
Kharisa dan Rafael tengah duduk berdampingan, bersandar di kepala tempat tidur, mereka asyik mendengarkan putranya yang terus berceloteh menceritakan aktifitasnya seharian tadi. Sesekali Kharisa menanggapi dengan pertanyaan dan ucapan pujian pada putranya yang tidak rewel dan bisa mandiri. Rafael pun ikut menimpali menunjukan kalau ia menyimak cerita putra kebanggaannya itu.
"You're a good boy, Daddy proud of you." Ujar Rafael memuji putranya saat menceritakan ia ikut ke kantor opanya, di sana ia bersikap baik, berkenalan dengan teman opa dan ada yang memberinya hadiah. Rafael mengacungkan jempolnya, Ia meletakah dagunya di bahu kanan Kharisa, hembusan nafasnya menyapu pipinya membuat Kharisa menggerakan kepalanya kegelian, namun Rafael tidak ingin mengubah posisinya, malah semakin menempel, kini jari tangan kirinya disematkan di tangan kanan Kharisa, sementara tangan kiri Kharisa memegang phonselnya.
"Momy aku mau telepon Om Isal, aku mau nambah hapalan sulat lagi." Tiba-tiba Rakha teringat Faisal. Ternyata selain menunggu telpon dari momynya, ia juga menunggu telpon dari om kesayangannya. Sejak ia sakit ia belum menambah hapalan Al Qurannya. Biasanya ia dan Faisal melakulan vidio call untuk menambah hapalan ayatnya, atau Faisal akan mengirimkan rekaman suara ayat yang harus dihapalkan Rakha, setelah hapal baru di tes setoran ayat lewat vidio call atau saat mereka bertemu langsung.
"Tapi Om Isalnya gak ada nelepon." Pikiran Rakha masih polos rupanya, jelas saja Faisal tidak ada menghubungi Rakha karena memang Rakha tidak memegang alat komunikasi, paling Faisal akan menghubungi Kharisa bila ia ingin menghubungi Rakh, tapi menghubungi Kharisa pun tak ada.
"Mungkin Om Isal sedang sibuk." Kekhawatiran Kharisa sepertinya terjadi, Faisal pasti sungkan untuk menghubunginya walaupun tujuannya menghubungi Rakha, sepertinya ia yang harus menghubungi Faisal jika Rakha merindukan Faisal, dan ia harus membicarakan ini dengan suaminya agar tidak terjadi salah paham, satu sisi ia ingin hubungannya juga Rakha dengan Faisal tetap terjalin dengan baik, tidak berubah sedikit pun. Semoga saja Rafael bisa mengerti.
"Kata Oma kilim nomol Om Isal, Oma gak punya nomelnya, nanti aku telepon Om Isal dali HP Oma." pinta Rakha pada momynya. Kharisa pun mengiyakan.
"Ya udah sekarang udah dulu vidio callnya, momy mau kirim nomor Om Isal." Ujar Kharisa, Rakha tampak menganggukan kepalanya.
"Rakha baik-baik sama Opa, Oma dan nenek yah, momy tutup yah."
"Daaagh momy, daaagh daddy. Salamikum." Rakha melambaikan tanganya.
"Waalaikumsalam." Jawab Kharisa dan Rafael bersamaan. Layar pun menjadi gelap. Setengah jam sudah mereka bercengkrama dengan Rakha dari jarak jauh. Kerinduan pada putra mereka terbayar sudah. Kini tinggal mereka menuntaskan kerinduan mereka berdua yang sempat tertunda.
"Sa....kita lanjutin yang tadi yah." Suara Rafael terdengar serak, sejak tadi ia memendam sesuatu yang bergelora di jiwanya.
"Hmmm....?" Kharisa mengernyit pura-pura tidak mengerti, padahal sudah menduga Rafael pasti tidak akan melewatkan malam ini begitu saja, hingga ia pun mengsilent HPnya sebelum disimpan lagi di meja belajar Rakha agar tidak terganggu lagi. Jantungnya pun kembali berdebar-debar, apalagi saat punggung tangan Rafael mengelus pipinya kemudian menyentuh bibirnya.
