Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku
Menjauh


__ADS_3

Dua minggu berlalu setelah kejadian di ruang meeting yang membuat Kharisa semakin yakin untuk menjauhi Rafael. Ya dua minggu ini Kharisa selalu menghindari pertemuan dengan Rafael termasuk saat Rafael mengunjungi Rakha di rumah. Saat Rafael datang ke rumahnya ia hanya menyambutnya, basa basi sebentar lalu masuk ke dalam kamar. Saat Rakha mengajaknya jalan-jalan bareng dadynya, Kharisa pun selalu menolak.


"Rakha jalan-jalannya berdua saja dengan Dady yah, Momy lagi gak enak badan."


"Momy cape, ngantuk, Momy gak ikut yah."


"Momy ada perlu sama teman Momy, Rakha sama Dady saja jalan-jalannya yah."


Begitulah Kharisa selalu beralasan, untungnya Rakha percaya, tidak curiga sedikit pun kalau Momy nya hanya beralasan untuk menghindari dadynya. Sementara Rafael tahu kalau itu hanya alasan Kharisa untuk menjauhinya. Twpi mau bagaimana lagi ia tidak bisa memaksa Kharisa, ini juga karena kesalahannya yang tidak bisa menahan diri hingga Kharisa benar-benar marah padanya.


Kharisa menjauhi Rafael karena memang sikap Rafael yang tidak senonoh padanya, selain itu karena ternyata ada seseorang yang memergoki Kharisa dan Rafael yang saat itu posisi mereka memang jelas seperti duaborang yang memiliki hububgan spesial, Kharisa berada dalam dekapan Rafael walaupun sebenarnya murni bukan keinginan Kharisa. Itu gara-gara respon Kharisa terhadap cicak yang dimanfaatkan oleh Rafael. Untungnya yang memergoki mereka bukan orang yang suka menyebarkan gosip.


Saat itu Kharisa berhasil mengejarnya sampai depan lift.


"Mba Widya.....tunggu!" Ternyata Widya yang masuk ke ruang meeting, perawat yang dikenalnya saat sama-sama mengikuti orientasi karyawan baru.Kharisa sedikit terengah saat berada di depan Widya.


"Tadi yang Mba Widya lihat tidak seperti yang mba bayangkan, tadi itu terjadi insiden, aku phobia cicak, dan ada cicak lewat di atasku, reflek aku berlindung di tubuh dokter Rafael, hanya itu, tidak ada apa-apa diantara kami." Jelas Kharisa, ia khawatir Widya memiliki persepsi sendiri. Widya malah terkekeh.


"Tenang saja Kharisa, aku tidak berpikir macam-macam kok. Eh tapi tadi tuh kalian memang terlihat seperti sepasang kekasih, kalian juga terlihat cocok, tapi sayangnya dokter Rafael sudah bertunangan, ada di sini lagi tunangannya, kamu harus hati-hati." Ujar Widya setengah berbisik.

__ADS_1


"Justru itu, aku mohon yang tadi Mba lihat tolong jangan disebar luaskan, aku beneran gak ada apa-apa dengan dokter Rafael." Ujar Khariaa memohon. Dia hanya ayah dari anakku, tambahnya dalam hati.


"Iya tenang saja, aku bukan tipe orang penyebar gosip. Tapi kamu harus bisa jaga hatimu, jangan sampai jatuh cinta sama dokter ganteng itu, baik lagi. Pokoknya ingat dia sudah milik orang lain. Eh...tapi kalau ternyata dokter Rafaelnya yang suka sama kamu gimana?" Tanya Widya, bukan tanpa alasan Widya bertanya seperti itu, tadi dia melihat jelas Rafael mendekap tubuh Kharisa seolah Kharisa adalah seseorang yang spesial baginya.


"Aku gak mungkin merebut milik orang lain Mba." Jawabannya sekaligus menguatkan hatinya, menjadi sebuah janji yang tidak akan dengan mudah dilanggar.


"Bagus, kamu memang wanita baik-baik. Mendingan ngelirik dokter Arjuna yang jelas masih single, masih terus mepet kan dia?" Widya jelas tahu bagaimana Arjuna memberikan perhatian lebih kepada Kharisa sejak masa orientasi karyawan.


