
Beberapa hari ini Rafael terus mencoba bicara dengan maminya walau lewat telfon, dan mamanya terus menghindar untuk membahas Kharisa, sementara Rafael tak pernah bosan membujuk maminya walau pun beberapa panggilan telfonnya diabaikan maminya.
"Kalau hanya untuk membahas Kharisa mami tutup telfonnya." Ujar maminya saat akhirnya panggilan telfon dari putranya ia terima karena HPnya terus berdering.
"Mam please Mam, sebenarnya apa yang membuat Mami menolak Kharisa? Ia baik Mam, Mami mungkin belum mengenalnya, Mamy lihat Rakha seperti apa kan? Itu Kharisa yang mendidiknya Mam.So please beri kesempatan pada Kharisa, paling tidak mami ketemu dulu dan kenali dia, setelah kenal aku yakin Mami akan sayang sama dia."
"Oke, mami mau ketemu dia, tapi mami mau bicara berdua saja sama dia. Lusa Mami ke sana, nanti mami kasih tau tempatnya." Akhirnya mami mau bertemu Kharisa, Rafael pun merasa lega berharap saat bertemu Kharisa maminya menyampaikan kalau ia merestui hubungan mereka berdua. Ia pun tidak sabar untuk menghubungi Kharisa, memberitahunya lewat panggilan telfon tapi ini masih jam kerja, tepatnya pukul dua siang, saat Rafael melihat jam di layar HPnya. Kharisa pasti tidak akan menerima panggilan telfon darinya. Akhirnya ia mengirim pesan WA.
"Sa, lagi dimana?"
"Ada yang igin aku bicarakan." Hampir sepuluh menit pesannya baru dibaca oleh Kharisa.
"Aku di kantin, lagi makan siang." Balas Kharisa
"Aku ke sana." Rupanya Rafael sudah tidak sabar untuk menyampaikan rencana maminya yang akan menemui Kharisa lusa. Padahal Kharisa selalu bilang kalau urusan pribadi yang menyangkut huhungan mereka berdua juga Rakha dibicarakan di rumah, tapi Rafael melupakan itu, saking senangnya.
Lima menit kemudian Rafael sudah memasuki kantin, ia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Kharisa, dan netranya tertuju pada wanita berhijab dan laki-laki berjas putih yang duduk berhadapan, sedang menikmati makan siang mereka yang terlambat, tampaknya mereka tengah ngobrol serius di sela-selan makan siangnya. Mereka adalah Kharisa dan Keanu. Kharisa makan siang terlambat karena baru saja tiba di rumah sakit setelah tugas luar, sementara Keanu baru selesai dengan pasien-pasien di IGD yang sejak pagi tidak berhenti.
"Wah....berduaan aja nih?" Tanya Rafael sambil duduk di kursi samping Keanu membuat keduanya terlihat terkejut karena tidak menyadari kedatangan Rafael.
"Eh...dokter Rafael, iya dok sepertinya yang lain sudah tidak ada lagi yang istirahat, tingal kami berdua. Pasien IGD lumayan dari pagi gak berhenti, jadi baru bisa istirahat." Ujar Keanu, rupanya ia takut Rafael salah sangka ia meninggalkan IGD saat jam kerja, padahal Rafael pasti sudah paham, memang seperti itu yang si pelayan, waktu istirahatnya gak tentu karena lebih mengutamakan pelayanan.
"Dokter baru istirahat juga?" Tanya Keanu.
"Aku ada perlu sama Kharisa." Jawab Rafael, Kharisa yang terlihat sedang khusu menghabiskan makan siangnya langsung menoleh ke arah Rafael yang duduk di depannya.
"Tenang saja, habiskan saja dulu makannya." Ujar Rafael. Lima menit kemudian Kharisa dan Keanu telah menghabiskan makananya.
"Saya permisi dok, mau kembali lagi ke IGD." Keanu pun pamit, jam kerjanya masih setengah jam lagi.
"Ah ya." Rafael menganggukan kepalanya.
"Udah akrab aja yah sama dokter baru, serius gitu ngobrolnya sampai gak sadar kedatanganku." Sepertinya ada bau-bau cemburu terdengar dari nada suara Rafael. Kharisa hanya mendelik tidak menanggapinya.
