ish.....hatinya yang lebih lembut Neng." Sela Mama.
"Iya maksudku hatinya yang lembut, memangnya Mama kira apa?" Kekeh Kharisa.
"Mama kaya pengantin baru aja malu-malu gitu." Kekehnya lagi.
"Sudah, sudah, ayo kita tidur. Jadi mau tidur bareng?" Mama merebahkan tubuhnya, menarik selimut menutupi tubuhnya, padahal tadinya ia ingin membicarakan rencananya yang akan tinggal bersama Papa di rumahnya yang dulu dalam tiga hari setiap minggunya, jadi akan bolak balik ke Jakarta, sampai nantinya akan full tinggal di sana. Namun ia terlanjur malu digoda putrinya, ia tau maksud godaan putrinya.
__ADS_1
Kharisa mengikuti mamanya merebahkan tubuhnya, dengan tangan memeluk mamanya, perasaannya kini merasa lega, mamanya kembali menemukan kebahagiaannya. Kini gilirannya menjemput bahagianya. Ia memejamkan matanya, mama pun melakukan hal yang sama. Tak butuh waktu lama mereka berdua pun terlelap menjemput mimpinya masing-masing.
bersambung