
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, satu minggu sudah Kharisa dan Rafael menjalani kehidupan sebagai suami istri, walaupun saat di tempat kerja mereka tidak menunjukan kalau mereka sebagai pasangan pengantin yang sedang hot-hotnya. Kharisa sendiri karena memang itu keinginannya tidak ingin ada yang mengetahui statusnya saat ini, ia enjoy menjalaninya. Berbeda dengan Rafael yang kadang kebablasan bersikap pada Kharisa di depan yang lain, membuat Kharisa terkejut dan harus memberi kode untuk menghentikan sikapnya yang tentu saja mencurigakan orang yang melihatnya.
Seperti tiga hari yang lalu saat Rakha sudah kembali dari Jakarta dan mulai kembali sekolah, Rafael lah yang mengantarnya ke sekolah dengan menggunakan mobilnya sekalian ia berangkat ke rumah sakit. Kharisa seperti biasa berangkat dengan motornya, sepuluh menit kemudian setelah Rakha dan daddynya berangkat.
Rafael dan Kharisa akhirnya bertemu di tempat parkir karyawan, Rafael keluar mobilnya bersamaan saat Kharisa baru saja memarkirkan motornya. Selain Kharisa ada karyawan lain juga yang baru memarkirkan motornya. Sementara beberapa karyawan lain yang tinggal di mess tampak menuju gedung rumah sakit.
"Sa....." Rafael memanggil Kharisa yang tengah berjalanan menuju gedung rumah sakit di belakang karyawan yang lain. Kharisa pun menoleh saat merasa seseorang memanggilnya, suaranya pun ia kenal.
"Sa, tadi aku ketemu wali kelas Rakha, aku sudah bilang Rakha gak jadi pindah sekolah." Ujar Rafael reflek seolah tidak menyadari kalau ada karyawan lain di depan Kharisa. Tiga karyawan yang berjalan di depan Kharisa pun menoleh saat mendengar suara Rafael di belakangnya, lalu menyapa Rafael dengan penuh hormat. Sepertinya mereka mendengar jelas apa yang diucapkan Rafael.
Kharisa langsung melotot memberi kode pada suaminya agar tidak sembarangan bicara. Rafael pun langsung tersadar, ia memperlihatkan barisan giginya yang rapih, menunjukan kalau ia mengakui khilap. Rafael pun berjalan di belakang Kharisa dan melambatkan langkahnya.
Ucapan Rafael yang tidak bisa jauh dari Kharisa memang benar, lebih dari dua jam tidak melihat Kharisa membuat Rafael tidak konsentrasi bekerja, pasti ia akan mengirim pesan sekedar menyapa istrinya.
"Sibuk?"
"Ada orang gak? Aku ke sana yah."
Seperti biasa Kharisa selalu lambat membalas pesan dari suaminya, namanya juga sedang fokus bekerja ia kadang mengabaikan phonsel di atas meja kerjanya. Hingga belum juga pesannya dibaca Kharisa, Rafael sudah berada di ruangan marketing dengan menenteng satu cup minuman dingin yang dibelinya di kantin rumah sakit, untuk siapa lagi kalau bukan untuk istri tercintanya yang selalu mengacuhkannya kalau di rumah sakit.
Pernah saat Rafael berada di ruangan marketing, tiba-tiba Meli masuk tanpa permisi lagi membuat dua orang yang sedang berbincang santai tersentak, otomatis Rafael langsung berdiri dari duduknya.
"Eh..Mel, Pak Andre lagi ke perusahaan apa yah?" Tanya Kharisa saat itu untuk menutupi keterkejutannya..
"Mmm ....aku lupa nama perusahaannya, kalau gak salah yang di kawasan Industri. Kenapa memangnya?" Meli terlihat mengernyit, ia menyimpan berkas di mejanya laku duduk di kursinya, tidak berani melihat ke arah Rafael yang masih berdiri di depan meja Kharisa.
"Ini dokter Rafael menanyakan Pak Andre." Jawab Kharisa berbohong, terlihat masih sedikit gugup.
__ADS_1
"Sebaiknya dokter langsung hubungi Pak Andre saja." Ujarnya lagi ditujukan pada Rafael.
"Ya, kalau gitu, saya permisi." Rafael pun berlalu meniggalkan ruang marketing menyisakan tanda tanya keheranan Meli yang masih mengernyitkan keningnya menatap kepergian bos Yanmed. Sementara Kharisa menenangkan dirinya agar bisa bersikap biasa menghadapi pertanyaan rekan kerjanya.
