Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku
Ibu tetaplah Ibu


__ADS_3

Rafael melajukan mobilnya dengan kecepatan 100-120 KM/jam di jalan tol menuju Jakarta. Hatinya geram setelah mendengar cerita Kharisa bagaimana pertemuannya dengan Maminya. Ternyata dugaannya salah, ia begitu percaya diri kalau maminya akan menerima Kharisa hingga mau bertemu dengannya, ternyata maminya belum berubah, entah apa yang membuat maminya bersikeras menolak Kharisa, apa kurangnya Kharisa, apa betul karena Kharisa terlahir dari seorang istri kedua maminya menolaknya, sepicik itukah pikiran wanita yang telah melahirkannya?


Tol layang yang berada di atas jalan tol daerah Karawang sampai Bekasi itu memang lengang, lampu jalanan yang temaram di bawah langit gelap dihiasi rintikan hujan seolah mendukung suasana hati Rafael yang kelam, membayangkan hidup terpisah dengan Kharisa dan putranya membuat hatinya ingin menjerit mengatakan kalau itu mimpi yang tak pernah menjadi kenyataan, tapi kata-kata Kharisa dalam obrolannya tadi begitu jelas masih teringat dalam benaknya. Saat Faisal datang dan menemani Rakha di kamar sambil bercerita kisah Uwais Al Qorni, Rafael mengajak Kharisa bicara berdua di teras rumah.


"Aku menyerah El, aku kelah....." Ujar Kharisa saat ia baru saja duduk, tentu saja membuat Rafael terkejut dengan ucapan Kharisa yang tiba-tiba mengatakan menyerah, namun ia sudah bisa menduga maksud ucapan itu.


"Sa, Mami bicara apa?" Tanyanya dengan wajah mulai memerah.


"Mami kamu sepertinya memang tidak bisa menerima aku, jadi seperti yang pernah aku bilang, aku mau kita bersama kalau ada restu dari orang tua kamu, tapi mami kamu gak merestui kita, jadi .... lebih baik aku mundur El...." Kharisa terlihat yakin dengan ucapannya.


"Sa.....gak bisa begitu Sa, memangnya apa yang mami katakan hingga kamu yakin kalau mami gak merestui kita?" Rafael terlihat gusar, bagaimana bisa Kharisa dengan mudah mengatakan hal itu, menyerah, mundur, setelah ia berusaha meraih Kharisa hingga membatalkan pertunangannya dengan Vania tanpa berpikir panjang lagi dan Vania mengikhlaskannya, malah mendukung hubungan mereka berdua, kemudian ia telah mendapatkan restu dari orang tua Kharisa juga kakaknya tanpa hambatan sedikit pun, sekarang dengan mudah Kharisa mengatakan menyerah? Tinggal satu langkah lagi mendapatkan restu ibunya tentu ia tak kan menyerah, ia akan memperjuangkannya.


"Sa, mungkin mami bukan tidak menerima kamu, ia hanya butuh waktu untuk mengenal kamu lebih jauh."


"Gak El......jelas- jelas mami kamu memintaku meninggalkanmu, dan ia punya alasan kenapa menolakku."


"Alasan apa?"

__ADS_1


"Karena aku terlahir dari seorang istri kedua, dan mami kamu menghina mamaku. Ia mengatakan mamaku wanita penggoda, dan mamaku yang mengajariku menggoda kamu hingga aku hamil. Tau apa mami kamu tentang mama aku, aku gak terima mamaku dihina, ia yang melahirkanku, yang berjuang dan banyak berkorban untuk aku dan Rakha, aku gak terima mami kamu menghina mamaku." Saat itu Rafael bisa meradakan kesedihan Kharisa, hatinya pasti terluka, entah ini yang keberapa kalinya maminya menyakiti Kharisa sejak ia hamil Rakha. Hatinya pun menjadi geram, tidak menyangka maminya setega itu.


"Jadi lebih baik kita tidak usah bersama El."


"Nggak Sa....kamu jangan asal bicara. Atas nama mami aku minta maaf, aku tau kamu sakit hati dengan mami, tapi please Sa, jangan tinggalkan aku, aku akan tetap di sisimu Sa, kita akan tetap bersama, melanjutkan rencana kita...."