"Ah aku masih mau konsen dengan karirku Mba." Sebuah jawaban klise yang ia lontarkan, padahal sebenarnya ia sangat takut menjalin hubungan dengan laki-laki lain karena masa lalunya. Belum tentu mereka akan menerimanya setelah tau kalau ternyata ia telah memiliki seorang anak. Sampai saat ini, kalau membayangkan memiliki pendamping yang ia bayangkan Faisal lah yang diharapkan menjadi pendampingnya, walaupun ia belum tau perasaannya kepada Faisal, begitu pun sebaliknya, karena jelas hatinya masih dimiliki oleh Rafael, dan mulai saat ini ia berusaha untuk mengikis cinta yang bersemayam di hatinya. Tapi ia merasa tidak pantas juga menjadi pendamping Faisal yang memiliki banyak kelebihan, ia pantas mendapatkan wanita yang lebih baik darinya.


Kharisa percaya Widya akan menepati janjinya untuk tidak memberitahu yang lain apa yang dilihatnya, toh dia juga percaya ia dan Rafael tidak ada hubungan apa-apa. Entah bagaimana responnya kalau tau ia dan Rafael sebenarnya saling kenal dan memiliki hubungan di masa lalu dan mau tidak mau terus terjalin sampai saat ini karena buah hati yang hadir diantara mereka, tapi hanya sekedar hubungan ia sebagai ibu dan Rafael sebagai ayah dari buah hati mereka, tidak lebih dari itu. Itu yang diharapkan Kharisa saat ini.


"Sa, Sabtu besok aku mau ajak Rakha ke Jakarta." Ucapan Rafael bukan lagi permintaan, lebih ke arah pemberitahuan.


"Kita bahas di WA saja." Jawab Kharisa tegas. Rafael menarik nafas panjang melihat sikap Kharisa yang dingin sejak dua minggu yang lalu, bahkan sellau menghindar dan menolak diajak bicara. Baru kali ini mereka bisa berhadapan langsung walaupun di dalam lift, dan ini dijadikan kesempatan oleh Rafael untuk bicara langsung, tapi ternyata sama saja Kharisa enggan bicara dengannya.


Lift berhenti di lantai tiga, dua orang penunggu pasien pun keluar menuju ruang rawat inap, meninggalkan Kharisa dan Rafael di dalamnya.


"Sa, kamu masih marah dengan kejadian di ruang meeting? Sory aku khilap Sa."

__ADS_1


"Aku tidak mau membahasnya, tolong El jangan bicara tentang apapun yang ada kaitannya dengan Rakha di rumah sakit, aku tidak ingin orang lain mendengarnya."


"Aku harus bicara dimana? Di rumah juga kamu selalu menghindar dari aku, untung saja Rakha tidak curiga dengan sikap kamu." Rafael menoleh ke arah Kharisa yang sejak tadi pandangannya lurus ke depan. Namun Kharisa tetap bergeming.


"Please Sa , maafkan aku, aku memang salah telah lancang, tapi itu karna aku tidak bisa menahan kerinduanku sama kamu, aku kangen masa-masa dulu saat kita bersama Sa. Aku ingin hubungan kita seperti dulu lagi, demi Rakha, demi anak kita Sa." Rafael terlihat memelas, sayangnya Kharisa sama sekali tidak mau menoleh ke arahnya.


"Aku bilang jangan bahas itu di sini." Kharisa memperingatkan lagi, sepertinya Rafael yang selalu kebablasan, tidak melihat situasi dimana mereka berada. Walaupun mereka hanya berdua tapi tidak menutup kemungkinan suara mereka terekam CCTV.


Ting


Pintu lift pun terbuka, di luar berdiri Vania dan Meita yang hendak masuk ke dalam lift, Vania tertegun melihat Rafael dan Kharisa berada di dalan lift, berdua. Kharisa segera ke luar dari lift , melemparkan senyum tipisnya, lalu bergegas menuju ruang kerjanya. Sementara Rafael dengan santai keluar dari lift dengan wajah dinginnya, sama sekali tidak menyapa tunangannya.


"El....nanti malam aku ingin bicara, bisa?" Tanya Vania sebelum Rafael berlalu.


"Oke, jam delapan aku ke tempatmu." Tak ada penolakan, sepertinya Rafael ingin meyelesaikan urusannya dengan Vania. Rafael pun berlalu menuju ruang direktur.


Meita tampak keheranan melihat pasangan yang sudah bertunangan tapi tidak terlihat mesra-mesranya, bahkan sekarang seperti dua orang yang tidak saling kenal akrab. Tentu saja karena Rafael yang selalu bersikap dingin pada Vania, bahkan menjauh, kalau bisa jangan sampai bertemu.


Di saat Rafael bersikap menjauhi Vania, malah Kharisa pun menjauhinya.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2