"Kamu tuh kebiasaan suka telat makan siang, kenapa gak makan siang di luar saja kalau sedang dinas luar, jangan bilang kalau kamu sedang ngirit, kartu debit dari aku bisa dipake kan? Menapa kamu gak pernah memakainya? Aku cek saldonya masih utuh. Lagi pula makan di luar saat dinas kan bisa dirembers ke bagian keuangan." Cecar Rafael, ia sering melihat Kharisa makan di kantin lewat dari jam istirahat.
__ADS_1
"Siapa bilang telat makan, aku tuh ini makan siang yang kedua. Tadi aku udah makan makan baso sama Zaki pas jalan. Aku ke kantin hanya alasan saja ingin ngobrol sama dokter Keanu." Ternyata ia penasaran dengan apa yang diceritakan Vania beberapa hari yang lalu, kalau Keanu adalah cinta pertama Kania, dan Keanu seperti yang memberi perhatian juga pada Vania, tapi setelah tau Vania mencintainya, Keanu malah menjauhi dan menghindari Vania, ini yang membuat Kharisa penasaran, kenapa Keanu malah menjauhi Kharisa, hanya laki-laki bodoh yang menolak Vania yang memiliki banyak kelebihan.
"Ck....untuk apa ngobrol sama dokter Keanu? Kamu suka sama dia?"
"Jangan mulai deh El... apa yang ingin kamu bicarakan?" Kharisa memasang wajah juteknya. " Kalau urusan pribadi sudah kubilang jangan di rumah sakit ngobrolnya, di rumah saja, kalau ada yang denger gimana?"
"Baguslah kalau yang lain pada tau, lama-lama juga mereka akan tau, dari pada nanti mereka kaget langsung nerima undangan dari kita, mending tau dari sekarang kan?" Rafael terlihat percaya diri.
"Aku belum siap, mami kamu juga belum mau nerima aku."
"Siapa bilang? Justru aku nemuin kamu ingin ngabarin kalau mami ingin ketemu kamu besok lusa, mami ingin bicara berdua sama kamu. Akhirnya kan mami luluh juga, bener kata Mario kesabaran akan membuahkan hasil. Lusa kan hari Sabtu, kita cuma setengah hari, tapi kalau mami datang lebih awal kita ijin saja, aku akan nganteri kamu, mmai belum nentuin ketemuannya dimana, paling di rumah makan."
"Beneran mami kamu minta ketemu aku, kamu maksa mami kamu kan?" Tanya Kharisa tidak percaya kalau itu keinginan mami Rafael.
"Aku gak maksa, hanya meminta mami kenal sama kamu dulu, selama ini persepsi mami tentang kamu mungkin salah, kalu sudah kenal pasti mau nerima kamu, trus mami langsung minta ketemu kamu, kamu mau kan ketemu mami? Kamu bilang sudah memaafkan mami."
Kharisa mencoba mempercayai ucapan Rafael, ia menganggukan kepalanya. " Tapi kamu temenin yah." Ada sedikit perasaan takut bertemu mami Rafael, lebih ke arah takut kecewa lagi.
"Iya aku anterin, tapi nanti mami mau ngobrol berdua sama kamu, yah mungkin ingin bicara dari hati ke hati sesama wanita, dan aku akan dianggap sebagai pengganggu. Nanti kita berangkat bareng dari sini saja, motor kamu simpan saja di sini." Tentu saja Rafael tidak akan membiarkan Kharisa pergi sendirian, ia akan menemaninya, namun Kharisa buru-buru menggelengkan kepalanya.
"Ngak, ngak, aku pake motor aku, kita jalan bareng, ribet kalau aku nanti harus balik lagi ke rumah sakit, lebih ribet lagi hari Seninnya gak ada motor."
"Nggak deh, nanti aku pake motor aja, ngikutin mobil kamu." Kharisa keukeuh dengan keinginannnya, ia belum mau orang lain melihat dia sering berduaan dengan Rafael, apalagi melihat ia diantar jemput, bisa heboh satu rumah sakit.
"Ya udah yang penting kamu mau ketemu Mami, kamu memang dari dulu keras kepala, gak bisa dibilangin." Rafael sudah hapal kalau Kharisa teguh dengan pendiriannya.
"Siapa yang keras kepala? Aku hanya gak mau ribet El."