Seperti itulah hari-hari Kharisa dan Rafael di tempat kerja mereka, berbeda dengan saat mereka di rumah. Tak apa ia di abaikan tapi saat berdua ia disayang.
Kharisa benar-benar melayani segala keperluan Rafael, dari mulai menyiapkan pakaian ganti, menyediakan makan dan minumnya walaupun bukan Kharisa yang masak sendiri, ada Bi Nani dan mamanya yang memasak makanan untuk mereka, tapi Kharisa yang menyiapkannya.
Perhatian lebih pun di rasakan Rafael saat di rumah, begitu pun Rafael tanpa segan lagi menunjukan rasa sayangnya pada Kharisa, sampai-sampai membuat putranya cemburu melihat kedekatan momy dan daddynya.
"Daddy jangan peluk-peluk Momy, ini Momy aku." Rakha langsung duduk di antara Momy dan Daddynya, tidak rela melihat daddynya memeluk momynya, seolah takut kalau momynya tidak memperhatikannya lagi, padahal perhatian Kharisa pada Rakha tidak berubah.
"Daddy kenapa dipakein baju sama Momy, Daddy sudah besal halus pake baju sendiri." Protes Rakha saat melihat momynya tengah mengancingkan kemeja Rafael. Ya dengan manja Rafael meminta Kharisa mengancingkan baju dan memasang dasinya, tentu saja Kharisa menuruti permintaan suaminya, saat itu Rakha sedang di luar kamar, namun tiba-tiba masuk membuyarkan suasana romantis pasangan suami istri yang sedang mesra-mesranya, untung saja Rafael tidak melakukn hal yang aneh-aneh walaupun sebenarnya ia sudah gatal ingin menyentuh sesuatu di depannya yang terlihat menggoda.
"Daddy kan belum pernah dipakein baju sama Momy." Ujar Rafael membela diri.
"Tapi Daddy sudah besal, kasihan Momy cape, aku juga pake bajunya sendili ya kan Momy?" Ucap Rakha tidak mau kalah, ia memang sudah biasa memakai bajunya sendiri, saat itu pun penampilannya sudah rapi dengan seragam sekolah TK nya. Rafael terkekeh mendengar protes putranya. Benar-benar putra kesayangannya itu tidak bisa diajak kompromi kalau berurusan dengan momynya seolah perhatian momynya untuknya tidak boleh tersaingi.
"Aku di tengah, gak mau dekat tembok." Rakha menggeser posisinya berbaring di tengah, padahal Rafael sudah mengatur rencana Kharisa yang di tengah, jadi ia masih bisa tidur memeluk istriya, tapi sayang keinginan Rakha tidak bisa ditolak dan Rafael harus rela hanya bisa menggenggam tangan Kharisa. Mereka tidur berdempetan di tempat tidur yang sebenarnya muat untuk dua orang.
Tidak apa-apa, sekarang saatnya membahagiakan Rakha, bukankah itu tujuannya Rafael bersatu dengan Kharisa, salah satunya demi memenuhi keinginan Rakha yang ingin tidur bersama momy dan daddynya. Akan ada hari esok untuk kebersamaan Kharisa dengan Rafael, tidak akan selamanya Rakha tidur bersama mereka, ada solusi yang sudah dipikirkan Rafael untuk putra kesayangannya itu, menyediakan kamar pribadi Rakha.
Hari libur pekan ini dimanfaatkan Kharisa dan Rafael untuk menyiapkan acara resepsi pernikahan mereka yang tinggal tiga minggu lagi. Mereka bertemu dengan pihak WO di rumah mama Kharisa di Jakarta.
Rancangan kartu undangan pun diperlihatkan oleh pihak WO yang sudah dirancang sesuai keinginan Kharisa dan Rafael. Kartu undangan yang sederhana namun terlihat elegant, tidak ada foto mereka berdua, hanya tercantum nama yang terukir indah dengan tinta emas.
Gedung dan konsep dekorasinya pun sudah mereka tentukan, yang awalnya ingin konsep pernikahan sederhana ternyata berubah drastis karena papa Kharisa menginginkan resepsi yang megah, begitu pun dengan orang tua Rafael, yang ternyata ikut memberikan masukan lewat mama Kharisa, mau tidak mau Kharisa dan Rafael mengikuti keinginanvorang tua mereka.