"Kamu siap kan?" Sempat-sempatnya Rafael menanyakan lagi kesiapan Khatisa padahal mereka tadi sudah setengah jalan, dan siap tidak siap Kharisa tidak mungkin menolak ajakan suaminya, ia tidak ingin termasuk istri yang mendapat laknat malaikat.
Tanpa menunggu jawaban Kharisa, Rafael mendekatkan wajahnya ke wajah Kharisa, Kharisa segeta memejamkan matanya, namun tiba-tiba Rafael menarik kembali wajahnya.
"Lupa belum berdoa dulu." Ujarnya, sontak saja Khatisa membuka matanya.
"Aku belum hapal doanya, kamu hapal?" Ujarnya lagi. Kharisa menggelengkan kepalanya. Kharisa memang belum pernah menghapalnya, niat menghapalnya pun belum terpikirkan karena pernikahannya yang mendadak, hanya ia pernah mendengar kalau sebelum melakukan hubungan suami istri hendaknya berdoa seperti yang dicontohkan Rasulullah agar setan tidak ikut menikmatinya.
"Sebentar...." Rafael beranjak dari tempat tidur, mengambil HPnya yang disimpan di meja ruang tengah, tadi saat masuk rumah ia menyimpan HP dan kunci mobilnya di sana. Kharisa terlihat heran melihat suaminya keluar kamar.
Rafael kembali masuk setelah mendapatkan yang ia butuhkan, informasi tentang doa sebelum melakukan hubungan suami istri ada di HPnya.
"Kita baca doa dulu." Ujar Rafael sambil membuka layar HPnya. "Kemarin malam aku dikirim Mario tentang sunah malam pertama." Sambungnya. Ternyata Mario mengirim link artikel tentang adab malam pertama bagi pengantin baru.
"Ini tadi setelah shalat harusnya baca doa ini." Rafael memperlihatkan tulisan bacaan doa kepada Kharisa.
__ADS_1
"Ya sudah kamu baca sekarang saja." ujar Kharisa, Rafael menganggukan kepala mengiyakan. Kemudian ia menempelkan tangan kanannya di atas kepala istrinya lalu membaca doa yang terpampang di layar HPnya. Dengan terbata-bata ia membacanya karena belum terlalu lancar membaca tulisan Arab, kemudian ia membaca terjemahan doanya dengan khusyu seolah-olah doa itu isi hatinya. Sementa Kharisa memejamkan matanya sambil mengaminkan doa yang dipanjatkan suaminya.
"Ya Allah, berikanlah keberkahan kepadaku dan kepada istriku, serta berkahilah mereka dengan sebab aku. Ya Allah, berikanlah rezeki kepadaku lantaran mereka, dan berikanlah rezeki kepada mereka lantaran aku. Ya Allah, satukanlah antara kami berduadalam kebaikan dan pisahkanlah kami berdua dalam kebaikan.”
"Aamiin....." Sambut Kharisa. Kemudian Rafael mengecup kening Kharisa.
"Sekarang kita baca doa yang ini." Tunjuk Rafael, Kharisa pun menganggukan kepalanya. Lalu mereka membacanya bersama -sama.
"Bismillahi, Allahumma janibnasyaithana wa jannibi syaithaanamaa razaqtana."
"Dengan menyebut nama Allah, Ya Allah, jauhkanlah aku dari syaitan dan jauhkanlah syaitan dari anak yang hendak Engkau kurniakan kepada kami." (HR. Bukhari-Muslim)
"Aamiin....." Ucap mereka kembali bersamaan. Rafael menyimpan HPnya di meja belajar Rakha.
"Kenapa senyum seperti itu?" Tanya Rafael saat ia kembali naik ke tempat tidur, melihat Kharisa menahan tawanya.
"Nggak....aku senang lihat kamu berusaha menjalankan sunah." Kharisa menahan tawanya karena melihat Rafael mampu menahan diri demi menjalankan sebuah sunah, ada rasa bangga di hati terhadap suaminya yang ingin melaksanakan ibadah sesuai tuntunan Rasulullah.
