Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku
You So Beautiful


__ADS_3

Akad nikah Rendi yang dilaksanakan di ballroom hotel tempat Kharisa menginap baru saja selesai dilaksanakan dengan khidmat, dihadiri oleh keluarga besar dari pihak papa, Mama Lisna dan keluarga mempelai wanita. Beberapa pejabat perusahaan papa juga tampak hadir.


Yang membuat terharu para undangan yang hadir adalah saat acara sungkeman. Saat Rendi duduk bersimpuh di kaki Mama Lisna, ia tidak bisa menahan tangisnya. Tentu saja Rendi mengingat jelas bagaimana rasa sayang mamanya yang begitu besar, walau dalam kondisi sakit masih terus berusaha menjadi ibu yang terbaik, berjuang melawan penyakitnya sampai saat ini dengan keikhlasan dan kesabarannya. Belum lagi keluasan hatinya berbagi suami dengan madunya hanya ingin membahagiakan suami yang dicintainya.


Kondisi kesehatan Mama Lisna sejak beberapa hari yang lalu memang tidak begitu baik, tapi hari ini Mama Lisna terlihat lebih segar, wajahnya yang biasanya terlihat pucat kini tampak berseri dalam balutan make up hasil karya MUA profesional, garis kecantikannya terlihat jelas di usianya yang telah memasuki setengah abad. Entah karena memang hari ini hari yang spesial, dimana sebagai orang tua ia diberikan kesempatan untuk menghantarkan putra bungsunya menuju jenjang pernikahan membuatnya terlihat kuat duduk sampai acara akad nikah selesai, tanpa mengeluh sesak atau sakit pada anggota tubuhnya. Mungkin juga karena saat ini hatinya merasa tenang karena di sampingnya duduk seorang wanita yang selama ini menjadi madunya yang sempat menghilang.


Kharisa pun ikut terharu, air matanya tidak bisa dibendungnya mengingat kebaikan kakak dan mama sambungnya, karena merekalah Kharisa merasa diterima di keluarga papanya.


Kharisa sempat kaget saat melihat atasannya Pak Andre tampak duduk dalam barisan kursi tamu di belakang pengantin, di sebelahnya tampak seorang wanita cantik dengan rambut sebahu, terlihat sesekali mereka ngobrol berdua bisik-bisik.


Kharisa yang duduk di barisan kursi untuk keluarga di samping pengantin bisa melihat jelas keberadaan Andre, namun Andre sendiri sepertinya belum melihat keberadaan Kharisa.


Baru setelah acara akad nikah selesai Kharisa menghampiri Andre.


"Pak Andre.....?" Sapa Kharisa sambil membungkukan badannya mensejajarkan dengan posisi Andre yang tengah duduk.


"Kharisa....? Kamu di sini?" Andre terlihat keheranan melihat stafnya hadir di acara pernikahan teman dekatnya saat kuliah di Singapura, apalagi Kharisa menggunakan gaun yang terlihat mewah. " Kamu...?"


"Aku adiknya pengantin laki-laki." Jawab Kharisa. Mata Andre terlihat membulat tidak percaya.


"Kamu adiknya Rendi?" tanya Andre memastikan. Kharisa menjawabnya dengan anggukan dan senyum lebar di bibirnya.


"Jadi kamu adiknya Rendi yang menghilang itu?" Andre teringat saat mereka masih kuliah S2, Rendi pernah cerita kalau adiknya pergi bersama mama sambungnya meninggalkan papanya, dan adiknya dalam kondisi tengah hamil. Dan saat tahun kemarin mereka bertemu lagi Rendi masih belum menemukan adiknya.


"Pak Andre tahu dari Mas Rendi?" Kharisa terlihat mengernyit, langsung saja ia mengira kalau Andre adalah teman kakaknya.


"Aku teman kakakmu waktu kuliah di Singapura, dia sempat cerita, dia juga sempat nyari kamu di Bandung saat liburan semester, Rendi dapat info dari mamanya kalau kamu kuliah di Bandung, tapi gak ketemu karena tidak dapat info universitas tempat kamu kuliah." Andre dulu yang menemani Rendi keliling kota Bandung. Tentu saja tidak akan ketemu, karena kampus Kharisa tepatnya bukan di kota Bandung.

__ADS_1


"Ternyata dunia ini memang sempit, lalu kapan kalian ketemu?" Tanya Andre penasaran.


"Aku baru ketemu Mas Rendi sekitar satu bulanan yang lalu, setelah aku ketemu papa pas acara Meet and Great itu." Jawab Kharisa


"Oh...ya..ya...." Andre tentu saja tahu saat Kharisa bertemu papanya di hotel tempat acara Meet and Great bagian Marketing. Pantas saja saat itu Kharisa terlihat bersimpuh di kaki papanya dengan deraian air mata, rupanya saat itu pertama kali seorang ayah bertemu lagi dengan anaknya yang sempat pergi meninggalkannya, pikir Andre.


