
"Momy.....aku mau naik itu, mau naik yang itu juga." Rakha berlari-lari di arena bermain indor di sebuah mall di Singapura. Tempat ini juga yang dulu sering dikunjungi Kharisa waktu dia kecil bersama mama papanya.
"Rakha tunggu......jangan tinggalkan momy." Kharisa mengejar Rakha yang terus berlari megelilingi tiap wahana. Katanya ingin naik wahana ini itu, tapi kenapa dia malah hanya berlari-lari dengan tawanya yang ceria.
"Rakha sini, ayo kita naik perahu raksasa, kita kejar Dady disana." Kharisa melihat Rafael tengah berada di perahu raksasa yang melintas di ketinggian. Kharisa mengerutkan keningnya, heran, lalu memandang takjub, ini arena indoor tapi kenapa beratapkan langit, dan langit terlihat begitu indah, berwarna biru dengan gumpalan awan putih yang menyilaukan pandangannya. Ia terhenyak saat ingat kalau ia sedang mengejar Rakha yang tadi terus berlarian. Ia mengedarkan pandangan mencari keberadaan putranya, tapi ia tidak melihatnya, suara tawanya pun tidak terdengar lagi. Dengan jantung berdebar ia berlari mengelilingi setiap wahana, namun tetap ia tak menemukan Rakha di sana.
Dimana Rakha? Kemana dia?
Kenapa tempat ini menjadi sepi? tidak ada satu orang pun berada di sana, semua wahana dalam posisi diam, tak ada satu pun yang bergerak, Rafael juga tidak terlihat berada di perahu raksasa, apa tempat ini sudah tutup? Lalu kemana Rakha dan Rafael? Apa mereka duluan pulang? Tapi kenapa tidak mengajaknya? Kharisa terlihat kebingungan, menoleh ke kanan dan ke kiri berharap menemukan putranya.
Tiba-tiba terdengar suara tawa anak kecil, dan Kharisa hapal itu suara tawa Rakha, ia membalikan badannya dan benar ada Rakha disana, duduk di sebuah kursi tunggu bersama seorang wanita yang dikenalnya, tengah menyuapi Rakha dengan eskrim kesukaannya. Itu maminya Rafael.
"Rakha....." Kharisa memanggil putranya sambil berjalan mendekatinya. Tapi tiba-tiba Mami Rafael berdiri, menggandeng Rakha menjauh darinya.
"Rakha....tunggu, ayo kita pulang." Wajah Kharisa berubah cemas melihat putranya berjalan mengikuti mami Rafael. Rakha hanya menoleh saat dipanggil, tetap berjalan mengikuti wanita yang selama ini menolak kehadirannya.
"Tante tunggu......jangan bawa Rakha." Teriaknya, sambil terus mengejarnya.
"Rakha ini momy......ayo kita pulang." Teriaknya lagi saat dirasakan Rakha semakin menjauh padahal ia juga mengejarnya.
"Tante tunggu.....Jangan ambil anakkuuuuu....."
"Astaghfirullah........" Kharisa membuka matanya, melihat sekelilingnya, ternyata ia berada di kamarnya, di rumah tempat ia dibesarkan. Jantungnya berdetak kencang, dengan nafas terengah.
__ADS_1
Ternyata hanya mimpi.
"Alhamdulillah hanya mimpi." Gumamnya pelan. Ia duduk meraih HP yang ia simpan di nakas sebelah tempat tidurnya. Ia melihat jam di layar HPnya yang menunjukan pukul 02.54, enam menit lagi alarm di Hp nya akan berbunyi.
Ia menghirup nafas panjang, mengatur nafasnya dan menenangkan debar jantungnya, mengucapkan istigfar beberapa kali. Mungkin karena rindunya pada Rakha ia sampai memimpikannya. Tapi kenapa mimpinya Rakha dibawa pergi maminya Rafael? Apa ini pertanda? Hal yang ia takutkan akan terjadi? Apa keluarga Rafael akan meminta hak asuh Rakha? Akan mengambil Rakha darinya?
Kharisa membuang jauh-jauh pikiran itu, jangan sampai pernah terpikirkan itu. Ini hanya mimpi biasa, hanya bunga tidur. Karena ia begitu merindukan Rakha tapi juga ada kekhawatiran karena jauh dari Rakha. Rafael tidak akan membiarkan keluarganya memisahkan Rakha darinya. Ia mengusap wajahnya bersamaan dengan bunyi alarm di HPnya.
Ia beranjak dari tempat tidurnya, berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu lalu melaksanakan shalat tahajud.
Selesai shalat subuh, ia mencoba menghubungi Rafael, di layar HPnya sudah menunjukan pukul lima pagi, berarti di Singapura sudah pukul enam pagi, Rakha pasti sudah bangun.