"Bagiku pernikahan adalah sesuatu yang sangat penting dalam hidupku, Kang Farhan pernah bilang menikah itu adalah ibadah, bahkan ibadah terpanjang, apa pun yang dilakukan kita di dalam ikatan pernikahan semuanya termasuk ibadah, seperti yang akan kita lakukan sekarang. Aku ingin memulai pernikahan ini dengan cara yang benar termasuk apapun di dalamnya. Walaupun aku masih tahap belajar, banyak yang belum aku ketahui. Maaf kalau aku belum bisa membimbingmu karena keterbatasan ilmuku. Kamu bantu aku yah, ajari aku apa pun yang telah kamu ketahui."
"Aku pun masih kurang ilmu El, kita belajar sama-sama." Kharisa pun mengakui banyak ilmu ajaran Islam yang belum ia ketahui, walaupun dulu sempat tinggal di pondok, tapi hanya sesekali saja ia mengikuti kelas kajian Islam karena rasa rendah dirinya saat hamil. Dari Faisal lah ia banyak mengetahui ajaran Islam.
"Aku juga ingin belajar dari Teh Moza bagaimana menjadi istri sholehah, ia wanita hebat, seorang pengusaha wanita yang sukses tapi tetap menomorsatukan keluarga." Kharisa teringat saat ia berada di rumah Kang Farhan dan Teh Moza bagaimana keluarga itu terlihat harmonis, walau masing-masing punya kesibukan tapi tetap saja mengutamakan keluarga.
"Kamu juga wanita hebat, aku beruntung mendapatkan kamu Sa. Terima kasih sudah setia menungguku, terima kasih sudah menerimaku sebagai suami kamu." Rafael mengecup tangan Kharisa yang sejak tadi digenggamnya
"Eh, kenapa kita malah ngobrol, bukannya mau melanjutkan yang tadi tertunda."
"Kamu yang tadi mulai ngajak ngobrol."
"He..he...iya, ya udah kita lanjut yang tadi." Rafael semakin merapat ke istrinya, menarik bahunya hingga mereka saling berhadapan, saling menatap, saling merasakan tatapan penuh cinta dan kerinduan yang sudah lama terpendam.
"Eh...Kita gak usah berdoa lagi kan? Tiba-tiba Rafael bertanya, Kharisa menggelengkan kepalanya, maksudnya ia tidak tahu apakah harus berdoa lagi atau tidak. Terbayang kalau harus berdoa lagi Rafael akan mengambil lagu HPny kemudian membuka link artikel dan membaca doa di layar HPnya, membayangkan itu membuat Kharisa terkekeh sambil menutup mulutnya.
"Kenapa Sa?" Rafael heran kenapa Kharisa malah tertawa, hilang sudah suasana romantis tercipta diantara mereka.
"Ngaaak....." Kharisa menggelengkan kepalanya dengan senyum dikulum.
"Kamu ngetawain aku kan? Ada apa? Ada yang aneh di wajahku?"
__ADS_1
"Nggak ada."
"Terus kenapa ketawa gitu?" Desak Rafael
"Beneran gak ada apa-apa."
"Gak percaya, kamu pasti bohong, awas yah aku hukum kamu karena bohong sama suami." Rafael mulai menggelitiki pinggang Kharisa, sontak saja membuat Kharisa tersentak, menggerakan tubuhnya menahan rasa geli, berusaha menjauhi Rafael. Namun Rafael tidak melepaskannya terus menggelitiki istrinya dengan tertawa puas, ia tahu kelemahan Kharisa.
"Aw....ampun El.....ampun...." Teriak Kharisa sambil berusaha menepis tangan Rafael.
"Sudah... El....ampuuun." Karisa mencoba mendorong tubuh Rafael tapi malah tubuhnya yang di dorong Rafael hingga ia terbaring di tempat tidur, dan Rafael mengungkungnya dengan kedua tangannya.