"Kalau gak mau ribet ya udah tinggal berangkat bareng nanti aku jemput pas mau kerja, lebih praktis kan?" Ternyata Rafael masih belum mau menyudahi debatnya, ia ingin banget bareng-bareng dengan Kharisa, gak peduli nanti orang lain menggosipkannya, toh sebentar lagi ia akan meresmikan hubungannya dengan Kharisa.
"Udah ah....udah selesai kan, aku mau kerja lagi, gak enak temen yang lain tau kalau aku sudah di rumah sakit." Kharisa memundurkan kursinya hendak berdiri namun di tahan Rafael.
"Tunggu dulu...."
"Apa lagi?" Kharisa pun tidak jadi berdiri.
__ADS_1
"Tadi ngobrol apa sama Keanu." Rupanya penasaran juga Rafael melihat Kharisa yang terlihat akrab dengan Keanu, padahal pasti nereka baru saling mengenal.
"Iiihh kepo...." Goda Kharisa.
"Dia gak naksir sama kamu kan? Atau kamu yang naksir sama dia?"
"Ish kamu tuh yah...siapa yang naksir? Aku hanya ngobrol biasa, eh tapi aku punya misi, makanya aku sengaja ngobrol sama dia."
"Misi apa?" Rafael terlihat penasaran.
"Ada deh...nanti aja deh aku cerita, maaf ya Dokter Rafael aku harus kembali kerja, takut ditegur sama Pak Bos Andre kelamaan istirahat. Permisi...." Kharisa membungkukan badannya sambil tersenyum layaknya bawahan terhadap atasannya. Rafael hanya bisa menatap kepergian Kharisa.
Sementara itu di nurse station IGD, Keanu baru saja menyelesaikan laporan status pasien yang baru ia tangani, kasusnya tidak terlalu berat, pasien dengan riwayat gastritis yang mengalami colic abdomen, setelah di berikan terapi kondisinya sudah membaik tinggal di observasi samoai dipastikan tidak ada keluhan lagi.
Ia meluruskan kakinya yang panjang di bawah meja, menyandarkan bahu dan kepalanya ke sandaran kursi, matanya menatap dinding yang berwarna putih, sementara pikirannya menerawang mengingat pertemuan terakhirnya dengan wanita yang pernah mengaku mencintainya tujuh tahun yang lalu saat kegiatan eskul KIR, dan itu adalah kegiatan terakhir yang diikutinya, ia menutuskan tidak aktif lagi kegiatan eskul KIR, alasan klisenya sih karena ia ingin fokus menghadapi ujian akhir, padahal ada alasan lain yang dipendamnya hingga tak ada seorang pun yang tau. Alasan itu pulalah yang membuatnya tersiksa.
Beberapa kali bertemu di kegiatan eskul membuatnya ingin memberikan perhatian khusus pada gadis berkulit putih dengan rambut sebahu yang selalu dikhiasi dengan bando beraneka model. Siapa yang tidak tertarik dengan gadis cantik berhati baik, yang selalu perhatian dengan teman-temannya, mentraktir temannya sepertinya menjadi kesukaannya. Beberapa teman laki-lakinya termasuk seniornya secara terang-terangan mendekatinya bahkan ada yang mengatakan cinta langsung, tapi tak satu pun di balas olehnya. Ini yang membuatnya leluasa memberikan perhatian lebih, tidak akan afa yang berhak cemburu saat ia ngobrol berdua dengannya, berjalan berdua menyusuri jalan trotoar saat pulang sekolah sampai halte bis, walaupun gadis itu sebenarnya tidak pulang dengan menggunakan bis, tentu saja dijemput mobil khusus dengan supirnya.