Sudah tiga kali ia menghubungi Rafael, tapi belum juga diangkat.
Rakha sendiri sejak tadi malam sudah mulai turun demamnya, tapi masih terlihat lemah, sejak kemarin nafsu makannya kurang, sepertinya kurang minum juga. Namun tidurnya tidak nyenyak, terlihat gelisah, dan Rafael mengetahuinya, ia pun terjaga semalaman, baru bisa tidur lewat pukul tiga pagi.
Dengan perasaan cemas ia bersiap-siap untuk membawa Rakha ke rumah sakit, beberapa baju Rakha ia bawa, karena menurutnya Rakha pasti dirawat, khawatir terjadi dehidrasi.
Maminya sedang membujuk Rakha agar mau makan atau minum, namun Rakha menolaknya.
"Pelutku sakit Oma." Ujarnya lemah. Akhirnya mami Rafael mengalah tidak bisa membujuk cucunya.
"Sudah siap? Aku duluan turun bawa mobil, aku tunggu di lobi yah." Richan menyembulkan kepalanya mengecek kesiapan Rafael.
__ADS_1
"Sudah." Jawab Rafael. Richan segera meninggalkan apartemen menuju basement menyiapkan mobil yang akan membawa mereka ke rumah sakit.
Tepat pukul enam Rafael menggendong Rakha menuju lobi. Saat menuju lobi HPnya yang disimpan di saku celananya beberapa kali bergetar, tanda ada panggilan telpon, namun ia mengabaikannya, karena tengah menggendong Rakha.
Mobil yang dikemudikan Richan melaju menuju rumah sakit yang lokasinya tidak jauh dari apartemen, hanya memutar jalan sedikit mereka sudah sampai di rumah sakit yang terkenal lengkap fasilitasnya dan bagus pelayanannya.
Setelah di periksa di ruang emergency Raka diharuskan dirawat inap, Rafael pun menyetujuinya. Sempat kaget saat melihat hasil pemeriksaan labiratoriumnya. Dari hasil pemeriksaan darah ternyata Rakha mengalami penurunan trombosit, pantas saja muncul ruam pada kulit tubuhnya, yang menunjukan ada perdarahan karena pecahnya pembulub darah. Hematokritnya meningkat menunjukan adanya dehidrasi. Sementara dari tanda-tanda klinisnya tidak terlihat jelas menunjukan gejala demam berdarah. Dari satu minggu sebelumnya Rakha memang sempat deman, namun tidak sampai tiga hari demamnya turun, hingga Rafael tidak memeriksakan darah Rakha ke laboratorium.
Saat akan berangkat ke Singapura pun kondisinya baik, sampai hari kemarin Rakha terlihat sehat, makanya diajak berenang. Mungkin karena kondisi fisik Rakha bagus jadi masih bisa bertahan.
Kini yang ada di pikiran Rafael adalah bagaimana menghadapi Kharisa, apa ia harus jujur memberitahu kalau Rakha dirawat di rumah sakit atau tidak usah cerita dulu sampai kondisi Rakha membaik. Dua-duanya adalah keputusan yang membuatnya bingung harus memutuskan yang mana. Kalau memberitahu pasti Kharisa akan cemas dan akan menganggapnya tidak bisa menjaga Rakha dengan baik, tapi kalau tidak ia takut terjadi sesuatu dengan Rakha, kondisinya memburuk misalnya.
Dan HPnya bergetar lagi, ia mengambil HP dari saku celananya, lagi-lagi panggilan dari Kharisa. Apa yang harus ia katakan pada Kharisa?
bersambung
Hai readerku tercinta, terima kasih masih serus setia dengan cerita ini, walaupun mungkin ada yang berpendapat bertele-tele. Cerita ini memang alurnya dibuat lambat, pasti membuat gemas ingin melihat endingnya Kharisa dengan siapa? Yang pasti Kharisa akan melewati fase ujian terhebat dalam pengalaman hidupnya sebelum menentukan siapa yang akan mendampinginya. Dan saatnya kita siap- siap naik rollcoaster yang akan membolak balikan perasaan kita. Jangan baper yah, kita belajar dati pengalaman orang lain. Ternyata di luar sana banyak yang ujiannya lebih berat dari kita, tapi bisa melewatinya. So, yang sedang mendapatkan ujian, yakinlah itu yang akan menjadikan kita kuat dan menjadi pribadi yang lebih baik. Udah ah....udah ganti taun nih.
Wellcome 2022. Semoga apa yang kita impikan bisa terwujud. Aamiin.....
Salam🙏
Umi Haifa😘😘
__ADS_1