"El aku mohon kamu ngerti aku, aku tidak bisa hidup sama kamu sementara mami kamu gak mau nerima aku, aku...."


"Please Sa....listen to me, kita akan bersama, demi Rakha, demi cinta kita. Aku gak bisa jauh dari Rakha terus, I'm his father, aku harus bersamanya."


"Sampai kapan pun kamu akan tetap jadi ayahnya Rakha, gak akan ada yang berubah El, kita bisa mendidik Rakha bersama, walaupun nanti akan ada ayah yang lain bagi Rakha, kamu tetap......"


"Aaaaakkkhhhh........" Rafael berteriak sambil memukul setir cukup keras, teriakannya pun lumayan keras, tapi tentu saja tidak ada yang mendengarnya. Obrolannya dengan Kharisa masih dengan jelas diingatnya dan membuat konsentrasi mengemudinya terganggu. Ia menepikan mobilnya ke jalur darurat saat turun dari tol layang, ia nyalakan lampu tanda darurat di mobilnya.


Rasanya ia malas melanjutkan perjalanan menuju rumahnya yang memang sebenarnya tidak ada rencana untuk pulang, tapi setelah mendengar cerita Kharisa, ia ingin segera pulang, rasanya ia ingin meluapkan kemarahannya pada maminya dan akhirnya ia pamit pada putranya untuk pulang, tentu saja Rakha protes tidak mau ditinggal dadynya.


"Dady bohong, tadi bilang plomis gak akan ninggalin aku, tapi sekalang dady mau pelgi, aku mau sama Dady." Protes Rakha dengan wajah merengut.

__ADS_1


"Dady pulang sebentar, nanti besok ke sini lagi, Ok." Akhirnya Rakha mengijinkannya pergi dengan syarat besok harus datang lagi.


Sikap dan ucapan Rakhalah yang membuatnya berjanji akan memperjuangkan untuk bisa bersama Kharisa dan Rakha, ya Rakha butuh dadynya, butuh dirinya, bukan ayah yang lain, tidak akan ada ayah yang lain untuk Rakha. Ia pun memutuskan melanjutkan perjalanan menuju rumahnya untuk negosiasi dengan maminya.


Tiba-tiba Rafael teringat sahabatnya Mario," saat ini ia butuh teman sharing, dan Mario orang yang dianggap tepat untuk membantu memberikan solusi untuknya. Ia mengambil HPnya dan menghubunginya. Seperti biasa Mario selalu punya jawaban yang menakjubkan saat Rafael memberikan pertanyaan tentang persoalannya.


"Seperti yang pernah Gue bilang sebelumnya, marah boleh, benci jangan. Ibumu tetap ibumu, seburuk apapun ia, sejahat apapun ia, ia tetap ibumu."


"Balaslah kejahatan dengan kebaikan, itu yang dicontohkan oleh Rosulullah saw. Semarah apapu pun kita, jangan sampai deh berkata-kata


kasar pada ibu kita, satu titik saja kita melukai hatinya bisa menjadi penghalang pintu syurga, karena bagi seorang anak, ridho Allah ada pada ridho orang tua terutama ibunya."


"Datangi ibumu, bicaralah baik-baik, sampaikan maksudmu dengan kata-kata lembut, bila emosi Lo belum bisa dikendalikan, sholatlah dulu, dan berdoa minta Allah melembutkan hatinya. Percayalah, sekeras apapun hati ibumu kalau Allah berkehendak ia akan luluh juga."


Setelah menghubungi Mario dan mendengarkan nasehatnya, ia mulai merasakan ada secercah harapan kalau maminya akan menerima Kharisa, dengan cara lembut masa maminya tidak tersentuh, pikirnya.


Rafael mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang di jalan tol yang terlihat padat, dengan membawa keyakinan everything will be fine. Hatinya lebih tenang, ingat ada Allah, serahkan semuanya pada Allah, biarkan Allah yang menyelesaikan segalanya dengan caraNya. Itu yang ia ingat dari kata-kata sahabatnya.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2