__ADS_1
Hari Senin pagi mereka kembali meninggalkan kota Jakarta, kali ini mama Kharisa tidak ikut, hanya Bi Nani yang dengan setia mendampingi, tentu saja karena harus ada yang menjemput Rakha sekolah dan menemani Rakha saat Kharisa dan Rafael bekerja.
Satu minggu lagi Kharisa memenuhi kewajibannya bekerja di rumah sakit, target pekerjaannya pun tercapai dengan baik, di akhir masa kerjanya ia bisa lebih santai, bisa membantu pekerjaan Mila melakukan tugas marketing internal.
Berkeliling mengunjungi pasien dan berinteraksi dengan pasien dan keluarganya adalah hal yang menyenangkan bagi Kharisa, ia pasti akan merindukan saat-saat seperti ini. Ada kebahagiaan yang dirasakan saat pasien dan keluarga pasien merasa puas dengan pelayanan yang diberikan oleh pihak rumah sakit.
Waktu sudah menunjukan pukul sebelas siang saat Kharisa berada di ruang perawatan pasien, ia berbincang dengan beberapa perawat yang ada di nurse station. Ternyata mereka mendengar kabar pengunduran diri Kharisa dan mereka menyayangkannya.
"Kenapa keluar Mbak?" Tanya salah seorang perawat. "Apa dapat pekerjaan yang lebih baik dari tempat ini?" Tanyanya lagi.
"Rencananya aku mau pindah ke Jakarta Mbak?" Jawab Kharisa sambil tersenyum. Tentu saja itu hanya alasan klise, karena tidak mungkin Kharisa menjawab jujur.
"Ya ampun Neng akhirnya ketemu juga, setelah sekian purnama." Tiba-tiba seorang laki-laki berjas dokter menghampiri Kharisa, sepertinya ia baru keluar dari ruangan pasien didampingi oleh seorang perawat laki-laki.
"Dokter Juna apa kabar ? Wah sibuk terus sepertinya." Kharisa balik menyapa dokter yang sudah lama tidak dilihatnya, sejak ia ijin tidak masuk kerja, sampai hari ini baru melihatnya lagi. Pasti dokter Arjuna sangat sibuk hingga tidak sempat ke kantin saat jam istirahat hingga ia tidak pernah melihat batang hidungnya sedikitpun.
"Ya beginilah Neng, nasib dokter bangsal yang lagi panen pasien sampe gak bisa duduk santai."
"Eh aku selesain dulu visit pasien yah, istirahat ketemu di kantin yah, A Juna usahakan makan di kantin." Kharisa mengiyakan, ia sepertinya kangen juga ngobrol dengan Dokter Juna, itung-itung untuk perpisahan juga, siapa tau besok-besok dokter Juna sibuk tidak bisa bertemu lagi. Dokter Juna pun melanjutkan visit beberapa pasien yang tidak bisa divisit oleh dokter spesialis di pagi hari. Kharisa berjalan menuju lift untuk kembali ke ruangannya karena urusannya di ruang rawat inap pun sudah selesai.
Sementara di depan pintu lift yang sudah kembali menutup ada seseorang yang memperhatikan gerak gerik Kharisa saat berbicara dengan dokter Arjuna, pandangannya terlihat sinis. Ia menekan tombol lift, tidak berapa lama pintu lift pun terbuka, dan ia segera masuk. Saat pintu lift hampir menutup, seseorang menekan tombol lift hingga pintu kembali terbuka, dan ia pun masuk ke dalam lift.
"Oh dokter Keanu, maaf saya sekalian mau ke atas dok." Sapanya ramah dengan senyum lebar menghiasi bibirnya. Ternyata Kharisa yang masuk ke dalam lift. Keanu hanya membalas dengan menganggukan kepalanya, wajahnya terlihat datar. Membuat Kharisa berpikir apa dokter Keanu sedang ada masalah, hingga senyum pun berat terbit di bibirnya, padahal mereka sudah saling mengenal dan sempat ngobrol bareng.
Kharisa jadi teringat kembali PR nya yang belum sempat ia garap. Masih ada waktu lima hari lagi untuknya menyelesaikan misinya, menyatukan dua hati yang terpisah karena gengsi, dan sepertinya ia harus meminta bantuan Rafael untuk menyukseskannya.
bersambung
__ADS_1
Hai readerku tercintaš
Alhamdulillah bisa Up nih walaupun dikit-dikit. Terima kasih atas doanya, alhamdulillah sekarang Othor sudah lebih baik, walau masih masa pemulihan. Terima kasih juga telah setia menunggu cerita ini.