"Oke aku ampuni, dan sekarang kita lanjutkan yang tadi, kita berdoa dulu, baca 'Bismillah' saja." Ujar Rafael sambil mengelus pipi Kharisa. Kharisa terdiam sambil mengatur nafasnya yang terengah, tubuhnya pun terasa lemas, di dalam hatinya ia mengucap basmalah. Jantungnya yang tadi sudah mulai tenang terasa lagi debarannya saat Rafael menatapnya penuh gairah.
"I love you Sa." Ucap Rafael setengah berbisik, suaranya terdengar serak. Kini netranya berpindah ke bibir Kharisa yang sedikit terbuka, tanpa minta persetujuan lagi pemiliknya, bibir Rafael langsung menyentuhnya dengan lembut. Kharisa hanya bisa pasrah menyambut suaminya yang sudah berhasrat sejak tadi.
Terbayang oleh Kharisa saat dulu melakukan yang tak boleh ia lakukan untuk pertama kalinya dengan Rafael, diawali dengan perasaan takut dan diakhiri dengan penyesalan. Belum lagi rasa sakit yang luar biasa dirasakannya, kalau tau sampai sakit seperti itu dia pasti akan berpikir seribu kali untuk melakukannya. Tapi rasa sakit yang
ia bayangkan, ia tepikan, toh sekarang kondisinya sudah berbeda, bahkan Rakha juga lahir dari jalan lahirnya, sudah tidak ada selaput dara seperti pengantin wanita pada umumnya.
Sekarang ia sudah menjadi istri Rafael. Bismillah kini saatnya Kharisa melaksanakan tugasnya sebagai istri, melayani suaminya lahir batin, menjalankan bagian dari ibadah, meraih ridho Allah melalui ridho suaminya.
Pasangan pengantin itu hanyut dalam gelora asmara yang akhirnya tercurahkan setelah terpendam sekilan lama, mereka mencurahkan kerinduan yang memuncak, saling menyambutnya dengan rasa yang sama, rasa penuh cinta.
Dengan mengikuti insting mereka sama-sama memberikan sentuhan yang menimbulkan desiran, gelanyar aneh yang terus mereka rasakan. Detak jantung mereka pun sama-sama menggila namun mereka terus mendaki bersama untuk meraih puncak tertinggi, merasakan melayang ke langit hingga mereka tidak sadar dengam kondisi mereka tanpa kain sehelai pun di tubuhnya, hanya selimut besar yang menutupi tubuh mereka.
Beberapa kali erangan dan lenguhan keluar dari bibir mereka, hingga sebuah desakan dirasakan mendorong mereka untuk mencapai puncak bersama-sama. Sebuah rasa, kenikmatan yang tidak bisa diungkapkan, yang jelas membuat mereka berdua merasakan kelegaan. Walaupun fisik mereka terasa lelah, keringat mereka saling menyatu, dan nafas yang terengah- engah seperti habis lari maraton tapi aktivitas mereka rupanya merangsang Endorfin hingga rasa bahagia pun dirasakan mereka.
"Terima kasih Sa....I love you." Ucap Rafael lembut, posisi tubuhnya masih berada di atas tubuh Kharisa. Ia mengecup dalam kening istrinya sebagai ungkapan rasa cintanya yang begitu besar. Lalu ia membaringkan tubuhnya di sisi Kharisa, berada dalam satu selimut yang menutupi tubuh polos mereka.
Malam terasa merambat lambat, sepasang pengantin yang baru saja melakukan aktivitas yang melelahkan tapi menyenangkan, bahkan bernilai ibadah, sepertinya belum akan memejamkan matanya. Mereka masih menenangkan diri, dan mengingat apa yang baru saja mereka rasakan. Terbersit dalam benak Rafael untuk mengulang kembali apa yang tadi mereka lakukan. Sebuah senyuman pun terbit di bibirnya.
bersambung
Haaaiii reader tersayang, maaf baru bisa up hari ini. Ternyata menulis episode ini butuh mood yang luar biasa. Ini kan yang ditunggu mak-mak semua.
Siap-siap babak belur tuh Kharisa dihabisin babang Rafael.😁
Ayo ah jangan lupa selalu tekan tombol likenya. Siapin kadonya juga buat acara resepsi, semua readers diundang 🤗
__ADS_1