Itulah salah satunya yang membuat ia menjaga jarak dengan gadis itu setelah tau kalau gadis itu mencintainya. Lalu apakah ia tidak mencintainyajingga menjauh dan menghindarinya? Bohong kalau ia tidak menyukai gadis itu, bahkan hatinya tidak bisa dibohongi kalau ia juga mencintai gadis itu, hanya sayangnya ia tidak percaya diri untuk sekedar mengungkapkan perasaannya, apalagi menjalin hubungan percintaan yang kata orang mungkin saja cinta monyet. Terlalu jauh perbedaan kehidupannya dengan gadis yang ternyata dicintainya itu, status ekonomi yang berbeda itulah yang membuatnya tidak percaya diri. Ia bisa sekolah di SMA swasta favorit yang biayanya mahal juga karena beasiswa, full selama tiga tahun ia sama sekalibtidak membayar sedikitpun dengan catatan harus bisa mempertahankan prestasi di tiga besar, dan ia mampu berada di urutan pertama, terbaik di angkatannya. Ya, ia hanya terlahir dari keluarga sederhana, tinggal di rumah sederhana bersama ibu dan seorang kakak yang sejak kecil ditinggal ayah tercinta, tepatnya sejak ia duduk di kelas enam SD ayahnya pergi ubtuk selamanya karena mengalami kecelakaan. Sejak itulah ibunya yang bekerja keras menghidupi dua anaknya, berprofesi sebagai perawat yang bekerja di rumah sakit Setya Medika Jakarta, karena dianggap senior dan kinerja yang bagus, dua tahun yang lalu ibunya dipindahkan ke rumah sakit Setya Medika cabang sebagai kepala ruangan dan lima tahun lagi akan memasuki masa pensiun.
Tidak banyak yang tau kalau ia bekerja satu rumah sakit dengan ibunya, hanya rekan satu ruangan ibunya dan bagian HRD dan Rafael atasannya yang tau kalau dokter Keanu adalah putra dari seorang perawat senior yang menjabat sebagai kepala ruangan rawat inap lantai tiga.
Dan di rumah sakit inilah ia bertemu kembali dengan gadis yang dulu dicintainya diam-diam, bahkan ternyata rasa itu masih ada di hatinya, debaran itu masih terasa saat melihatnya. Gadis itu telah tumbuh menjadi wanita dewasa yang terlihat anggun dan lembut, namun saat bertatapan langsung hanya wajah pucatnya yang terlihat, tidak ada keceriaan di wajahnya seperti saat masa SMA dulu. Pasti karena memendam kekecewaan pada laki-laki yang dicintainya tapi mengabaikannya. Vania....kenapa terlihat kekecewaan di wajahnya?
Benarkah sampai saat ini ia masih kecewa padanya? Atau mungkin masih menyimpan kemarahan dan kebencian padanya? Bukankah sekarang gadis yang dicintainya itu telah bertunangan dengan laki-laki yang cocok dan sepadan dengannya, ya ... Rafael anak pemilih rumah sakit ini memang pantas menjadi pendamping Vania. Itu yang ada di benak Keanu yang masih duduk menatap dinding dengan tatapan kosong. Dan kenapa hatinya terasa perih, saat Ahmad membisikan "Itu, yang sebelah sini, tunangannya dokter Rafael." Perih saat tau wanita itu ternyata telah bertunangan dengan atasannya sendiri.
Tapi yang membuatnya berpikir keras saat ini adalah obrolannya dengan Kharisa saat tadi di kantin. Kharisa banyak bertanya tentang masa SMAnya, bertanya sedekat apa ia dengan Vania, Kharisa bilang Vania adalah sahabatnya, dan Vania sudah bercerita banyak tentang masa SMAnya termasuk kalau Vania menyukainya. Dan yang membuatnya bingung saat Kharisa mengatakan "Sepertinya akan ada yang CLBK nih, apa Cinlok?" Tentu saja ia meringis dalam hatinya, mana berani ia menyalip atasannya, dulu saja ia tidak berani mendekat apalagi sekarang dengan status yang sudah bertunangan, dengan atasannya lagi.
"Dok....pasien yang gastritis sudsh boleh pulang, keadaannya membaik dan tidak mengeluh nyeri lagi." Lamunannya buyar saat perawat laki-laki memanggilnya.
"Oh iya, saya cek dulu." Ia bangkit dan langsung menuju pasiennya.
bersambung
Hai readerku tercinta, mohon maaf ya beberapa hari kemarin gak up, biasalah alasan klise sibuk, Harap maklum yah.
__ADS_1
Boleh dong kirim hadiah buat Kharisa biar percaya diri bertemu maminya Rafael, penasaran gak kira-kira mami Rafael nerima Kharisa atau malah tetap menolaknya?
Jawabannya di bab selanjutnya yah.😉😊