Andre mengenalkan wanita di sampingnya sebagai tunangannya, wanita itu sengaja pulang dari Singapura untuk menghadiri acara pernikahan Rendi yang juga temannya. Cantik dan ramah, itu kesan pertama Kharisa terhadap tunangan bosnya, pantas saja Andre tidak pernah tergoda wanita lain walau mereka berjauhan, wanita yang selama ini berusaha mendekati Andre kalah telak dengan wanita yang telah resmi menjadi tunangannya.


Pukul sebelas siang acara dilanjutkan dengan resepsi. Tamu undangan pun mulai berdatangan. Kedua mempelai terlihat bahagia menerima ucapan selamat dari tamu undangan . Yang menjadi pemandangan menarik adalah mama Kharisa tampak berdiri di samping mempelai mendampingi papa. Mama Lisna yang meminta madunya mendampingi suami mereka.


" Kamu yang mendampingi Mas Dewa di pelaminan ya Wi, Mba gak akan kuat lama berada di sana, Mba mau istirahat dulu di kamar." Pinta Mama Lisna setelah acara akad nikah selesai. Awalnya mama menolak, rasanya Mama Lisna yang lebih pantas mendapingi suaminya menerima ucapan selamat dari tamu undangan. Tapi Mama Lisna terus memohon, membuatnya tak tega menolaknya. Mama Lisna pun memilih istirahat di kamar hotel yang telah disediakan untuk keluarga mempelai.


"Dady......" Teriak Rakha memanggil seseorang yag dikenalnya tengah berdiri mengedarkan pandangan mencari sosok yang dikenalnya.


"Momy, dady datang." Rakha menarik tangan momynya, membuat Kharisa menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah yang ditunjukan putranya. Benar saja sosok laki-laki yang semalam ada dalam benaknya kini hadir mendekat di hadapannya dengan senyum lebar di bibirnya.


"Hai My Boy, you look handsome." Rafael meraih tubuh putranya, diangkatnya ke dalam gendogannya, lalu mencium kedua pipinya." Rafael tampak gemas dengan penampilan Rakha yang menggunakan stelan jas hitam dengan dasi kupu-kupunya.


"Baru datang?" Tanya Kharisa


"Iya baru saja, langsung nyari kamu dan Rakha." Rafael terlihat senyum-senyum melihat Kharisa.


"Kenap senyum-senyum gitu?" Tanya Kharisa heran dengan senyum Rafael.


"Kamu terlihat beda, tambah cantik."


"You so beautiful."

__ADS_1


"Hmmm gombal...." Kharisa memalingkan wajahnya, tidak ingin wajahnya yang pasti merona, terlihat oleh Rafael, dipuji seseorang yang dicintainya membuat jantungnya berdebar.


"Yeeeh gak percaya. Coba tanya sama Rakha. Hey Boy. Look at Momy....She's look more beautiful, right?" Tanya Rafael pada putranya. Rakha mengernyit memperhatikan momynya, lalu menganggukan kepalanya tanda setuju dengan dengan dadynya.


"Tuh Rakha saja bisa lihat, you so beautiful"


"Udah ah... mau makan dulu atau mau salaman dulu sama pengantin?" Tanya Kharisa mengalihkan pembicaraan.


"Salamannya ngantri gitu yah." Rafael memperhatikan antrian panjang tamu undangan yang ingin memberi ucapan selamat pada kedua mempelai.


"Ya udah makan dulu aja, salamannya nanti saja."


"Temanin yah." Pinta Rafael


"Kamu ambil makananya sendiri, aku nunggu di sana." Kharisa menunjukan tempat duduk VIP untuk keluarga mempelai.


Sambil menikmati makanan yang dipilihnya, Rafael sesekali menyuapi putranya. Mereka duduk bertiga di meja bundar VIP.


"Tadi ketemu Pak Andre sama tunangannya, ternyata Pak Andre teman dekat Mas Rendi." Rafael menghentikan mengunyah makanannya.


"Masa? Sekarang dimana dia"


"Iya....Kayanya lagi hunting makanan." jawab Kharisa. Rafael mengeluarkan HPnya, tampak menghubungi seseorang, pasti menghubungi Andre. Tidak berapa lama Andre datang menghampiri Kharisa dan Rafael. Mereka pun duduk berempat, berlima dengan Rakha sambil ngobrol kesana kemari, foto bersama dengan mengunakan camera HP milik Rafael.


Di saat orang dewasa asyik ngobrol, Rakha terlihat mengedarkan pandangannya, memperhatikan tamu undangan yang menikmati hidangan sambil berdiri, dalam benaknya ia bertanya, kenapa orang-orsng makannya sambil berdiri, padahal yang diajarkan di sekolahnya juga di rumahnya, makan harus sambil duduk. Namun ia enggan menanyakan pada momynya yang tengah asyik ngobrol.


Bocah itu masih terus memperhatikan sekelilingnya, hingga netranya melihat sosok laki-laki menggunakan batik berlengan panjang, laki-laki yang sangat dikenalnya, yang hampir dua minggu ini tidak bertemu dengannya. Ia pun berdiri dan memanggilnya

__ADS_1


"Om Isaaaal........"


bersambung


__ADS_2